Malam hari, ketika semua makhluk terlelap mengistirahatkan tubuh yang lelah setelah seharian bekerja. berbeda dengan Abrisam yang kini duduk di Sofa ruang kerjanya menyandarkan tubuhnya dan menengadahkan kepala ke langit-langit ruangan dengan tatapan kosongnya. Waktu kini menunjukan jam 01.00 Dini hari, tetapi Abrisam masih bergeming ditempatnya dengan pikiran melanglang buana memikirkan Dua perempuan yang membuat dirinya berada dalam ke bingungan.
" Bahirah, Aku harap kamu tidak membenciku, kamu perempuan yang baik, Tapi aku juga menginginkan Sofwa Arneta untuk tetap bersamaku, aku menginginkan kalian berdua. "
Abrisam berbicara pada dirinya sendiri.
" Betapa Egois dan berengsek kamu Bim. " Ia mengacak rambutnya dan mengusap kasar wajahnya Frustasi.
Nada dering dari telfon seluler pertanda ada panggilan masuk membuyarkan lamunannya, setelah melihat nama Abdur tertera dilayar dengan cepat Abrisam menggeser layar dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
" Gimana Dur, Lo udah dapat kabar dari detektif itu? " Dengan tak sabaran Abrisam langsung menanyakan kabar yang sejak tadi ia tunggu.
" Calm Broo,, Gue kirim foto foto dan lainnya ke WA nanti Lo bisa liat dan baca sendiri dah. " Terdengar suara Abdur dari sebrang telfon.
" Oke, Syukur dofu bro. " jawab Abrisam sebelum memutus panggilan itu. Ia langsung membuka Aplikasi w******p, Terlihat beberapa Foto yang menampakan foto Sofwa Arneta memakai gaun berwarna putih tanpa lengan mengekspose bagian leher dan lengannya yang putih, Dengan Panjang menjuntai menutupi kaki memiliki belahan sebelah kiri menampakan kaki jenjang dan paha mulusnya, di kepalanya tersemat mahkota kecil dengan rambut yang digelung ia juga memakai makeup glossy, Ia terlihat begitu cantik dengan rona bahagia mengembang di wajahnya, Disampingnya berdiri gagah seorang laki-laki berwajah barat dengan kulit putih bule, rambut pirang dan memiliki bola mata berwarna Biru, menunjukan bahwa pria itu memang berdarah bule dan diyakini penduduk asli dari negri paman Syam.
Di slide selanjutnya menampakan Foto Screen shot dari Chat Sofwa Arneta dengan seseorang. Abrisam dengan seksama membaca kalimat demi kalimat dari Chat itu, Abrisam terkaget dengan isi chatting itu.
" Aku ke Indonesia hanya untuk beberapa bulan saja, untuk urusan pekerjaan, kebetulan aku bertemu Adik dari mantanku, dan mempertemukanku dengannya, dia makin tampan dan mapan, apalagi dia seorang Dokter tapi juga pengusaha muda yang sukses, kayanya bisa aku manfaatkan selama disini. " Begitu penggalan chatting dengan bahasa Inggris yang dikirimkan oleh Sofwa Arneta ke teman cahtting nya.
" memanfaatkan aku? " Abrisam bergumam pelan dengan raut wajah yang kecewa bercampur marah. Ia membuka slide selanjutnya yang menampilkan SS kelanjutan Chat Sofwa Arneta tadi.
" Aku kan udah tunangan, gak mungkin juga aku balikan sama mantanku, Aku hanya ingin bersenang-senang saja selama disini. kayanya dia masih mencintai aku. " Abrisam semakin geram dengan isi chat itu.
" Gila kamu Arneta..! " Abrisam mengepalkan tangannya dengan penuh kemarahan. Ia tak bernafsu lagi membaca chat itu dan menggeser ke Foto selanjutnya yang menampakan Sofwa Arneta dengan laki-laki bule tadi menunjukan tangan dengan cincin dijari manisnya, Di foto terakhir menampakan foto Sofwa Arneta sedang berpelukan dan berciuman dengan mesra dengan ttunangannya itu, Ternyata sederatan foto itu adalah Foto ketika Sofwa Arneta mengadakan acara pertunangannya di Amerika serikat.
" Semuanya sudah jelas bagiku, dan siapa yang harus ku pilih dan kupertahankan. " Abrisam berkata dengan penuh keyakinan dan rasa marah yang tersisa.
