Ia berdiri di belakang Ethan yang duduk dengan mata yang memandang ke sembarang arah, tatapan kosong itu entah memiliki makna seperti apa. Yang jelas, Selina merasa ragu saat akan menyapa sosok Ethan. Dan Selina pun merasa sudah terlanjur berdiri dibelakang sosok lelaki yang selalu ia panggil Tuan Duda tampan saat melihat video Wawancara tersebut, Selina pun memutuskan untuk segera menyapa sosok Ethan itu.
"Halo Tuan Ethan," sapa Selina yang sama sekali tak membuat Ethan tersadar dari lamunan nya.
Selina kembali menyapa Ethan tanpa menepuk bahu lelaki berusia 27 tahun itu, akan tetapi suara Selina tak mendapat jawaban dari sosok Ethan.
Ia pun membatin, "Kalau kata Bapak bisa saja Tuan Ethan sedang di Rasuki mahluk jahat penunggu danau, Ya Allah bagaimana caranya agar Tuan Duda ini tersadar dari lamunan nya itu."
Selina tetap berdiri di belakang Ethan, namun Ethan tetap terdiam membisu dengan pandangan yang kembali terlihat kosong.
10 menit pun berlalu, Selina masih saja tidak dapat menyadarkan lamunan Ethan. Lalu, tak lama kemudian Ethan terlihat tersadar dengan sendirinya. Ethan melihat sebuah bayangan dibelakangnya dan hal itu membuat bulu kuduk Ethan berdiri, "Siapa dibelakang ku, apakah mahluk cantik yang berada di Danau?" Kata Ethan dalam hati, Ethan pun memberanikan diri untuk melihat ke belakang. Jiwa berani Ethan akan mahluk Astral itu memang sangatlah besar walaupun sempat membuat merinding seluruh badan, dan saat Ethan melihat sosok dari bayangan itu.
Betapa terkejutnya Ethan bahwa Selina Gustira ada di belakang dirinya, "Halo Tuan, maaf kalau saya sudah mengganggu ketenangan Tuan."
"Oh tidak Nona Selin, sebenarnya saya juga mau pulang." Sahut Ethan dengan rona pipi yang memerah.
"Oh kalau begitu silahkan Tuan," sambut Selin yang terlihat mempersilahkan Ethan untuk melewati tubuhnya, namun Ethan tetap berdiri di hadapan nya.
Selina pun menatap kikuk ke arah wajah Ethan, begitupun Ethan yang juga sama-sama memberikan tatapan seperti itu.
"Oh Iya, Apa kabar Nona Selin?" Tanya Ethan.
Selin pun menjawab, "Alhamdulillah Baik Tuan, jangan panggil Nona. Panggil saja Selin, lagipula Selin lebih akrab bukan?" Ethan terlihat menggaruk kecil kepalanya itu, dan menurut Selin hal itu selalu di lakukan oleh orang yang merasa gugup atau kadang kala sedang berbohong. Tetapi mungkin saja Ethan sedang merasa gugup akibat pertemuannya bersama Selin, "Tuan Ethan bersama siapa kesini?" Tanya Selin kembali.
Ethan pun menjawab, "Kalau saya tidak boleh mengatakan Nona, bolehkah Nona juga tidak memanggil saya Tuan. Panggil saja saya Ethan." Selin sedikit menganggukkan kepalanya, "Kebetulan saya sendiri, tadi sih saya bersama Ibu. Tetapi adik saya menjemput nya dan saya berpikir untuk lari pagi menuju taman ini, dengan tujuan agar lebih jauh dari rumah." Terang Ethan.
Selina menyodorkan tangan kanan miliknya, "Selina Agustira." Ucap Selina.
Ethan terdiam, ia tidak mengerti mengapa Selina terlihat memberikan tangan kanan seraya memperkenalkan dirinya kembali.
"Maksud Selina?" Tanya Ethan.
