Outhor
" Kalo kamu mau jadi laki laki b******k dan pernikahan kamu gagal, tetaplah disini dan dekati Sofwa Arneta, tapi kalo kamu memang mencintai Gadis itu cepat kejar dia. " Pak Adam berbisik dan menepuk punggung Abrisam.
Ayah Abrisam memiliki Nama Adam Arrahman Fabanyo adalah pemilik Adams Corporation, perusahaan tersukses di Indonesia timur.
Abrisam masih bergeming ditempatnya, Ia terlihat begitu bimbang, Namun hingga Akhir dari acara makan malam itu, Abrisam tak sekalipun meninggalkan tempat itu dan tetap berada di sisi Sofwa Arneta, Pak Adam merasa kecewa dengan sikap putranya.
Sesampainya di rumah, waktu sudah menunjukkan jam 21.00, ibu dan kedua adik Abrisam sudah memasuki kamar serta membersihkan diri masing masing, berbeda dengan Pak Adam yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu dan memanggil Abrisam untuk duduk di sampingnya.
" Bim, sejujurnya papah sangat kecewa dengan sikap kamu tadi, padahal kamu yang meminta langsung gadis yang bernama Bahirah itu, bahkan di saat gadis itu menolak kamu memaksakan kehendak kamu untuk mendapatkannya, tapi di saat dia sudah mau berdamai dengan hatinya dan keadaan, kamu malah menyakitinya dengan begitu jelas. " Tutur Pa Adam setelah Abrisam duduk disampingnya.
" Tanggal pernikahan sudah ditentukan, dua keluarga sudah sepakat, bahkan dengan berderai air mata neneknya berharap kamu membahagiakan gadis itu, Papah tidak pernah mengajarkan kamu jadi laki laki b******k dan pengecut seperti ini, keputusan ada ditangan kamu Selesaikan dengan penuh tanggung jawab tanpa ada pihak yang tersakiti. " Lanjut Pak Adam sembari bergegas pergi meninggalkan Abrisam yang terlihat begitu tertampar dengan penuturan Ayahnya.
.
.
Pagi hari yang tidak begitu cerah, mentari seakan enggan memancarkan sinarnya membuat hari ini terlihat mendung seperti suasana hati Sofwawidadi yang berkabut. Gadis yang biasa dipanggil dengan sebutan Ira itu kini sedang bersiap pergi ke kantornya Abrisam berniat menyelesaikan segala urusan yang terasa mengganjal dihatinya, Ia mengajak Dian untuk menemaninya.
" Ra kamu yakin? terus kumaha atuh sama keluarga besar kamu di kampung, mereka mungkin saja udah nyiapin buat hari pernikahan kamu. " Tanya Dian untuk meyakinkan Sofwa.
" Insya Allah aku yakin Yan, dari awal memang aku sama Abim gak cocok, kamu liat kemarin Abim keliatan bahagia banget bermesraan sama perempuan yang belum halal untuknya, aku yakin perempuan itu cinta pertamanya yang dicari selama ini. " jawab Sofwawidadi dengan penuh keyakinan.
" Ya udah kalo gitu, kita lihat reaksi laki laki brengesek itu, dia bakalan menyerah kaya pengecut atau bakalan pertahanin kamu. " Dian berkata dengan penuh Emosi.
.
.
Sesampainya di gedung perusahaan milik Abrisam, Begitu turun dari taksi yang mengantarnya, Bahirah berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi menengadahkan kepalanya mengikuti tinggi gedung dihadapannya.
" Lihatlah perbedaan kita, kita seperti bumi dan langit yang tak bisa bersatu. " Sofwa berkata dalam hatinya.
" Ayo Ra,!! " panggil Dian membuyarkan lamunan Bahirah dan menarik tangannya ke arah pintu masuk loby perusahaan itu.
Di ambang pintu Loby terlihat seorang Satpam bertubuh besar kekar dan tinggi berdiri dengan tegap, tersenyum ketika melihat Sofwa dan Dian hendak memasuki pintu loby itu, Bahirah dan Dian membalas senyuman itu dan menganggukan kepala. ketika berjalan ke arah Lift Bahirah bertemu dengan Kakak sepupunya yakni Kang Farid yang memang bekerja disana.
" De, ngapain kamu disini, mau ketemu Pa Abim? " Farid sedikit berteriak dan berlari mendekati Bahirah.
