Sesampainya di depan rumahnya, Ethan tidak mendapati mobil mewah sang adik terparkir di dalam garasi rumahnya. Ethan yang pada saat ini merasa kelelahan pun tak ingin memikirkan hal yang baru saja ia lihat, Ethan segera masuk.
Musik bernada tempo dulu diputar sang Ibu, musik yang memberikan sebuah sindiran agar secepatnya mencari jodoh pun membuat Ethan sedikit terhibur. Ethan menghampiri ibunya, lalu Ethan membalas nya dengan sebuah lagu yang sepertinya hanya karangan Ethan semata.
"Hey ibu-ibu, jangan terburu-buru. Mencari jodoh haruslah tau, apakah dia cocok untuk ku." Kata Ethan bernada Fals.
Ibunya membalas, "Memanglah Ibu ingin menantu, mantu di nanti juga harus hati-hati biar Ethan tidak merasa sakit hati." Ibunya pun membalas dengan nada yang sama, Ethan pun tertawa.
"Love You More Ibu Aminah binti Bapak Kardi." Ungkap Ethan sembari mengecup kening sang Ibu, Aminah tersenyum dan mengusap keringat anaknya.
"Ibu sangat bahagia hari ini, semua membuat Ibu bahagia. Sepertinya jika ibu mati, ibu akan mati sembari tersenyum." Celetuknya, hal itu sontak membuat Ethan merasa kesal.
"Bu, tolong jangan lagi katakan hal itu. Ethan mau Ibu hidup bersama Ethan, kalau bisa Ethan dan Ibu pergi ke Surga nya Allah sama-sama, ketemu Bapak kita kumpul sama-sama di sana." Balas Ethan.
Ibunya menatap sendu, "Ibu Ingin Ethan merasakan kebahagiaan dulu, semenjak Bapak meninggal Ethan sudah sangat banyak membantu Ibu."
"Ibu apa sih kok masih saja selalu membicarakan hal seperti itu, Ethan sudah berkewajiban untuk mengurus segala kebutuhan ibu." Ujar Ethan kembali, Ibunya pun tersenyum.
"Ibu akan bersumpah bahwa Surga ada untuk mu Anak ku." Entah mengapa Ibunya mengatakan hal seperti itu, sorot matanya begitu sedih namun ia masih dapat menyelipkan sedikit senyuman untuk anak sulungnya itu.
Ethan mengecup punggung tangan Ibunya, Ethan enggan melanjutkan pembicaraan mengenai hal yang begitu membuatnya sangat bersedih. Ethan bangkit dari atas lantai dimana seperti biasa ia duduk dengan kepala terpaku pada pangkuan sang Ibu, lalu berjalan mengambil air minum yang berada di dalam lemari pendingin.
Lalu Ia kembali berjalan menghampiri Ibunya itu, "Tadi Nathan pulang jam berapa Bu?" Tanya Ethan sembari meneguk botol air minum yang sedang ia pegang.
"Mungkin ada satu jam atau dua jam yang lalu, Ibu lupa. Yang jelas hanyalah perdebatan saja yang selalu adik mu beri untuk Ibu." Jawab Ibunya.
Ethan kembali bertanya, "Perdebatan apa Bu?" Ibunya menaikkan kedua bahu miliknya itu tanda bahwa Ibunya tak mau mengatakan apapun kembali.
"Terus Nathan bilang gak kapan dia menemui Ibu lagi?" Tanya Ethan kembali.
"Ya, tetapi dia menjawab. Kalau Kakak suruh Nathan ke rumah, Nathan pasti datang Bu. Sebenarnya ada apa sih diantara kalian ini? Apa ada hal yang membuat mu kesal karena perbuatan Nathan?" Tanya Aminah sembari menatap lekat wajah Ethan, Ethan meneguk sisa air tersebut. Lalu duduk dihadapan Ibunya, "Apa ada yang Ibu tidak tahu mengenai permasalahan diantara kalian berdua?" Susul Amina bertanya.
"Tidak ada Bu, Ethan tidak pernah melarang Nathan untuk datang kemarin lagipula, Nathan sudah dewasa dan tahu kalau membuat sebuah kesalahan konsekuensi nya seperti apa." Ujar Ethan yang sengaja berbohong kepada Ibunya itu, "Ethan dan Nathan tidak memiliki masalah apapun, kalaupun ada kami berdua selalu membicarakan permasalahan itu segera." Sambung Ethan, Ibunya tidak begitu saja percaya walaupun Ia terlihat begitu mempercayai Ethan.
Ethan melihat jam yang melingkari tangan kanan nya itu, "Sudah pukul 12 siang, Ethan mau mandi setelah itu sholat." Ucap Ethan berpamitan.
