===== BAB 47: Nama Kapten Kedua =====
Bram bukan sekadar pemegang kode; dialah Kapten Kedua.
Penetapan resmi membuat perburuan berubah. Foto Bram disebarkan bersama peringatan bahwa ia mungkin memakai identitas penyedia jasa keselamatan. Polisi meminta masyarakat tidak mendekati atau menyebar alamat keluarga tersangka.
Bayu mengenali satu rumah singgah dalam daftar Merapi. Dahulu tempat itu dipakai tim pemulihan operasi. Ia menggambar jalur servis bawah tanah yang tidak muncul di peta kota. Polisi memverifikasi sebelum bergerak.
Nara dilarang ikut penggerebekan. Ia menerima tanpa perdebatan dan membantu dari ruang analisis, memeriksa kemungkinan perangkap digital. Rafi duduk di ruang lain bersama keluarga korban; akses mereka berbeda sesuai kebutuhan.
Di rumah singgah, polisi menemukan server menyala tetapi tidak ada Bram. Pintu bawah tanah mengarah ke kanal banjir. Jejak lumpur baru berhenti di jalan tempat kendaraan bisa menjemputnya.
Server memiliki mekanisme hapus otomatis. Nisa memutus daya pada urutan benar setelah melihat skema dalam arsip. Data terselamatkan, termasuk daftar identitas palsu dan pemesanan tiket menuju tiga kota.
Keira diminta mengenali nama samaran. Ia menunjuk Wira Bastian, mantan konsultan ayahnya. Tiket atas nama itu berangkat dua jam sebelumnya, tetapi kamera stasiun menunjukkan penumpangnya orang lain. Bram memasang pengalih.
Adit mengungkap Bram memiliki kebiasaan kembali ke lokasi yang dianggapnya berhasil. Untuk UX-217, lokasi itu bukan bandara, melainkan ruang kendali darat lama yang kini menjadi museum perusahaan dan sedang direnovasi.
Surya menutup museum tanpa mengumumkan alasan. Sensor malam mendeteksi akses pintu panel memakai token pensiunan. Tim taktis masuk dan menemukan bahan bakar, paspor, serta peralatan komunikasi. Bram sekali lagi sudah pergi.
Di dinding tertulis pesan untuk Rafi: anak yang diselamatkan seharusnya tetap diam. Rafi melihat foto pesan melalui penyidik. Ia tidak menanggapinya di media.
Forensik menemukan rambut dan darah segar pada tangga. Bram tampaknya jatuh saat melarikan diri. Rumah sakit di wilayah itu menerima peringatan rahasia agar tidak membuatnya takut berobat.
Seorang dokter klinik menghubungi polisi setelah merawat pria dengan luka kaki yang memakai identitas Wira. Kamera menunjukkan Bram meninggalkan klinik dengan taksi. Sopir mengantarnya ke rumah Keira.
Keira berada dalam pengawasan dan menyangkal bertemu. Rekaman pintu belakang menunjukkan orang berjaket masuk selama empat menit. Jaksa mempertimbangkan apakah ia membantu pelarian atau dipaksa.
Dalam pemeriksaan, Keira mengaku Bram meminta uang dan paspor. Ia memberikan dompet berisi pelacak yang sebelumnya disiapkan jaksa sebagai bagian kerja sama. Namun ia tidak memberi tahu petugas sampai Bram pergi karena takut ditembak di rumahnya.
Pelacak bergerak menuju pelabuhan kering. Polisi menjaga jarak agar Bram tidak membuang dompet. Ratih meminta keluarga dipindahkan sementara karena lokasi dekat jalur menuju rumahnya.
Nara melihat titik bergerak pada peta. Ketika berhenti di kontainer, tim taktis mengepung. Kontainer hanya berisi dompet dan pengeras suara yang memutar rekaman napas. Bram telah menemukan pelacak.
Namun perangkat merekam sidik suara saat Bram mengumpat. Ahli mencocokkannya dengan rekaman rapat UX-217. Kini identifikasi Kapten Kedua tidak bergantung pada satu sumber pun.
Kresna mengingatkan keberhasilan pembuktian bukan keberhasilan penangkapan. Setiap kebocoran operasi harus diaudit. Ditemukan satu petugas kontrak pernah bekerja untuk Merapi; ia ditarik dari tim sambil menunggu pemeriksaan, tanpa langsung diumumkan bersalah.
Polisi menemukan petugas kontrak yang dicurigai ternyata hanya pernah mengikuti pelatihan Merapi, bukan menerima perintah Bram. Ia dikembalikan ke tugas setelah pemeriksaan dan permintaan maaf tertulis. Tim mengumumkan koreksi internal agar kecurigaan tidak menjadi hukuman diam-diam.
Keira menyerahkan daftar tiga properti lain. Dua telah dijual kepada pihak tak terkait. Pemilik baru diberi tahu secara privat dan rumahnya tidak digeledah sebelum hakim melihat dasar bukti. Properti ketiga memuat gudang dokumen, tetapi halaman terakhir buku tamu disobek.
Serbuk kertas pada sobekan cocok dengan mesin penghancur di rumah singgah. Citra tekanan pena memulihkan sebagian tulisan: MENARA—ENAM JAM—R.D. Ini menunjukkan undangan kepada Rafi telah direncanakan sebelum kebocoran operasi terakhir.
Laras meminta Rafi tidak membaca semua pesan Bram seorang diri. Ancaman yang mengacu masa kecil dapat memicu ingatan campuran. Ia menyiapkan sesi setelah operasi, bukan memaksanya mengingat demi pengejaran.
Ratih mengirim pernyataan singkat kepada keluarga bahwa tersangka belum tertangkap, tetapi tidak ada alamat mereka yang terbukti bocor dari sistem baru. Transparansi terukur mencegah kabar liar membuat kepanikan.
Malam itu, telepon Nara menerima panggilan terenkripsi. Suara Bram terdengar tenang. Ia menawarkan menyerahkan bukti bahwa Fajar memerintahkan kecelakaan bila Rafi datang sendiri ke menara kendali lama.
Nara merekam panggilan dan tidak menjawab syaratnya. Bram menutup dengan koordinat serta batas waktu enam jam.
Penyidik menelusuri koordinat melalui tiga penyedia tanpa meminta data seluruh pelanggan. Surat perintah membatasi waktu dan menara yang relevan. Hasilnya menunjukkan panggilan berpindah mustahil cepat bila dilakukan satu telepon; Bram memakai relay otomatis.
Nisa membuat daftar perangkat yang mungkin menjadi relay. Dua berada pada gudang kosong dan satu tertanam di papan iklan dekat kantor regulator. Masing-masing memuat baterai baru serta sidik alat yang sama.
Rafi merekam pernyataan singkat untuk digunakan bila Bram menyebarkan video palsu. Pernyataan disimpan, bukan dipublikasikan, agar operasi tidak berubah menjadi perang pesan.
Nara meminta polisi mempertimbangkan kemungkinan Bram ingin menghancurkan pecahan, bukan menangkap Rafi. Penjagaan fasilitas arsip ditambah oleh unit yang tidak mengetahui rute rumah aman.
Kapten Kedua mengundang penyintas kembali ke tempat kebohongan dimulai.