Hari-hari setelah latihan pertama dengan Reynard terasa sedikit berbeda. Alana mulai merasakan ada perubahan dalam dirinya. Meskipun latihan itu hanya dimulai dengan hal-hal sederhana seperti mengendalikan ketakutan dan menunjukkan sedikit kepercayaan diri, ia merasa sedikit lebih kuat—lebih siap menghadapi dunia yang selama ini terus-menerus mengejeknya.
Namun, ada satu hal yang terus menghantuinya. Mengapa Reynard melakukan semua ini? Kenapa dia, seorang pria berandalan yang terkenal karena kekerasannya dan sikap acuh tak acuhnya terhadap orang lain, mau repot-repot membantu seorang gadis culun sepertinya?
Alana tidak bisa berhenti bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya ada di balik semua itu? Apakah dia hanya merasa kasihan padanya? Atau, mungkin, ada alasan lain yang lebih mendalam yang belum terungkap? Dalam setiap sesi latihan, Reynard terlihat serius dan berkomitmen. Tidak ada yang tampak seperti tindakan sia-sia. Setiap kali mereka berlatih, ada kesan bahwa Reynard benar-benar ingin Alana bisa mengatasi masalah-masalahnya, meskipun itu berarti harus berhadapan langsung dengan dirinya sendiri.
Suatu sore, setelah latihan fisik di luar ruangan, Alana memutuskan untuk bertanya. Mereka duduk di bangku taman yang sama seperti sebelumnya. Reynard tampak sedang sibuk dengan ponselnya, seperti biasa, sementara Alana menatapnya, memikirkan kata-kata yang tepat untuk dia ucapkan.
Akhirnya, dia menarik napas dalam-dalam dan memutuskan untuk berbicara.
"Reynard," ucapnya pelan, membuat pemuda itu mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. "Aku... aku ingin tahu sesuatu."
Reynard menatapnya dengan ekspresi bingung. "Apa?"
Alana sedikit menggigit bibirnya, mengumpulkan keberanian. "Kenapa kamu membantu aku? Maksudku... kenapa kamu repot-repot mengajarkan aku semua ini? Aku bukan siapa-siapa, dan kamu nggak perlu melakukan semua ini."
Reynard terdiam beberapa saat. Mata tajamnya tidak lepas dari wajah Alana, seolah sedang menilai apakah pertanyaan itu serius atau hanya sekadar kebingungannya. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan Reynard—sesuatu yang lebih dalam dan mungkin lebih sulit dijelaskan.
"Aku nggak pernah bilang kalau aku melakukan ini karena merasa kasihan padamu," jawabnya akhirnya, suara Reynard terdengar lebih rendah dan lebih serius dari biasanya. "Aku nggak pernah merasa kasihan sama orang. Itu nggak ada dalam kamusku."
Alana merasa sedikit lega, tapi masih merasa bingung. "Lalu, apa alasanmu?"
Reynard melemparkan pandangan jauh ke depan, ke arah langit senja yang mulai gelap. "Aku nggak suka melihat orang lain dianiaya. Apalagi kalau mereka nggak berani melawan. Kamu... kamu terlalu baik untuk hidup dalam bayang-bayang seperti itu."
Alana menatapnya dengan tatapan ragu. "Tapi aku nggak tahu bagaimana cara melawan mereka. Selama ini, aku cuma menahan semuanya dalam diam."
Reynard berbalik dan menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut. "Tapi itu bukan cara hidup, Alana. Kamu nggak harus jadi orang yang hanya diam dan menerima perlakuan buruk dari orang lain. Kamu lebih kuat dari itu. Dan kalau kamu nggak bisa melihatnya, ya sudah, aku akan tunjukkan."
Ada ketegangan di udara, tapi bukan ketegangan yang membuat Alana merasa takut. Sebaliknya, ada perasaan aneh yang tumbuh di dalam dirinya—sebuah perasaan hangat, yang membuatnya merasa diterima dan dimengerti oleh seseorang yang selama ini dianggapnya sebagai orang asing.
"Kenapa kamu mau membantu aku?" tanya Alana lagi, kali ini lebih pelan.
