Minggu-minggu berlalu dengan cepat. Alana mulai terbiasa dengan rutinitas baru yang dibawa oleh kehadiran Reynard dalam hidupnya. Mereka terus berlatih bersama, berbicara lebih banyak, dan bahkan—dalam beberapa kesempatan—terlibat dalam obrolan ringan di luar sesi latihan. Setiap momen bersama Reynard terasa berbeda, seolah-olah dia adalah orang yang tidak akan pernah ia kenal sebelumnya. Namun, meskipun semuanya tampak berubah menjadi lebih baik, satu pertanyaan tetap mengganggu pikirannya: Mengapa Reynard peduli padanya?
Di kampus, Reynard terkenal sebagai pemuda yang keras dan sulit didekati. Bahkan, ada rumor yang beredar bahwa dia sering terlibat dalam masalah-masalah besar, tidak hanya di dunia kampus tetapi juga di luar kampus, terkait dengan geng-geng bawah tanah yang mencengkeram beberapa wilayah di kota. Dikenal sebagai pria yang tak pernah tampak takut menghadapi siapa pun, Reynard adalah tipe orang yang lebih sering bertindak daripada berbicara. Namun, untuk alasan yang tak pernah ia ungkapkan, ia mulai meluangkan waktu untuknya—Alana, gadis culun yang selama ini selalu diabaikan.
Pagi itu, Alana duduk di bangku taman kampus, menatap ke arah langit yang mulai berwarna biru cerah. Sesekali, angin sepoi-sepoi berhembus, menyegarkan tubuhnya yang mulai lelah setelah belajar sepanjang malam. Tepat saat dia menghela napas panjang, dia melihat Reynard berjalan ke arahnya, dengan langkah-langkah yang tenang namun pasti.
"Alana," panggil Reynard, suaranya lembut namun masih membawa kesan tegas.
Alana menoleh dan tersenyum sedikit, walau hatinya masih penuh dengan kegelisahan. "Pagi, Reynard," jawabnya, mencoba menenangkan diri.
Reynard duduk di sebelahnya, memandang ke arah langit yang sama. Untuk beberapa detik, hanya ada keheningan yang nyaman di antara mereka.
"Ada yang mengganggu pikiranmu," kata Reynard, memecah keheningan dengan suara yang penuh perhatian.
Alana terkejut. "Kok kamu bisa tahu?"
Reynard tersenyum samar. "Kamu selalu kelihatan berpikir keras. Juga, aku cukup paham kalau ada sesuatu yang mengganjal."
Alana menunduk, menggigit bibirnya. "Aku hanya... bertanya-tanya," jawabnya, sedikit ragu. "Kenapa kamu peduli padaku? Maksudku, kenapa kamu melakukannya? Kamu nggak harus repot-repot."
Reynard menatapnya dengan intens. "Aku nggak peduli apa kata orang tentang aku. Tapi, ada satu hal yang aku tahu pasti... aku nggak suka melihat orang lain disakiti."
Alana diam sejenak, mencoba mencerna jawabannya. "Tapi kenapa aku?" tanyanya, akhirnya berani mengajukan pertanyaan yang sudah lama menggelisahkan hatinya. "Kenapa bukan orang lain yang kamu bantu? Kenapa harus aku yang... selalu menjadi sasaran semua masalah ini?"
Reynard menundukkan kepala sejenak, seolah berpikir keras sebelum akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Alana dengan mata yang lebih dalam, seakan ada banyak hal yang belum ia ungkapkan. "Kadang-kadang, kita tidak bisa memilih siapa yang kita bantu," katanya pelan, namun kata-katanya penuh dengan makna yang dalam. "Ada sesuatu tentang kamu, Alana. Sesuatu yang berbeda."
Alana terdiam. Kata-kata itu terdengar begitu jujur, namun juga misterius. Seakan-akan Reynard menyembunyikan sesuatu yang lebih besar daripada yang ia katakan. Mungkin, inilah yang membuat Alana semakin penasaran dan semakin terikat pada pemuda itu—sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan dalam kata-kata.
Namun, sebelum dia bisa melanjutkan pembicaraan, suara dari belakang mereka menginterupsi. "Hei, Reynard! Ada masalah!"
