Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya. Alana berdiri di balkon apartemen kecilnya, merenung sambil menatap langit malam yang penuh dengan bintang. Hatinya masih berdebar kencang setelah pertemuannya dengan Reynard tadi siang. Dia tidak bisa menahan rasa khawatir yang semakin menguasai dirinya. Masalah yang melibatkan Reynard tidak sesederhana yang dia bayangkan. Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang terjadi, dan meskipun ia ingin membantu, ia merasa takut akan konsekuensinya.
Keputusan untuk tetap berada di sisi Reynard adalah pilihan yang datang dengan segala risikonya. Alana tahu itu. Namun, perasaan yang tumbuh dalam dirinya tidak bisa dia abaikan begitu saja. Dalam hati, ia merasakan sebuah koneksi yang tak terduga—sebuah perasaan yang lebih dari sekadar rasa terima kasih atau simpati. Apa pun yang terjadi, ia merasa bahwa ia tidak bisa mundur sekarang.
Tiba-tiba, suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Alana menoleh, dan ketika ia membuka pintu, di depannya berdiri Reynard, dengan wajah yang lebih serius dari biasanya.
“Kamu sendirian?” tanya Reynard tanpa basa-basi, matanya mengamati Alana dengan tajam.
“Ya, cuma aku. Ada apa?” jawab Alana, meskipun ia bisa merasakan ketegangan yang datang dari kehadiran Reynard.
Reynard masuk tanpa menunggu izin, langsung duduk di sofa yang terletak di ruang tamu kecil. “Aku butuh bicara,” katanya singkat, lalu menatap Alana dengan pandangan yang sulit dipahami. “Ada hal besar yang sedang terjadi, dan kamu tidak bisa menghindarinya.”
Alana duduk di kursi depan meja, memandangi Reynard dengan cemas. “Aku tahu. Tapi kenapa aku harus terlibat? Kamu bilang ini masalahmu sendiri.”
Reynard menghela napas panjang, tampak sedikit frustrasi. “Aku tahu aku bilang itu. Tapi sekarang situasinya berbeda. Aku terjebak dalam sesuatu yang lebih gelap daripada yang kamu bayangkan.” Ia berhenti sejenak, mencoba mengatur kata-kata. “Ada orang-orang yang berusaha mengendalikan semua ini, dan mereka tidak segan-segan untuk menghancurkan siapa saja yang menghalangi mereka. Termasuk kamu, Alana.”
Alana terkejut. “Maksudmu… aku bisa jadi sasaran?” tanyanya, suaranya bergetar sedikit.
Reynard mengangguk perlahan. “Jika mereka tahu kamu terlibat denganku, mereka tidak akan segan-segan untuk memanfaatkanmu. Mereka sudah mencium bau masalah, dan mereka tidak akan berhenti sampai semuanya selesai. Masalah ini bukan sekadar urusan geng biasa, Alana. Ini jauh lebih besar dari itu.”
Alana merasa tenggorokannya tercekat. Ia tak bisa membayangkan dirinya terjebak dalam dunia gelap seperti yang digambarkan Reynard. Semua yang ia inginkan adalah hidup normal, jauh dari kekerasan dan pertarungan. Tetapi, di sisi lain, ia tidak bisa membiarkan Reynard menghadapi semuanya sendirian.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Alana, perasaan bingung dan takut bercampur aduk di dalam dirinya.
Reynard menatapnya dengan serius. “Aku tidak ingin melibatkanmu lebih dalam lagi, tapi aku butuh bantuanmu. Mereka tidak akan berhenti jika kita tidak menghentikan mereka dari sumbernya. Kita harus menghancurkan jaringan mereka, memutuskan semua hubungan mereka sebelum mereka melangkah lebih jauh.”
Alana mengerutkan kening. “Apa yang kamu maksud dengan menghancurkan jaringan mereka? Apakah itu berarti kita harus…?”
