Abrisam POV
Setelah hari itu, ketika aku dan Abdur mengajak Farid makan siang bersama di ruanganku, Abdur menyuruh Farid menghubungi Sofwa dan mengajaknya bertemu, Namun ketika mereka bertemu dan berbincang harus berada dalam pengawasanku dan pengawasan Abdur. Awalnya aku tidak menyetujui ide gilanya. tetapi dengan persetujuan Farid dan memang Farid juga sudah rindu dengan Adik sepupunya itu, aku mengikuti permainan konyol si Abdur.
Siang hari, Di tempat ramai yakni di Masjid raya, alun alun kota Bandung, setelah memarkirkan mobilku di basement yang berada di lantai bawah tanah masjid raya khusus area parkir pengunjung. Aku duduk di halte bis bersama Abdur seperti sedang menunggu bis dan hendak menaiki bis untuk pergi suatu tempat, padahal disana kami sudah hampir satu jam lamanya duduk seperti orang bodoh saja.
" Ini ide yang brilian, yang kamu bilang tuh? kita duduk udah hampir satu jam Dur, tapi orangnya gak muncul juga, udahlah kita pulang aja. "
" Diam deh, liat tuh cewe yang turun dari angkot itu, Itu kan Sofwa yang Lo tunggu tunggu. "
Abdur mengangkat tangannya tanda menyuruhku diam, Dan aku melihat arah pandangannya yang tertuju kepada seorang gadis yang baru saja turun dari angkutan kota. Terlihat gadis cantik nan anggung dengan menggunakan gamis berwarna hitam dipadu dengan hijab berwarna merah membuat wajahnya semakin bersinar, ia memakai sepatu sneaker berwarna putih dan membawa ransel berwarna hitam. Ia berjalan menyusuri taman dipinggiran jalan untuk sampai ke arah jalan samping masjid raya yang dipenuhi pengunjung lain.
" Woy berkedip, Liatnya gitu amat, sampe sampe kaya mau keluar aja tuh bola mata lo. "
teriakan Abdur membuatku terperanjat dan menyadarkanku dari pesona Sofwa.
" Ah breisik lo, ayo ikutin dia. "
jawabku dengan langkah cepat mengikuti arah perginya Sofwa. Dan ketika kami mendekat, Terlihat Sofwa sedang berusaha menenangkan anak yang kira kira berusia 4 tahun sedang menangis histeris, ia terlihat meminta ijin kepada ibu anak itu dan berusaha menenangkan anak itu kembali, lalu ia membawa anak itu dan mengajak ibunya untuk duduk di sebuah kursi taman yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, Tak lama kemudian anak alaki laki itu tersenyum ceria dan berjingkrak jingkrak di hadapan Sofwa, tanda bahwa Sofwa berusaha menenangkan anak itu. ibunya yang tampak kewalah dengan dua anak di tempat ramaipun terlihat mengucapkan terimakasih, dan Sofwa segera berlalu dari tempat itu menuju kafe dimana disana Farid sudah menunggunya. Aku bersama Abdurpun memutuskan untuk memasuki kafe itu dan duduk di meja yang tak jauh dari meja tempat Farid dan Sofwa yang sedang asik berbincang.
Setelah hampir 1 jam lamanya, akhirnya Sofwapun pamit untuk pulang ke kostan nya karema takut kemalaman.
Farid ingin mengantarnya, namun Sofwa menolak dengan alasan sayang uang angkotnya, karena nantinya Faris harus bulak balik dengan angkot dan harus membayar angkot dengan berkali lipat, jadi ia memutuskan untuk pulang sendiri, dan Farid tidak bisa memaksa untuk mengantarkannya. Setelah Sofwa pergi, Aku dan Abdur Pindah ke meja tempat parid sedang duduk.