" Iya kang, nanti setelah Dede ketemu Pa Abrisam Dede mau ngomong sama akang. " Bahirah menjawab pertanyaan Farid dengan wajah sendu dan berniat menyampaikan masalahnya kepada Farid.
" Kamu kenapa sedih kaya gitu, ada masalah? " tanya Farid dengan sedikit khawatir.
TING...! suara Lift terbuka.
" Nanti Dede ceritain semuanya ya kang, Dede ke atas dulu. " Bahirah pamit dan memasuki Lift meninggalkan Farid dengan penuh pertanyaan.
Tak perlu menunggu lama, kini Lift sudah terbuka dan mengantarkan Bahirah ke lantai dimana ruangan kerja Abrisam berada, Bahirah berjalan menuju ke arah Ruangan Abrisam tanpa bertanyapun Bahirah sudah tau letak ruangan itu, karena disana tertulis dengan jelas CEO Abrisam Fabanyo, dengan langkah gontai Bahirah kini sudah sampai di depan pintu yang tertutup rapat, Bahirah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, namun tak ada jawaban dari dalam sana. Bahirah mengulangi ketukan dan ucapan salam namun tetap sunyi, Dengan tak sabaran Dian menyuruh Bahirah masuk dan melihat apakah orang yang dicarinya berada didalam. Dengan sedikit ragu Bahira menarik gagang pintu dan mendorongnya, lalu ia memasukan sebagian tubuh atasnya kedalam ruangan itu untuk melihat, Diluar dugaan Bahirah terkejut bukan main, ketika melihat pemandangan di depannya membuat matanya terasa panas dan berkabut.
" Kita balik aja Yan, orangnya lagi sibuk. " Bahirah menutup pintu dan mengajak Dian cepat pergi dari tempat itu. Namun baru saja beberapa langkah datang Abdur dan menyapa mereka.
" Eh kalian disini, ko gak masuk? " Abdur bertanya sambil membuka pintu ruangan Abrisam, ketika ia melihat kedalam ruangan sekilas ia melihat ke arah Bahirah lalu masuk ke dalam ruangan itu.
Ternyata pemandangan yang menyesakan d**a Bahirah adalah, sepasang insan yang sedang asyik berbincang manja, posisi Abrisam duduk di kursi dan Sofwa Arneta yang duduk di meja berhadapan dengan Abrisam.
" Gila Lo ya, Itu ada Bahirah di luar Lo malah asyik ngobrol sama perempuan yang bukan siapa siapa Lo. " Abdur berteriak agar orang yang dimaksud mendengarnya sambil menarik tangan Abrisam cukup kuat mampu membuat Abrisam berdiri.
" Siapa, Bahirah Sofwawidadi Ada apa dia kesini? " Dia bertanya dengan tanpa merasa bersalah seakan tidak terjadi apa apa.
" Parah, Ada apa sama Lo Bim? sudah, gue suruh masuk aja dia kesini. " dengan raut wajah kesal Abdur berlalu hendak mengajak Bahirah dan Dian masuk ke dalam ruangan itu.
.
.
Kini Duduk Bahirah dan Dian yang bersebelahan, serta Abrisam bersama Sofwa Arneta disampingnya dengan tatapan sinis ke arah Bahirah, Abdur berdiri tak jauh dari sofa tempat mereka duduk.
" Maaf saya mengganggu waktu kalian, saya kesini hanya ingin menyelesaikan permasalahan kita Bapak Abrisam. " Bahirah membuka pembicaraan dan memecah kebekuan di ruangan itu, dan menekankan kata Bapak.
" jadi ini perempuan kampung yang bermimpi jadi istri kamu Bim. " Sofwa Arneta berkata dengan begitu sinis menyela pembicaraan Abrisam yang belum terucap.
" Lo bisa diam kan Sofwa, gak usah ikut campur deh itu urusan mereka. " Abdur berkata dengan gusar kepada Sofwa Arneta yang merendahkan Bahirah. Sementara Abrisam hanya diam dengan tatapan lurus memandangi wajah cantik Bahirah.
" Dari awal, saya sudah berusaha menolak Bapak, karena memang dunia kita sangat jauh berbeda, dan saya kesini ingin mengembalikan ini. " Bahirah menyodorkan kotak cincin yang saat itu disematkan oleh ibu Abrisam dijari manisnya.
