Sofwa POV
Dua bulan yang lalu, ketika kang Farid di rawat di rumah sakit, dan setelah kejadian di Kantin itu, yakni aku meminta waktu kepada Pa Abim, Namun niat sebenarnya adalah, aku ingin menghindarinya. Tetapi setelah hampir dua bulan, aku tak memperdulikannya dan memblok semua kontaknya termasuk akun f*******: nya, tiba tiba kang Farid datang ke kost ku, dan mengabarkan bahwa Bosnya Pa Abim sedang sakit dan di rawat di rumah sakit yang sama dengan kang Farid dulu.
" Kamu tau, Dia sedang sakit, dan berusaha mencari kabar mu, bisa saja sakitnya karena ulah kamu. " kang Farid berkata, setelah duduk lama dan berbincang tentang banyak hal.
" Maksud akang, siapa? Apa hubungannya dengan Dede? " Aku berpura pura tak tahu siapa yang dimaksud kang Farid.
" Pa Abim, kemarin akang menemuinya, dan melihat ke adaannya di rumah sakit, Pa Abdur bilang dia sakit karena terlalu banyak memikirkan kamu, akang yakin selama hampir dua bulan ini, kamu juga sudah berusaha menenangkan hati kamu, juga sudah solat istikharah. " Kang Farid menjelaskan dengan serius.
" Iya kang, Dede sudah berusaha, tapi akang tahu, ustadz Aiman yang mengajar di pesantren ku dulu? dia mengabarkan bahwa dia ingin datang ke rumah dan melamarku, dia bilang kalo aku bilang iya, maka saat itu juga dia dan keluarganya akan datang kerumah, Aku harus bagaimana kang? " Aku mengatakan semua yang selama ini aku pendam kepada kang Farid.
Ustadz Aiman adalah seorang Ustadz di pesantren tempatku mondok dulu, Dia memiliki perawakan tinggi dengan fostur tubuh atletik, dan ketampanan yang membuat semua santriwati tersihir, kecerdasannya dalam ilmu agama pun tidak di ragukan. Entah apa yang membuatnya memilih dan ingin melamarku di antara sekian banyak santriwati dan anak perempuan kiyai yang dikenalkan padanya, yang jelas jauh lebih baik dan lebih mumpuni dibidang agama daripada aku.
" Yang bener kamu de? " kang Farid menjawab seperti terkejut.
" Iya kang, kemarin Mamang menelfon bahwa ustadz sudah datang ke rumah dan berbicara kepada Mamang serta Umi, Ustadz juga menghubungiku melalui SMS, dia menanyakan kabar dan menyampaikan maksudnya. "
" Lalu bagaimana dengan perasaan kamu, kamu mau sama Ustadz itu, akang sama keluarga terserah sama kamu, tanya hati kamu baik baik, kalo menurut alang, lebih baik kamu menerima Ustadz Aiman saja, karena dia sudah tahu tentang kamu dan keadaan keluarga kita, dia juga bisa membimbing kamu karena dia seorang Ustadz. " Kang Farid seperti menyerahkan keputusan padaku, tetapi dia seperti memaksaku untuk memilih Ustadz Aiman.
" Aku belum bisa ambil keputusan kang, aku masih ragu. "
" jangan membuat mereka menunggu terlalu lama de, terus minta petunjuk kepada Allah, dan jangan sampai kamu salah memilih. "
" Iya kang, insya Allah. " Aku menganggukkan kepala.
kini kang Farid sudah mulai membicarakan hal lain untuk mencairkan suasana yang sejak tadi tegang dan cukup serius, aku membeli makanan dan membuatkan secangkir Kofi untuk kang Farid, dan kini kami sedang menikmati camilan sambil bercerita ngaler ngidul, hingga kang Farid berpamitan untuk pulang ke rumah kost nya.
