Dua Minggu berlalu, Kini Abrisam sedang duduk di kursi Kebesarannya dan dihadapannya ada setumpuk pekerjaan yang harus ia selesaikan, sedang fokus membaca berkas berkas pekerjaannya Abrisam dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka dengan Tiba tiba, tak lama muncul seorang perempuan muda yang berdandan dengan sangat fashionable.
" Kakaaa, Lagi sibuk yah? maaf aku datang Tiba tiba. " Ucap Alesha setelah berdiri di hadapan Abrisam.
" Echa, Kamu bisa ketuk pintu dan ucap salam kan de? ngagetin aja, kamu kapan ke Bandung, gimana klinik kamu lancar? " Jawab Abrisam sedikit kesal.
" Iya..iyaaaa..! maaf, aku dari Jakarta jam 4 subuh ka soalnya aku dari bandara abis jemput seseorang langsung ke sini, dan aku kesini membawa seseorang buat Kaka, klinik aku yaah gitu gitu aja, tetap banyak Fasien. "
" Bandara, seseorang? Seseorang siapa, palingan juga Nisa. " Ucap Abrisam sembari berdiri dan berjalan mendekati Alesha.
Alesha adalah adik perempuan kedua Abrisam anak ke tiga dari 4 bersaudara, Ia adalah seorang dokter spesialis gigi dan sudah memiliki klinik pribadi yang sangat mewah dikawasan Elit kota Jakarta. Alesha memiliki kecantikan yang khas Indonesia timur campur Belanda, karena memang Kake buyut dari ayah mereka adalah Asli belanda, Perempuan yang biasa dipanggil dengan nama Echa itu memiliki hidung yang Bangir, mata yang indah dengan bola mata berwarna Abu-abu, rambut yang panjang bergelombang kulit seputih porselen dan tinggi badan yang terbilang ideal, Hanya Alesha dan Abrisam yang memiliki kecantikan dan ketampanan perpaduan Indonesia timur dan Belanda, kedua saudari perempuannya memiliki kecantikan yang menurun dari ibunya yakni kecantikan Asia khas Indonesia timur.
" Ih Kaka nih, Kaka kira aku jauh jauh kesini subuh subuh cuma mau antar ka Nisa? " seloroh Alesha sembari berjalan ke arah pintu, dan menggapai gagang pintu untuk membuka pintu itu.
" Taraaaaaa, Ini orang yang selama ini Kaka cari cari, Cinta pertama kakak, Sofwa Arneta Kusuma. " dengan penuh semangat Alesha mendorong Sofwa Arneta memasuki ruangan Abrisam dan mendekat ke arah Abrisam yang berdiri di depan meja dengan tangan bersedekap di d**a.
DEG.....
Abrisam tak bergeming dari tempatnya, dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut dan mengurai lipatan tangan didadanya.
.
.
Abrisam duduk di sofa berhadapan dengan Sofwa Arneta dengan meja sebagai pembatas, sedangkan Alesha duduk di samping Abrisam, Tak ada percakapan diantara mereka, Abrisam menatap Sofwa Arneta dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
" Aduh ko canggung gitu sih ka, Kakak gak kangen apa sama Sofwa, dari zaman kuliah kakak cari cari kabar tentang dia, sekarang udah ada orangnya malah ditatap aja. " Alesha mencoba mencairkan suasana.
Sofwa Arneta Wijaya adalah putri dari seorang Jendral, Ia terbiasa hidup mewah, Sofwa Arneta adalah keturunan Batak Ia sangat cantik dengan kecantikan khas Batak ia memiliki kulit yang putih, dengan fostur tubuh yang sangat ideal bak model dunia. Ia baru saja kembali dari Amerika serikat, ternyata setelah menyelesaikan sekolah menengahnya di Ternate dulu ia langsung terbang ke negri paman Sam itu tanpa memberikan kabar kepada siapapun.
" Kamu apa kabar Bim? " Sofwa Arneta bertanya kepada Abrisam dengan wajah sumringah.
" .........." Hening, tak ada jawaban dari Abrisam.
" kaaa, itu orang nanya, bukannya dijawab malah bengong aja. " Alesha menepuk pundak Abrisam yang sejak tadi mematung.
" Aku baik. " Jawab Abrisam singkat.
