Mentari pagi tanpa ragu menelusup di sela sela pohon dan dedaunan yang berada di belakang kamar kost ku. Aku dan Dian memutuskan untuk beristirahat saja, karena hari ini adalah jadwal kami libur. Aku yang memang berencana untuk bermalas malasan setelah menyelesaikan semua rutinitas pagiku termasuk solat duha dan tilawah pagi, Aku merebahkan tubuhku di atas kasur dengan Novel ditanganku, aku membaca novel dengan posisi terlentang membuat Dian marah dan mengomel.
" Raaa, bisa nggak sih, kalo baca Novel sambil duduk aja, nanti mata kamu sakit loh. "
" Siap Bosku. " Sejurus kemudian aku terduduk tanpa melepaskan pandanganku dari deretan kalimat dalam Novel.
Drttttttt......Drttttt
Getar Handphone ku, membuyarkan konsentrasiku, dan membuat Dian langsung melompat ke arah handphone ku berada, memang ia sedang dalam keadaan Kepo karena ia sedang mengharapkan pa Abim menghubungiku.
" Yaaah, Aku kira Pa Abim, ternyata Mamang kamu Ra. " Ucapnya dengan wajah yang kecewa. Aku langsung menerima panggilan itu, tanpa memperdulikan kekecewaan Dian.
" Assalamualaikum Mang. kumaha mang, Ada apa? "
" waalaikum salam. De dengerin Mamang nya, Nanti tanggal 25 Desember, Dede pulang karena di tanggal itu ada yang mau datang ke rumah. "
" Oh gitu mang, iya mang biar Dede urus ijinnya dari sekarang, nuhun mang, Assalamualaikum. " Karena merasa kaget dengan kabar yang di sampaikan oleh Mamang, aku memutus panggilan itu secara sepihak.
" Apa Ra, Ada apa? " Seloroh Dian tak sabaran.
" Kata Mamang mau ada yang datang ke rumah nanti tanggal 25. " jawabku tak berminat.
" Kemungkinan Ustadz Aiman yang datang Yan. "
" Ko kamu kaya ragu gitu sih, kamu kaya gak senang Ustadz Aiman mau datang ke rumah. "
" Sok tahu kamu. " Jawabku seraya berdiri dan meninggalkan Dian.
Entah Ada apa dengan hatiku, Hatiku rasanya tak karuan, aku merasa kecewa, karena hatiku berharap yang datang adalah Abrisam Fabanyo bukanlah Ustadz Aiman.
" Kenapa kamu gak datang lebih cepat dari Ustadz Aiman? " Aku berucap dengan tatapan kosong lurus kedepan, kini aku berada di atap kons kosan yang biasa digunakan untuk menjemur mengeringkan pakaian.
" Astaghfirullah, kamu kenapa Sofwa? sadar, kamu sudah bertekad siapapun yang datang lebih dulu untuk mengkhitbahmu maka dia yang akan kamu pilih. " Ucapku seraya mengerjapkan mata dan mengusap kasar wajahku.
***
Sore Hari, Dian mengajakku ke sebuah Mall besar dikawasan Bandung pusat, Aku tidak terlalu bersemangat karena memang Suasana hatiku sedang tidak menentu, Begitu sampai di pintu Mall Dian menarik tanganku tak sabaran hingga aku terseret seret mengikuti langkahnya, Aku di seret melewati beberapa Eskalator menuju lantai Atas, Dan kini aku dan Dian sudah sampai di lantai paling atas yakni lantai 8 Mall ini.
" Yan ngapain sih kita disini, mending kita mainnya di taman Balai kota aja yu, disini gak asik. " Aku berbicara sambil memutar tubuhku hendak berbalik ke arah eskalator untuk turun ke lantai dasar.