Selina pun menjawab, "Kemarin saya tidak sengaja melihat sebuah akun sosial media bernama Ethan Badai memberikan tanda love pada gambar saya, saya ingin memperkenalkan diri saja. Siapa tau bisa berkenalan dengan pemilik akun tersebut." Raut wajah Ethan kembali memerah manakala ia tahu bahwa Selina tahu dirinya sedang melihat-lihat foto di dalam akun sosial media tersebut, "Maaf E-." Kalimat itu terhenti sejenak, Selina tidak nyaman saat akan memanggil Ethan dengan sebutan nama nya saja.
"Mas Ethan, Bang Ethan, atau Tuan Ethan. Aku lebih nyaman memanggil Mas saja? Bagaimana?" Tanya Selina, Ethan pun tersenyum dan kembali menggaruk ujung kepalanya.
"Boleh, kamu bebas memanggil saya apapun. Tetapi tidak dengan memanggil Pak, Tuan atau Bapak." Sahut Ethan.
Selina pun mengangguk dengan pelan, ia menyimpan tangan nya di belakang punggungnya itu. Lalu, "Apa Mas Ethan suka mengopi?" Tanya Selina.
"Suka, tetapi tidak begitu sering." Jawab Ethan.
"Kalau sekarang saya mengajak mengopi atau sekedar sarapan sembari berbincang apakah bisa Mas?" Tanya Selina, "Banyak hal yang terinspirasi dari perbincangan kita sewaktu itu, dan rasanya waktu kemarin sangat singkat bagi saya. Itupun kalau Mas Ethan berkenan." Sahut Selina kembali.
"Boleh Selina, tetapi sepertinya tubuh saya sudah berbau keringat." Jawab Ethan kembali, ia merasa tidak percaya diri saat menerima tawaran baik dari Selina. Namun Selina mengatakan bahwa ini adalah hal yang wajar dan meminta Ethan untuk tidak memikirkan permasalahan keringat pada badan nya karena sebenarnya jika berolahraga tentu saja hanya keringat yang keluar dari tubuh masing-masing orang.
Setelah menyetujui tawaran Selina, Ethan pun berjalan bersama-sama dengan Selina. Lalu, "Maaf jika Tanda Love pada foto mu sedikit mengganggu mu? Bahkan komentar masyarakat itu mungkin sudah sangat mengganggu dirimu." Ungkap Ethan kembali.
Selina menggelengkan kepalanya, "Jujur saja Selin juga mencari tahu mengenai Mas, jadi kita Impas kan?" Tanya Selin, Ethan pun tersenyum saat melihat betapa ramahnya sosok wanita berparas cantik itu.
"Ya kita Impas." Jawab Ethan, "Sebenarnya tadi saya bertemu dengan Ryan, teman kerja mu itu." Sambung Ethan. Selina terkejut dan terlihat seolah memikirkan apa saja yang Ryan katakan mengenai dirinya, langkah nya terhenti sejenak.
"Bang Ryan gak bilang apa-apa kan Mas?" Tanya Selina, Ethan tersenyum.
"Tidak ada, dia hanya menyapa saya dan Ibu. Memangnya apa yang harus ia katakan saat bertemu saya?" Tanya Ethan balik, Selina merasa terjebak dengan pertanyaan yang sedang Ethan berikan.
Ethan pun tersenyum kembali, "Tempat kopinya sudah dekat, Ayo lanjutkan langkah kakinya." Selina pun terlihat memicingkan matanya, setidaknya Ethan tidak lagi melanjutkan pertanyaan sebelumnya.
Sampailah mereka di sebuah kedai kopi ternama itu, Ethan mempersilahkan Selina untuk masuk terlebih dahulu dan Ethan berjalan di belakang Selina. Lalu mereka terlihat memilih tempat duduk yang dekat dengan sebuah kaca penghalang tersebut, "Mas Ethan mau kopi apa?" Tanya Selina.
"Kopi hitam hangat saja, tidak banyak gula agar pahitnya terasa." Jawab Ethan dan Selina segera menulis pesanan tersebut, "Kue atau roti atau mau sarapan lain?" Tanya Selina.