"Ethan.." panggil Ibunya kembali.
Ethan segera menolehkan kepalanya itu, "Bibi sudah masak, setelah solat kita makan bersama-sama ya." Pinta Ibunya, Ethan pun mengangguk tanda mengiyakan keinginan sang Ibu.
Sementara itu, di tempat lainnya Selina yang sedang berdiri di hadapan kaca itu terlihat menatap senyuman nya sendiri. Pertemuan nya bersama Ethan begitu sangat berkesan bagi dirinya, dan Itu artinya Selina merasa bahwa dirinya sudah mulai menyukai sosok laki-laki.
"Aku pernah menyukai laki-laki saat usia ku 15 tahun, dan sepertinya aku merasakan hal itu kembali, Namun ada sedikit hal yang berbeda saat ini," ungkap Selina sembari tersenyum, "Bedanya, dulu aku hanya menyukainya dan tidak ingin memilikinya, lalu saat ini Aku menyukainya dan seakan ingin memiliki sosoknya." Ungkap nya kembali.
Lalu ia mengingat saat Ethan mengatakan bahwa dirinya dulu sering mendatangi kedai kopi tersebut bersama mantan istrinya, dan saat ia mengatakan hal tersebut, ia dapat merasakan bahwa Ethan masih sangat memikirkan mantan istrinya. Dan saat mengatakan hal tersebut, raut wajah sedih pun menampak di raut wajah Ethan. Dan Selina kembali berucap, "Apa bisa aku menjalin asmara dengan nya? Bahkan ia masih saja menyimpan segala hal di masa lalunya dan apakah mungkin aku bisa melalui itu semua?"
"Mas Ethan, Mas Ethan.."
Selina tersadar, ia terlihat terdiam dan tidak tahu mengapa harus memikirkan sosok Ethan. Selina pun membatin, "Ya Tuhan, mana ada aku memikirkan lelaki yang belum tentu memikirkan aku. Ini nih yang di bilang Bapak, kalau menghayal teman nya setan! Aku gak akan menghayal lagi pak. Janji." Celetuknya sembari menatap seluruh wajah nya itu di dalam kaca, ia tertawa saat mengingat kalimat yang baru saja beberapa menit itu terucap bebas dari bibirnya.
Ting!
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel miliknya, Selina segera mengambil ponsel tersebut dan ia melihat beberapa pesan di kirim oleh teman-teman satu pekerjaan nya. Lalu Selina menggeser layar tersebut kebagian atas layar, dan terlihat sebuah pesan yang diberikan oleh Ethan sudah tertumpuk di dasar pesan.
Ya, Ponsel Selina memang sangatlah laku. Teman-teman semasa kuliahnya pun terkadang merasa kesal, hal itu karena sebuah alasan dimana saat mengirim sebuah pesan kepada Selina, Selina akan menjawab di esok harinya.
Selina pun membuka pesan tersebut, "Maaf tadi lupa bertanya, jika berkenan ada hal menyangkut pekerjaan saya dan mungkin kah saya dapat meminta sebuah saran pada Selina?" Tanya Ethan.
"Tidak perlu sungkan Mas, tanyakan saja dan katakan saja Mas." Balas Selina.
Lalu Ethan membalas, "Kalau begitu saya ingin mengundang mu makan malam setelah itu saya akan menceritakan hal apa yang nantinya akan mendapatkan sebuah saran dari Selina sendiri, bagaimana?"
Melihat serta membaca pesan tersebut membuat Selina tak henti untuk tersenyum, menurutnya Ethan juga memiliki ketertarikan tersendiri pada dirinya. Selina membalas kembali pesan tersebut, "Duh ada angin apa ini Mas, seharusnya saya loh meminta banyak Saran kepada Mas. Apalagi saya sendiri berniat untuk memiliki usaha di bidang lain, semisal memiliki restoran, showroom, atau mungkin usaha lainnya."
Selina duduk di atas sofa miliknya, wajah Ethan terlintas di dalam ingatan nya. Wajah tampan yang selalu diselipi senyuman Sumringah itu membuat senang hati Selina, "Ya Tuhan ada apa dengan ku ini, mengapa aku malah tak henti tersenyum saat memikirkan Tuan Ethan."
Suara ponsel berdenting pun kembali terdengar, Selina segera membaca pesan tersebut.
"Baiklah nanti kita bicarakan langsung, jadi Nona Selina mau tidak menerima undangan dari saya untuk makan malam di rumah. Karena, Sejujurnya ini permintaan ibu saya, dan saya tidak dapat menolak permintaan ibu saya ini." Ungkap Ethan pada pesan tersebut.