" Iiih kamu mah, kita mau kesana tuh, kita nonton Film Assalamualaikum Beijing, aku gak mau ketinggalan ah, kayanya bagus deh ceritanya. " Seloroh Dian sembari menarikku dan menunjuk ke arah Loket pembelian tiket yang mulai dipenuhi pengunjung. Dengan langkah yang malas aku mengikuti langkah Dian yang dengan mantap dan semangat melangkahkan kaki ke arah antrian pengunjung yang sama sama ingin membeli tiket. Kini aku dan Dian sudah memasuki Teater, Kami mendapatkan tempat di teater 4 di kursi tengah, dan lampu mulai di matikan, didalam teater menjadi gelap pertanda pertunjukan akan segera di mulai. ketika aku menoleh ke belakang yang memang berada dikursi tangga atas aku seperti melihat sosok yang tak asing bagiku, untuk beberapa saat pandangan kami beradu, Aku yakin Dia menyadari kehadiran ku yang kini sedang menatapnya, Setelah memastikan bahwa itu adalah orang yang aku kenal yakni Pa Abrisam dengan Pa Abdur dan disampingnya ada seorang perempuan muda yang memiliki kecantikan khas Indonesia timur, ketika aku menoleh ke arah perempuan itu, Pa Abim menatap pergantian antara aku dan perempuan di sampingnya seperti sedang memikirkan sesuatu dan seperti ingin menjelaskan sesuatu padaku, Aku memutus pandangan yang sempat beradu dan beralih ke arah layar dan berpura pura fokus menyaksikan alur cerita film itu.
***
" Cepat Yan, jalannya cepat dikit atuh. " Kini giliran ku yang menarik dan menyeret Dian untuk cepat keluar dari teater itu.
" Ya Allah Raaa, sabar atuh gak liat banyak orang juga yang mau keluar. " Jawab Dian sambil menahan tanganku dan agar sabar berdiri menunggu pintu teater lengang.
Ketika berdiri ditengah kerumunan pengunjung lain, yang sama sama hendak keluar teater aku mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan laki laki itu yang sedang asik mengajak perempuannya menonton. Perempuan yang bersama Pa Abrisam terlihat begitu cantik Dangan kulit yang begitu terawat, pakaian yang sangat fashionable dan tentu saja terlihat mahal, Terlihat dari Tampilan dan prilakunya sepertinya Perempuan itu berasal dari keluarga kaya berpendidikan tinggi, ketika ku lihat perempuan itu memegangi tangan Pa Abrisam karena takut terjatuh, ada rasa panas yang menjalar di dadaku, Entah mengapa seperti ada rasa perih di sudut hatiku, aku berusaha menetralkan ekspresi wajahku dan berusaha menenangkan hatiku dengan terus menarik Dian agar cepat keluar dari teater itu, ketika aku dan Dian berdiri menunggu antrian untuk keluar dari pintu tater, kulilihat dari sudut mataku, pa Abim kini semakin mendekat ke arahku dan kulihat dia sedang menatapku intens, hingga akhirnya aku dan Dian kini sudah berada di eskalator untuk turun ke lantai dasar dan tak kulihat lagi sosok laki laki dengan perempuannya.
" Ra kita makan dulu yu, udah lama kita gak makan di All You Can Eat, kamu kan paling suka makanan khas Korea. "
" Yan aku cape banget, lagian kamu kaya banyak uang aja, kita makan di si Emak aja yah. " Tolak ku dengan wajah lemas.
" Yah kamu mah gitu, kan mumpung kita kesini Raa, jarang jarang ko kita makan enak kaya gitu. " Rengek Dian memaksaku untuk makan di restoran khas Korea Selatan itu.
" Yan pliis, atau kamu aja yang makan aku pulang duluan yah. " Aku berjalan mendahului Dian dan hendak keluar dari pintu pusat perbelanjaan itu sendiri.
" Ya udah kita makan di si Emak aja deh, ayok kita pulang, aku pesan gocar dulu yah. Ajak Dian seperti memahami perasaanku dan tau apa yang terjadi, lantas ia memainkan gawaynya untuk memesan taksi online melalui aplikasi Gocar. Sesampainya di kost, Dian mengambil piring dan dua gelas bersiap untuk makan dengan makanan yang kami beli di warteg si emak langganan kami sebelum pulang tadi.
" Aku tau tadi kamu kenapa gak tenang, aku juga ngeliat Pa Abim sama perempuan. " Dian membuka pembicaraan dan membuka bungkusan makanan miliknya dan membukakan bungkusan makanan ku tanpa di suruh.
" Gak tau kenapa Yan, aku kaya sakit hati gitu liat pa Abim nonton di bioskop bareng perempuan, padahal kan aku sama pa Abim gak ada hubungan apa apa, bahkan waktu aku menyuruhnya untuk datang ke rumahku dia secara tidak langsung menolak dengan mengatakan akan membicarakannya dulu dengan keluarganya, bahkan dua Minggu lagi Ustadz Aiman akan melamarku, tapi aku seperti berharap sama orang itu, kumaha atuh Yan? " Aku berbicara panjang lebar menyampaikan kegelisahan ku sejak tadi.
