Keesokan harinya adalah hari yang sangat cerah, seperti biasa Ethan selalu menyempatkan diri untuk mengajak sang ibu berjalan santai di sekitaran Komplek. Ethan yang sangat begitu menyayangi sang Ibu tanpa lelah menggenggam tangan Ibunya walaupun langkah kakinya sangat pelan, Ia hanya selallu berharap kesehatan sang Ibu itu semakin membaik.
“Than, nanti kalau Ethan atau Nathan sudah menikah dan memberikan Ibu seorang mantu, mereka yang akan menjaga Ibu.” Urai sang Ibu yang selalu bermimpi jika sang anak dapat memiliki kekasih hatinya kembali, Ethan hanya membalas dengan sebuah senyuman.
“Nanti kalau sudah waktunya, Tuhan akan mempertemukan kembali Ethan dengan wanita yang Ibu mau ya. Ibu sehat, ibu harus selalu bahagia. Ethan mau ibu selalu mendampingi Ethan.” Sahut Ethan, seseorang memanggil Ethan dari kejauhan.
“Tuan Ethan.” Ethan segera mengalihkan pandangan nya itu, Ia melihat seseorang yang tak lain adalah Ryan seorang cameramen yang sewaktu itu menemani liputan wawancara dirinya. Ethan mencoba mengingat sosok Ryan, “Aku Ryan, teman Selina yang waktu itu menemani Selin melakukan wawancara bersama Tuan.” Sambung Ryan seraya mengingatkan.
Ingatan nya pun terlintas dengan jelas, “Ah Iya, Bang Ryan.” Kata Ethan sembari tetap memegangi tangan Ibunya. Ryan tersenyum, “Tapi jangan panggil saya Tuan, panggil saja Pak Ethan atau Abang Ethan. Asalkan jangan Tuan.” Sambung Ethan dengan senyuman yang begitu ramah.
Ryan pun mengangguk, “Abang saja, kalau Bapak saya rasa terlalu tua untuk sekelas Abang.” Sahut Ryan.
“Oh Iya, perkenalkan ini Ibu kandung saya. Ibu Aminah.” Ucap Ethan menyusul.
Ryan pun meraih tangan Aminah dan mengecup punggung tangan Aminah, Ryan begitu sangat sopan dan Aminah merasa sangat menyukai sosok anak muda seperti Ryan. Aminah pun bertanya, “Nak tadi kamu mengatakan bahwa kamu adalah seorang kameramen saat meliput wawancara itu?” Ryan kembali menganggukkan kepalanya.
“Iya Bu,” Jawab Ryan singkat.
Aminah melirik kearah wajah anaknya, “Bu.” Panggil Ethan sembari menggelengkan kepalanya kecil.
Lalu Aminah terlihat memberikan sebuah lirikkan maut kepada Ethan, dan Ethan tak mampu menghalangi apa yang ingin Ibunya katakan. Ryan pun seolah menunggu kalimat yang akan dikatakan oleh Aminah, “Kamu teman dari Selina?” Tanya Aminah, raut wajah Ethan begitu memerah seakan menahan malu saat Ryan menatap kearah nya.
“Tentu Ibu, Selina adalah teman baik saya selama di Kantor tempat kami bekerja.” Jawab Ryan, “Apa ada hal membuat Ibu merasa terganggu atau apakah Selina kurang berkenan saat melakukan wawancara bersama Bang Ethan?” Tanya Ryan kembali.
“Selina bukan kekasih Nak Ryan kan?” Tanya Aminah kembali.
Ryan tersenyum lebar, “Dia sudah seperti adik saya Bu, kebetulan bulan ini saya sedang mempersiapkan pernikahan. Jika berkenan saya akan memberikan undangan spesial untuk Ibu dan Bang Ethan, karena sepertinya kita hidup bertetangga ya. Hanya saja saya baru menyadarinya.” Terang Ryan.
