Waktu terasa begitu cepat, hingga kini adalah waktu yang dijanjikan kang Farid untuk menjemput ku ke tempat kost ku. Aku sedang duduk di sebuah kursi yang berada di depan sebuah mini market, yang memang dikhususkan untuk pengunjung yang ingin nongkrong sambil minum Kofi.
" Udah Lama nunggunya de,? Ayo langsung aja takut terlambat. "
Tiba tiba datang kang Farid dengan motornya.
" Lumayan kang, Oh hayu. "
kamipun pergi berangkat, dengan bawaan tas berisi baju baju gantiku untuk tiga hari.
Sampailah kami ke titik kumpul para karyawan perusahaan kang Farid dan keluarganya bersiap pergi ketempat di adakannya acara, Disana sudah tersedia 3 bus yang berukuran besar, dan kata kang Farid ini baru kloter pertama, dan kloter selanjutnya akan pergi setelah rombongan kloter pertama ini sudah kembali bekerja untuk menggantikan mereka.
" Wah Rid, siapa tuh adik yah, boleh dong kenalin sama saya. " Berkata seorang laki laki yang tiba tiba mendekati kami.
" Halo, saya Rizki menejer di bagian perencanaan perusahaan ini, dan saya belum puny......." Ucapan laki laki itu terpotong, karena ada seseorang yang tiba tiba menepis tangannya.
" Kamu apaan sih, udah urus sana keluarga kamu, atau jangan jangan kamu tidak membawa keluarga, mau dipecat kamu,? " Orang yang menepis tangan Rizki pun berkata horor dengan wajah seram khas timurnya, Entah siapa dia, bisa jadi dia adalah salah satu petinggi perusahaan ini sehingga ia bisa mengancam Rizki seperti itu.
" Farid, saya kira kamu kloter ke dua, ternyata kamu masuk rombongan kloter pertama ya,? Ia menepuk pundak kang Farid dengan akrabnya.
" Iya pa, di jadwal keberangkatan tertulis nama saya, jadi saya berangkat sekarang, bapak juga kloter pertama? "
" Iyaaa, saya sama Abim kloter pertama juga, kebetulan sekali ya, yaaah kamu tau lah Abim dan saya kan banyak sekali yang harus diselesaikan di perusahaan ini, jadi lebih baik ikut kloter pertama saja. "
Dari perkataannya, sepertinya memang benar bahwa ia adalah salah satu petinggi perusahaan ini, namun sangat low profil mau ngobrol sama kang Farid yang hanya seorang OB.
" Oh iya pa. "
jawaban singkat kang Farid, menegaskan bahwa kang Farid paham dengan ucapannya.
" Oke, selamat menikmati perjalanan ya, saya dan Abim akan berangkat lebih dulu karena mungkin disana juga ada beberapa hal yang perlu di selesaikan. "
Pamit orang itu, kepada kang Farid sambil mengangkat tangannya dan sekilas melihatku lalu pergi.
" Itu pak Abdur, dia adalah asistennya Pak Abim sekaligus sepupunya, pa Abim itu pemilik sekaligus CEO perusahaan ini. "
Jelas kang Farid memberitahuku, siapa laki laki yang baru saja berlalu.
" Oh gitu kang, Tapi ko baik banget ya dia sempat menyapa akang? "
" Oh mereka memang begitu de, mereka baik. "
Jawab kang Farid yang terlihat menyembunyikan sesuatu.
" Sudah ayo kita masuk bus dan bersiap berangkat, nanti ketinggalan lagi. " Lanjut kang Farid seperti mengalihkan pembicaraan.
Bus rombonganpun sudah mulai meninggalkan tempat berkumpul kami, dan semua karyawan yang berangkat dalam kloter pertama sudah duduk rapi di dalam bus yang siap menikmati perjalanan. tujuan rombongan ini adalah ke sebeuah wisata Alam yang menyediakan berbagai fasilitas berlibur bagi pengunjung yang berada dikawasan Bandung Barat Lembang, yaitu Pesantren Lansia Al-Ma'sum, di tempat ini berjajar kamar yang mewah dan unik penginapan bagi pengunjung yang ingin menginap, tersedia tempat Shauna, Play ground untuk anak anak, masjid yang begitu megah, dan di tengah tengah sky wolk yang melingkar disekeliling Tempat itu, ada berbagai binatang yang asal luar negeri maupun lokal, untuk dilihat oleh pengunjung, tak lupa di sebelah lapangan yang terhampar rumput hijau, di sisi sudut sebelah kanan berdiri koko panggung yang megah. bergeser ke sebelah atas lapangan, disediakan tempat berkemah bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana berkemah.