Setelah kang Farid berpamitan dan pulang, aku mulai kepikiran apa yang dikatakan kang Farid tentang Pa Abim yang sakit, Aku langsung mengirim pesan singkat ke pa Abim, yang mengatakan bahwa aku ingin berbicara padanya. Lama sekali setelah aku mengirimkan pesan itu, Pa Abim tak kunjung membalasnya, aku berpikir bahwa ia masih sakit. Tetapi ketika menjelang sore akhirnya ia memanggilku melalui telfon tanpa membalas pesanku, ketika ku lihat nama Pa Abim yang terlihat di layar handphoneku, aku ragu untuk menerima panggilan itu, tetapi aku meyakinkan hatiku untuk menerima panggilan itu agar masalah ku cepat selesai. Ketika ku terima panggilan itu, lama tak ada suara ujung telepon sana, begitupun denganku aku tak berani berkata, hanya terdengar hembusan nafas saja di antara kami, hingga akhirnya Pa Abim membuka suara dengan mengucapkan salam. Aku menjawab salam itu setelah terdiam beberapa saat, lalu pa Abim meminta maaf karena tak membalas pesanku, dan baru menghubungiku sekarang, lalu ia bertanya apa yang ingin aku bicarakan dan bertanya apakah ingin berbicara langsung atau melalui telfon, aku langsung menjawab melalui telfon saja, karena tak mungkin rasanya jika aku harus menemuinya. Lalu aku mulai menyampaikan maksudku, dan entah apa yang tiba tiba membuat mulutku berkata.
" Jadi gini pak, maaf boleh saya memanggil kamu AA? " aku memotong perkataan ku, dan segera dijawab oleh pa Abim dengan sedikit tergagap, mungkin ia merasa kaget juga dengan pertanyaan ku itu.
" Bo..boleh banget lah, itu maksud saya, jangan panggil saya bapak, panggilan AA lebih enak didengar. " Jawab Pa Abim yang terdengar sedikit tersengal. Aku langsung menyampaikan apa yang ingin aku katakan, yakni menyediakan masalah, aku menegaskan kepada Pa Abim bahwa jika ia bermaksud serius padaku maka datangi orangtuaku di kampung, Mungkin saja jika aku menegaskan hal itu akan membuatnya berpikir kembali untuk dekat denganku, karena memang kami baru saja kenal, walaupun ia mengatakan bahwa dirinya sudah mengenalku lama yakni sejak aku duduk di bangku SMA. Lalu dari jawabannya Pa Abim terdengar seperti ragu, terdengar dari jawabannya bahwa ia masih akan membicarakannya dengan keluarganya, aku mengambil kesimpulan bahwa ia ragu, dan mungkin saja ia akan mundur dan berhenti mendekatiku. Selesai mendengar jawaban yang seperti ragu dari pa Abim aku langsung mengucapkan salam dan memutus panggilan.
Kini aku sedang duduk berdampingan dengan Pa Abim tanpa jarak dan tanpa batas, Pa Abim menggenggam tanganku mesra, dan tangan kirinya merangkul bahuku, ku sandarkan kepalaku pada d**a bidangnya. Namun terlihat di kejauhan ada sesosok laki laki yang mengawasi ku bersama Pa Abim, Aku mencoba memperjelas penglihatan ku ke arah laki laki itu, untuk memastikan siapa dia, namun ketika penglihatan ku jelas dan hampir melihat wajah laki laki itu terdengar suara yang memanggilku.
" Sofwa, Sofwa.....Bahirah bangun, kamu tidur kaya kebo banget sih, bangun udah jam 5 nih, solat subuh dulu. " Dian berulang kali memanggil namaku untuk membangunkan ku dari tidur dan mimpiku.
" Astaghfirullah...Aku ketiduran yan, kamu udah solat subuh? " Aku terbangun dan beristighfar, karena biasanya setelah solat malam (tahajud) aku tidak pernah tertidur sampai waktu subuh tiba, karena waktu antara selesai solat malam hingga subuh aku isi dengan menambah hafalanku, tetapi berbeda dengan kali ini, setelah selesai solat istikharah aku tertidur di atas sajadah, karena dalam dua bulan ini tak henti aku melaksanakan solat istikharah dan meminta petunjuk kepada Allah tentang jodoh yang harus ku pilih di antara dua pilihan, Namun baru kali ini aku bemimpi begitu jelasnya.