Reynard tersenyum sedikit, tapi ada kekuatan dalam senyumnya. "Karena, Alana," katanya perlahan, "aku nggak bisa diam aja melihat orang yang punya potensi besar terbuang sia-sia. Kita semua punya sisi yang lebih dari apa yang orang lihat di luar sana."
Alana terdiam. Kata-kata Reynard terasa seperti dorongan yang kuat, sesuatu yang membuatnya merasa lebih kuat, meskipun tak sepenuhnya mengerti apa yang dimaksud. Dia merasa seolah ada sesuatu yang lebih besar yang akan datang—sesuatu yang akan mengubah hidupnya.
Namun, pertanyaan itu masih menggantung di benaknya: Apa sebenarnya yang membuat Reynard peduli? Apa yang ada di balik sikapnya yang terlihat keras, namun di dalamnya menyimpan banyak perhatian?
"Sekarang, gimana kalau kita latihan lagi?" tanya Reynard, mengubah topik dengan cara yang sangat tiba-tiba. "Aku punya beberapa teknik yang bisa kamu coba."
Alana tersenyum, sedikit lega karena pembicaraan tersebut tampaknya telah berakhir. Tapi di dalam hatinya, dia masih merasa bingung dan bertanya-tanya lebih banyak tentang Reynard. Kenapa dia begitu peduli padanya? Apa yang ada di balik sikapnya yang keras itu?
Namun, untuk saat ini, Alana hanya bisa mengikuti alurnya, karena dalam hatinya, dia tahu bahwa apa yang terjadi selanjutnya akan menjadi bagian dari perjalanan yang tak bisa ia duga.
Dengan langkah mantap, mereka berdua melanjutkan latihan mereka, sementara Alana merasakan ketegangan dan kebingungan yang semakin bertambah—dan, mungkin, juga sebuah perasaan baru yang mulai tumbuh perlahan dalam dirinya.
---
Hari demi hari, latihan antara Alana dan Reynard terus berlanjut. Meskipun Alana merasa sedikit canggung dengan perubahan cepat dalam hidupnya, dia mulai merasakan perbedaan yang signifikan dalam dirinya. Ketika awalnya dia takut bertemu orang lain, kini dia mulai merasa sedikit lebih percaya diri. Perlahan, ia mulai menikmati setiap detik latihan dengan Reynard, meskipun di balik itu, rasa penasaran tentang motivasi Reynard masih terus menghantuinya.
Namun, perasaan tersebut tidak bisa ia biarkan terus menguasai pikirannya. Tugas kuliah, ujian, dan segala tuntutan hidup di kampus tetap berjalan, dan dengan semua perubahan ini, Alana mulai merasa sedikit kewalahan.
Suatu pagi, saat mereka bertemu di taman kampus untuk latihan seperti biasa, Reynard datang dengan ekspresi serius. Alana sudah terbiasa melihatnya seperti itu, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di wajahnya—sebuah ketegangan yang seolah-olah mengingatkan Alana bahwa dia tidak hanya berhadapan dengan seorang pemuda berandalan, tetapi juga dengan sisi lain dari dirinya yang belum sepenuhnya ia pahami.
"Kamu terlihat berbeda," kata Alana tanpa bisa menahan rasa ingin tahunya. "Ada apa?"
Reynard menghela napas panjang, menatapnya dengan mata yang penuh makna. "Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan, Alana," ujarnya, suaranya serius. "Aku nggak suka orang-orang yang mengganggu hidupmu, dan aku akan pastikan mereka berhenti."
Alana terkejut. "Apa maksudmu?" tanyanya, namun jawabannya datang lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Selena, gadis populer yang selalu menjadi sumber masalah bagi Alana, muncul dari balik pohon, diikuti oleh beberapa temannya. Mereka mengerlingkan mata ke arah Reynard, lalu tertawa dengan nada penuh ejekan. "Wow, Reynard, kamu benar-benar menghabiskan waktu dengan orang seperti ini?" sindir Selena, menatap Alana dengan penuh rasa jijik.
Reynard tidak bergerak, tetap tenang meskipun tatapan tajam Selena dan gengnya seolah ingin menghancurkan segalanya. Namun, ekspresi Reynard yang biasanya acuh tak acuh berubah menjadi lebih tajam. Alana bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul di udara—sesuatu yang lebih dari sekadar pertengkaran biasa.