hanya dalam waktu 2 jam setengah kami rombongan sudah sampai di tempat tujuan kami, yakni Pesantren Lansia Al-Ma'sum. Maasya Allah luar biasa indah dan megahnya tempat wisata alam ini. Ketika kami turun, di pintu masuk sudah ada Pa Abdur dan seorang laki laki yang sepertinya tak asing bagiku. satu persatu para karyawan dan keluarganya pun memasuki area peristirahatan, dan sibuk memilih menu sarapannya. Berbeda denganku yang sibuk menikmati indahnya hamparan pemandangan yang menyejukkan mata, yang sudah lama sekali tidak aku nikmati.
" De, mau sarapan apa,? "
Suara kang Farid mengagetkanku yang tenggelam dalam indahnya pemandangan dan sejuknya suasana disini.
" Dede sih pengennya bubur ayam kang, tapi kayanya gak ada deh, roti bakar aja deh sama s**u murni. "
Aku memesan roti dan s**u murni, karena memang di Lembang ini terkenal dengan s**u murninya.
" Oke, tunggu sebentar yah. "
jawab kang Farid sambil berlalu menuju pemesanan makanan.
ketika menunggu kang Farid dan pesananku datang, Aku kembali melihat laki laki yang berdiri bersama pa Abdur, lagi lagi aku seperti pernah melihatnya, aku berusaha mengingat dimana aku melihatnya. Ku tatap lama wajah orang itu, untuk mencoba mengingat, seperti ingat tapi siapa dan dimana, itu yang berkecamuk dalam pikiranku.
" Ah tau ah, bodo amat mungkin mirip tapi siapa ya,? " gumamku kesal pada diri sendiri sambil akhirnya aku mendaratkan tubuhku untuk duduk dikursi resto ini.
" Kenapa de, kamu kaya lagi mikirin sesuatu. "
Tanya kang Farid yang datang dengan membawa pesananku dan juga membawa makanannya.
" Engga kang, tadi Dede kaya liat orang yang mirip sama orang yang Dede kenal, tapi siapa, Dede lupa ah. "
" Ah sudah, makan dulu tuh makanannya nanti keburu dingin. "
perintah kang Farid tanpa menghiraukan ucapanku.
" Nah baiklah, teman teman karyawan sekalian, sekarang kami akan menyampaikan agenda apa aja yang akan kita lakukan selama berlibur disini, dan sekaligus kami akan memberikan kunci kamar masing masing, dan bagi yang membawa adiknya ataupun kakanya yang perempuan maka akan diberikan kamar terpisah naamun tetap berdekatan. "
Pa Abdur yang memberikan pengarahan itu dengan penuh semangat.
" Baik, jadi acara kita untuk hari ini adalah, akan di adakah lomba tebak gaya dan estafet tepung terigu, istoraha solat makan di jam makan siang sampai jam 14.00, nanti dilanjutkan dengan acara sore yaitu stand up komedi dari karyawan, serta akan ada sambutan sambutan dari CEO kita, dan tentu saja akan ada Doorprize, nah untuk sekarang silahkan nanti setelah kunci dibagikan kalian bisa istirahat sebentar dan bersiap untuk lomba, terimakasih itu saja informasi kegiatan untuk hari ini, selamat bertemu nanti di acara sebentar lagi. "
pemaparan yang lumayan panjang tentang kegiatan hari ini yang di sampaikan pa Abdur membuat para karyawan dan keluarganya cukup semangat. Dan setelah selesai menghabiskan sarapan, aku dan kang Farid bergegas ke kamar kami, aku dan kang Farid masing masing mendapatkan satu kamar, namun masih berdekatan, dan kebetulan sekali kamar aku dan kang Farid, berhadapan dengan kamarnya pa Abdur dan CEO perusahaan.
" De ini kunci sama bawaan kami, coba buka dulu biar akang antar ini kofer kamu ke kamar, lumayan berat juga nih. "
" Oh iya kang. "
" Oke, akang ke kamar dulu ya, kalo ada apa apa, kamu langsung aja ke kamar akang, panggil akang yah. "
" Iyaaa, akang. "
Setelah kang Farid berlalu aku membereskan bawaanku, dan bersiap kembali untuk bisa mengikuti perlombaan atau game yang tadi di sampaikan pa Abdur. karena aku tidak mengganti pakaianku dan hanya meletakan barang barangku dengan rapi, jadi tidak memakan waktu lama, jadi untuk menunggu kang Farid dan yang lain aku duduk di kursi yang berada di depan kamarku sambil memegang Al-Qur'an kecil untuk murojaah hafalanku. Setelah aku mengulang hafalanku menyelesaikan satu surat yaitu surah An-Nazi'at tiba tiba datang pa Abdur yang menghampiriku dan bertanya.