" Kamu apa kabar, di mana kamu selama ini? " Abrisam melanjutkan.
" Aku kangen banget sama kamu Bim, kita boleh kaya dulu lagi kan? " Seloroh Sofwa Arneta mendekat ke tempat Abrisam duduk dan merangkul tangannya tanpa malu.
" Tolong jaga sikap kamu. " dengan cepat Abrisam menepis rangkulan Sofwa Arneta.
" Oke kalo gitu, aku pergi dulu dan ini nomer aku, aku tunggu kamu menghubungiku. " Sofwa berdiri lalu menyodorkan catatan kecil bertuliskan nomor telfon dan alamatnya di Bandung, kemudian ia melenggang pergi meninggalkan ruangan Abrisam dan di ikuti oleh Alesha.
" Kaka nanti ketemu di rumah yah, aku mau ajak Sofwa ketemu mamah sama papah, ada di rumah to? " Alesha berbisik dengan cepat seraya berlari mengejar Sofwa yang kini sudah berada di ambang pintu.
Seperginya Sofwa Arneta dan Alesha, Abrisam menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan kepala menengadah ke langit langit ruangan.
" Kenapa kamu kembali di saat aku sudah melamar orang lain, kenapa? Abrisam mengusap wajahnya dan meremas rambutnya frustasi.
.
.
Di tempat lain.
Kini Sofwa duduk di kantin tempatnya bekerja dengan maf berisi berkas pengunduran diri di hadapannya.
" Kamu yakin Ra, mau berenti kerja? " Dian bertanya kepada Sofwawidadi.
" Insya Allah aku yakin Yan, aku mau mondok aja untuk mengisi masa tunggu sampe hari pernikahan nanti. " Sofwawidadi menjawab dengan mantap dengan menggenggam tangan sahabatnya.
" Oke lah kalo gitu mah, ayo aku antar kamu ke pihak HRD, udah siap kan semuanya? biar cepet selesai, nanti kita lanjut jalan yah. " Dian berdiri dan menarik tangan Sofwawidadi agar berdiri.
" Nuhun nya yan. " Sofwa berdiri dan mengikuti langkah Dian.
" sami sami geulis, hihihi...! " Jawab Dian dengan bahasa sundanya.
Setelah menyelesaikan urusan pengunduran diri nya, Sofwa dan Dian kini sudah berada di kamar kost yang selama ini mereka tinggali bersama, Dian membantu Sofwawidadi mengemasi barang barangnya, karena besok siang Sofwawidadi akan segera pulang dan langsung menuju ke pondok.
Mengemasi barang Sofwa tak memerlukan waktu lama, karena memang Sofwa hanya tinggal disini selama 9 bulan saja, dan barang barangnya hanya baju dan buku buku saja, mereka berencana untuk menghabiskan waktu bersama mengunjungi tempat tempat favorit mereka di kota Bandung ini.
Setelah selesai solat Asar Sofwawidadi dan Dian beranjak meninggalkan kamar kost nya dan menunggu taksi Online untuk menuju ke sebuah Kafe tempat anak anak muda nongkrong syantik.
" Ira, kamu yakin kita makan dan hangout disini? mahal loh. " bisik Dian setelah mereka duduk di kafe itu.
" Yakin lah yan, kan waktu itu kamu mau makan di All You Can Eat gak jadi, anggap aja ini gantinya, aku yang traktir deh. " Sofwa menjawab Dian dengan ekspresi sombong yang dibuat buat.
" Oke kalo gitu, kita pesan dulu deh. "
Dian menyetujui tawaran Sofwa dan langsung memanggil waiters kafe itu.
Ketika Sofwa dan Dian menunggu pesanannya datang mereka mengobrol ringan dan tak sengaja melihat sosok yang sangat mereka kenal sedang duduk di meja tak jauh dari meja mereka duduk, di sampingnya bergelatut manja wanita cantik dan seksi di tangannya, wanita itu berbicara dengan suara yang mendesah desah dan manja.
" Pa Abim, siapa perempuan itu. " Sofwa bertanya pelan pada dirinya sendiri.
" Dasar b******k, baru kemarin dia pakein cincin ditangan kamu Ra, sekarang udah mesra mesraan sama perempuan lain di tempat umum lagi. " Dian hendak berdiri dan berniat melabrak Abrisam dan perempuan seksi itu, namun ditangannya dicekal oleh Sofwa.
