Pagi berikutnya, Alana merasakan gelisah yang tak biasa. Setiap langkah yang ia ambil terasa lebih berat, seolah ada sesuatu yang mengikatnya. Meski dunia di sekitarnya masih sama seperti biasanya—teman-teman sekelas sibuk dengan obrolan mereka, dosen menerangkan materi yang tak terlalu menarik—Alana merasa ada yang berbeda. Sebuah perasaan tidak nyaman yang muncul sejak pertemuannya dengan Reynard kemarin.
Apakah perasaan itu wajar? Mungkinkah dia mulai terbiasa dengan perhatian yang diberikan Reynard? Atau justru, dia mulai merasa terganggu dengan keberadaan pemuda itu yang seolah selalu mengamati dirinya?
Alana melangkah cepat menuju kelas pagi, berusaha mengabaikan kekalutan dalam hatinya. Namun, saat memasuki ruangan, pandangannya langsung tertuju pada satu sosok yang sudah duduk di tempatnya—Reynard.
Dengan tatapan acuh tak acuh, Reynard duduk dengan kakinya disilang, matanya tertutup seperti sedang merenung. Tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak tampak siap untuk berkelahi, atau malah memandang dunia dengan sinis. Ada sesuatu yang lebih serius dalam dirinya, sesuatu yang sepertinya menarik perhatian Alana tanpa dia sadari.
Alana mencoba mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju tempat duduknya. Namun, saat ia duduk, matanya tak sengaja bertemu dengan Reynard. Sejenak, dunia seakan terdiam, dan hatinya berdebar hebat. Mengapa pandangan mereka terasa begitu… intens?
Reynard mengangkat alisnya dan memberikan senyum kecil, senyum yang lebih mirip tantangan daripada ungkapan kebahagiaan. "Hei, kamu nggak ngomong terima kasih lagi?" katanya, suaranya rendah namun penuh arti.
Alana merasa sedikit canggung. "Eh… terima kasih kemarin," jawabnya, berusaha terdengar santai meskipun hatinya berdegup kencang.
Reynard tersenyum lebih lebar, namun kali ini ada kekejaman di balik tatapannya. "Hati-hati, Alana. Mereka nggak akan berhenti cuma karena aku bilang mereka harus. Kalau kamu nggak mau lebih banyak masalah, kamu harus belajar berdiri sendiri."
Alana terkejut. "Tapi aku nggak tahu bagaimana caranya…"
"Jangan khawatir," kata Reynard sambil mengedipkan mata. "Aku akan ajarin kamu caranya. Gimana kalau kita mulai dengan latihan?”
"Latihan? Latihan apa?" Alana menatapnya bingung.
"Tunggu aja nanti," jawab Reynard singkat, lalu menoleh kembali ke depan, seolah tidak ada yang terjadi. Namun, dalam dirinya, ada sesuatu yang menyala—keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang gadis yang dia bantu kemarin.
Alana tidak bisa menjelaskan perasaannya. Kata-kata Reynard terus berputar di pikirannya. Latihan? Apa yang dimaksud dengan itu? Apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu padanya? Dia bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
Namun, satu hal yang pasti—setelah kejadian kemarin, hidup Alana tidak akan pernah sama lagi. Dan entah itu baik atau buruk, dia harus siap untuk menghadapi apa yang datang.
Selama jam pelajaran, Alana merasakan tatapan yang aneh dari teman-teman sekelasnya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi kemarin, tetapi mereka pasti mendengar tentang insiden di aula yang membuat Reynard membela Alana. Beberapa dari mereka tampak penasaran, sementara yang lain malah menghindarinya.
"Alana, bisa ngomong sebentar?" suara Mira terdengar dari sampingnya.
Alana menoleh, dan melihat Mira berdiri di samping meja. Wajahnya terlihat sedikit serius. “Ada apa?”
Mira menarik kursinya dan duduk di sebelah Alana. "Aku dengar kamu nggak cuma dibela Reynard kemarin, tapi juga ikut ngobrol banyak sama dia, kan?" Mira bertanya dengan nada yang lebih hati-hati. "Apa kamu nggak takut? Reynard itu… bukan orang yang sembarangan."