" Kamu adiknya Farid kan, Nama kamu Sofwa kan, lagi ngapain kamu? "
" Iya pa, saya adiknya kang Farid, saya lagi duduk aja pa, sambil nungguin yang lain, ko bapak bisa tau nama saya? "
Jawabku apa adanya, sambil menutup mushaf kecilku, Dan aku bertanya kebingungan, mengapa ia bisa tau namaku.
" Tau lah, kan setiap karyawan harus menuliskan Nama keluarga nya yang ikut, jadi saya tau nama kamu Sofwa. "
" Ooh begitu, maaf pa kalo saya boleh nanya, yang tadi pagi sama bapak itu siapa ya, kata kang Farid sih itu CEO perusahaan, tapi saya seperti pernah melihatnya, seperti tidak asing bagi saya, tapi saya juga masih tidak yakin. "
" Ooh iya, dia itu sepupu sekaligus atasan saya, Namanya Abrisam Fabanyo. "
" Abrisam Fabanyo,? "
Tanyaku pelan hampir tidak terdengar oleh pa Abdur.
" kenapa, kamu bilang apa tadi,? "
" oh enggak pa, nggak apa apa. "
Di saat aku dan pa Abdur berbincang datang kang Farid yang mengajakku ke lapangan.
" Aayo de, kita ke lapangan, kayanya udah banyak yang kumpul disana. maaf pa kami duluan. " pamit kang Farid sambil menarik tanganku.
Ketika permainan sudah mulai, aku menyaksikan di sisi lapangan yang memang ramai para keluarga dari karyawan yang memberikan semangat untuk keluarga nya yang sedang mengikuti game, aku duduk bersila di antara keluarga karyawan yang lain. Ketika itu game yang dilakukan karyawan adalah, Estafet tepung terigu, cara bermainnya adalah para pemain duduk memanjang kebwlkanag, dengan memegang piring untuk tempat tepung dan akan di tumpahkan ke piring yang dipegangi oleh pemain ddibelakang, begitu seterusnya hingga tepung yang di estafet itu habis, dan selamat tanpa tumpah sampai pada pemain paling belakang yang menampung tepung dengan penuh dan paling banyak itu adalah pemenangnya. Aku tertawa kecil dan tidak berhenti tersenyum karena melihat para pemain yang mandi dengan tepung, sampai ada pemain yang kepalanya penuh dengan tumpahan tepung. Namun di tengah asyiknya menonton permainan itu, handphone ku berdering, dan ada panggilan yang masuk, aku kira itu adalah Dian, namun ketika ku lihat itu adalah panggilan dari nomor baru. lama sekali, ku pandangi no itu aku ragu apakah ku angkat atau ku abaikan saja, karena memang aku tidak pernah menerima panggilan jika itu nomer yang tidak aku kenal.
" Udah angkat aja, kali aja penting kan. "
Tiba tiba kang Farid datang dwngan berlumuran tepung sekujur tubuhnya, membuat ku tertawa dan menepuk nepuk punggung kang Farid yang dipenuhi dengan tepung.
" Itu handphone nya Bungo lagi, angkat aja de, kali aja dari lembur kan. "
" Oh ya udah Dede angkat dulu ya kang. "
Aku mengikuti saran kang Farid, dan menjauh dari keramaian agar lebih jelas mendengar suara panggilan di sebrang telefon.
" Halo Assalamualaikum.."
" .............."
tidak ada jawaban dari sebrang sana, membuatku bertanya.
" Halo, ini sama siapa ya, ada perlu apa,? "
" Saya.....Orang yang tempo hari mengirimi pesan lewat messenger ke kamu dan meminta no kamu. "
jawab oarang di sebrang sana dengan gugup, yang ternyata seorang laki laki. setelah aku mengingat ingat siapa saja yang mengirimi pesan melalui messenger dan meminta no itu siapa, aku baru mengingat seorang laki laki yang selalu mengirimi pesan kepadaku dan memintaku mengajarinya bahasa Sunda, dan terakhir kali dia meminta nomor ku, yang akhirnya ku abaikan.