" Saya juga ingin mengembalikan janji yang belum sempat kamu tepati, dengan begini kamu akan bahagia tanpa beban, merasa bersalah kepada saya dan keluarga saya, biar nanti saya yang bicara kepada keluarga saya, terimakasih saya permisi. " Setelah menyelesaikan perkataannya dan mengembalikan cincin Sofwa berdiri dan meraih tangan sahabatnya untuk pergi.
" Tunggu Ra, gak bisa gitu dong, Gila yah apa karena kalian orang kaya bisa seenaknya, dasar laki laki brengesek. " Sergah Dian sambil menepis tangan Sofwa dan menunjuk ke arah Abrisam yang diam seperti patung.
" Yan, Pliis kita pergi aja, urusan aku udah selesai. " Bahira berusaha menarik Dian dengan menahan Air mata yang memaksa keluar dari matanya yang mulai berkabut. Ketika melihat wajah Bahirah Dian pergi dalam diam dan mengikuti langkah Sofwa yang perlahan melemah hingga ambruk ketika sampai didalam lift.
" Ra kamu gak apa apa kan? " Dian merangkul Bahirah yang kini duduk tak berdaya.
ketika Lift sudah terbuka dan berada di lantai dasar, Bahirah berdiri dan melangkah seperti tidak terjadi apa apa.
Bahirah merogoh slingbagnya dan mengeluarkan benda pipih warna hitam lalu menekan nomor serta memanggil, tak menunggu lama ada suara diseberang telfon.
" Assalamualaikum De, kamu udah selesai yah, tunggu akang di luar yah nanti kita ngobrolnya di kafe depan sana. " Suara Farid yang mengetahui tujuan Bahirah menelfonnya.
" Iya kang, waalaikum salam. " Sofwa menutup panggilan itu setelah menjawab telfon itu dan melangkah gontai meninggalkan gedung yang serba mewah itu.
***
" yang bener de, apa kamu sudah yakin? " Farid bertanya setelah mendengar penjelasan dari Bahirah di dalam kafe yang dimaksud Farid tadi.
" Yakin kang, lagian tadi Dede sudah menyelesaikan semuanya, meski tak ada jawaban yang pasti dari Pa Abim, Dede minta tolong ya kang jelasin ke Umi sama ke Mamang biar mereka juga nggak berharap apa-apa lagi. " Sofwa meminta Farid menceritakan tentang masalah ini ke keluarganya.
" akang tanya sama kamu de, kalo seandainya Ustadz Aiman datang ke rumah, kamu mau terima? " Farid malah balik bertanya kepada Bahirah yang kini terlihat kaget dengan pertanyaan itu.
" Akang,!! apaan sih, untuk sekarang Dede gak mau lagi berurusan dengan laki-laki manapun apalagi membahas tentang pernikahan, besok Dede mau ke pondok yang ada di Garut, untuk menenangkan diri, dan gak tau kapan pulang lagi, akang jangan cerita ke umi yah, bilang aja Dede ada di disini masih kerja. "
" kamu kesana sama siapa De, jangan aneh aneh deh, udah pulang aja, diam di rumah. " Farid melarang keputusan Bahirah untuk pergi dan tinggal yang belum Farid ketahui.
" Kang, Dede yakin disana Dede bisa jauh lebih tenang, dan akang tenang aja Dede bakalan selalu kasih kabar ko ke akang dan selalu telfon ke Umi. " Bahirah mencoba meyakinkan Farid bahwa keputusannya adalah yang terbaik.
" Ya udah, Kalo gitu kamu jaga kesehatan ya, baik baik disana, kalo ada apa-apa kabarin akang. "
" iya kang Pasti. "
***
Setelah kembali dari kafe dan berbicara dengan Bahirah, Farid menemui Abrisam yang kini masih bercanda mesra dengan Sofwa Arneta, Tanpa mengetuk pintu dan langsung mendekat serta meraih kerah kemeja Abrisam di ikuti dengan satu pukulan tepat di pipi kiri Abrisam yang langsung mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya, Farid melepas cengkramannya lalu menyodorkan amplop yang bertuliskan surat pengunduran diri, Tanpa separah katapun Farid keluar dari ruangan itu. Setelah menyelesaikan urusannya ke pihak HRD Ia langsung memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya untuk mengabarkan apa yang terjadi dengan rencana pernikahan Bahirah adiknya.
