Abrisam POV
Mentari mulai menampakan kehangatan menelusup di sela gorden kamarku yang kini kubuka dengan jelasnya dapat melihat sorotan mentari pagi, kini aku sudah siap pergi kekantor dan memakai setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih dan dasi yang melingkar rapi di leherku, Aku membuka Gawai ku dan hendak memanggil seseorang.
" Halo Rid, maaf sekali saya menyampaikan hal ini melalui telefon, tetapi ini sangat urgen Rid saya minta tolong kabarkan kepada keluarga kamu bahwa saya akan datang Minggu depan untuk melamar Sofwa. " Aku menjelaskan maksudku kepada Farid dengan nada perintah yang akan sulit untuk ditolak.
Flashback on :
Dimeja makan yang kini terhidang berbagai macam lauk dan sayur khas Indonesia timur yang sengaja mamah masakan untuk kami, aku duduk berhadapan dengan Abdur dan mamah di samping kananku di ujung meja serta Zizi tepat di samping kiriku, kini kami sedang menyantap makan malam dalam diam di Apartemen ku. Dengan niat dan tekad yang sangat bulat aku membuka pembicaraan.
" Aku mau melamar Sofwa. " ucapku tanpa mengangkat pandanganku dari piring sambil menyuap makanan, dan ekspresi wajah yang kubuat setengah mungkin. Mamah dan Zizi serta Abdur teperanjat karena kaget dengan ucapanku.
" Yang betul kamu Bim, kamu yakin coba kamu cari tahu dulu tentang gadis itu, latar belakang keluarganya, pendidikannya, pekerjaannya dan kehidupannya. " sergah mamah setelah meletakan sendok dan garpu di piringnya.
" Aku udah tau semua tentangnya mah, aku sudah yakin untuk menikahinya, tolong restui aku sama dia mah, aku tidak akan menikah kecuali dengan Sofwa. " Ancamku menambah kekakegatan dan emosi mamah yang mulai memuncak.
" Oke oke, kamu jelaskan dulu ke mamah, sejak kapan dan bagaiman kamu mengenal gadis ini? " Aku menjelaskan dari awal sampai akhir tanpa terlewat satu apapun, aku menceritakan bagaimana aku mencari Sofwa mantan cinta pertamaku dan bagaimana aku bisa mengenal Sofwa hingga ingin menikahinya.
" Kalo gitu mamah setuju, Bagi mamah sekarang kamu mau menikah dan perempuan yang kamu nikahi gadis baik baik cantik dan Alim, mamah sudah bahagia sekali, mamah tidak perduli lagi dengan pembicaraan teman teman mamah dan orang orang diluaran sana, yang penting anak mamah Bahagia. " pangakuan mamah membuatku memeluknya dan mengucapkan terimakasih.
" Besok aku mau telfon keluarganya untuk mengabari tanggal kedatangan keluarga kita untuk mengkhitbah Sofwa. "
" Iya cepat kabari. " Ujar mamah sambil mengelus kepalaku sayang.
flashback off
.
.
Sore hari, Abdur dan Zizi memaksaku untuk ikut serta dengan mereka menonton film romansa yang baru saja rilis, kami mengunjungi pusat perbelanjaan di kota Bandung, ketika lampu didalam teater 4 ini di matikan pertanda pertunjukan akan segera dimulai, suasa tenang dan kebisingan mulai mencuat di teater ini, Aku masih terduduk santai di antara Abdur dan zizi yang berada di samping kanan dan samping kiri ku, ketika alur cerita film sudah memasuki pertengah, aku melihat didepanku dan di tangga bawah ada seorang perempuan yang menoleh ke arah belakangnya, ketika ku telisik dalam kegelapan ternyata perempuan itu adalah Sofwa yang kini sudah menyadari keberadaan ku, Dengan mimik wajah yang seperti bertanya ia memandangi Sofwa yang berada di sampingku, setelah beberapa saat tatapan kami bertemu Sofwa memutus tatapan itu dan kembali fokus dengan Alur cerita Film didepan, Aku terus mengawasinya tanpa sepengetahuan Abdur dan Zizi.
.
.