" Yan, jangan....aku mohon. " Sofwa menarik tangan Dian agar duduk kembali. Dengan rasa panas yang mulai menjalar di kedua matanya yang mulai berkabut.
" Raaaa, kita harus pastiin siapa perempuan itu, gak mungkin kan kalo adiknya mesra banget kaya gitu. " Dian mulai naik pitam.
Sofwa berdiri dengan pandangan tepat ke arah dua sejoli yang sepertinya sedang asyik menikmati kemesraan, Tanpa terasa air mata Sofwa kini sudah mengajak sungai dipipinya tanpa bisa ditahan, Karena merasa ada yang memperhatikan Abrisam mengedarkan pandangan dan berhenti tepat di posisi Sofwawidadi berdiri yang sedang menatapnya sendu.
" Sofwa..." Abrisam langsung berdiri dan berusaha melepaskan genggaman tangan Sofwa Arneta di sampingnya.
" Yan kita makan di tempat lain aja. " Sofwa berkata sambil mengelap air matanya, dan menarik Dian untuk segera pergi dari tempat itu, namun belum sempat Sofwa melangkah, Abrisam sudah lebih dulu mencekal tangannya.
" Sofwa kamu salah paham, aku mohon dengerin dulu penjelasan aku. " Abrisam panik dan menggenggam tangan Sofwa tanpa perduli dengan pergerakan Sofwa yang menolak sentuhannya.
" Kaka sama Sofwa, ko berdiri disini sih ayo kita duduk udah pesan makanan belum? " Tanya Alesha yang baru saja datang, dan dibelakangnya ada kedua orangtuanya dan juga adik bungsunya. mereka hendak makan malam bersama untuk menyambut kedatangan Sofwa Arneta, karena memang sejak dulu Sofwa Arneta sangat akrab dan dekat dengan keluarga Abrisam.
" Tante dan Om ada disini juga. " Sepontan Sofwa menyalami kedua orang tua Abrisam yang masih terkejut karena bertemu dengannya tanpa sengaja.
" Saya permisi om Tante, zi Kaka duluan ya. " Karena tak tahan dengan gejolak di hatinya Sofwa memutuskan untuk pergi, dan menarik Dian yang memang dari tadi sudah terlihat emosi.
" b******k, itu sekeluarga ada di sana loh Ra, berarti mereka tahu apa yang dilakukan laki laki itu, wah gak bener ini mah Ra. " Dian terus saja mengumpat karena sejak tadi emosinya tak bisa dilampiaskan.
" Yan maaf yah, kamu harus gagal makan lagi disana, nanti kita nge-gofood aaja yah, sekarang aku mau pulang ke kostan aja. " Sofwa berkata lirih dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.
" Dasar brengesek, dia gak ngejar kamu loh Ra...!Udahlah Ra gak apa apa, aku pesan Gocar yah."
Tanpa menunggu lama mereka sudah sampai di kost tempat mereka tinggal, Kini Sofwa sedang duduk di atas kasur di antara barang barangnya yang sudah rapi dikemas, sejak kejadian tadi Sofwa terus saja diam dan kini ia sedang menatap cincin dijari manisnya.
" Lalu apa maksud dari cincin ini dan kata kata khitbah yang kamu ucapkan kemarin? " Sofwa bergumam dengan penuh luka.
" Cincin ini akan ku kembalikan bersama dengan janji yang belum sempat kamu tepati. " Sofwa melanjutkan ucapannya sambil membuka cincin itu dari jari manisnya.
.
.
Abrisam Pov
Sore hari sepulangnya dari kantor, aku langsung menuju ke rumahku dan hendak berisitirahat, namun sesampainya di rumah ternyata disana sudah ada Sofwa Arneta yang sedang asyik mengobrol bersama keluargaku, yakni papah mama serta Alesha.
" Kamu udah pulang Bim, Mamah senang banget ketemu Sofwa lagi, dia tambah cantik yah, dia juga tinggal dan sekolah di Amerika loh Bim. " Seloroh mamah ketika melihatku di ambang pintu dan langsung mengajakku untuk bergabung.