***
Di lain tempat, Bahirah sedang duduk di atas hamparan sajadah dengan Mushaf yang terbuka ditangannya, Ia membaca kata demi kata dari Firman Allah dengan lembut dan merdu. Bahirah baru saja menyelesaikan Solat malamnya dilanjutkan dengan tilawah dan muraja'ah hafalannya, Karena sama halnya dengan Abrisam, Bahirah tidak bisa memejamkan matanya di saat orang lain terlelap, Setelah menyelesaikan Solat malam dan tilawahnya, Sofwa melipat mukena dan sajadahnya lalu ia berjalan ke arah barang barang yang sejak kemarin sudah ia rapikan di dalam kofernya.
" Aku harus kemana? " Sofwa duduk di antara Kofer dan beberapa tas kecil dengan tangan mengelus Kofer itu.
Ia bingung harus pergi kemana, jika ia tetap diam di kost itu, tidaklah mungkin karena kini ia sudah resmi risigne dari tempatnya bekerja, jika ia pulang ke kampung halamannya maka hanya akan membongkar semua kebohongannya yang mengatakan bahwa ia masih bekerja dan akan membuat keluarganya sedih.
" Aku harus menjauh dari Abrisam. "
Bahirah berkata pada dirinya sendiri.
" Ra, kamu gak tidur dari tadi, udah solat? " suara Dian yang masih serak khas bangun tidur membuyarkan lamunannya.
" Iya yan aku nggak ngantuk, kamu ambil air wudu dulu gih, mau solat kan? " Sofwa menyuruh Dian agar mengambil air wudu.
Ketika Dian kembali, dan sudah siap dengan memakai mukenanya, Dian mendekati Bahirah.
" Ra, kamu kenapa? cerita dong. "
" Yan, jujur aku bingung harus kemana, kamu tau kan aku gak mungkin pulang ke rumah, dan aku juga gak mau ada di kota ini. " Bahirah mulai mengeluarkan keluh kesah kepada sahabatnya.
" hmmmmm, Gimana kalo kamu ke Panti Asuhannya Uwa aku aja, Disana kamu gak bakalan kesepian Ra, disana ada bayi sampe Lansia Ra, kamu kan suka anak-anak paling nggak disana kamu punya kesibukan ngajar sama jagain anak-anak usia TK disana. "
" Emang boleh ya Yan, Aku mau banget Yan. "
" Boleh banget lah Ra, kebetulan disana juga lagi butuh pengajar dan pengasuh anak-anak, Oke bentar lagi abis solat subuh aku telfon uwa yah. "
" Makasih ya Yan, kamu selalu bantuin aku. " Bahirah memeluk sahabatnya erat.
" Udah lah Raa, kita kan sahabat. " Dian membalas pelukan Bahirah dengan hangat.
***
Pagi hari, Bahirah sudah bersiap dengan pakaian gamisnya yang anggun, Kofer dan tas kecilnya sudah tersedia di dekat pintu.
" Kamu beneran mau pergi sekarang juga Ra? "
" Iya Yan, Tadi kan kamu juga udah bilang ke uwa kamu kalo aku akan secepatnya datang kesana, aku juga gak mau lama lama disini. "
" Oke lah kalo gitu, tapi maaf aku gak bisa antar kamu. "
" Gak apa apa yan, kan aku naik travel dan nanti ada orang yang jemput kan, jadi gak akan nyasar lah, lagian hari ini kamu kan kerja. "
" Ya udah aku antar ke travel nya Yo, sekalian aku jalan. "
Dian mengantar Bahirah sampai Travel yang memang berangkat beberapa menit lagi. dan tempat travel itu memang dekat dengan tempat kerja Dian. sesampainya di tempat itu Dian langsung menyuruh Bahirah duduk di kursi yang sesuai dengan nomor yang tertera di tiketnya.
" Kamu harus sering kabarin aku yah, sehat sehat disana, nanti kalo aku libur aku balik ke sana yah. " Dian berkata sambil memeluk Bahirah.
" Iya, kamu juga sehat sehat yah, semngat kerjanya, aku tunggu disana. "
Bahirah menjawab dengan mata yang berkaca-kaca.
" Udah, udah mau jalan kayanya, nanti aku telfon yah, hati hati sampein salam aku ke uwa yah. " Dian mengurai pelukannya dan bergegas turun dari dalam travel, yang mulai dipenuhi oleh penumpang dan siap berangkat, Bahirah melambaikan tangan ke arah Dian.
Travel yang membawa Bahirah melaju membelah jalanan kota Bandung menuju Kota Garut melalui jalur Tol, perjalanan memakan waktu 4 jam. Kini Bahirah sudah berada di kota Garut, duduk di kursi tunggu yang berjejer di depan kantor travel. Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit datang Seseorang yang menjemputnya setelah sebelumnya menelfon karena penjemput dan Bahirah belum saling mengenal, Orang yang menjemput Bahirah adalah Pa Udin yang memang bekerja sebagai supir di Panti Asuhan itu.