Setelah hampir 3 jam kami menonton pertunjukan didalam teater 4 ini, kini kami masih terduduk menunggu pintu keluar lebih lengang, kulihat Sofwa sedang menarik Dian temannya untuk segera keluar melewati pintu yang masih penuh dengan desakan pengunjung lain, Entah apa yang membuatnya gelisah dan terburu buru seperti itu. Namun Dian memintanya untuk bersabar dan berdiri di depan pintu dan harus mengantri, ketika aku menyadari keberadaan dan sikap aneh Sofwa aku berdiri dan hendak menuruni tangga untuk sampai ke sudut pintu tempat Sofwa dan Dian berdiri namun tiba tiba Zizi menahan tanganku karena hendak terjatuh, aku menahannya dan menggenggam tangan Zizi seperti seorang kekasih, ketika kulihat Sofwa sedang memandangi kami, dan kini matanya lurus melihat genggaman tanganku dengan Zizi, ia terlihat seperti melamun dan untuk beberapa detik ia menatapku yang kini sedang menatapnya juga, karena menyadari tatapannya bertemu dengan tatapanku maka ia langsung memutuskannya dan langsung menarik Dian untuk keluar dari teater ini.
" Kayaknya, dia salah paham deh. " Aku sedikit berbisik namun masih terdengar oleh Zizi.
" Kenapa ka, siapa yang salah paham? " tanya Zizi penasaran.
" Zi kamu mau ketemu perempuan yang mau Kaka lamar? " aku bertanya sambil menarik Zizi untuk cepat keluar dan mengejar Sofwa
" Mau ka, tapi jangan gini juga dong ka, emang perempuan itu dimana sih? " kesal Dian karena merasa diseret seret olehku.
" Itu Orangnya, Namanya Sofwa. " Aku menunjuk ke arah Sofwa dan Dian yang kini sedang berdiri menaiki eskalator.
" Yang mana ka, yang pake jilbab warna coklat? " Zizi mengerutkan keningnya untuk memperjelas pandangannya.
" Bukan, yang di sampingnya yang pake gamis Abu abu dan jilbab Navy Zi. " Aku menunjuk Sofwa karena memang hari ini ia menggunakan Gamis berwarna Abu Abu silver yang dipadukan dengan jilbab warna navy membuat tampilannya semakin anggun.
" Wah, pantesan Kaka sampe sakit satu Minggu, dia cantik sholeha lagi, badannya mungil juga, Apa dia tahu kalo Kaka mau datang kerumah dan melamarnya? " Takjub Zizi setelah ia melihat Sofwa dari kejauhan. dan bertanya dengan ekspresi kebingungan.
" Kalian ngapain si disini? " Tanya Abdur yang tiba tiba nimbrung dan menyerobot di tengah antara aku dan Zizi.
" Enggak ada, ayo kita belanja. " jawabku hampir bersamaan dengan Zizi sembari melangkahkan kaki menjauhi dan mengabaikan Abdur.
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri dan bersiap untuk tidur, rasanya badanku terasa sangat sakit dan lelah, karena setelah selesai nonton Zizi langsung mengajak berbelanja, kebiasaannya jika berada di pusat perbelanjaan dia kalang kabut berbelanja tanpa bisa dicegah hingga membuat lelah yang mengantarnya.
Aku duduk di tepi ranjang dengan posisi bersandar di kepala ranjang dengan beberapa berkas pekerjaan di tanganku, tiba tiba aku teringat dengan sikap Sofwa tadi sore ketika melihatku menggandeng tangan Zizi, dia seperti terlihat cemburu, Tanpa kusadari seulas senyuman terbit dari bibirku dalam keadaan melamunkan Sofwa.
" Ternyata kamu cemburu Sofwa, itu tandanya kamu mulai menyukai saya, Dan sepertinya kamu belum diberikan kabar oleh keluargamu bahwa aku akan datang melamarmu. " Aku berbicara dengan jelas pada diriku sendiri, dengan tetap mengulum senyum kebahagiaan.
****
.
.
Satu Minggu berlalu.
" Abim Kamu mau kasih tanda jadi apa buat Sofwa, ayo kita beli Sekarang, kan besok kita harus udah berangkat ke kampung halamannya Sofwa. " Ucapan mamah begitu masuk ke dalam ruangan ku tanpa kabar dan permisi.
" Mamah, kenapa gak ngabarin dulu kalo mau kesini? " Aku langsung berdiri dan menghampiri mama.
" Kamu sibuk banget yah hari ini, Harus sempatin bepanja buat acara besok Bim, bukannya ini sangat penting yah buat kamu. " sergah mamah tanpa menjawab pertanyaan ku.
" Iya mah, masalah keperluan buat besok Abdur udah Sipin semuanya, dan untuk Cincin aku udah beli. " Jawabku sambil menyodorkan kotak cincin berwarna silver.
" Ini bagus banget Bim, kamu yang pilih, oke berarti udah siap semuanya yah. " sumringah mamah dengan penuh semangat.
.
.