" Nanti kita makan malam yah, di Restoran favoritnya Abim, kamu berangkat duluan aja yah Bim sama Sofwa, nanti mama sama papa juga adik adik kamu nyusul."
" Apa apaan sih mah, aku gak ikut aku cape banget. " Aku berusaha menolak ajakan mamah karena aku teringat akan Sofwawidadi calon istriku.
" Gak ada penolakan yah, cepat siap siap dan langsung pergi. "Paksa mamah tanpa berpikir hal lain.
Karena aku perlu menyelesaikan masalahku dengan Sofwa Arneta, maka aku mengikuti perintah mamah untuk berangkat lebih dulu ke restoran tujuan kami berdua saja dengan Sofwa Arneta.
Di dalam mobil, aku hanya fokus dengan kemudi laju mobilku saja, ketika di pemberhentian lampu merah, aku menoleh ke arah Sofwa yang duduk dengan anggun dan seksi di sampingku.
Di sudut hatiku, aku merasakan kebahagiaan karena kini seseorang yang dulu begitu kucintai juga cinta pertamaku kini ada disampingku setelah sekian lama.
Ku tatap wajah cantik Sofwa Arneta, yang dulu masih terlihat imut dan polos, mini berubah menjadi lebih cantik juga dewasa, tak terasa tanganku kini sudah menggenggam tangannya yang begitu halus, Sofwa sedikit terkejut dengan perlakuanku membalas genggaman tanganku.
" Kemana aja kamu selama ini, kenapa gak kasih kabar, aku mencarimu kemana mana. " Aku berkata dengan mata menatap mata indahnya.
" Maafin aku yah Bim, Aku pergi tanpa pamit dan gak pernah kasih kabar ke kamu, tapi aku pastiin mulai sekarang aku tidak kan pernah jauh dari kamu. " Sofwa Arneta menjawab pertanyaan ku dan berusaha meyakinkanku bahwa dia tidak akan lagi meninggalkanku.
.
.
Aku dan Sofwa Arneta sudah sampai di Restoran tujuan kami.
" Mau pesan apa pak, Bu? " Seorang waiters mendekati kami ketika melihat kami duduk di kursi dan menempati meja VIP.
" Kami masih tunggu keluarga ya mas, nanti kami pesannya. " Aku menyampaikan bahwa kami belum memsan apapun.
Setelah mendapat perlakuan ku di dalam mobil tadi, kini Sofwa Arneta lebih terang terangan bermanja dan bermesra terhadapku, Di sisi lain hatiku aku merasa bersalah terhadap Sofwawidadi yang beberapa waktu lalu baru ku lamar, namun di sisi lain hatiku merasa bahagia karena bertemu dan melepas rindu dengan cinta pertamaku.
Karena aku merasa seperti ada yang sedang mengawasi, aku mengedarkan pandangan dan pandanganku menatap sosok yang sejak tadi ku ingat, sedang menatapku sendu dan Sofwa yang sedang bermesraan, Aku langsung berdiri dan berlari mendekat ke arah Sofwawidadi yang sepertinya ingin meninggalkan tempat ini.
" Sofwa..." Aku terkejut bukan main ketika melihat Sofwa sedang menatapku dengan perempuan lain, aku langsung melepaskan genggaman tanganku yang sejak tadi di peluk oleh Sofwa Arneta.
Ketika aku berusaha menjelaskan apa yang terjadi datang mamah dan papa serta kedua adik perempuanku, Aku yakin Sofwawidadi makin salah paham, dia pasti menyangka aku dan keluargaku benar benar jahat dan berengsek.
Sofwa pergi dengan air mata yang tertahan, di ikuti oleh sahabatnya yang terlihat emosi, Ia pergi setelah mencium tangan papah dan mamah serta menganggukkan kepala kepada Zizi untuk berpamitan tanpa bisa kutahan.
Sepeninggal Sofwawidadi aku tak bisa tenang, dan akhirnya dengan sedikit berbisik papah menyuruhku untuk pergi, mengejar Sofwa.
" Kalo kamu mau jadi laki laki b******k dan pernikahan kamu gagal, tetaplah disini dan dekati Sofwa Arneta, tapi kalo kamu memang mencintai Gadis itu cepat kejar dia. " Papah berbisik dan menepuk punggungku.
Aku masih terdiam di tempatku......
BERSAMBUNG.......