"Jangan sentuh dia," kata Reynard dengan suara rendah, penuh peringatan.
Alana menatap Reynard, merasa bingung dan sedikit khawatir. "Reynard, tidak usah..." ujarnya pelan, tetapi Reynard hanya menoleh padanya dan memberikan senyum yang lebih percaya diri.
"Jangan khawatir," katanya dengan suara yang cukup lembut untuk meyakinkan Alana, namun cukup keras untuk terdengar seperti ancaman bagi mereka yang ada di sekitar mereka.
Selena tertawa terbahak-bahak, namun tidak ada kehangatan di suaranya. "Apa yang akan kamu lakukan, Reynard? Mengancam kami semua dengan tanganmu yang terkenal itu?" sindirnya.
Reynard tidak bergerak. Hanya tatapan tajamnya yang semakin tajam. "Tidak perlu ancaman," jawabnya dengan tenang. "Cukup berhenti mengganggu Alana, dan kita tidak perlu melanjutkan ini lebih jauh."
Seketika, suasana berubah. Selena dan teman-temannya saling berpandangan, ragu-ragu sejenak. Mereka mungkin tidak takut pada Reynard, tapi ada sesuatu dalam sikapnya yang menunjukkan bahwa kali ini, Reynard benar-benar serius. Mereka tahu betul reputasi Reynard di kampus, dan tidak ada yang ingin berada di hadapannya jika dia sudah mengambil langkah lebih jauh.
Namun, Selena, seperti biasanya, tidak ingin kalah. "Kamu pikir aku takut padamu?" dia mendekatkan wajahnya ke Reynard, seolah menantang.
Reynard mengangkat satu alisnya dan melangkah mundur, seolah mengizinkan Selena untuk merasa berani. "Selena, kamu sudah lama mengganggu hidupnya. Jadi kalau kamu ingin mencoba berhadapan dengan saya, ayo lakukan sekarang," jawabnya dengan senyum datar yang hanya membuat ketegangan semakin terasa.
Beberapa detik terasa begitu lama. Para mahasiswa di sekitar mereka mulai memperhatikan, mencuri pandang dari kejauhan, seolah menunggu sesuatu yang tak terduga terjadi.
Tapi tak ada pertarungan fisik yang terjadi. Selena akhirnya menyadari bahwa dia tidak bisa terus-menerus menguji kesabaran Reynard. Dengan cemberut dan bibir terkatup rapat, dia menatap Reynard dengan rasa marah yang begitu jelas.
"Ini belum selesai," kata Selena dengan geraman, sebelum dia berbalik dan pergi, diikuti oleh gengnya.
Reynard hanya berdiri diam, tak mengucapkan sepatah kata pun. Setelah mereka pergi, suasana di sekitar mereka kembali tenang, meskipun masih ada getaran yang menggantung di udara.
Alana menatap Reynard dengan rasa terkejut dan sedikit cemas. "Kamu... kamu benar-benar tidak takut pada mereka?"
Reynard hanya tersenyum tipis. "Takut? Mereka yang seharusnya takut padaku."
Alana merasa ada banyak hal yang belum ia mengerti tentang Reynard. Tindakannya, sikapnya, dan ketegangan yang ia rasakan dalam setiap kata-katanya, semuanya menciptakan sebuah dunia yang jauh lebih besar daripada apa yang ia bayangkan sebelumnya.
Tetapi ada satu hal yang pasti dalam pikirannya: Reynard, meskipun terlihat seperti pria yang tak peduli pada siapa pun, ternyata memiliki sisi lain yang lebih dalam. Sisi yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Dan meskipun hatinya masih berdebar, Alana merasa seperti ada sebuah kedamaian yang muncul dari dalam dirinya—sebuah perasaan bahwa tidak semua orang di dunia ini hanya bisa membuat hidupnya semakin sulit. Ada orang seperti Reynard, yang, meskipun keras di luar, sebenarnya bisa jadi pelindung yang tak terduga.
Namun, seiring dengan perasaan itu, muncul lagi pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya: Apa yang sebenarnya membuat Reynard melakukan semua ini?