Mereka berdua menoleh dan melihat beberapa teman Reynard, yang datang dengan ekspresi serius. Salah satu dari mereka, Rian, mendekat dengan wajah cemas. "Ada beberapa orang yang datang mencari masalah di luar kampus. Mereka bilang mereka ingin bertemu denganmu."
Reynard bangkit dengan cepat, matanya berubah tajam. "Masalah apa lagi?" tanya Reynard, suara tegang yang sebelumnya tidak pernah Alana dengar.
Rian menggelengkan kepala. "Kita harus pergi, Reynard. Mereka tampaknya serius kali ini."
Reynard menoleh pada Alana, senyum samar yang biasa muncul di wajahnya kini tidak ada. "Kamu baik-baik saja di sini, kan?" tanyanya dengan nada yang jauh lebih serius dari biasanya.
Alana hanya mengangguk, merasa cemas namun mencoba menyembunyikannya. "Ya, aku akan baik-baik saja," jawabnya, meskipun hatinya terasa berat.
Sebelum Reynard pergi, dia berhenti sejenak dan menatapnya dengan tatapan yang intens. "Jika ada yang berani mengganggu kamu lagi, kamu bisa menghubungiku. Jangan takut," katanya, seolah ingin memastikan bahwa Alana tahu dia akan selalu ada di sana.
Setelah itu, Reynard dan teman-temannya pergi, meninggalkan Alana dengan perasaan campur aduk. Ada kekhawatiran yang tak bisa ia jelaskan, namun di sisi lain, ada sedikit ketenangan yang datang dari jaminan Reynard. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Reynard? Apa yang membuat dia begitu terlilit dalam dunia yang penuh dengan bahaya ini?
Alana hanya bisa duduk di sana, memikirkan semua yang baru saja terjadi. Dia tidak tahu apa yang akan datang selanjutnya, tetapi satu hal yang pasti: dunia yang ia kenal semakin hari semakin berubah. Dan Reynard—pemuda berandalan yang selalu tampak tenang—tampaknya memiliki lebih banyak rahasia daripada yang Alana bayangkan.
---
Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan kecepatan yang menakutkan. Alana merasa seolah-olah berada di ambang dunia yang baru, yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kehadiran Reynard dalam hidupnya membawa banyak hal yang membingungkan, tetapi juga menantang. Setiap kali ia mencoba untuk menjauh, ada sesuatu dalam dirinya yang menariknya kembali—sebuah perasaan yang berkembang menjadi lebih dari sekadar rasa ingin tahu.
Setelah kejadian di taman, Alana berusaha melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Namun, dia tidak bisa menahan pikiran yang terus berputar tentang Reynard. Apa yang membuatnya berbeda dari yang lain? Kenapa ia peduli padanya begitu banyak? Dia tahu, meskipun Reynard selalu terlihat tenang dan terkendali, ada sisi lain dari dirinya yang lebih gelap—sesuatu yang belum ia ketahui sepenuhnya.
Pagi itu, Alana duduk di kantin kampus, mencoba mengerjakan tugas yang sudah menumpuk. Namun, konsentrasinya terganggu ketika sekelompok mahasiswa mulai berkumpul di dekat meja tempat ia duduk. Mereka berbisik-bisik dengan penuh perhatian, tampak terganggu oleh sesuatu yang sedang terjadi di luar.
“Ada yang tahu soal Reynard dan masalah itu?” tanya salah satu dari mereka.
Alana menegakkan kepala dan mendengarkan lebih seksama. “Masalah apa yang dimaksud?” tanyanya pada diri sendiri, meskipun sejujurnya, hatinya sudah mulai merasa cemas.
Salah seorang dari kelompok itu, yang tampaknya sedikit lebih berani, menoleh ke arah teman-temannya sebelum akhirnya menjawab dengan nada serius. “Dengar-dengar, ada pertarungan besar yang sedang berlangsung. Reynard terlibat dalam masalah besar dengan beberapa geng luar kampus. Mereka bilang, kalau dia nggak bisa menyelesaikan masalah itu, akan ada konsekuensi besar.”