Pagi yang begitu indah dan hari ini adalah hari terbaik bagiku, karena hari ini perempuan yang selama ini membuat ku bingung dengan perasaanku, membuatku penasaran, membuatku gundah hingga masuk rumah sakit, kini ia akan menjadi milikku.
Aku memakai kemeja putih dengan dasi berwarna Dasty pink dilengkapi dengan jas berwarna silver dengan celana berwarna senada, Aku dipaksa oleh Abdur untuk memakai dasi berwarna peminim itu karena menurutnya warna dasi itu akan sangat serasi dengan warna gamis yang akan dikenakan Sofwa, Aku dan keluarga sudah hampir sampai di rumahnya Sofwa, yang belum sempat aku datangi, aku datang bersamaa dengan Farid dari kota Bandung hingga tak perlu kesusahan untuk mencari letak Rumah Sofwa, Begitu sampai di pelataran Rumah Sofwa, ternyata sudah begitu ramai dengan para tetangga yang datang untuk membantu sgala persiapan, ketika memasuki Rumah yang terbuat dari kayu itu, aku melihat berbagai macam bunga di dinding dan beberapa kain yang menjuntai indah untuk menghias rumah sederhana ini.
Setelah beberapa saat, kami dan keluarga Sofwa sudah duduk di tempat masing masing, dan kini Ayah sedang menyampaikan maksud kedatangan kami kerumah ini, Dari pihak Sofwa yang berbicara adalah Pamannya Sofwa yang sepertinya Seorang Ustadz, Ketika Ayah dan Pamannya Sofwa berbicara aku melihat seorang Perempuan yang ku yakini ia adalah Kakanya Sofwa, Ia memiliki kecantikan seperti Sofwa berdiri dan berjalan menuju ruangan lain, setelah beberapa saat perempuan itu kembali dengan menggandeng seseorang yang ku tunggu memakai gamis brokat berwarna senada dengan dasi yang ku pakai yakni Dasty pink serta hijab berwarna Dasty kombinasi silver, Sofwa terlihat begitu anggun dengan pakaian itu, Ia terlihat begitu cantik seperti bidadari di mataku, pandanganku tak bisa teralihkan hingga Abdur membisikan sesuatu di telingaku.
" Ngedip Bim, tenang bentar lagi dia jadi istri Lo. " Abdur berbisik mengejek ku yang memang tidak berkedip melihat Sofwa, Aku langsung mengalihkan pandanganku dan menunduk.
Sofwa duduk di antara paman dan neneknya dengan pandangan tetap tertunduk, Lalu pamannya mulai membuka pembicaraan dengan menanyai apakah Sofwa bersedia menerima lamaranku.
" Bismillahirrahmanirrahim. Aku...." Jawaban Sofwa terpotong ketika mengangkat pandangnya dan tatapan kami bertemu untuk beberapa saat. Sofwa terlihat begitu kaget, entah apa yang membuatnya terkaget seperti itu, apakah bukan aku laki laki yang ia tunggu, aku tidak mengikuti dengan ekspresi Sofwa saat ini.
" Jadi bagaimana De? " Pertanyaan Pamannya sambil menepuk pundak Sofwa lembut, membuat kami tersadar dan langsung memutus pandangan yang sejak tadi bertemu, Sofwa kembali menundukkan kepalanya.
" Bi...Bismillahirrahmanirrahim. Aku bersedia menerima Pinangan ini. " Dengan sedikit tergugup dan tersenggal Sofwa menjawab pertanyaan itu.
Aku merasa bahagia dan kelegaan yang begitu besar, beberapa saat lalu aku berpikir bahwa Sofwa akan menolak lamaranku karena ketika kulihat ekspresi diwajahnya sempat terlihat keraguan dan ekspresi kaget yang membuatku takut.
" Alhamdulillah..." Ucapan syukur terdengar riuh yang di ucapkan secara bersamaan di ruangan itu, termasuk aku yang mengucapkan beribu rasa syukur dihati.
Acara dilanjutkan dengan penyematan cincin di jari manis Sofwa, karena Sofwa dan pamannya menolak jika aku yang memakaikan cincin itu maka yang memakaikan cincin tanda pengikat itu dilakukan oleh mamah, Acara ditutup setelah memusyawarahkan hari pernikahan yang akan di laksanakan 3 bulan mendatang yang disetujui oleh kedua belah pihak.
Paman dan neneknya Sofwa mempersilahkan kami untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan, Namun sebelum itu mamah mencoba mendekati Sofwa dan memperkenalkan papah serta Zizi, namun ketika Sofwa melihat Zizi dia terlihat begitu kaget dan salah tingkah, yang ku yakini karena ia telah salah paham telah menyangka bahwa Zizi adalah kekasihku yang sempat bertemu di bioskop beberapa waktu lalu.