“Ya,” jawab Reynard tegas, “kita harus terjun ke dalam dunia yang lebih gelap dari yang pernah kamu bayangkan. Dunia yang penuh dengan tipu daya, kekerasan, dan ancaman. Aku tidak bisa melakukannya sendirian, dan kamu adalah satu-satunya orang yang aku percayai untuk ini.”
Alana terdiam, perasaannya bercampur antara takut, cemas, dan bingung. Semua hidupnya yang biasa, yang damai, tiba-tiba terasa begitu jauh. Ia tahu bahwa melangkah lebih jauh ke dalam dunia Reynard berarti ia harus meninggalkan kenyamanan dan keamanan yang selama ini ia nikmati. Namun, ia juga tahu bahwa jika ia mundur sekarang, ia mungkin akan menyesal selamanya.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukan ini,” Alana berkata pelan, matanya menatap Reynard dengan serius. “Tapi aku tidak bisa membiarkan kamu berjuang sendirian.”
Reynard tersenyum tipis, namun senyum itu terlihat lelah. “Aku tidak bisa janji akan aman, Alana. Kita akan berhadapan dengan bahaya yang lebih besar dari yang bisa kita bayangkan. Tapi aku janji, aku akan melindungimu, apapun yang terjadi.”
Alana mengangguk perlahan, meskipun perasaan takutnya semakin kuat. Ia tahu bahwa keputusan ini bukanlah hal yang mudah. Ini adalah keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Namun, di satu sisi, ia merasa ada sesuatu yang mendorongnya untuk melangkah maju, untuk berdiri bersama Reynard dan menghadapi segala sesuatu yang datang.
---
Pagi itu, Alana merasa seolah dunia di sekelilingnya berubah menjadi lebih berat. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan apa yang dikatakan Reynard malam sebelumnya. Ketika dia menatap dirinya di cermin, yang muncul bukanlah gadis biasa yang hanya ingin menjalani hidup normal, tetapi seseorang yang terjebak dalam sebuah pertempuran yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Dia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa dunia Reynard sangat berbeda dari dunia yang dia kenal. Dunia yang penuh dengan kekerasan, taktik licik, dan musuh-musuh yang siap melukai siapa saja yang berani melawan mereka. Meskipun takut, Alana merasa seperti ada kekuatan yang mendorongnya untuk tetap berjalan, meskipun langkahnya penuh keraguan.
Hari ini, mereka berdua akan bertemu dengan orang yang bisa memberi mereka informasi lebih lanjut tentang siapa yang mengendalikan dunia gelap yang Reynard sebutkan. Seorang informan yang memiliki koneksi dengan dunia bawah tanah kampus—dan juga dengan orang-orang yang berada di balik masalah yang mereka hadapi.
Alana duduk di bangku belakang mobil Reynard, matanya menatap jalan yang terasa semakin membingungkan. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencerna apa yang akan terjadi selanjutnya. Reynard mengemudi dengan tenang, meskipun ekspresinya menunjukkan tanda-tanda ketegangan.
“Jadi, siapa informan yang kita temui hari ini?” tanya Alana, mencoba mengusir kecemasan yang menggerogoti dirinya.
Reynard melirik sekilas ke arah Alana sebelum menjawab. “Namanya Jovan. Dia punya hubungan dengan orang-orang yang terlibat dalam bisnis ini—dan mungkin bisa membantu kita mengetahui siapa yang bersembunyi di balik semua ini. Tapi hati-hati, dia bukan orang yang bisa dipercaya begitu saja.”
“Apakah dia berbahaya?” tanya Alana, matanya menelisik wajah Reynard.
Reynard mengangguk pelan. “Dia lebih berbahaya dari yang kamu kira. Tapi dia punya informasi yang kita butuhkan. Tanpa dia, kita akan kesulitan untuk mendapatkan apa yang kita cari.”