"Croissant saja, hanya itu yang saya suka di tempat ini." Jawab Ethan, Selina menatap wajah Ethan dengan seksama.
Lalu Selina bertanya, "Mas Ethan sering kesini ya?" Ethan mengangguk dengan pelan.
"Ya, biasanya saya kesini bersama mantan Istri saya. Tetapi itu pun satu tahun lebih yang lalu, dan semenjak itu saya tidak pernah lagi kesini. Karyawan nya pun sudah banyak yang berganti." Terang Ethan.
Selina pun mencoba memperhatikan raut wajah Ethan ketika mengatakan bahwa dirinya sering sekali mendatangi kedai kopi tersebut saat masih bersama mantan Istrinya, Selina melihat raut wajah yang tak biasa dan hal itu semakin membuat Selina merasa penasaran.
Air mata Ethan kembali merembes pada ujung kelopak matanya, dan Selina yakin jika sesuatu hal buruk terjadi pada perpisahan diantara Ethan dan Istrinya.
"Oh Iya, Selin tinggal dimana? Apakah di sekitaran sini juga?" Tanya Ethan yang terlihat mencoba untuk mengalihkan pembicaraan sebelumnya.
Selin yang mengerti dengan keadaan Ethan pun menjawab, "Ya Mas, di Apartemen Green Garden tepat di depan Komplek Surya kencana."
"Oh kalau saya masuk Komplek Surya kencana." Sahut Ethan.
"Oh Ya, ternyata kita tak tinggal berjauhan ya Mas. Kalau Bang Ryan di Komplek Surya kencana 1." Ethan mengangguk dengan pelan, "Dia baru pindah sih 3 bulan ini, katanya hadiah dari Kakak nya sebagai hadiah pernikahan." Sambung Selina.
"Rumah yang baru Renovasi itu kan?" Tanya Ethan.
"Iya, Mas dekat ya dengan rumah Bang Ryan?" Tanya Selina balik.
Ethan membalasnya dengan anggukkan kecil, "Saya masuk lagi Cluster Golden Surya," jawab Ethan.
"Rumah Mas Ethan di Cluster Golden Surya?" Tanya Selina, "Itu Cluster impian Bang Ryan dan aku, aku sendiri bercita-cita membeli rumah disitu dan bertetanggaan bersama Bang Ryan dan Mbak Citra. Tapi sayang, Uang nya gak pernah cukup." Sambung Selina, pesanan pun datang. Selina terlihat sibuk menata pesanan tersebut dan Ethan terlihat memperhatikan apa yang ada di dalam diri Selina terutama senyuman nya, senyuman yang akan membuat pria jatuh cinta walaupun baru satu atau dua kali bertemu dengan nya.
Setelah selesai melakukan penataan pada Cangkir kopi dan beberapa pesanan lainnya, Selina segera menyeruput kopi pesanan nya. Lalu, "Mas Ethan sudah lama tinggal di sana?" Tanya Selina kembali.
"Sudah lama, dan Rumah itu rumah orang tua saya. Sebenarnya saya berasal dari luar kota, tetapi saya merantau demi menggapai cita-cita. Dan masa kecil saya, saya habiskan di desa." Selina tersenyum manis, seperti biasa ia selalu kagum dengan jawaban yang di berikan oleh sosok Ethan Badai Surya ini.
"Saya doakan kamu bisa membeli rumah di dalam Cluster itu, biar kita bisa menjadi tetangga dekat. Dan jujur, Ibu saya sangat mengagumi Selin dan Ibu sempat memaksa saya untuk mengajak Selin dan Ryan untuk makan malam di rumah saya." Selina terkejut dengan kalimat yang baru saja terucap, "Jika berkenan, Selin dapat menghubungi saya." Sambung Ethan.
Mulutnya menganga dan tak percaya bahwa sosok Ibu dari Ethan mengagumi sosok nya, "Selin gak punya Nomor Mas." Ucap Selin polos.