" Raa, kamu jangan memikirkan pa Abim lagi yah, lebih baik kamu menata hati kamu untuk bisa menerima Ustadz Aiman jadi Imam kamu, justru kamu bersyukur kamu bisa mendapatkan seorang ustadz untuk jadi calon suami kamu, yang artinya dia bisa membimbing kamu untuk lebih Sholeha lagi. " Dian mendekatiku dan kini memelukku dari arah samping, untuk beberapa saat aku dan Dian berpelukan untuk melepas segala beban dihatiku.
" Makasih yah Yan, kamu selalu ada buat aku, kamu juga selalu menenangkan aku pas aku lagi kebingungan. " kami mengurai pelukan dan tersenyum.
" Udah kita makan dulu, tadi aku gagal makan enak gara gara Orang timur itu. " Candaan Dian mencairkan suasana dan kini kami mulai menyantap makanan yang mulai dingin.
***
" Tolong kursi itu digeser kesebelasan sana, dan karpetnya di gelar menghadap ke arah sofa ya. " teriakan Mamang kepada pekerja yang kini sedang sibuk menyiapkan untuk lamaran besok.
Dua Minggu sudah berlalu, Kini aku berada Di rumah nenekku, yang memang sudah pulang sejak dua hari yang lalu.
berbagai macam kue sudah dibuat, dan sudah tertata rapi di toples toples, dan di dapur sudah tersedia berbagai macam sayuran dengan Bumbu bumbu pelengkapnya, Di ruang tamu terlihat beberapa pekerja yang sedang menata sofa dan karpet serta memasang sedikit hiasan berbagai macam bunga sudah tertata rapi disekeliling ruang tamu, juga di dinding terjuntai beberapa kain berwarna Silver dan biru Turkish membuat ruang tamu itu semakin indah.
ketika aku memasuki kamar, di atas tempat tidurku terlihat baju gamis yang terbuat dari kain brokat berwarna Dusty pink dan hijab dengan warna senada, dan itu disiapkan oleh Teh Tami kakak perempuanku satu satunya, Dan di rumah ini lah aku di besarkan bersama dengan Teh Tami dan kang Farid juga dua sepupuku yang lain. Aku duduk di tepi tempat tidurku yang sudah lama ku tinggalkan, aku termenung dengan tangan membelai gamis yang disiapkan Teh Tami.
" Di coba dulu atuh bajunya, kamu pasti cantik pisan pake gamis itu. " seloroh Teh Tami yang tiba tiba membuka pintu kamar ku.
" Ih teteh mah, ngagetin aja, gak usah dicoba lah, yakin pilihan teteh mah tebaik. " Aku mengacungkan dua jempol ke arah teh Tami untuk menyembunyikan kegundahan hatiku.
" Teteh tahu, kamu sekarang lagi gak enak perasaan kan, tenang aja, kang Farid udah cerita semua ke teteh, Bismillah aja jalani karena Allah. " Teh Tami menasihati ku sembari mengelus punggungku yang kini sudah duduk di sampingku.
Teh Tami adalah kakak kandungku satu satunya, Dia memiliki kecantikan melebihi kecantikan ku, kulitnya putih bersih, matanya sipit namun sedikit lebar, hidungnya mancung khas wanita Asia, lesung pipi di kedua pipinya menambah kecantikannya, Teh Tami mewarisi kecantikan dari keluarga Ayah yang 'katanya' memang terkenal dengan kecantikan dan ketampanan keluarga Bapak, berbeda denganku yang mewarisi kecantikan dari mamah yang cantiknya khas Sunda dan aku tidak terlalu cantik dibandingkan dengan Teh Tami, Teh Tami sudah memiliki Suami dan seorang putri yang sama cantik dengannya.