Mereka tiba di sebuah kafe kecil di ujung kota. Tempat itu terkesan biasa saja, tetapi ada sesuatu yang menegangkan di udara. Reynard memarkirkan mobilnya dan mengunci pintu dengan sigap sebelum keluar. Alana mengikuti di belakangnya, merasa langkahnya semakin berat. Mereka memasuki kafe yang sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang duduk di sudut jauh. Jovan sudah menunggu di meja yang terletak di pojok ruangan.
Pria itu terlihat jauh lebih muda dari yang Alana bayangkan. Dengan jaket kulit hitam dan rambut yang sedikit acak-acakan, dia tampak seperti seseorang yang lebih sering berurusan dengan masalah daripada dengan orang-orang biasa. Matanya tajam, dan ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Alana merinding.
“Reynard,” sapanya dengan suara berat, meskipun ada sedikit senyum di bibirnya. “Kau datang lebih cepat dari yang kutunggu.”
Reynard membalas dengan anggukan, lalu duduk di seberang Jovan. Alana duduk di samping Reynard, tetap terjaga dengan perhatian penuh.
“Apa yang kau tahu tentang orang-orang yang mengejar kita?” tanya Reynard langsung tanpa basa-basi.
Jovan mengangkat alis, tampak sedikit terkejut dengan pendekatannya yang langsung. Namun, dia tidak menghindar. “Kalian ingin tahu siapa yang mengendalikan semuanya, kan? Baiklah, aku akan beri kalian informasi yang kalian butuhkan. Tapi ada harga yang harus dibayar.”
Reynard tidak mengubah ekspresi wajahnya. “Kau tahu betul bahwa kami bukan orang yang suka bermain-main. Jadi, jika kau punya informasi, beri kami sekarang.”
Jovan mengangkat tangannya, menunjukkan bahwa dia tidak takut. “Santai saja, Reynard. Aku bukan musuhmu, setidaknya bukan yang utama. Aku hanya bekerja dengan mereka, karena mereka memiliki apa yang aku butuhkan. Tapi jika kalian serius ingin melawan mereka, kalian harus siap untuk menghadapi sesuatu yang lebih besar.”
Alana menatap Reynard, merasakan ketegangan yang semakin meningkat di antara mereka. "Siapa mereka sebenarnya?" tanya Alana, suara sedikit gemetar, namun ada rasa ingin tahu yang kuat.
Jovan tersenyum tipis, seolah dia menikmati ketegangan yang ada. “Mereka adalah bagian dari organisasi yang lebih besar. Ada kelompok yang beroperasi di bawah permukaan, menggunakan kampus ini sebagai tempat untuk menjalankan bisnis mereka—dari n*****a hingga pemerasan. Tapi ada yang lebih buruk daripada itu, dan mereka tidak akan berhenti sampai semuanya berakhir.”
Reynard mencengkram meja dengan kuat. “Jadi, siapa yang memimpin mereka?”
Jovan menatap Reynard dengan tajam. “Kalian sudah tahu nama-namanya, tetapi tidak tahu siapa yang menggerakkan mereka. Orang yang paling berbahaya adalah yang tidak tampak, dan kalian sudah masuk ke dalam perangkap mereka.”
Alana menelan ludah, merasakan beban kata-kata Jovan meresap ke dalam dirinya. Dunia yang akan mereka hadapi jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan. Tidak ada lagi jalan mundur.
Tiba-tiba, suara derap kaki terdengar di belakang mereka. Reynard dan Alana berbalik serentak, dan dengan cepat, mereka melihat beberapa pria berpakaian hitam memasuki kafe. Satu di antaranya, dengan tubuh tinggi besar, melangkah maju dan mendekat ke meja mereka.
“Waktunya habis,” kata pria itu dengan suara berat. “Kalian sudah terlalu banyak tahu.”
Reynard berdiri dengan cepat, siap untuk bertindak. Alana merasakan ketegangan mencekam, dan instingnya memberi tahu bahwa pertempuran besar sudah tidak bisa dihindari lagi.