Ethan pun tersenyum, "Biar saya Save nomor Selin, nanti saya hubungi Selin."
Selina terdiam sejenak, "Apa tidak akan ada yang marah saat Mas menyimpan nomor wanita lain?" Tanya Selina.
Pertanyaan itu membuat Ethan tertawa kecil, "Status saya sudah jelas, saya duda yang tidak beranak. Perceraian saya pun sudah sangat lama terjadi, yang menjadi pertanyaan. Apakah kekasih Selin tidak marah saat saya nanti mengundang Selin untuk makan malam? Jika Jawaban nya marah, biar saya juga mengundang beliau untuk ikut menghadiri undangan acara makan malam yang diberikan ibu saya." Ujar Ethan dan hal itu membuat gugup sosok Selin, Selin menunduk lesu saat mendengar sebuah pertanyaan mengenai sosok kekasihnya.
Ethan kembali bertanya, "Maaf jika saya membuat Selina merasa tersinggung, apa Selin merasa kesal dengan pertanyaan saya?" Tanya Ethan kembali.
Selin menggelengkan kepalanya itu, "Kebetulan saya tidak pernah pacaran Mas, dan saya sama sekali tidak memiliki pacar. Jujur saya malu kalau ditanya apakah sudah punya kekasih? Atau siapa kekasih mu Selin?"
Ethan terlihat semakin merasa bahwa Selina memang wanita yang sangat baik sama seperti penilaian Ibunya, "Jadi Selin belum pernah memiliki kekasih sama sekali?" Tanya Ethan.
"Belum, tetapi bukan tidak laku Mas." Jawab nya sedikit menyeletuk.
"Alasan nya?" Tanya Ethan, "Ups, Sorry. tidak usah dijawab Selin. Maaf jika saya sudah sangat keterlaluan." Sambung Ethan.
"Tidak apa-apa Mas, santai saja. Alasan nya akan saya jawab karena sangat simple," jawab Selina, "Semua karena petuah Bapak dikampung, Bapak bilang Allah tidak akan pernah salah dalam memberikan waktu. Begitupun memberikan waktu untuk Selina mendapatkan jodoh, Bapak juga bilang, kalau bisa pacaran setelah menikah itu lebih baik dan kata Bapak, Selina jangan hanya menjaga tubuh Selina tetapi hati dan pikiran. Dan saat itu tiba, hati juga pikiran Selin akan terisi dengan hal yang baik." Terangnya Kembali, Ethan begitu takjub dengan kepolosan Selina dan Ethan merasa jika apa yang dikatakan oleh Ibunya selalu menjadi yang terbaik untuk dirinya.
Satu persatu perbincangan pun selesai, banyak hal yang mereka tahu bahkan mereka dengar mengenai kepribadian masing-masing dan seperti mereka akan sangat nyaman dengan perbincangan tersebut.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang dan itu artinya sudah lebih dari cukup waktu untuk mereka saling berbincang, apalagi Selin yang harus menuju kantor pukul 1 siang nanti dan hal itu memutuskan mereka untuk pulang menuju kediaman masing-masing. Dan dalam perjalanan pulang, Ethan tak sengaja melihat sebuah mobil berwarna hitam melintas melewati dirinya. Mobil mewah itu adalah mobil adik kandungnya yang juga diberikan oleh dirinya saat itu, Ia terkejut saat melihat seseorang yang duduk dengan santai di samping kursi kemudi yang di duduki oleh adiknya itu. Dan sosok wanita itu tak lain adalah Sitha, mantan istrinya itu.
Ethan terdiam sejenak, "Bukankah Sitha berada di Swiss?" Tanya Ethan dalam hati, "Lalu mengapa dia bersama Nathan?" Tanya nya kembali.
Tanpa berpikir panjang, Ia pun segera pulang untuk memastikan bahwa adiknya masih berada bersama Ibunya dan Ia berpikir bahwa dirinya salah dalam melihat sosok kedua orang di dalam mobil hitam yang sangat ia kenali.