" Astaghfirullah kamu, kamu dapat no saya dari mana,? "
aku mengucapkan istighfar karena merasa marah, dan bertanya dengan ketus.
" saya dapat nomor kamu dari Kaka kamu. "
" kamu jangan bercanda yah, saya tidak mengenal kamu dan tidak mungkin kamu mengenal Kaka saya. tolong jangan ganggu saya, Assalamualaikum. "
Aku memutuskan panggilan sepihat tanpa mendengar jawaban dari sebrang telfon. Lalu aku mulai membuka aplikasi f*******: dan mwncati nama orang yang mengirimi pesan, Abrisam Fabanyo.
" Tunggu, Abrisam....., bukannya itu Nama CEO perusahaan tempat kang Farid kerja ya, ah tidak mungkin, mungkin namnya aja yang sama. "
aku bergumam pelan dan bertanya pada diriku sendiri, namun setelah ku lihat Foto yang ada di akun f*******: itu ternyata dia adalah orang yang sama ku lihat sejak tadi pagi yang selalu berada di samping pa Abdur.
" Oh ternya dia, pantas saja aku merasa tidak asing sama orang itu, aku melihatnya disini, apa mungkin dia yang menelfon barusan? ah tidak mungkin. "
Aku menutup semua aplikasi didalam handphone ku dan menguncinya, lalu memasukkannya kedalam Sling bag ku, dan mengabaikan semua pertanyaan yang berkecamuk di benakku, karena memang tidak mungkin dia meneleponku.aku kembali mendekati kang Farid di tengah keramaian teriakan para karyawan dan keluarganya yang berada disana.
" Udah de, siapa? "
" Tau ah, gak jelas, salah sambung mereun. "
jawabku ke kang Farid, agar ia tenang dan tidak bertanya lagi.
" kamu mau main gak, gantiin akang, "
" Main apa, gak ah. "
" Ayolah coba dulu, ini cuma estafet balon aja ko, nanti kamu lari dari ujung sana terus kasih ke pemain selanjutnya agar dibawa ke finish gitu doang ko. "
" Ya udah atuh, aku mau deh, daripada duduk doang kan. "
" Oke sebentar akang ke panitia dulu daftarin nama kamu untuk gantiin akang. "
stelah kang Farid kembali, dia langsung menariku ke tengah lapangan, dan dia berusaha menjelaskan jalannya permainan dan tak lupa dengan penuh semangat dia meyakinkanku bahwa aku bisa. namun sesaat sebelum permainan dimulai, tiba tiba Pa Abdur menghentikan panitia yang hendak membunyikan Pluit tanda akan dimulainya permaianan, dan dibelakangnya ada sesosok laki laki yang beberapa saat yang lalau membuatku bertanya tanya dan kebingungan. ya dia adalah Pa Abrisam Fabanyo sang CEO. Dan ternyata dia dipaksa mengikuti permainan ini, dan ditempatkan di tim yang sama denganku.
" Lo disini, jangan sampai lo kalah ya, malu maluin gue. " pa Abdur mengatakan hal itu dengan sedikit berbisik ditelinga pa Abrisam, dan menghampiriku.
" Baik baik ya sama Abim, dia pasti akan membuat kamu memenangkan permainan ini dan mendapatkan hadiahnya. "
Dia berkata dengan penuh keyakinan, dan dengan wajah yang seperti mengejeku, seakan akan aku dan pa Abrisam ada apa apa.
Permainan pun dimulai, dan Pa Abrisam berada di sebelah kiri ku, dan setiap aku menerima balon maka harus secepatnya juga aku menyerahkan balon itu kepada Pa Abrisam agar cepat samapi ke finish. ketika aku menyerahkan balon pertama, dia menahan balon itu dan berkata.
" Apa betul kamu tidak mengenali saya? " Aku merasa kesal dengannya kerena memegangi balon terlalu lama dan itu akan berujung apada kekalahan, harusnya bergerak cepat, tetapi dia seperti sengaja mengulur waktu, aku pun marah dan berteriak.
" Pak, tolong balonnya kasih ke pemain yang selanjutnya, pa pliis, ini udah balon ke dua pa tapi bapak masih memegangi balon yang tadi. " Teriakan ku tidak membuatnya bergeming dan dia malah tersenyum.
