Malam harinya, Ethan terlihat begitu sudah rapi dengan jas berwarna biru tua dipadupadankan dengan kemeja putih dan jam tangan mewah terpakai di bagian lengan kanan nya. Ethan memang akan menghadiri sebuah acara pernikahan teman semasa SMA nya, dan hal itu di laksanakan pada malam hari. Setelah ia rasa bahwa dirinya sudah siap untuk berangkat menuju pernikahan tersebut, Ia tak lupa untuk menghampiri Ibunya.
Sikap manja nya itu memang sangat sulit di hilangkan, seperti biasa Ethan membubuhkan tubuhnya di atas pangkuan ibunya itu.
Lalu sang Ibu memintanya untuk terbangun karena melihat sang anak yang sudah rapi dengan jasnya, “Ya Tuhan Ethan, kamu ini sudah rapi loh tetapi masih saja bersikap seperti ini.” Ethan tak menghiraukan kalimat sang Ibu, Ia tetap duduk dan menyimpan kepalanya itu di atas pangkuan ibunya. Ibunya kembali berucap, “Than, pergilah sayang.”
“Ibu benar-benar tidak mau ikut dengan Ethan?” Tanya Ethan yang berharap bahwa ibunya mau menemani langkah kakinya untuk datang ke acara pernikahan tersebut, Ibunya menggelengkan kepalanya.
“Bangun Than, nanti Jas nya malah kusut.” Kata sang Ibu yang begitu memaksa Ethan untuk berdiri.
Ethan pun beranjak dan berdiri tepat di hadapan Ibunya, “Ethan tampan, seharusnya ajak Selina dong.” Sindir sang Ibu.
Ethan menggelengkan kepalanya, wajahnya terlihat memerah manakala Ibunya lagi dan lagi menyindir Ethan dengan menyebutkan nama Selina. Ethan pun kembali mengingatkan sang Ibu bahwa Ethan tidak mau berharap lebih kepada Selina, Ethan takut jika Selina sudah memiliki kekasih.
Sembari menatap lembut Ethan berucap pada Ibunya, “Ethan pergi dulu ya, takutnya Acara pernikahan nya sudah di mulai.”
Ibunya menjawab, “Iya sayang, jangan pulang terlalu malam dan ingat jangan sampai mabuk-mabukkan.”Ethan mengangguk sopan dan sang Ibu selalu saja memanjatkan doa saat anaknya pergi dan dalam situasi apapun. Ethan memang sosok pria yang begitu sangat mempesona, baik dan juga sangat berbakti. Ethan yang saat ini mulai menunjukkan perubahan, mengapa seperti itu? Ya, berulang kali Ethan ingin keluar dari Zona traumanya dan beberapa teman nya sudah pernah menjodohkan Ethan dengan siapapun. Namun, lagi dan lagi Ethan tidak pernah mau menerimanya.
Ibunya pernah mengajak Ethan untuk mengunjungi kerabat jauhnya, yang katanya ada seorang gadis desa yang masih belum menikah. Namun lagi dan lagi Ethan takut untuk memulai, walaupun Ethan tidak dapat menolak keinginan Ibunya itu, Ia menemui perempuan itu hanya untuk mencoba menghargai keinginan sang ibu.
Namun entahlah, saat ini entah mengapa wajah Selina melintas dalam ingatan nya. Dan sejujurnya Ethan ingin sekali mencoba mendekati sosok Selina, walaupun hati nya belum menunjukkan tanda-tanda sembuh dari luka lama itu.
Sampailah Ethan di sebuah gedung dimana pernikahan teman nya di gelar, Ethan pun segera memarkirkan mobil miliknya itu. Dan tak sengaja melihat seseorang yang tak lain adalah Sitha, Ethan pun memanggil Sitha dan Sitha menyadari bahwa sosok Pria yang memanggilnya adalah Ethan. Namun raut wajah Sitha terlihat begitu tak semangat, “Siapa sayang?” kata seseorang di hadapan Sitha yang tak lain adalah Nathan.
Hal itu sontak membuat Ethan terkejut saat ia berusaha menghampiri mantan Istrinya itu, Ia melihat kehadiran Nathan dengan mobil mewah milik Nathan di dekatnya. Ethan pun bertanya, “Bukankah kamu masih berada di Swiss?” Tanya Ethan.
Sitha terdiam dan, “Aku.. Aku..”
“Kak Sitha baru datang tadi siang Bang.” Sahut Nathan.
