===== BAB 48: Pelarian Bram =====
Kapten Kedua mengundang penyintas kembali ke tempat kebohongan dimulai.
Polisi melarang Rafi datang. Bram mungkin mencari sandera, pertukaran, atau panggung untuk bunuh diri. Koordinat diperiksa dengan drone termal, tetapi menara tampak kosong.
Rafi bersedia menjadi bagian rencana hanya bila keputusan dipimpin polisi dan keluarga korban diberi tahu. Ratih tidak memiliki hak memerintah operasi, tetapi ia meminta keselamatan Rafi tidak dikorbankan demi bukti yang mungkin sudah ada.
Nisa menemukan koordinat mengarah pada pemancar lama, bukan bangunan utama. Sinyal telepon Bram memantul melalui tiga relay. Undangan itu kemungkinan menarik tim menjauh dari target lain.
Target tersebut adalah ruang dekripsi. Pada saat polisi berkumpul, sistem udara laboratorium melaporkan gangguan. Petugas menutup ruangan dan menemukan tabung gas tidur terpasang pada ventilasi. Tidak ada orang di dalam; pecahan telah dipindahkan ke brankas pengadilan setelah sesi.
Bram menggunakan informasi lama. Kegagalannya menunjukkan ia tidak mengetahui prosedur baru yang ditentukan keluarga. Nara mengirim kabar kepada Ratih tanpa merinci operasi rahasia.
Polisi tetap mendatangi menara dengan robot. Di lantai atas terdapat proyektor yang memutar rekaman Fajar memberi perintah, serta kotak bertuliskan UNTUK RAFI. Pemeriksaan bahan peledak menemukan pemicu tekanan di bawahnya.
Robot menonaktifkan pemicu. Kotak berisi salinan buku harian Bram. Sebagian halaman asli, sebagian hasil cetak baru. Ahli harus memisahkan pengakuan autentik dari cerita yang sengaja ditanam.
Satu halaman memuat rute pelarian melalui kanal menuju galangan kapal. Kamera lalu lintas melihat van dengan pelat palsu bergerak ke sana. Tim membagi kekuatan tanpa meninggalkan keluarga tak terlindungi.
Rafi tetap di pusat komando. Bram menelepon lagi dan menuduhnya pengecut. Rafi menjawab hanya satu kalimat: 'Saya tidak akan mengikuti aturanmu.' Lokasi panggilan terdeteksi selama tujuh detik, cukup untuk mempersempit tiga dermaga.
Di dermaga kedua, polisi menemukan van kosong. Dermaga ketiga memiliki kapal kecil yang baru menyalakan mesin. Pengeras suara memerintahkan penumpang menunjukkan tangan. Seseorang menembak dari kabin dan mengenai lambung kendaraan polisi.
Tembakan balasan dihentikan ketika kamera termal melihat dua tubuh. Bram membawa penjaga galangan sebagai sandera. Negosiator mengambil alih dan menawarkan jalur medis untuk luka kakinya.
Bram menuntut bicara dengan Fajar, bukan Rafi. Jaksa mengizinkan sambungan rekaman dari tahanan rumah. Fajar menyangkal mengenalnya dan menyuruh polisi menembak. Reaksi itu menghancurkan harapan Bram mendapat perlindungan mantan atasannya.
Sandera memanfaatkan kebingungan untuk menjatuhkan diri ke air. Polisi penyelamat menariknya. Bram menyalakan kapal, tetapi tali tambat yang belum dilepas membuat mesin berputar miring dan menabrak dermaga.
Ia keluar sambil mengangkat senjata. Negosiator terus memerintahkannya meletakkan pistol. Setelah jeda panjang, Bram menaruhnya di lantai dan berlutut. Penangkapan dilakukan hidup-hidup, dengan kamera tubuh seluruh petugas aktif.
Di ambulans, Bram mencoba menawarkan lokasi bukti sebagai imbalan kekebalan. Polisi menjawab kesepakatan hanya dapat dibahas bersama jaksa dan pengacara. Lukanya dirawat tanpa syarat.
Sandera mengalami hipotermia ringan dan diberi bantuan hukum sebagai korban, bukan sekadar saksi. Identitasnya tidak diumumkan.
Nara melihat rekaman penangkapan setelah rantai bukti diamankan. Tidak ada rasa lega yang utuh. Orang yang membakar toko ibunya dan memburu keluarga kini tertangkap, tetapi mesin yang membentuknya masih harus diadili.
Ratih meminta pecahan tetap dalam brankas keluarga-pengadilan. Tertangkapnya Bram tidak menjadi alasan mengembalikannya ke perusahaan.
Dokter memastikan Bram layak diperiksa setelah obat nyeri berkurang. Pengacaranya hadir sejak pertanyaan pertama. Penyidik hanya meminta identitas dan memastikan keselamatannya malam itu; tawar-menawar substantif dijadwalkan setelah kondisi stabil.
Di pusat komando, tim meninjau operasi tanpa merayakan. Mereka menemukan komunikasi antara unit dermaga dan pusat sempat terlambat dua puluh detik. Penundaan tidak menyebabkan korban, tetapi dimasukkan dalam evaluasi. Keberhasilan penangkapan tidak menghapus kelemahan prosedur.
Penjaga galangan mengingat Bram berbicara tentang kapal kedua. Polisi menemukan kapal tersebut kosong di sungai hilir, berisi hard disk dalam kantong tahan air. Perangkat disita dengan rantai bukti terpisah agar tidak tercampur barang dermaga.
Nisa mengamati hard disk hanya dari citra awal. Isinya dienkripsi dan mungkin memiliki jebakan hapus. Ia meminta pengadilan melibatkan ahli keluarga sebelum mencoba kunci dari Bram.
Rafi pulang bersama Nara ketika matahari terbit. Mereka tidak membicarakan cinta atau kemenangan. Rafi menanyakan keadaan penjaga galangan, dan Nara menunjukkan laporan bahwa pria itu sudah bertemu keluarganya.
Menjelang pagi, jaksa menerima pesan dari pengacara Bram. Kliennya bersedia mengaku sebagai Kapten Kedua dan menyerahkan kunci enkripsi tambahan bila Fajar didakwa sebagai pemberi perintah utama.
Penggeledahan tubuh Bram menemukan kunci loker stasiun. Surat perintah baru diperoleh sebelum loker dibuka. Di dalamnya ada uang tunai, obat, kartu identitas palsu, dan foto Fajar memasuki ruang risiko malam UX-217.
Foto belum dapat dianggap asli. Kertasnya tua, tetapi gambar bisa dicetak belakangan. Ahli mencari negatif, metadata sumber, serta saksi yang mengenali ruangan. Bram mungkin menawarkan campuran bukti dan umpan.
Fajar meminta semua barang loker dikeluarkan dari perkara karena berasal dari penggeledahan lanjutan. Hakim menjadwalkan sidang keabsahan. Jaksa menyimpan benda tanpa membocorkannya ke media.
Ratih mengingatkan keluarga bahwa tawaran kesaksian dapat mengurangi hukuman Bram. Sebagian marah, tetapi fasilitator menjelaskan manfaat dan risikonya. Tanpa kerja sama, bukti lain tetap harus cukup; dengan kerja sama, kebohongan Bram juga harus diuji.
Nara tidak ingin Bram membeli kebebasan dengan kebenaran yang seharusnya tidak pernah ia curi. Kresna menjawab perjanjian tidak harus berarti bebas; pengakuan, restitusi, dan hukuman berat masih mungkin berdampingan.
Bram tertangkap, tetapi tawarannya dapat memecah para terdakwa.