===== BAB 20: AD Bukan Rafi =====
A.D. adalah Akses Darurat, bukan Rafi Dirgantara.
Pernyataan itu tidak diumumkan sebagai slogan. Damar membacanya dalam konferensi teknis bersama halaman manual, cap revisi, hasil penanggalan tinta, dan batas temuannya. Ia menegaskan Rafi tetap berada di UX-217 serta perjalanan tanpa manifest masih diperiksa. Yang gugur hanyalah anggapan bahwa dua huruf tersebut merupakan inisial namanya.
Nara duduk di baris belakang bersama Nisa, bukan di panggung. Wajah Rafi muncul pada layar berita di samping kata 'penyintas', 'saksi', dan 'pewaris'. Beberapa media langsung menyebutnya bersih. Kresna mengeluarkan koreksi: belum ada orang yang dibersihkan dari seluruh tindakan hanya karena satu kode didefinisikan.
Fajar menanggapi bahwa manual loker tidak sah dan istilah Akses Darurat dapat direkayasa. Museum standar kemudian membuka katalog publik yang menunjukkan prosedur tersebut dipakai pada puluhan proyek lama. Kebohongan Fajar kehilangan ruang, tetapi belum menjadi bukti pidana.
Keira meminta bertemu Nara tanpa pengacara. Nara menolak pertemuan rahasia dan menawarkan ruang regulator dengan rekaman. Keira tidak datang. Sebagai gantinya, ia mengirim surel berisi satu kalimat: cari siapa yang mengaktifkan A.D. pada UX-408.
Nisa sudah melakukannya. Log current server menunjukkan token dengan format A.D. dipakai tiga menit sebelum data kalibrasi berubah. Sistem baru seharusnya tidak lagi menerima akun lama, tetapi sebuah modul kompatibilitas tetap aktif atas permintaan unit perencanaan Adit. Persetujuan bisnis datang dari direktorat Keira.
'Mereka tidak sekadar meniru kode Dion,' kata Nisa. 'Mereka memakai pintu darurat yang sama untuk menaruh kesalahan pada Nara.'
Rantai teknis menjadi jelas: kredensial Nara menandatangani perubahan, A.D. menyembunyikan pengguna sesungguhnya, dan laporan dikirim kepada Keira sebelum alarm. Namun belum diketahui siapa mengetik perintah atau apakah Adit memahami risiko terhadap 186 orang.
Nara meminta audit seluruh penggunaan modul kompatibilitas. Bintang menolak awalnya karena sistem memuat data rute strategis. Kustodian sementara yang ditunjuk perwalian memutuskan akses dapat diberikan di lingkungan terisolasi. Fajar tidak lagi memegang kunci tunggal setelah perintah pengadilan.
Rafi menjalani wawancara publik terbatas. Ia mengakui naik UX-217 sebagai pelapor muda, sejauh yang didukung bukti, dan tidak mengklaim ingat semua. Ia menyebut Dion melanggar manifest untuk membawanya, lalu meminta alasan pelanggaran dan akibatnya ditulis bersama. Nara menonton dari rumah aman dan menghargai bahwa Rafi tidak menggunakan ayahnya sebagai pahlawan tanpa cacat.
Sesudah wawancara, Rafi kembali membawa dua kotak makanan. Ia meletakkannya di meja dan bertanya sebelum duduk di sisi Nara. Kebiasaan kecil meminta izin terasa lebih berarti daripada ucapan cinta di depan kamera.
'Hari ini orang menyebutku korban,' katanya. 'Aku tidak tahu apakah pantas.'
'Korban bukan gelar yang menghapus kuasa. Kau bisa menjadi korban penghapusan ingatan sekaligus orang yang mendapat keuntungan dari penutupan kasus.'
'Dan ayahmu bisa melindungiku sekaligus mengambil keputusan berisiko.'
Nara mengangguk. Mereka makan tanpa mencoba menyelesaikan semua rasa bersalah malam itu.
Hasil awal kartu memori dari loker 314 muncul. Teks terenkripsi tidak dapat dibuka oleh satu pecahan. Tiga checksum cocok dengan struktur pembagian kunci tiga bagian yang ditemukan di arsip Mahendra. Citra perangkat hitam pada buku Jatmiko mungkin menyimpan pecahan pertama, sedangkan kunci kuningan kemungkinan membuka lokasi pecahan kedua.
Kresna menjelaskan bahwa pembagian tiga bagian dirancang agar tidak ada satu keluarga, regulator, atau operator mampu membuka ledger sendirian. Mahendra menempatkan petunjuk sistem dalam arsip keluarga, Dion membawa jalur fisik, dan pemegang eksternal menyimpan hak terakhir. Struktur itu menunjukkan para pembuatnya saling mencurigai, tetapi juga berusaha mencegah bukti hilang bersama satu orang.
Di sisi lain, sistem dapat menjadi berbahaya bila semua orang pemegang kunci mati atau takut. Nara meminta sejak sekarang dibuat protokol bahwa setiap pecahan yang ditemukan akan disimpan terpisah di bawah pengawasan pengadilan. Rafi setuju keluarga Dirgantara tidak memegang satu pun secara pribadi.
Pecahan ketiga tidak berada di keluarga Dirgantara. Satu baris metadata menyebut pemegang eksternal dengan kode K-11, angka yang dapat menunjuk sebelas korban. Nara teringat nama Ratih dalam kesaksian Sinta.
Sinta tidak memiliki alamat Ratih, tetapi menyimpan kartu ucapan belasungkawa dengan cap pos kota lama. Damar menugaskan pencarian administratif tanpa mendatangi keluarga terlebih dahulu. Nara meminta agar Ratih tidak diberi tahu lewat polisi berseragam di tempat kerja; keluarga korban telah cukup lama diperlakukan sebagai objek perkara. Pendamping akan menghubunginya secara privat setelah identitas terverifikasi.
Rafi mengusulkan mengirim surat pribadi, lalu membatalkannya sendiri. Nama Dirgantara pada amplop dapat terasa seperti tekanan. Mereka sepakat kontak pertama harus datang dari perwakilan korban atau regulator, sedangkan Rafi hanya hadir bila diminta.
Audit modul kompatibilitas juga menunjukkan akun KAPTEN-2 tidak mengetik dari satu terminal. Perintahnya diteruskan melalui gateway Merapi yang menyamarkan alamat perangkat dan menggunakan sertifikat lama Bram Wicaksana. Sertifikat itu bisa dicuri, tetapi tidak pernah dilaporkan hilang. Nisa membekukan salinan konfigurasi sebelum vendor sempat melakukan pembaruan jarak jauh.
Sebelum mereka mencari tiga pecahan, kasus UX-408 menuntut jawaban segera. Nisa menemukan aktivitas A.D. baru pada malam itu. Token masuk dari terminal Adit, lalu melompat ke server vendor Merapi. Tiga akun manusia menggunakan pintu yang sama dalam rentang empat menit.
Salah satu akun adalah milik Keira. Satu milik Adit. Akun ketiga hanya menampilkan sebutan lama yang pernah disebut Adit dalam ketakutan.
KAPTEN-2 aktif kembali tujuh belas tahun kemudian.