Sitha menarik napasnya dalam-dalam, “Iya Eth, kebetulan aku meminta jemput pada Nathan karena aku..” Tangan Ethan memintanya untuk segera berhenti menjelaskan, hati Ethan kembali merasa sakit saat melihat kebersamaan keduanya. Saat ini keyakinan akan apa yang ia lihat sepulang berlari itu pun semakin besar, Ethan melihat seseorang yang tak lain adalah Sitha itu berada di dalam kendaraan yang sangat mirip dengan kendaraan adiknya itu.
“Aku tidak bertanya padamu Nathan,” sahut Ethan, “Dan aku tidak butuh penjelasan mu Sitha.”
“Aku hanya melihat mu dan berusaha menyapa mu dengan baik.” Sahutnya kembali, tatapan nya kembali dingin dan tak lama kemudian ia pun pergi meninggalkan Sitha. Tanpa mereka sadari mempelai wanita pengantin itu adalah teman baik Sitha selama di Swiss dan mempelai lelaki tersebut adalah teman semasa SMA Ethan. Ethan dan Nathan yang hanya berbeda satu tahun pun sama-sama mengenal lelaki tersebut, namun Nathan seakan tidak yakin bahwa kakaknya akan menghadiri acara pernikahan pada malam tersebut. Karena semenjak Ethan mengalami depresi itu, Ethan selalu menghindari acara-acara berbau pernikahan. Ethan pun masuk dan segera memberikan sebuah kartu undangan yang menajdi tiketnya untuk masuk, lalu hanya terhalang sepasang wanita dan pria lainnya sosok Nathan dan Sitha terlihat berdiri di belakang seraya menunggu Ethan untuk masuk terlebih dahulu.
Satu persatu Ethan menyalami teman-teman yang ia kenal sebelumnya, lalu Ia segera menghampiri kedua mempelai. Ethan menyapa kedua mempelai tersebut, “Wah Than, gw kira lu gak akan datang?” Tanya teman nya itu.
“Iya masa sih sahabat nikah gak datang,” Ethan pun memeluk tubuh sahabatnya dan saat melihat Sitha datang bersama adik kandung dari Ethan, Deni sang mempelai Pria begitu terkejut bahkan Istrinya begitu akrab mengenal sosok Sitha dan Deni tahu betul bahwa Sitha adalah mantan Istri sahabatnya itu.
Ethan yang kehilangan selera makan pun memilih untuk membawa satu gelas minuman berasa, dan dari kejauhan Ethan melihat secara nyata kedekatan Sitha bersama adik kandungnya itu. Ethan menatap sendu hal tersebut, Ia tidak menyangka bahwa satu tahun lebih ia hanya hidup dengan sia-sia saat memikirkan Sitha. Bahkan setelah perpisahan terjadi, Sitha masih saja meminta uang kepada Ethan dan Ethan masih memberikan apa yang selalu Sitha minta dan hari ini keputusan nya sudah final. Ethan merasa di sia-sia kan oleh Sitha, Ethan pun merasa tidak di hargai oleh mantan Istrinya itu.
Walaupun hatinya masih sangat mencintai sosok Sitha, Ia akan berusaha untuk bangkit dan melupakan rasa trauma nya itu.
“Mas Ethan..” Suara itu begitu sayuo terdengar, Ethan sangat mengenal suara tersebut. Suara wanita cantik yang di gadang-gadang akan menjadi jodohnya itu pun terdengar di telinga nya, namun Ia seakan merasa bahwa dirinya sedang berkhayal semata. Ia tetap terdiam dan mencoba untuk tidak melirik kearah suara tersebut, “Mas Ethan.” Tepuk Selina dari arah belakang.
Ia pun menoleh, “Aku kira bukan Selina yang memanggil ku.” Pekik Ethan.
Selina pun menatap nya, “Dan sepertinya sedari tadi Mas Ethan sudah menyadari bahwa aku memanggil Mas kan?” Tanya Selina kepada Ethan, pertanyaan itu terasa memekik Ethan. Wajahnya kembali memerah, “Mas Tuan Ethan menghadiri Undangan ini? Teman Mas? Kerabat atau rekan kerja?”
“Selina gak menyangka kalau saat ini kita bertemu kembali.” Lanjut Selina.
Ethan pun menjawab, “Ya, Deni sahabat saya semasa SMA.” Selina mengangguk pelan tanda ia menanggapi jawaban Ethan, “Kalau Nona mbak Selina disini teman, kerabat atau ?”