Selina menatap lekat pesan tersebut, pipinya kembali mengukir sebuah senyuman. Ya sepertinya Ethan sudah mampu membuat Selina merasa jatuh cinta, walaupun baru beberapa kali bertemu, ingatan akan Ethan selalu saja hadir dalam ingatan nya.
Selin mencoba mengetik sebuah pesan, namun tak lama ia menghapusnya. Dan tepat di rumahnya itu, sosok Ethan terlihat berharap Selina mau menerima undangan untuk makan malam tersebut.
Sejujurnya Ethan belum merasakan jatuh cinta kepada Selina, Ethan memang sedikit mengagumi karakter Selina. Namun, keinginan sang Ibu untuk mencoba mencari menantu untuknya itu membuatnya mengharuskan mencoba mendekati sosok Selina.
Walaupun ia tidak tahu jawaban pada akhir ceritanya nanti bersama Selina, menurut Ethan kebahagiaan ibunya sangatlah penting.
Ponsel Ethan pun berdenting, sebuah tanda pesan masuk itu membuat jantung nya merasa semakin berdebar hebat.
"Dengan senang hati Mas, Insya Allah Selina mau menerima undangan makan malam di rumah Mas. Dan tolong sampaikan salam Selina untuk Ibu Mas." Sahut Selina membalas pesan tersebut.
Hati Ethan begitu senang saat membaca pesan tersebut, setidaknya Ethan dapat membuat sang Ibu merasa senang saat bertemu dengan Selina.
Ethan pun memutuskan hari dimana ia akan mengundang Selina kerumahnya, dan Ethan meminta Selina untuk mengajak Ryan. Namun Selina mengatakan bahwa Ryan sedang sibuk mengurus semua urusan pernikahan nya, dan Selina tidak dapat berjanji untuk membawa Ryan bersamanya.
"Ethan.." Panggil Ibunya, Ethan pun segera beranjak dari ranjang miliknya itu.
"Iya Bu," jawab Ethan sembari menghampiri ibunya itu.
"Than, Sudah selesai sholatnya?" Tanya Aminah.
Ethan pun menjawab dengan pelan, "Sudah Bu."
"Kok lama sekali sih," Melihat Ethan memegang ponsel nya itu, Ibunya terlihat ketus. Dan terdengar memberikan sebuah kalimat protes pada Ethan, "Ini kan hari Minggu, Senin sampai Sabtu kamu bekerja. Terkadang keluar kota dan Minggu yang seharusnya bersama Ibu kamu lalui dengan pekerjaan. Sedangkan sekarang kamu itu sedang libur, masa sih mau pegang ponsel Mulu."
Ethan pun tersenyum, "Ethan tadi lagi kirim-kirim pesan dan membalas pesan dengan Selina."
"Selina?" Tanya Ibunya dengan raut wajah terkejut.
Ethan mengangguk, "Iya Bu,"
"Lalu bagaimana?" Tanya Ibunya kembali.
"Selina mau menerima undangan Ibu, katanya Salam juga untuk Ibu." Jawab Ethan, jawaban sang anak membuat wajahnya begitu riang.
"Bi kasih Ethan banyak nasi ya, lauk nya juga. Tolong sekali." Ucap Ibunya yang tidak mampu menutupi rasa senang di hatinya itu, "Nanti kita siapkan makanan apa ya Bi?" Tanya nya kembali.
"Bibi terserah Ibu sama Den Ethan saja." Jawab Bibi.
"Bu, biar Ethan pesan Catering saja. Kasihan Bibi kalau harus bekerja sampai malam." Ucap Ethan.
"Gak apa-apa Den, bibi senang kok bekerja di rumah ini." Sahut nya, "Ya apalagi mau menyambut calon mantu Ibu." Kalimat itu mendapat sebuah tepukan peringatan dari tangan Aminah, lalu Asisten rumah tangga itu terdiam dan segera meminta maaf.
Ethan pun mengucap, "Ya kalau dikasih jodohnya Selina gak apa-apa, semoga Selina baik untuk Ethan, begitupun sebaliknya.
Jangan sampai Ethan gak baik sama dia, dan dia merasa kecewa." Ethan memang sosok lelaki yang sangat dewasa, ia tidak selalu memikirkan dirinya. Kebahagiaan orang-orang di sekitarnya adalah nomor utama bagi Ethan.
Ibunya kembali berucap, "Semoga saja Selina adalah jawaban dari doa-doa Ibu selama Ethan hidup sendiri."
"Aamiin Ya Allah." Ethan pun mulai menyantap makan siang tersebut, di sana Sang Ibu tak henti menatap wajahnya. air mata Aminah tak sengaja menetes, Ia tidak ingin anaknya tahu, ia pun segera menyeka air mata tersebut.