" Neng Bahirah? " Pa Udin mendekat dan menanyakan apakan benar orang yang di depannya itu adalah orang yang hendak ia jemput.
" Iya pak, saya Bahirah. " Bahirah mengangguk dan berdiri.
" Lama nunggu ya neng, maaf ya. "
" Ah engga pak, gak lama ko. "
" Ya udah kita jalan sekarang neng? " ujar pa Udin sambil membawa Kofer milik Bahirah dan memasukannya ke dalam bagasi. setelah selesai bersiap, maka mobil yang membawa Bahirah dan dikemudikan Pa Udin kini sudah melaju menuju Panti Asuhan milik Uwanya Dian.
Bahirah terdiam dengan pandangan mengarah ke luar jendela, melihat keramaian jalan raya di kota Garut ini.
" Menjauh lebih baik, jikapun bertahan hanya akan saling melukai. " Bahirah berkata di dalam hatinya.
***
" Gue mau ketemu Bahirah, Gue gak mau kehilang dia Dur." Abrisam berdiri di ambang jendela besar yang sepenuhnya dilapisi dengan kaca tebal, Ia menerawang ke luar jendela dengan tangan dilipat di di dadanya.
" Ya emang harus, Lo harus minta maaf dan pakein lagi tu cincin di jarinya. " Abdur yang sedang duduk santai di Sofa menjawab dengan semangat.
" nanti sore Lo temenin gue ke kostan ya. "
" Siap bos, udah ah gue balik kerja dulu, gue cape liat muka semrawut Lo. " Abdur berlalu setelah mengucapkan itu.
Sore hari, Abrisam dan Abdur kini sudah berada di parkiran kostan Bahirah yang kini tinggal Dian saja. mereka bergegas mengetuk pintu kamar kost Dian dan mengucapkan salam, yang langsung dibuka sang tuan rumah.
" Wa'alaikum sa...lam " Dian muncul di belakang pintu dan menjawab salam dengan tersengal karena kaget dan wajahnya berubah menjadi masam karena marah.
" Ada Bahirah? saya perlu bicara. " Abrisam tanpa basa basi menanyakan Bahirah.
Dian keluar, dan mempersilahkan Abrisam dan Abdur duduk di kursi yang berada di teras kamar kostnya.
" Untuk apa mencari Bahirah lagi, belum puas nyakitin dia? Bahirah udah pergi tadi pagi. " Dian membuka pembicaraan setelah mereka duduk. dengan kesal dan marah.
" pergi kemana, sama siapa, untuk apa dia pergi? " seloroh Abrisam tak sabaran.
" Wow wow,,! sabar bro.." Abdur berusaha menenangkan Abrisam.
" memang sejak beberapa hari lalu Bahirah sudah Risigne dari tempat kerja, dia bermaksud ingin tinggal di pondok pesantren yang ada di kampung halamannya sambil menunggu hari pernikahan, tapi setelah kejadian di restoran waktu itu, dia berubah pikiran tapi bingung akan pergi kemana dan tidak mungkin pulang ke rumah, dan tadi pagi dia pergi tanpa memberi tahu saya mau pergi keman. " Jawab Dian panjang lebar diselipkan sedikit kebohongan disana.
" Tolong jangan ganggu Bahirah lagi, sudah cukup kamu nyakitin dia, bukankan sudah jelas tidak ada hubungan apa apa lagi antara kalian? bahkan ketika Bahirah datang ke kantor, kamu hanya diam dan hanya bermanja dengan cinta pertama kamu, sebaiknya kalian pergi deh, muak saya laut kalian. "
Dian berdiri dan mengusir Abrisam dan Abdur, lalu ia masuk dan membanting pintu.
" wow dia pemarah juga, tapi wajar sih." ujar Abdur dengan ekspresi tengilnya.
berbeda dengan Abrisam kini duduk menunduk tak berdaya.
" kemana kamu Ra? " Abrisam bergumam namun tetap terdengar oleh Abdur.
" udah kita balik dulu aja, nanti gue cari tahu dimana Bahirah. " Abdur berdiri dan menarik Abrisam agar lekas berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Abrisam menatap lurus ke arah jalanan dengan wajah penuh kekecewaan, sedangkan Abdur yang duduk di kursi kemudi sekali kali memperhatikan Bos sekaligus sepupunya itu.
" Kamu pergi menjauh, membawa luka Ra, maafkan aku, aku pasti menemukan kamu. " Abrisam berkata dalam hatinya dengan tatapan keluar jendela dan kepala disandarkan.
****
catatan :
Syukur Dofu (Bahasa Ternate) artinya Terimakasih banyak