" Raaa, cepat atuh, kamu mau kesiangan solat subuh, aku udah solat baru selesai ini. " Dian menyuruhku bergegas dan membuyarkan lamunanku.
" Iya yan iyaaa.!!! " Aku berdiri dan langsung kekamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Selsai solat subuh dan tilawah, aku tidak langsung berdiri, aku duduk lama di atas sajadah dan memikirkan tentang mimpi tadi.
" Apa maksud dari mimpi itu, Ya Allah hamba sudah Berdo'a dan meminta petunjuk dari-MU, hamba serahkan sisanya pada-MU, siapapun yang terlebih dulu datang untuk mengkhitbahku maka laki laki itu yang engkau pilihkan untuk hamba, dan akan hamba terima hanya karena ingin mencari ridho dari MU. " Aku berdo'a dengan penuh kehkusyuan.
Pagi hari, setelah selesai bersiap dan sarapan, aku dan Dian pergi bersama ke tempat bekerja, hari ini kami sama sama memiliki jadwal pagi, Ketika waktu istirahat tiba, aku melihat ada panggilan tak terjawab dari Mamang yang berada di kampung, lalu aku menelpon baik ke Mamang.
" Assalamualaikum...Kumaha mang, ada apa, Umi sehat kan? " setelah panggilan tersambung aku langsung mengucapkan salam dan menanyakan kabar umi, karena tak biasanya Mamang menelfon seperti ini, kecuali ada keperluan dan mengabarkan Kondisi Umi jika Umi dalam keadaan sakit, jadi aku sangat khawatir jika terjadi apa apa sama umi.
" Ah engga de, Alhamdulillah Umi mah sehat, mamang cuma mau bilang, bahwa Mamang sudah mengatakan kepada Ustadz Aiman untuk datang saja ke rumah, karena dia pernah menyampaikan maksudnya ke mamang, namun belum resmi, nah tadi mamah udah ngobrol sama Umi dan langsung menghubungi Ustadz Aiman untuk segera datang ke rumah dan menghkibtah kamu secara resmi, kalo nanti mereka sudah menentukan tanggalnya, nanti kamu harus pulang yah. " Mamang langsung menyampaikan maksudnya, dan menjelaskan semuanya bahwa kemungkinan ustadz Aiman akan segera datang mengkhitbahku.
" De, Dede...! kamu dengerin Mamang kan? " Mamang mengagetkanku dari lamunanku dengan teriakannya di ujung telepon.
" Iya mang iyaa, Dede dengar, kalo gitu nanti setelah mereka mengabarkan tanggal berapa akang datang ke rumah, Mamang kabarin Dede aja ya insya Allah Dede pulang sebelum hari mereka datang. "
" Iya, kalo gitu udah dulu yah, kamu hati hati kerjanya, jangan lupa solat dan jaga kesehatan. "
" Iya mang, insya Allah Assalamualaikum. " Aku mengakhiri panggilan itu dengan tatapan kosong dan berpikir.
" Ya Allah, apakah ini yang terbaik, apakah Ustadz Aiman yang akan menjadi imamku? "
" Sofwa...kamu Kenapa, ko melamun sih, udah cepet makan, bentar lagi waktu istirahat habis tuh. " Wiwin teman kerjaku menyadarkanku dari lamunan itu.
Sore hari, Aku dan Dian baru saja pulang, kami yang kelelahan setelah bekerja seharian sedang duduk mengistirahatkan tubuh sebelum kemudian mandi. Aku terpikir dengan kabar yang disampaikan Mamang tadi siang, lalu aku berkata pada diriku sendiri.
" Yakinlah dan percaya, Siapapun yang lebih dulu datang untuk mengkhitbahku maka dialah jodoh yang dipilihkan Allah untukku, dan insya Allah aku akan menerima dengan ikhlas, dan menjalaninya hanya karena Allah. "
*****