" jawab dulu pertanyaan saya, kamu tidak mengenal saya? "
" Astaghfirullah pa, iya....iya, saya kenal sama bapak, sangat mengenal bapak, jadi tolong untuk sekarang kita main dulu pa, jangan sampai kita mengecewakan pemain yang lain, saya mohon pak, cepaaat....!! " Teriakan ku kali ini, bisa membuatnya bergeming, dan dengan cepat dia memberikan dan menerima mengestafet balon balon itu untu sampai ke finish, dan akhirnya tim kami lah yang menjadi pemenangnya. Aku bersorak dan berlali kecil ke arah Kang Farid.
" yeaaay, Dede Menag kang, huuuh lumayan cape juga. "
" kamu gak apa apa kan? "
Kang Farid bertanya dengan penuh kekhawatiran, dan memandangi wajahku yang kini terduduk di sebuah kursi, menunggu minumanku datang.
" Aku, emangnya aku kenapa kang? "
" Tadi kamu ngobrol sam...."
Tiba tiba ucapan kang Farid terpotong ketika melihat pa Abrisam dengan pa Abdur datang mendekat ke kursi tempat kami duduk.
" Boleh kami bergabung disini? "
Tanya pa Abdur yang langsung menarik kursi dan mempersilahkan pa Abrisam duduk.
" Mohon maaf pa, jika bapak ingin duduk disini silahkan, biar kami yang akan pindah. "
jawabku hendak berdiri dan meninggalkan meja itu. Namun kang Farid menahan ku.
" Ii...iya pak, biar kami yang akan pindah, kami permisi dulu. "
" Farid, tolong duduk dan ajak adik kamu untuk duduk kembali di tempatnya. "
" Tapi pak, sa...."
" Udahlah, turutin aja, kamu tau kan kalo dia memerintahkan sesuatu maka tidak boleh ada penolakan. "
Pa Abdur merangkul pundak kang Farid dan memotong perkataan kang Farid agar menuruti saja perkataan boa besarnya itu. Akhirnya kang Farid pun menarik ku untuk duduk kembali.
Aku duduk dan menikmati minumanku dalam diam dan pandanganku selalu menunduk. aku merasa tidak nyaman berada di tengah tengah laki laki walaupun ada mahromku yaitu Kakaku yang akan menjagaku dari segala fitnah. namun tetap saja bukanlah kebiasaan ku nyaman berada di tengah tengah laki laki, Aku memutuskan untuk kembali saja ke kamar, dan hendak berpamitan kepada kang Farid, aku mendekat dan berbisik tepat di sebelah telinga kang Farid.
" Kang aku ke kamar aja ya, Disni ded gak enak ah, biar Dede balik ke kamar aja, sekalian mau mandi juga. "
" Kamu duduk dulu yah sebentar de, katanya ada yang mau di omongin sama Pa Abim ke kamu. "
" Maksud akang apa, Kenapa dia mau ngong Sama Dede? "
" udah duduk dulu aja ya, akang sama pa Abdur pindah sebentar ke meja sebelah, tenang aja akang bakalan terus awasin kamu sama pa Abim ko. "
karena kan Farid tau aku paling takut jika ditinggalkan berduaan dengan lawan jenis, karena memang tidak sewajarnya laki laki dan perempuan yang bukan mahrom duduk berduaan. Kang Farid dan pak Abdur pindah dan duduk dimeja tak jauh dari tempat aku dan pa Abrisam duduk, kang Farid meyakinkanku bahwa dia akan selalu ada disana untuk menjagaku. akhirnya aku setuju dan duduk kembali dalam diam dan menunduk.
Setelah Aku dan pa Abrisam duduk berhadapan, lama tak ada suara yang keluar dari mulutnya ataupun dari mulutku.
" Nama kamu Sofwa kan? "
pertanyaan pak Abrisam memecahkan keheningan diantara kami.
" Iya. "
jawabku singkat tanpa mengangkat wajahku.
" Baiklah sejujurnya saya bingung mau cerita mulai dari mana, tapi perkenalkan nama saya Abrisam Fabanyo saya biasa di panggil Abim, saya pertama kali mengenal kamu ketika kamu masih duduk di kelas XI SMA, dan itu hanya melalui f*******: saja, tetapi baru tiga Minggu yang lalu saya mengetahui bahwa kamu adiknya Farid, sejak saat itu saya semakin penasaran sama kamu, dan bahkan saya mengikuti kamu ketika kamu bertemu sama Farid di masjid raya seminggu yang lalu, dan jujur saja setelah melihat kamu secara langsung saya ingin mengenal kamu lebih jauh. "
Pengakuan Pa Abim yang panjang lebar membuatku bingung dan tak percaya, dengan cepat aku mengangkat wajahku dan menatap matanya sekilas, lalu ku tundukan kembali kepalaku.