Ethan menyahuti kalimat tersebut, “Saya akan senang jika Ryan berkenan memberi kami Undangan pernikahan, dan saya pastikan akan datang untuk ikut serta dalam acara kebahagiaan Ryan dan calon Istri.” Ryan pun terlihat begitu senang karena menurutnya seseorang yang sangat terkenal itu menerima undangan acara pernikahan nya dengan sangat baik dan rendah hati, dan tentunya hal lain muncul di dalam benak Ryan, Ryan akan berusaha menjodohkan Selina dengan lelaki tampan nan baik yang ada di hadapan nya ini. Apalagi banyak sekali orang yang memberikan dukungan kepada mereka ketika nantinya berjodoh.
Lalu Aminah menyela, “Salamkan salam Ibu padanya, Ibu sangat menyukai sosok Selina dan berharap jika Selina belum lah memiliki tambatan hati.” Kekeuh Ibunya, Ethan tak mampu menolak apa yang ingin ibunya sampaikan baginya jika Ibunya ingin mengatakan ya, Ethan pun harus mengatakan ya.
Ryan begitu senang dan mengatakan bahwa dirinya akan dengan senang hati mengatakan kalimat berupa pesan itu kepada Selina, “Kalau begitu Ryan pamit ya Bu, Bang. Sampai jumpa di pernikahan Ryan nanti.” Kata Ryan, Ethan mengiyakan dengan sopan saat mendengar Ryan berpamitan dan setelah Ryan pergi Ethan terlihat menepuk dahinya sendiri.
“Ethan kenapa?” Tanya Ibunya.
Ethan menarik tangan nya itu, “Tidak Bu Ethan hanya sedang mengusap keringat di dahi Ethan,”
“Mengusap kok menepuk sih Than.” Celetuk Ibunya itu di iringin sebuah Tanya dari sang Ibu.
Ethan pun terlihat begitu kikuk saat mendengar sebuah kalimat spontan yang di ucapkan oleh sang Ibu, Ethan mengajaknya untuk duduk sejenak. Ethan pun bertanya pada Ibunya, “Apa ibu lelah?” Tanya Ethan.
Sang Ibu menjawab, “Tidak, kalau Ibu dengan Ethan. Ibu tidak akan merasa lelah. Justru semangat, kan mau lihat Ethan dan Nathan menikah, hidup bahagia, memiliki anak dan Ibu memiliki cucu. Sepertinya kebahagiaan Ibu akan sangat lengkap.”
“Ibu doakan Ethan terus ya.”
Tringggg………
Sebuah dering ponsel berdering, tentu saja itu adalah ponsel milik Ethan. Ethan pun segera menerima panggilan tersebut, “Halo?” sapa Ethan.
“Lagi dimana Bang?” Tanya seseorang yang tak lain adalah Nathan.
“Di taman, kenapa Nath?” Tanya Ethan, “Kamu lagi dirumah?” Tanya Ethan kembali.
“Iya, Aku Cuma sebentar mau ketemu Ibu.” Jawab Nathan.
“Ya sudah kamu bawa Ibu ditaman sini, kebetulan aku masih mau lari pagi.” Sahut Ethan yang sengaja membiarkan Nathan duduk berdua di rumahnya bersama Ibunya itu, Nathan pun mengiyakan permintaan kakaknya dan segera memutuskan panggilan nya tersebut. Tak berselang lama Nathan pun datang dengan menggunakan mobil mewah berwarna hitam, lalu keluar dari dalam mobil miliknya itu. Ia menyapa kakak nya dan Kakak nya terlihat masih saja bersikap dingin.
“Ibu, Ibu pulang saja ya. Ethan masih mau olahraga, lagipula kasihan Nathan kalau disuruh menunggu ku dulu.” Ibunya pun mengangguk dan Nathan terlihat menggandeng tangan Ibunya serta membawa Ibunya untuk masuk kedalam mobil. Ethan berucap kembali pada Nathan, “Katakan jika sudah selesai berbicara dengan Ibu.” Nathan pun menganggukkan kepalanya, dan segera membawa Ibunya pulang.