" Makasih ya Rid, kamu udah mau bantu saya dan mengikuti permintaan kami. "
" Engga pak, justru saya yang berterimakasih sama bapak, karena baaapak saya bisa bertemu sama adik saya dan ngobrol begitu lama, sebetulnya saya sangat menghawatirkan ya pa, Maaf pak, tapi ngomng ngomong bapa kenapa menyuruh saya bertemu dengan adik saya, dan bapak juga mengikuti saya? "
Pertanyaan Farid membuatku gugup, dan tidak bisa kujawab begitu saja.
" Ah sebetulnya dia itu tertarik sama adik kamu, kamu tau dia in....Awwww.!!!! sakit gila. "
Aku menginjak kaki Abdur dengan begitu keras, sehingga dapat membuatnya memotong ucapannya yang cuplas ceplos.
" Maaf ya Rid, sebetulnya saya memang sudah mengenal Sofwa sejak dia kelas XI, dan saya juga sudah mengambil fotonya, tetapi aku hanya mengenalnya melalui f*******:, Dan kamu ingat ketika kamu dengan teman kamu membicarakan tentang Sofwa di loby tempo hari, tanpa sengaja saya mendengar pembicaraan itu dan saya ingin memastikan saja apakah Sofwa adik kamu itu adalah Sofwa yang saya kenal selama ini, jadi maaf saya mengikuti kamu sampai disini. "
" Oh gitu pak, pantas saja hari itu bapak minta nomor Sofwa, bapak tau, karena bapak minta no Sofwa saya gak bisa tidur semalaman karena khawatir Sofwa punya masalah Sam bapak. "
pengakuan Farid yang memang sangat menghawatirkan adik sepupunya itu.
" Bapak mohon maf sekali, saran saya, lebih baik Bapak tidak usah mendekatinya, karena Sofwa hanya gadis kampung dari keluarga tak berada, dia juga tumbuh tanpa seorang ayah, saya tidak ingin dia menderita dan tersakiti pak, semoga bapak paham maksud saya."
" Bukannya kamu harusnya senang ya, Abim suka sama adik kamu, kan nanti dia bisa hidup enak, dia bisa jadi istri orang ka...."
Aku membungkam mulut lemes Abdur dengan tanganku, aku sangat marah mendengar apa yang di ucapkan Abdur.
" Lo bisa diam gak? "
" Farid saya belum sejauh itu menyukai adik kamu, saya hanya ingin memastikan satu hal, dan jujur saja saya sangat penasaran dengan adik kamu itu, tapi tidak ada niatan saya untuk menyakitinya apalagi menghinanya. "
" Saya juga belum bisa memastikan perasaan saya kepadanya, apakah saya jatuh cinta atau hanya sekedar penasaran saja. "
" Cukup pak, justru itu maksud saya, tidak mungkin orang kaya seperti anda bisa jatuh cinta kepada orang seperti kami, jadi tolong cukup pak, jangan mengganggunya, maaf saya permisi pa. "
Farid meninggalkan kafe itu dalam keadaan marah.
" Tapi bukan itu maksud gue Dur, dia salah paham. "
Abdur menggeleng gelwngkan kepalanya berusaha melepaskan tanganku yang masih membungkam mulutnya.
" maaf, gue lupa lepasin mulut Lo yang lemes itu, heran gue mulut Lo ko bocor banget sih,ngong lo sembarangan bisa menyinggung perasaan orang tau. "
" cuih cuih....tangan lo asin, Koroh tuh anjir, yaa maaf gue kan keceplosan. "
" jujur gue jatuh cinta setelah melihatnya langsung, hati gue bergetar saat dekat sama dia, padahal gue cuma mengawasinya dari jauh, dia cantik dan anggun dengan pakaian sederhananya. "
" Terus gimana dengan Sofwa cinta pertama lo? "
"sudahlah itu hanya masa lalu. ayo balik ah, gue cape. "
" Tenang aja nanti gue bantuin deh, bantu untuk mendapatkan dia, gampang sama gue mah. "
teriakan Abdur yang berusaha mengejar ku untuk menyamai langkahku yang berjalan tanpa menghiraukanya, kami berjalan menuju basement parkiran untuk mengambil mobil dan segera pulang.
****