" Teteh yakin, kamu bakalan bahagia dengan laki laki ini, kini teteh merasa tenang karena sudah ada laki laki yang akan memberikan kamu kasih sayang dan cinta, yang tidak pernah kita dapatkan semenjak kecil kasih sayang dari laki laki yaitu dari Bapak, kita sudah sangat menderita semenjak kecil, Teteh harap kamu bisa menjadi istri yang baik dan nurut sama suami, jujur setiap kali teteh ingat masa kecil kita, gak terasa air mata teteh mengalir, bahkan sampai sekarang teteh mengkhawatirkan kamu, memikirkan tentang kebahagiaan kamu, dan nanti ketika acara lamaran berjalan, akan di bicarakan tentang pencarian Bapak, karena sama ketika teteh dulu menikah juga harus mencari Bapak untuk menjadi wali nikah, tapi pas teteh nikah, Bapak nggak mau datang dan dia mewakilkan kepada wali hakim, semoga aja pas akan nikah kamu nanti bapak mau datang yah. " Teh Tami menyampaikan kata demi kata dengan deraian air mata yang begitu derasnya. Dan dengan kata kaya itu tak terasa derasnya air mataku membanjiri pipiku. kini aku dan Teh Tami memeluk satu sama lain.
***
Pagi Hari, Para tetangga dan keluarga sudah sibuk ditempatnya, ada yang bersiap untuk menerima tamu, ada yang bertugas menyajikan makanan den kue kue, ada yang bersiap menyambut kedatangan pihak pelamar di depan jalan besar, tak terkecuali dengan Teh Tami yang sibuk mempersiapkanku dibantu oleh seorang perias, aku menolak untuk di rias, aku hanya bersedia memakai gamis yang memang sudah disediakan oleh Teh Tami kemarin.
" Teh tolong, aku gak mau pake makeup, aku make up atau Aku gak akan pernah keluar? " ancamanku untuk mengentikan pemaksaan teh Tami.
" Iiih si Dede mah, Oke oke cuma pake bedak dan lipstik, kamu aja yang pake, cepat de, nanti keburu datang orang orangnya. " Bentak teh Tami panik
" Teh tenang aja, ini cuma lamaran bukan acara resepsi dan akad nikah, teteh riweuh banget sih. " jawabku berusaha menenangkan teh Tami.
kini aku sudah selesai bersiap, aku menatap pantulanku di cermin, terlihat wajah polosku tanpa makeup mengenakan gamis brokat yang terlihat anggun ketika ku pakai, tiba tiba ada panggilan masuk ke handphone ku, dan langsung aku terima.
" Assalamualaikum Yan, kamu lagi ngapain, kerja atau lagi libur? "
" Ciyeeee yang mau lamaran, gak usah mikirin aku, pikiran aja tuh calon suami kamu, aku lagi di pabrik nih. " teriakan Dian meledekku di ujung telepon tanpa menjawab salam.
" Kamu mah, doain ya semoga lancar sampai hari H nanti. Aku berusaha menerima kenyataan ini.
" Iya lah, selalu aku do'akan, kamu jangan mikirin Pa Abim lagi yah, dia udah punya perempuan lain, kamu tenangin dan yakinkan hati kamu, biarin aja karena Allah, dan maaf yah aku gak bisa nemenin kamu di saat seperti ini. "
" Gak apa apa yan, aku seneng banget kamu telfon juga, dan kamu selalu mendoakan aku, itu sudah cukup. "
" Ya udah atuh yah, kamu pasti riweuh lagi siap siap, aku juga lagi kerja nih, selamat yah, bismillah nanti aku telfon lagi, Assalamualaikum. "
" Iya yan, makasih ya waalaikum salam. " Aku menutup telfon setelah menjawab salam dari Dian.
***
Jam sudah menunjukan pukul 10.00, kini ruang tamu sudah dipenuhi dengan tamu, tamu yang ku maksud bukanlah tamu undangan, tetapi mereka adalah keluarga dari laki laki dan keluarga dari pihaku, Aku enggan keluar dari kamar dan hanya menerka -nerka situasi di luar dari dalam kamar, kini suasana terdengar sunyi dan hanya terdengar Apih Muhaimin menyampaikan sambutan kepada keluarga laki laki, lalu dijawab dari pihak laki laki, Apih Muhaimin adalah keponakan dari Umi, neneku yang kami panggil Uwa, tetapi karena beliau adalah seorang kiyai di kampung ini jadi kebanyakan orang memanggilnya dengan sebutan Apih, hingga datanglah Teh Tami menjemput ku ke dalam kamar dan mengajakku untuk keluar karena sang calon suami hendak menyerahkan cincin dan tanda pengikat untuk ku.