" Berani banget tu orang mukul kamu, mana dia cuma seorang OB lagi, apa sih masalahnya Bim? " Seloroh Sofwa Arneta setelah membuka amplop yang di lempar Farid ke atas meja tadi.
" Sofwa kamu bisa pulang dulu gak,? dan tolong untuk sementara kita jangan dulu ketemu, karna aku juga ada masalah yang harus ku selesaikan. " Abrisam berkata sambil mengelap darah di sudut bibirnya dan menarik dasi dilehernya yang kini sudah tak rapi.
" Kamu ko gitu sih, kita kan udah gak ketemu lama banget, ini pasti gara gara perempuan kampung itu kan? " Rengek Sofwa Arneta yang sengaja di buat terkesan manja.
" Tolong, kamu ngerti Sofwa, kamu juga tidak bisa seenaknya datang dan pergi ke dalam kehidupan orang, jadi tolong untuk sekarang kamu jangan temui aku dulu. " Abrisam meremas rambutnya frustasi.
Sofwa Arneta berlari dengan wajah penuh kemarahan tanpa menjawab perkataan abrisam setelah menyambar tas mewahnya yang sejak tadi bertengger di atas meja kerja Abrisam.
" Ada apa sama Lo Bim, kenapa? " Abrisam bertanya pada dirinya sendiri duduk di kursi dan menunduk mengusap wajah serta meremas kepalanya frustasi.
Tiba-tiba datang Abdur yang berlari memasuki ruangan Abrisam setelah ia berpapasan dengan Sofwa Arneta yang pergi dengan wajah cemberutnya, Abdur berhenti di ambang pintu setelah menutup pintu, ia berdiri dan memandang betapa kacau Abrisam saat ini.
" Bim, Lo baik-baik aja kan? sebenarnya ada apa ini Bim, Lo kenapa? dulu Lo yang ngejar ngejar Bahirah sampe segala cara Lo lakuin, tapi hanya karena masa lalu Lo balik lo langsung ingkar dengan janji yang Lo ucapin beberapa Minggu lalu di hadapan orangtua Lo dan orangtuanya. " Abdur bertanya menuntut penjelasan dari semua ini dan mendekat ke arah Abrisam.
" Gue juga gak tau kenapa Dur, Hati gue seperti sakit melihat Bahirah balikin cincin dan berusaha membatalkan pernikahan, tapi di sisi lain gue merasa masih cinta sama Sofwa Arneta, Gue gak mau Sofwa Arneta pergi lagi Dur. "
Abrisam berusaha mengeluarkan perasaannya yang beberapa hari ini ia pendam sendiri.
" Wah Lo gila sih, Parah..." Abdur duduk di Sowa dengan wajah yang frustasi dan bingung.
" Gue harus bagaiman Dur? "
" Lo nanya sama gue? kalo menurut gue, Lo harus pertahanin Bahirah yang udah jelas jelas cewek baik baik, religius dan gak kalah cantik sama Sofwa Arneta. Lagian Lo udah janji sama neneknya untuk tidak menyakiti Bahirah, kalo sampe lo biarin Bahirah pergi berarti Lo laki-laki pengecut, belum juga apa-apa Lo udah ingkar janji dan udah bikin cewek itu sedih. " Abdur bertutur panjang lebar untuk meyakinkan Abrisam bahwa Bahirah lah yang pantas dipertahankan.
" Lagian setelah tuh cewek balik, Lo yakin dia gak punya cowok, Lo yakin dia balik buat Lo? pikir dong Bim, mana Abrisam yang Selalu mengedepankan pikirannya? " Lagi lagi perkataan Abdur terdengar ada benarnya juga, setelah kembali Sofwa Arneta memang terlihat begitu cantik dan menawan dengan gaya modisnya, tetapi Abrisam lupa satu hal, ia tidak mencari tahu apa penyebab kembalinya dan bagaimana kehidupannya selama ini.
" Lo bener, Gue harus pastiin dulu tentang Sofwa Arneta, Tolong Lo hubungi detektif kita dan suruh cari tahu semua tentang Sofwa Arneta. " Abrisam kembali bersemangat seperti mendapatkan setitik pencernaan dari masalah ini. Abdur langsung menghubungi detektif itu.
" Gue udah telfon, dan paling lambat nanti malam gue kabarin hasilnya. " Abdur berkata sambil memasukan telpon genggamnya ke dalam saku jasnya dan bergegas meninggalkan Abrisam.
*******