Berita itu seperti petir di siang bolong bagi Alana. Reynard, yang selama ini dia lihat sebagai sosok yang begitu tenang dan terlindungi, ternyata terjebak dalam masalah besar yang bahkan melibatkan dunia luar kampus. Perasaan takut mulai menghantui Alana, dan tanpa sadar, ia meraih ponselnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alana mengirim pesan kepada Reynard. "Reynard, ada yang mengatakan ada masalah besar yang melibatkan kamu. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan balasan. "Kamu nggak perlu khawatir, Alana. Aku akan baik-baik saja. Ini hanya masalah kecil yang harus aku selesaikan." Namun, meskipun balasan itu terdengar menenangkan, Alana bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan dalam kata-kata Reynard. Ini bukan masalah kecil, dan ia tahu itu.
Setelah beberapa saat, Alana memutuskan untuk menemui Reynard di tempat latihan mereka. Meskipun sudah lebih dari cukup bukti bahwa ia bisa membiarkan Reynard menangani masalahnya sendiri, hatinya menuntut untuk tahu lebih banyak. Apakah dia benar-benar bisa melepaskan semuanya begitu saja?
Alana berjalan dengan langkah cepat menuju gedung olahraga, otaknya penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. Begitu sampai, ia melihat Reynard berdiri di luar, berbicara dengan beberapa pria yang terlihat tidak ramah. Dari jauh, Alana bisa melihat bahwa atmosfernya jauh lebih tegang dari biasanya.
Reynard menyadari kehadiran Alana dan segera berpaling. “Kamu di sini?” katanya, sedikit terkejut.
“Reynard, ada yang bilang ada masalah besar yang kamu hadapi. Apa itu sebenarnya?” Alana bertanya langsung, suaranya penuh kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Reynard tersenyum samar, namun senyum itu tidak cukup untuk menutupi ketegangan yang ada di wajahnya. “Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Alana,” jawabnya dengan tegas. “Aku bisa menyelesaikan ini sendiri.”
Namun, Alana bisa melihat bahwa Reynard berusaha menenangkan dirinya sendiri, bukan hanya dirinya. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya, semacam ketegangan yang datang dari konflik yang lebih besar dari yang dia bayangkan.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?” tanya Alana, menatap Reynard dengan serius.
Reynard menunduk, menghela napas. “Ini tentang masa laluku yang tidak bisa aku hindari,” katanya pelan, suaranya hampir tidak terdengar. “Tapi itu bukan sesuatu yang harus kamu khawatirkan.”
Alana berdiri di sana, merasa bingung dan cemas. Ini bukan pertama kalinya Reynard menutupi sesuatu dari dirinya, dan entah mengapa, kali ini perasaan itu lebih kuat. “Aku bisa membantumu,” katanya, tak bisa menahan kata-kata itu. “Aku bisa bantu kamu menyelesaikan masalah ini.”
Reynard menatapnya dengan mata yang tajam, namun kali ini ada kelembutan yang terpancar di sana. “Aku tahu kamu ingin membantu, Alana. Tapi ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan bantuan. Aku hanya berharap kamu tidak terjebak dalam masalah ini.”
Namun, meskipun Reynard berkata demikian, Alana tahu bahwa ada hal yang lebih besar yang sedang terjadi, dan ia tidak bisa hanya diam dan menyaksikan semuanya berlalu begitu saja. Perasaan yang tidak bisa ia jelaskan mendorongnya untuk tetap berada di sisi Reynard, untuk menghadapi apa pun yang akan datang bersama-sama.
“Jangan khawatirkan aku,” katanya akhirnya, dengan suara yang penuh tekad. “Aku akan tetap di sini. Tidak peduli apa yang terjadi.”
Reynard menatapnya dalam-dalam, dan untuk sejenak, ada keheningan yang dalam di antara mereka. Lalu, akhirnya dia mengangguk, meskipun dengan keraguan di matanya. “Baiklah, Alana. Tapi ini bukan dunia yang kamu kenal. Jangan sampai kamu menyesal.”
Namun, meskipun ada peringatan yang diberikan, Alana merasakan hatinya semakin mantap. Apapun yang terjadi, dia tak bisa membiarkan Reynard menghadapi semua ini sendirian.