" De ayo, semuanya udah pada nungguin kamu. " ajak teh Tami yang kini menggandengku.
Aku keluar, dari kamar dan memasuki ruang tamu yang terhalang oleh ruang makan, ketika aku memasuki ruang tamu aku tak berani mengangkat kepalaku dan pandanganku tertunduk ke arah kakiku, terdengar kalimat pujian dari keluarga laki laki.
" maasya Allah cantiknya. " Ucap seseorang yang tak kulihat siapa yang bicara.
Aku duduk di antara nenek dan Uwa Muhaimin, tetap dengan pandangan yang tertunduk, Setelah aku terduduk Uwa Muhaimin bertanya padaku.
" Bagaimana jawaban kamu, Laki laki ini ingin memperistri kamu, silahkan jawab. "
" Bismillahirrahmanirrahim Aku......" Ucapanku terpotong ketika aku mengangkat pandanganku dan melihat sosok laki laki yang ternyata bukan lah Ustadz Aiman, melainkan laki laki yang beberapa Minggu ini membuatku gundah, Abrisam Fabanyo.
" Jadi bagaimana De? " Tanya Uwa Muhaimin sambil menepuk pundaku, dan membuyarkan lamunanku. Aku tak percaya bahwa laki laki ini yang hendak melamarku bukanlah Ustadz Aiman, Karena semua orang menunggu jawabanku, setelah terdiam begitu lama, aku melanjutkan jawabanku.
" Bi... Bismillahirrahmanirrahim Aku bersedia menerima Pinangan ini. " dengan gugup aku menuntaskan jawabanku yang membuat semua menghembuskan nafas lega.
" Alhamdulillah....!! " Ucapan serentak dari semua orang yang berada di ruangan itu bergema.
Setelah itu dilanjutkan dengan tanda pengikat dari pihak laki laki yaitu berupa cincin yang disematkan oleh Ibunya Pa Abrisam ke jari manis ku dengan penuh kelembutan. Lalu dilanjutkan dengan memusyawarahkan hari pernikahan. Dan hari pernikahan di rencanakan tiga bulan dari sekarang, dan disetujui oleh kedua belah pihak.
Ketika aku terduduk tanpa mengangkat kepalaku, ada seseorang yang tiba tiba memanggilku, dan berusaha mengenalkan dirinya serta mengenalkan anggota keluarganya yang lain.
" Sofwa, jangan nunduk terus dong, perkenalkan saya mamahnya Abim, ini Papahnya dan ini Adik bungsunya Abim, maaf ya adiknya Abim yang dua lagi belum bisa datang karena mereka sibuk. " Seloroh seorang wanita paruh baya yang tadi menyematkan cincin di jari manis ku yang masih terlihat cantik dan awet muda tak lain adalah Ibunya Pa Abim, Aku mengangkat kepalaku dan menyalami Ibu dan ayahnya Pa Abim, dan melemparkan senyuman kepada adik bungsunya. Tapi tunggu, Aku seperti pernah melihat perempuan ini.
" Oh Kaka, waktu dibisokop tuh, aku mau nyapa Kaka, tapi Kaka cepet banget ngilanginnya. " Yaa, Betul Perempuan yang kulihat tempo hari di bioskop dan merangkul tangan Pa Abim ternyata adik bungsunya.
" Astaghfirullah.. Eh Maasya Allah ternyata kamu, maksud saya maaf karena waktu itu saya sedang buru buru jadi gak sempat ketemu yah. " aku tergagap karena gugup dan malu telah berperasangka buruk dan menyangka bahwa Adik bungsunya pa Abim adalah kekasihnya pa Abim. Keluarga dari pihak Pa Abim dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh keluargaku yang dibantu oleh para tetangga dan membuking ketering, percakapan dan candaan yang berusaha mengakrabkan dua keluarga terdengar begitu renyah, berbeda denganku yang menunduk dengan pemikiranku yang saat ini merasa bahagia.
" Maasya Allah tabarakallah. Alhamdulillah. terimakasih ya Allah ternyata ini adalah jawaban dari mimpi hamba tempo hari, dan ini adalah jawaban dari do'a do'a hamba. " Aku berucap dalam hati dengan mata yang berkaca kaca, setelah itu aku memandang Pa Abim yang ternya sejak tadi memandangku lekat, untuk beberapa saat pandangan kami beradu dan sama sama mengulas senyuman.
BERSAMBUNG