" di awal tahun kemarin aku berusaha mengirimi kamu pesan untuk mencari cara agar kamu bisa saya ajak bertemu, tetapi tidak ada respon yang baik dari kamu, jadi saya memutuskan untuk meminta bantuan Farid. "
Dari penjelasannya ini aku bisa menyimpulka bahwa persyaratan yang di ajukan perusahaan yaitu diwajibkan membawa keluarga dan jika tidak membawa keluarga berakhir dengan pemecatan.
" Jadi hanya karena itu, bapak mengancam para karyawan, bapak tau bagaimana mereka khawatir, dan bagaimana mereka berusaha mendatangkan keluarganya dari kampung, dan itu karena takut kehilangan pekerjaan, dan itu dijadikan permainan sama bapak? "
" kamu ko marah, tunggu dulu saya jelaskan dulu semuanya. "
" Memang semua orang kaya akan sangat seenaknya sama orang kecil, tidak perduli dengan perasaan dan kesusahan orang kecil, mohon maaf pa saya sudah berkata kasar, tapi setidaknya itu yang saya rasakan sekarang, saya takut mengeluarkan kata k********r, jadi saya permisi. "
Aku berdiri dan berjalan cepat menuju kamarku, dan aku berencana membereskan barang barangku dan memutuskan untuk pulang ke kostan ku.
Kang Farid mengejar ku cepat.
" kamu kenapa, kamu mau kemana, ko beresin bawan sih? "
tanpa menghiraukan pertanyaan kan Farid aku siap keluar dari kamar, namun kang Farid menahan koperku dan menyuruhku untuk duduk.
" Dede, tolong duduk. "
Aku pun terdiam dan duduk tanpa membantah perkataan kang Farid.
" Kamu kenapa, apa karena maslaah ancaman perusahaan yang akan mengancam akang? kamu dengarkan dulu penjelasan akang. "
" Tapi aku kesal kang, masa hanya karena dia mau ngobrol sama aku, sampai mengorbankan perasaan banyak orang? "
" Siapa bilang pa Abim mau ketemu kamu, kamu mah Ge Er ih, dia memang mengancam seluruh karyawan, tetapi itu juga untuk kebaikan karyawan de, agar tidak ada karyawan yang membawa pacarnya untuk menginap disini dan akhirnya berbuat maksiat, pa Abim takut kena dosanya dan kamu tau, karyawan yang memiliki keluarga dikampung itu diberikan ongkos pulang pergi sama Pa Abim untuk menjemput keluarganya, jadi disini yang di untungkan adalah, ya para karyawan lah. "
Penjelasan kang Farid membuatku malu, dan membuat hatiku terenyuh karena pa Abim masih memikirkan tentang takutnya terkena dosa maksiat serta memberikan dana transfortasi bagi karyawan yang menjemput keluarganya di kampung. kini aku berbalik salut sama pa Abim.
" Oh gitu kang, Maasya Allah ternyata pa Abim baik ya kang. kalo gitu aku udah salah dong, gimana nih aku malu ketemu sama dia."
" Sudahlah, yang penting kamu sudah tau kebenaranya dan kamu tidak boleh berprasangka buruk dulu sama orang, dan tolong hilangkan emosi kamu itu, kebiasaan masalah belum jelas udah marah duluan kamu mah. "
" Iyaa, iya maaf kang. "
" ya udah kalo kamu mau mandi mandi dulu gih, nanti abis magrib ada acara lagi, jadi bersiap aja, kalo kamu mau tilawah dulu boleh, masih banyak waktu ko, akang juga ke kamar dulu yah. "
" iya kang, akang nuhun nya, hampira Dede ngerakeun akang."
" Ah sudah, sok mandinya. " Kang Farid berlalu, dan kini aku merasa malu dengan sikapku.
" Iiiih maneh mah ngerakeun, kumaha atuuuh? " Aku berkata pada diriku sendiri dan menggenggam ujung hijabku erat karena menahan rasa malu dan ingin berteriak saja rasanya.
Acara malampun dimulai, setelah selesai solat magrib dan menyelesaikan tilawahku, aku duduk di kursi yang berada didepan kamarku. Aku menunggu kang Farid dan kini aku sudah bertemu kang Farid untuk mengatakan bahwa aku tidak akan mengikuti acara malam ini, karena aku merasa lelah dan yang paling membuatku malas mengikuti acara adalah karena aku merasa malu dan gak enak sama pa Abim.
# ngerakeun = malu maluin