Ethan memilih untuk kembali melakukan olahraga pagi, dan kali ini Ethan hanya seorang diri. Bukan karena ia ingin melakukan olahraga akan tetapi ia tak ingin berada di tempat yang sama dengan adik yang sudah ia maafkan itu. Rasa sakitnya semakin besar manakala menatap wajah adik kandungnya itu, dan peristiwa itu selalu kembali muncul manakala melihat wajah Nathan dari dekat.
Sementara itu, di tempat berbeda Selina juga sedang berada di sebuah taman. Taman dengan danau di hadapan nya, sebenarnya Apartemen Selina tepat di belakang komplek mewah yang di tinggali oleh Ethan dan Ibunya dan sebenarnya mereka begitu dekat sedari lama. Namun sayang, Ethan maupun Selina tidak pernah bertemu sama sekali.
Dan, “Iya Bapak Selina nanti pulang ya.” Ucap Selina yang terlihat asyik dengan ponsel di telinganya, sepertinya Selina sedang mencoba menghubungi Ayah nya yang berada di kampung halaman nya itu.
“Pulang sih pulang Cahayu tapi jangan lupa bawakan Bapak mantu yang baik, penyayang. Tidak perlu kaya, karena kaya itu hanyalah bonus. Sing penting sayang dan mampu membawa Cahayu ke dalam kebahagiaan.” Kata Ayah nya itu.
“Enggeh bapak, InshAllah kalau Allah sudah mengijinkan. Bapak dan Ibu berdoa saja ya.” Jawab Selina.
“Pasti lah, Bapak dan Ibu akan selalu mendoakan kamu cahayu, anak tunggal kesayangan Bapak dan Ibu.” Timpal Ibunya. Selina tersenyum, Ia memang begitu sangat bahagia manakala menghubungi Ayah serta Ibunya. Dan kebahagiaan itu tidak dapat di tukar dengan apapun, Selina memiliki kesamaan yang sangat signifikan dengan sosok Ethan dan kesamaan itu adalah sama-sama berbakti kepada Orang tuanya, rasa sayang dan empati kepada orang tua begitu sangat besar.
“Bapak dan Ibu sudah makan?” Tanya Selina.
“Sudah sayang, kamu jangan sampai tidak makan ya. Ingat kesehatan sangat penting.” Ujar Ayahnya.
Dan Selina menjawab, “Selin akan selalu mengingat apa kata Bapak, Ibu. Petuah dan nasihat Bapak dan Ibu sangat berarti untuk Selin. Ya sudah Selin sudahi dulu ya, Selin mau pulang dan kebetulan hari ini Selin ada pekerjaan mendadak dan harus ke kantor.”
“Ya sudah, baik-baik ya Nak disana.” Kata Ayah juga Ibunya, Selin mengiyakan dan mengucap salam tanda percakapan itu selesai.
Dan saat Selin membalikkan tubuhnyA, Ia hendak melakukan perjalanan pulang menuju Apartemen miliknya ia tak sengaja melihat Ethan yang sedang duduk di tepi danau.
“Sepertinya itu Tuan Ethan, sedang apa ya dia di sana. Apa aku hampiri saja, tetapi apa yang harus aku katakan? Komentar Masyarakat sangat membuat ku malu.” Batin nya sembari sedikit memperhatikan keberadaan Ethan, ingin sekali hatinya untuk menghampiri Ethan, namun Ia merasa bingung manakala menyapa sosok Ethan.
Namun lagi dan lagi hatinya mengatakan bahwa dirinya harus menghampiri Ethan walaupun hanya sekedar menyapa sosok Ethan, “Sudahlah aku hampiri saja, lagipula dia bukan harimau yang akan menerkam ku. Dia lelaki baik, rendah hati dan sangat ramah. Mungkin saja dia bisa menjadi teman ku disini.” Imbuh Selena kembali, Ia berjalan perlahan dan segera menghampiri sosok Ethan.