“Panggil Selin aja.” Berulang kali ia menegaskan Ethan agar tak memanggilnya dengan sebutan Nona.
Namun Ethan menukas permintaan Selina, “Saya harap juga kalau Selin tidak memanggil saya dengan sebutan Mas Tuan, cukup Mas Ethan saja.” Selina tertawa kecil melihat sikap dan kalimat yang di ucapkan oleh Ethan.
“Mengapa tertawa? Apa menurut Selin saya lucu?” Tanya Ethan, Selin menatap nya lekat. Tatapan penuh cinta itu membuat wajah Ethan terlihat kikuk, Ethan mencoba membetulkan rambutnya itu dan terlihat begitu sangat gugup.
Selina pun menyadari bahwa sosok Ethan sedang merasakan hal yang tidak biasa, “Mas Ethan sudah makan?” Tanya Selin.
“Sudah, dirumah.” Jawab Ethan singkat, “Selin belum jawab pertanyaan saya loh.” Protes Ethan berlanjut.
Selin pun menjawab pertanyaan Ethan, “Selin berteman baik dengan Kak Angel, Istrinya Mas Deni.” Mereka berbicara sembari berjalan dan tanpa mereka sadari, sebuah taman indah berada di hadapan mereka. Mereka pun terlihat begitu jauh dari Kerumunan orang-orang yang menghadiri Acara pernikahan tersebut, “Dunia sempit ya Mas, sedari tadi ketemu Mas terus.” Ucap Selin.
“Ya saya harap kamu gak bosen lihat saya terus.” Celetuk Ethan.
Dan Selin tersenyum sembari menatap wajah Ethan, “Mana ada sih wanita bosen saat bertemu Mas, Mas itu ramah, baik, sopan dan..” Pujian nya terhenti saat wajah Ethan kembali memerah.
“Dan apa Sel?” Tanya Ethan.
Selina pun menghentikan kalimat nya itu, “Wajah Mas merah.” Bisiknya.
“Wajah saya merah kenapa selin?” Tanya nya kikuk.
Selina mengangkat kedua bahunya, “Ndak tahu Mas, Selin kan gak buat apa-apa.” Seloroh Selin seraya membuat pria tampan di hadapan nya semakin merasa kikuk.
“Duh Selin, kamu bikin saya penasaran ini. Muka saya merah kenapa ya?” Tanya Ethan kembali.
“Ya mungkin Karena Mas Ethan menahan rasa malu, gugup atau mungkin..” Goda Selin kembali, melihat situasi Ethan yang semakin terlihat canggung. Selin pun berucap, “Selina bercanda Mas.” Ethan pun mengusap peluh keringatnya dan ia juga mencoba mengusap d**a miliknya sembari menarik nafasnya dalam-dalam.
“Kamu itu,” sahut Ethan kembali.
“eh Iya, Selin mau pulang kapan?” Tanya Ethan.
“Sekarang sih Mas, sebenarnya sudah sedari tadi. Pulang kantor nyambi ke salon dan sampai kesini.” Jawab Selina, “Mas masih mau di dalam?” Tanya Selina.
“Oh Enggak, kebetulan saya mau pulang Selin. Kalau tidak keberatan, kamu pulang bersama saya. Aman kok, saya gak akan macam-macam.” Ajaknya pada Selin, Selin terlihat seakan berpikir namun Ia sangat yakin jika Ethan tidak akan merasa keberatan saat mengajak nya pulang bersama. Selina pun mengiyakan apa yang di tawarkan oleh Ethan dan mereka pun memutuskan untuk pulang bersama.
Lagi dan lagi Ia melihat sosok Nathan yang berjalan beriringan dengan mantan istrinya, Selina melihat kedua sosok itu. Sitha memanggil Ethan dan Ethan terlihat menghentikan langkah kakinya, “Ethan, bisakah kita berbicara berdua?” Tanya Sitha tanpa menatap kearah dimana Selina berdiri.
“Sudah malam Sitha, maaf lain waktu saja.” Tolaknya saat itu.
Ethan juga melihat keberadaan adiknya itu, Ethan tak menghiraukan tatapan lekat yang diberikan sang adik dan memilih kembali berjalan menuju dimana mobilnya terparkir. Ethan membukakan pintu samping kemudi agar Selina segera masuk kedalam mobilnya itu, dan Sitha masih berdiri terpaku di tempat sebelumnya.