Abrisam POV
Malam ini hujan deras mengguyur kota Bandung, membuat sejuknya kota Bandung semakin dingin, Aku duduk di balkon apartemen menikmati dinginnya malam ini, dan merasakan ketenangan ditengah guyuran hujan dengan hamparan pemandangan malam kota Bandung. Ingatanku berkelana, mengingat kejadian disiang tadi, dan bayangan Sofwa tak bisa hilang sejak pertama melihatnya langsung, Entah perasaan apa yang aku rasakan ini, apakah cinta? Tidak, aku belum yakin dengan perasaanku untuk sofwa, yang pasti untuk saat ini kesan pertama saat melihatnya adalah dia perempuan yang cantik, anggun, lembut dan Sholeha.
" Ada apa denganmu Bim? " Aku bertanya pada diri sendiri sambil mengusap wajahku kasar. Pasalnya, selama ini aku tidak pernah mengalami perasaan seperti ini terhadap perempuan manapun. Akhirnya aku mencoba menghubungi Abdur yang memang dialah teman berbagi setiap kegundahan dan masalah yang ku alami. Akupun memnggilnya via telepon.
" Halo...Dur lo gak lagi sibuk kan?
Lo bisa ke rumah, ada yang mau gue omongin, Sekarang. " Setelah mengucapkan itu, aku memutuskan panggilan itu, tanpa mendengar jawaban dari Abdur.
Setelah beberapa saat, Abdur datang dan langsung duduk di kursi yang berada di sebelahku.
" Lo kebiasaan yah, kalo nyuruh orang datang, gak tau apa gue lagi sibuk. "
" Gue tau lovlagi sibuk ngapain, Palingan juga lo lagi jalan sama cewe lo."
" Iya lah, gue gak jomblo kaya lo, jadi ada apa nih, kayanya penting banget. "
" Gue mau minta tolong sama lo, Bagaimana caranya agar gue bisa ketemu langsung sama Sofwa, maksudnya dia juga menyadari keberadaan gue, Gue pengen mengenal dia lebih jauh. "
Jelasku tanpa basa basi.
" Ya elaaah, gue kira ugen masalah perusahaan, ternyata cuma masalah Sofwa, Bim gue udah panik setengah mati tadi, gue kira perusahaan kena masalah lagi. "
" Ini juga sangat penting bagi gue, jadi tolong. "
" Oke gini aja deh, nanti gue minta tolong Farid untuk mengenalkan lo sama Sofwa, dan nanti.... "
" Enggak gak, Farid tidak akan setuju, Lo gak liat wajah marah dan kesalnya waktu lo keceplosan bilang kalo gue jatuh cinta sama Sofwa? cari sara lain. "
" Iya juga, Atau Buat Farid terpaksa membawa Sofwa dan bertemu sama lo. "
" Maksud lo? "
" Jadi kita bikin acara, khusus kariawan yang mewajibkan membawa keluarganya, kan Farid keluarganya semua ada di kampung kan, yang ada disini hanya ada Sofwa, dan jika dia menolak, kita ancam saja dengan memecatnya, gimana? "
" Apa gak terlalu berlebihan ya? "
" Engga lah, cuma lo harus siap aja ngeluarin anggarannya. "
" kalo masalah anggaran, gampang lah, tapi apakah rencana Lo bakalan berhasil? "
" Gue yakiin, serahin semuanya sama gue. "
" Oke, I trust you "
****
Pagi harinya Abdur langsung beraksi menjalankan rencana kami semalam. Dia mengumumkan akan ada sebuah even yang di khususkan untuk para karyawan dari perusahaan. dan Abdur menyampaikan persyaratan dan konsekuensi bagi yang melanggar, yaitu diwajibkan membawa keluarga, jika tidak maka pecatan yang akan menjadi akhir bagi pelanggar. Para karyawan pun semangat bukan main, namun berbeda dengan Farid yang terlihat sangat kebingungan. Aku dan Abdur saling bertatapan dan memberi kode bahwa kami tau apa yang dipikirkan oleh Farid.
" tinggal tunggu aja hasilnya, Lo tenang aja. "
Kata Abdur sambil menepuk bahuku dan merangkul ku, kemudian kami berjalan bersama menuju ruanganku.
****
Sofwa POV
Seperti biasa, pagi hari ku akan sangat sibuk jika ini adalah jadwal piketku di tempatku bekerja, karena jika aku telat maka akan menjadi masalah besar, dan akan menjadi bahan amukan Kabag ku. Ketika aku sibuk memakai sepatu dan hendak berdiri, handphone ku berdering menandakan ada panggilan yang masuk, lalu ku lihat, ternyata Kang Farid yang memanggilku, ketika ku terima panggilan itu, terdengar suara kang Farid serak dan khawatir.
" Assalamualaikum De, kamu lagi ngapain, kabar kamu baik kan,? "
" Waalaikum salam warahmatullah kang, aku lagi jalan berangkat kerja nih, aku baik kang, akang kenapa ada masalah ? "
" Pagi banget de, ini masih jam enam loh, syukurlah kalo kamu baik baik aja, engga akang emang lagi ada masalah sih, dan mau minta bantuan kamu. "
" Iya kang, ini jadwal piket aku, ada masalah apa kang, bilang aja kang, Insya Allah kalo Dede bisa bantu Dede pasti bantu kang. "
" Iya de, ini masalah kerjaan, jadi di perusahaan ada acar khusus karyawan dan wajib membawa keluarga, sedangkan keluarga akang cuma kamu yang ada disini. "
" Ya Allah kang, gitu aja ko sampe bingung, kapan tuh acaranya, tenang aja, Dede belum ambil cuti, jadi bisa lah. "
" Beneran bisa de? Ini tiga hari loh "
" Iya kang bisaaa, tenang aja, jadi kapan nih? Dede juga butuh refreshing. "
" Alhamdulillah makasih ya de, acaranya Minggu depan sih dari hari Rabu sampe jum'at sore de, nanti akang jemput yah. "
" Oke kang, nanti hari Senin aku urus cuti deh yah. "
" iya de, udah dulu atuh ya, kamu juga mau kerja kan, nanti akang telfon lagi. Assalamualaikum. "
" Iya kang, wa'alaikum salam. "
ketika aku mengakhiri percakapanku dengan kang Farid melalui telfon, aku sudah sampai di tempat kerjaku, karena memang kostan ku dekat dengan pabrik tempat ku bekerja.
***