Alana mengangguk pelan, merasakan keinginan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi kata-kata itu sulit keluar dari mulutnya. “Dia cuma membantu aku kemarin. Gak ada yang lebih.”
Mira tetap menatapnya dengan tatapan curiga. "Kamu yakin? Karena kalau kamu nggak hati-hati, masalah besar bisa datang dari itu. Reynard itu… agak susah diprediksi."
Alana menelan ludahnya. Dia tahu Mira benar. Reynard memang bukan orang yang mudah ditebak, dan semua orang tahu reputasinya yang bisa membuat siapa pun ketakutan. Tapi ada sesuatu dalam diri Alana yang justru merasa tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang pemuda itu. Seperti ada daya tarik yang memaksanya untuk melangkah lebih dekat, meskipun ia tahu itu bisa berbahaya.
"Aku cuma nggak mau kamu terjebak dalam masalah besar, Alana," Mira melanjutkan, tampak cemas. "Reynard itu bukan tipe orang yang main-main."
Alana hanya bisa mengangguk lagi, kali ini lebih pelan. "Aku paham kok, Mira. Terima kasih sudah peduli."
Tapi saat Mira beranjak pergi dan Alana kembali fokus pada pelajaran, pikirannya malah semakin jauh melayang. Dia merasa seperti berada di persimpangan yang sulit, antara mengikuti dorongan hati atau menghindar dari masalah yang bisa datang dengan cepat.
Dan saat bel istirahat berbunyi, Alana sudah tahu, dia tidak bisa menghindari Reynard lagi. Jika itu adalah takdir yang datang padanya, maka dia harus siap menjalani apa pun yang akan terjadi.
---
Alana melangkah keluar dari kelas dengan langkah sedikit terburu-buru. Pikirannya masih terombang-ambing antara kebingungan dan rasa ingin tahu yang semakin mendalam tentang apa yang sebenarnya dimaksud Reynard dengan "latihan." Apa yang akan dia ajarkan? Bagaimana latihan ini bisa membantu dirinya menghadapi pembuli dan masalah yang datang setiap hari?
Di luar gedung kampus, udara terasa sedikit lebih hangat dari biasanya, seolah mencerminkan suasana hati Alana yang tengah bergejolak. Saat ia memasuki area taman kampus, ia melihat Reynard duduk di sebuah bangku kayu, matanya terfokus pada ponselnya, sementara di sekelilingnya, mahasiswa lain tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Namun, ketika langkah kaki Alana semakin mendekat, Reynard langsung menatapnya dengan senyum khasnya yang penuh misteri. "Kamu datang juga akhirnya," katanya, berdiri dengan gesit dan menepuk-nepuk celana jinsnya. "Aku pikir kamu bakal kabur, sih."
Alana menelan ludah, tidak tahu harus berkata apa. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku, Reynard?" tanyanya, mencoba menyembunyikan kecemasannya. "Kenapa kamu repot-repot melindungiku? Aku nggak minta bantuanmu."
Reynard hanya mengangkat bahunya dengan santai. "Kamu nggak minta bantuan, tapi itu nggak berarti kamu nggak butuh bantuan, kan?" jawabnya sambil tersenyum lebar. "Kita nggak bisa terus-terusan jadi korban, Alana. Kalau kamu terus begini, mereka bakal terus menyakiti kamu."
"Tapi aku nggak tahu bagaimana caranya… untuk berdiri melawan mereka," Alana mengakui dengan suara pelan, hampir tidak terdengar.
Reynard menatapnya dengan serius. "Makanya aku di sini. Kita mulai dengan yang kecil dulu. Aku ajarin kamu caranya."
Alana merasa seperti berada di dunia yang sangat asing. Tidak ada yang pernah mengajarinya untuk melawan orang-orang yang menyakitinya, dan sekarang Reynard, pria yang sepertinya berasal dari dunia yang sama sekali berbeda, ingin mengajarinya hal itu. Alana pun mengangguk pelan, meski hatinya ragu.