Selesai memakan jamuan dari keluarga Sofwa dan melaksanakan solat Dzuhur di masjid yang tak jauh dari rumah Sofwa kami hendak pamit, Namun Pamannya Sofwa menyampaikan hal yang cukup serius.
" Mohon maaf Nak Abrisam, dan Bapa serta ibu saya lupa menyampaikan hal yang penting perihal latar belakang Sofwa yang mungkin akan berpengaruh terhadap acara Ijab Qabul nanti. " Pamannya Sofwa berkata dengan sendu, Yang kuyakini akan menceritakan tentang ayahnya Sofwa yang memang penting kehadirannya untuk menjadi wali di ijab Qabul nanti.
" Sebetulnya Sofwa dibesarkan oleh neneknya tanpa ayah dan ibunya, Dan kami tidak tahu keberadaan ayahnya hingga sekarang, waktu kakanya Sofwa menikah saya sempat mencarinya dan bertemu, Tapi dia tidak mau ikut dia hanya menitipkan surat yang berisi bahwa dia telah mewakilkan haknya untuk menjadi wali nikah anaknya kepada wali hakim, dan sekarang sebelum Sofwa mwnikhpun kami harus mencari keberadaannya, maaf saya baru menyampaikan hal ini, jika Nak Abim dan keluarga ingin membatalkan silahkan. "
Pamannya Sofwa yang bernama Ustadz Muhaimin itu melanjutkan pembicaraannya dengan ekspresi sedih diwajahnya.
" Kami sudah mengetahuinya pa, Dan kami bersedia membantu tenaga maupun materi untuk mencari ayahnya Sofwa. " Papah dengan penuh keyakinan menjawab penuturan Pamannya Sofwa.
" Alhamdulillah kalau begitu, itu yang kami takutkan ketika ada laki laki yang datang kesini, dan kami tidak sanggup memberitahukan latar belakang Sofwa, Terimakasih banyak Bapak dan Nak Abrisam sudah mau menerima Sofwa dengan segala kekurangannya. " Ustadz Muhaimin menghembuskan nafas lega.
.
.
Waktu sudah menunjukan jam dua siang, Kami berpamitan untuk pulang ke kota Bandung karena takut kemalaman, jarak yang ditempuh dari kediaman Sofwa ke kota Bandung memakan waktu 4 jam itu jika tanpa istirahat, karena kami ingin bersantai diperjalanan kami memutuskan untuk berangkat lebih cepat.
" Insya Allah nanti saya akan sering sering datang kesini untuk mengurusi persiapan pernikahan. " Aku berucap kepada Farid yang memang Ia meminta ijin bebarapa hari untuk tetap tinggal di kampungnya.
" Iya pa, Semoga selamat diperjalanan, insya Allah saya cuma dua hari ko nanti langsung kerja lagi. "
" Tenang aja. " aku menjawab sambil mengurai jabat tangan tadi. Ketika sampai aku menyalami neneknya Sofwa, suasana haru terjadi.
" Hatur nuhun kasep, Atos kersa ka Sofwa, Sofwa mah b***k prihatin ti leuleutik teu boga bapak jauh ti indung, ayeuna meunagkeun lalaki anu Nageur kieu, Hatur nuhuun Gustii, Alhamdulillah. " ( Terimakasih Nak, sudah mau menerima Sofwa, Sofwa sudah menderita sejak kecil tak memiliki ayah dan jauh dari ibu, dan sekarang mendapatkan laki laki yang baik, terimakasih ya Allah, Alhamdulillah ) Ucapan terimakasih neneknya Sofwa memakai bahasa Sunda dengan derai Air mata sambil merangkul ku dengan penuh rasa syukur, Tak terasa aku merasakan panas di kedua mataku dan kini jatuh bulir air mataku dipipi yang dengan cepat ku usap, karena aku tak begitu mahir dalam bahasa Sunda aku hanya mengangguk dan membalas pelukan nenek untuk menyampaikan bahwa aku begitu bahagia bisa mendapatkan Sofwa, dan aku berjanji akan menyayangi dan mencintai Sofwa hanya karena Allah.
Selesai menyalami semua anggota keluarga Sofwa, Aku dan keluarga ku yakni mamah papah serta Zizi kini sudah berada dalam mobil, aku duduk di samping kemudi yang kini duduk dikursi kemudi sepupuku yang konyol yakni Abdur yang mengemudi, jika amati ia lelah maka aku yang akan menggantikannya, keluarga Sofwa dan tetangga melmbaikan tangan seiring menjauhnya mobil kami dari pelataran rumah Sofwa.
.
.******