===== BAB 19: Loker Nomor 314 =====
Perempuan itu memegang map berlogo regulator, bukan Bintang.
Wajahnya hanya terlihat setengah pada foto yang ditunjukkan Idris lewat sketsa ingatan. Nara tidak mengenalinya. Damar mencari daftar penyelidik perempuan yang bertugas tujuh belas tahun lalu, tetapi tidak membagikan nama sebelum foto asli ditemukan.
Operasi loker dimulai pukul enam pagi. Hanya enam orang masuk: Damar, Nara, Nisa, ahli struktur, teknisi kunci, dan petugas dokumentasi. Rafi menunggu di kendaraan, sesuai aturan agar reaksinya tidak memengaruhi pencarian. Idris hadir melalui video untuk menunjukkan jalur tanpa memasuki tempat yang memicu ketakutannya.
Lorong bawah tanah berbau karat dan air. Nomor loker banyak yang lepas. Loker 314 berada di ujung, tertutup panel iklan lama. Tag kuningan cocok dengan bekas pelat nomor, tetapi tidak membuka pintu. Teknisi memakai alat tipis setelah mendokumentasikan silinder.
Di dalamnya tidak ada kapsul. Hanya amplop cokelat yang menempel di bagian bawah rak, dilindungi lapisan lilin. Segelnya bertuliskan tangan: untuk orang yang berani membaca kesalahan kami.
Damar membuka amplop di meja portabel. Foto hangus menunjukkan Dion dan Rafi berdiri di jembatan servis. Perempuan bermap regulator membelakangi kamera. Di belakangnya tampak Bram berbicara melalui radio, sedangkan jam dinding menunjukkan empat puluh menit sebelum peluncuran.
Potongan manual terdiri atas dua halaman prosedur Akses Darurat. Sebuah catatan pensil pada tepi halaman berbunyi, 'AD bukan nama. Jangan biarkan mereka menaruhnya pada anak itu.' Tulisan tersebut cocok awal dengan sampel Dion, tetapi laboratorium harus memastikan.
Nara membaca manual. A.D. adalah singkatan untuk Akses Darurat, akun sementara yang dapat dibuat tanpa nama penumpang ketika seseorang masuk sebagai pelapor risiko atau petugas penyelamatan. Akun tersebut tetap harus ditandatangani dua pejabat dan dihapus setelah misi. Pada UX-217, tanda tangan kedua hilang.
'Berarti inisial pada lembar karbon tidak menunjuk Rafi,' kata Nisa.
'Belum otomatis,' jawab Nara. 'Bisa saja orang sengaja memakai kode yang mirip inisial. Kita butuh halaman definisi asli dan log sistem.'
Manual di loker memiliki cap revisi yang tidak tercatat dalam arsip Bintang. Damar meminta museum standar keselamatan mencari salinan resmi. Nisa memindai serat, tinta, dan nomor cetak. Semua mengarah ke periode sebelum UX-217, bukan dokumen yang dibuat belakangan.
Foto diperiksa di bawah cahaya multispektral. Pada map perempuan itu terbaca sebagian nomor perkara yang ternyata tidak pernah terdaftar. Damar menduga ia sedang melakukan penyelidikan pendahuluan yang dihentikan sebelum memperoleh nomor resmi. Daftar personel mempersempit identitas menjadi dua orang, salah satunya Laras Hendrawan yang saat itu dokter kontrak sekaligus konsultan medis regulator.
Bekas panas pada foto berasal dari sisi kanan, sedangkan amplop nyaris tidak terbakar. Artinya foto rusak sebelum disimpan, bukan akibat kebakaran loker. Seseorang mungkin mencoba memusnahkannya lalu berubah pikiran. Serbuk sidik pada tepi memperlihatkan pola Idris dan satu pola lain yang belum cocok dengan basis data.
Di dasar amplop terdapat kartu memori tipis yang terlalu modern untuk umur tujuh belas tahun. Seseorang menambahkannya sekitar enam tahun lalu, setelah Mahendra meninggal. Kartu berisi satu teks terenkripsi dan daftar tiga checksum. Nara menolak memasukkannya ke jaringan. Mereka menyalin citra bit per bit melalui perangkat tanpa koneksi.
Rafi diperbolehkan melihat foto setelah semua posisi dicatat. Ia mengenali perempuan itu sebagai Laras Hendrawan, dokter muda yang menanganinya di klinik. Ia tidak tahu mengapa Laras membawa map regulator. Nama tersebut cocok dengan dokter yang kemudian menandatangani catatan kecelakaan motor Singapura.
'Dia merawatku di dua negara pada hari yang seharusnya berbeda,' kata Rafi.
Kresna menemukan Laras kini menjalankan klinik kecil di Yogyakarta. Damar mengirim permintaan wawancara tanpa menyebut bukti spesifik. Mereka tidak ingin Bram atau Fajar mengetahui siapa yang akan bicara.
Merapi mengeluarkan pernyataan bahwa loker telah lama dapat diakses siapa pun, sehingga isinya mungkin ditanam. Nara menjelaskan kepada media hanya soal metode penanggalan, tidak isi. Ia menghindari kalimat 'bukti asli' sebelum hasil laboratorium final.
Sore itu museum standar mengirim halaman manual resmi. Definisi A.D. sama persis. Akun Akses Darurat harus memiliki tujuan, durasi, dan pengawas. UX-217 mencatat tujuan 'perlindungan pelapor', durasi satu perjalanan, sedangkan kolom pengawas ditutup tinta.
Nisa membandingkan nomor cetak halaman resmi dengan potongan dari loker. Urutan titik mikro pada kertas identik, teknik anti-pemalsuan yang tidak disebut dalam katalog publik. Laboratorium tinta juga menempatkan catatan Dion pada rentang yang sama dengan minggu kecelakaan. Tiga metode berbeda kini mendukung keaslian dokumen, walau asal penyimpanannya tetap harus dijelaskan di persidangan.
Rafi meminta Nara menemaninya ketika hasil dibacakan, lalu segera mengoreksi diri. 'Maksudku, apakah kau bersedia? Bukan sebagai kewajiban kontrak.' Nara memilih duduk di sebelahnya. Ia tidak menggenggam tangan Rafi saat kamera laboratorium menyala, tetapi setelah sesi berakhir dan Rafi meminta sekali lagi, ia membiarkan jari mereka bertaut selama beberapa napas.
Pelarut digital mengungkap lekukan di bawah tinta: inisial B.W. Nama Bram Wicaksana cocok, tetapi bisa ada orang lain. Lagi-lagi mereka mencatat sebagai arah, bukan vonis.
Nara mendatangi Rafi di ruang tunggu. 'Log itu tidak memakai inisialmu. Ini mengubah dugaan kita, bukan membebaskan semua tindakanmu.'
'Aku tetap naik tanpa manifest.'
'Ya. Dan ayah saya tetap membawamu. Kita akan menulis keduanya.'
Untuk pertama kalinya sejak bab 10, Rafi dapat memandang lembar A.D. tanpa melihat namanya sendiri pada setiap huruf. Namun kebebasan kecil itu datang bersama fakta lain: Bram terdaftar sebagai pengawas akun yang kemudian dihapus.
Manual resmi akhirnya memberi arti yang tidak dapat diputar oleh keluarga.
A.D. adalah Akses Darurat, bukan Rafi Dirgantara.