"Latihan pertama kita adalah belajar untuk tidak menunjukkan ketakutan di wajahmu," ujar Reynard, tiba-tiba menatapnya dengan intens. "Jangan biarkan mereka tahu kalau kamu takut. Karena saat mereka melihat ketakutanmu, itu akan menjadi senjata mereka."
Alana mengerutkan kening. "Itu terdengar seperti… sesuatu yang mustahil."
Reynard mendekat sedikit dan menatapnya lebih dalam. "Percayalah, itu jauh lebih mudah daripada yang kamu kira. Kamu hanya butuh sedikit latihan. Mulai dari sekarang, coba lihat aku. Aku bakal jadi contoh."
Alana terkejut, merasa aneh saat harus meniru cara Reynard. "Apa maksudmu?"
"Ini bukan soal fisik, Alana," jawab Reynard dengan tenang. "Ini soal mental. Jika kamu bisa mengendalikan pikiranmu, kamu akan bisa mengendalikan seluruh tubuhmu. Kamu harus bisa melihat diri sendiri dengan cara yang berbeda. Cobalah untuk tidak terlihat lemah, meskipun dalam hati kamu ketakutan."
Tanpa menunggu jawaban, Reynard melangkah mundur dan memberi isyarat kepada Alana untuk mengikuti. "Tutup matamu," katanya. "Fokus pada perasaanmu. Bayangkan situasi di mana kamu merasa paling lemah dan takut, lalu coba ubah perasaan itu. Jangan biarkan ketakutan itu menguasai kamu."
Alana mengernyit. "Aku tidak tahu bagaimana caranya, Reynard."
"Percaya saja pada dirimu," katanya sambil tersenyum. "Cobalah."
Dengan ragu, Alana menutup matanya. Ia merasakan jantungnya berdebar cepat, merasa cemas akan apa yang akan datang. Dalam pikirannya, ia membayangkan dirinya sedang berada di aula kampus, dikelilingi oleh teman-teman sekelasnya yang tertawa dan mengejeknya. Bayangan itu membuat dadanya sesak. Namun, ia mengikuti instruksi Reynard dan mencoba mengubah perasaan takut itu.
Beberapa detik berlalu. Perlahan, Alana merasa ada sesuatu yang mulai berubah. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuatnya merasa sedikit lebih kuat. Ia membuka matanya dan menatap Reynard.
"Tunggu, aku merasa… sedikit lebih tenang," katanya, tak percaya.
Reynard mengangguk puas. "Lihat? Tidak begitu sulit, kan? Kalau kamu terus melatih diri, lama-lama kamu akan tahu bagaimana caranya untuk tetap tenang meski dalam tekanan."
Alana menatapnya dengan heran. "Kamu serius, ya? Itu… itu berhasil?"
Reynard tertawa kecil, tapi ada kehangatan di balik tawanya. "Itu baru permulaan. Kamu masih banyak yang perlu dipelajari."
Mereka berdua berdiri di taman itu, dengan hanya suara angin yang terdengar di sekitar mereka. Alana merasa seperti ada sesuatu yang baru mulai berkembang dalam dirinya—sesuatu yang membuatnya merasa lebih kuat, lebih siap menghadapi dunia yang sering kali tidak bersahabat.
Namun, meski ia merasa sedikit lebih percaya diri, perasaan yang ia alami terhadap Reynard semakin rumit. Mengapa dia merasa nyaman berbicara dengannya? Mengapa, setiap kali dia melihat Reynard, hatinya selalu berdebar lebih cepat? Tapi, di sisi lain, Alana juga merasa takut—takut bahwa perasaan ini mungkin akan menjadi masalah yang lebih besar dari yang ia bayangkan.
"Terima kasih," kata Alana pelan, seakan tidak yakin dengan kata-katanya sendiri.
Reynard hanya tersenyum penuh arti. "Gak usah berterima kasih. Kita masih punya banyak yang harus dilakukan."