Abrisam POV
Satu bulan sudah, Setelah Farid diperbolehkan pulang dari rumah sakit dan rawat jalan, Farid di rawat selama 2 Minggu, berarti aku sudah tidak bertemu dan tak tau kabar tentangnya sudah hampir 2 bulan, Setelah kejadian dikantin itu, Aku dan Sofwa tidak pernah bertemu kembali, bahkan Sofwa sudah memblok list akun f*******: ku, juga nomor ku, aku sudah berkali kali menghubunginya melalui f*******: messenger maupun melalui telefon, Dan ketika aku ajak untuk bertemu dia juga selalu menghindar dari ku. Dan kini Aku sudah hampir satu Minggu di rawat di rumah Sakit yang sama dengan rumah sakit ketika Farid di rawat.
" Aaah Lo lemah banget sih, baru di abaikan satu perempuan saja Lo sampe sakit udah hampir satu minggu. " Abdur yang tiba tiba masuk kedalam kamar rawatku, dengan membawa buah ditangannya.
" Ini buah pesanan Lo, kenapa Lo gak sekalian pesan bawa Sofwa aja sih? "
Lanjutnya, membuatku ingin menjitak kepalanya.
" Apaan si Lo, gue sakit ya karna daya tahan tubuh gue lagi menurun aja, kenapa Lo bawa bawa Sofwa? " Sanggahku kesal, sambil melemparkan bantal ke arah Abdur yang sedang duduk di sofa tak jauh dari ranjang tempatku berbaring.
" kata dokter sih, Lo bukan sakit secara fisik aja, Lo sakit secara psikis juga bro. "
" Lo lupa, gue juga dokter kali, jadi gue tau apa yang terjadi sama gue. "
" Sakit karena cinta toh? " Tuduh Abdur dengan dialek khas Maluku Utara.
" Sok tau loh, " aku mendelikan mataku dengan kesal ke arah Abdur.
Sore hari, di taman rumah sakit, Aku yang berpakaian baju pasien, Duduk di kursi taman dan menghirup segarnya udara di sekeliling rumah sakit ini. Tiba tiba datang Mamah dan adik bungsuku.
" Ya Allah Biiim, Kamu ko bisa sakit sih, mamah khawatir sama kamu, jadi mamah ajak adik kamu langsung ke sini, makannya kamu harus cepat menikah supaya ada yang ngurusin kamu. " Mamah berteriak dengan gerakan tangan memegang kepalaku dan berpindah ke bahu dan punggungku, dengan ekspresi wajah yang panik seperti seorang ibu yang melihat anak kecilnya terjatuh. ternyata mamah datang bersama adik bungsuku, Aku memeliki 3 Adik perempuan, dan yang bungsu ini bernama Khadijah, dan kami biasa memanggilnya Zizi. Dan Zizi baru saja menyelesaikan tugas akhinya, Ia baru akan menjadi seorang Dokter ahli bedah.
" Aduh mah, Mamah tuh bisa gak ngomelnya pelan aja, atau nanti kalo udah masuk kamar rawatku aja. " Aku menjawab Omelan mamah sambil berdiri dan berlari kecil menarik mamah ke arah kamar inapku.
" Kamu juga, kenapa kalo mau kesini gak kabarin dulu Kaka,? " lanjutku berkata kepada Zizi.
" Ya Kaka, kaya gak tau aja gimana mamah, kalo udah berhubungan sama Kaka, sampe ke London pun mamah kejaar. "
Sesampainya di kamar inapku, Aku menyuruh mamah dan Zizi untuk duduk di sofa, di susul olehku yang kini duduk di anatra mereka.
" Mamah liat kan, aku udah sehat mah, besok pagi aku udah boleh pulang, jadi mamah tenang ya. " Aku mencoba menenangkan mama. tetapi tiba tiba datang Abdur dengan mulut lemes nya.
" Waaaw ada Tante, Tante kapan kesini, wah sama kamu zi? " basa basi Abdur sambil merangkul mama dan Zizi bergantian.
" Tante tenang aja, Anak kesayangan Tante ini sakit bukan karena penyakit serius ko, dia ini kena virus cinta Tante. "
Cerocos Abdur membuatku mendekatinya dan memukul kepalanya.
" Apaan sih Lo, nambah masalh gue aja loh. " aku berbisik di sebelah telinga Abdur.
" Apa maksud kamu, maksudnya Dia sakit karena ditinggalkan perempuan, begitu? " Telisik mamah mendekati Abdur dengan penuh rasa penasaran.
" Sorry bro, tapi gue harus ceritain ini sama Tante. Abdur melepaskan cengkraman tangan ku, dan dia bergeser ke arah mamah untuk mencari perlindungan.
" Jadi gini Tante, dia itu jatuh cinta sama perempuan asli sini, asli Sunda Tante, tapi perempuan itu tidak percaya bahwa Abim benar benar cinta sama dia, dan Abim sudah hampir 2 bulan tidak bertemu apalagi mengetahui kabra perempuan itu, jadi dia sakit gara gara itu. " Abdur menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Sofwa kepada mama tanpa terlewat sedikit pun.
" Mah sudahlah, Dia cuma bohongin mamah aja. " Bantahku sambil mendekati mamah.
" Ini fotonya Tan, " Abdur diam diam mengambil handphone ku dan memperlihatkan Foto Sofwa kepada mamah. Emang nyebelin ni anak.
" Cantik siih, tapi ko dia ninggalin Abim gitu aja sih, terus dia punya apa sih sampe jual mahal gitu sama Abim." komentar mamah membuatku terperangah.
" Mah dia bukan perempuan kaya gitu, mamah belum kenal juga ko bisa bilang kaya gitu sih? "
" Terus, kenapa kamu bisa sakit kaya gini hanya karena dia? mamah gak terima yah, anak mamah diperlakukan seperti itu, sama perempuan pula, emang dia punya apa sih, dia punya pekerjaan sepenting apa sih, dokter spesialis, punya perusahaan atau dia anak konglomerat? "
" Maaaaah, tolong,!!!! " Aku berusaha menghentikan Omelan mamah yang berujung menjelek-jelekkan Sofwa.
" Tante, perempuan ini tuh, sebetulnya baik banget, bisa dibilang Sholehah malah, makannya Abim sampai sakit kaya gini, ya emang perempuan kaya dia sejuta berbanding satu sih, Cuma sekarang lagi ada sesuatu yang membuat hubungan mereka renggang, nanti Tante bisa tanya sendiri ke anak Tante ini. " Jelas Abdur yang mencoba menenangkan mamah, dan berusaha memperbaiki keributan yang ditimbulkannya. Akhirnya mamah sedikit tenang dan mulai mengalihkan pembicaraannya, yaitu membicarakan tentang kabar keluarga yang ada di Maluku Utara sana.
***
Kini kondisi ku, sudah membaik dan sore ini dokter sudah membolehkan ku untuk pulang, Pagi pagi sekali, Farid datang untuk menjenguk dan melihat kondisiku, Abdur yang mulutnya kaya ember bocor, memberitahu Farid tentang keadaan ku, padahal setiap kali aku sakit, maka seluruh karyawan tidak boleh ada yang tahu, tetapi karena Abdur kini Farid sudah berada di ruangan tempatku dirawat selama satu Minggu ini.
" Assalamualaikum, mohon maaf pak saya baru tahu, Bagaimana keadaan bapak,? " Farid mengetuk dan mengucapkan salam sebelum menanyai keadaanku. wajahnya terlihat sangat khawatir.
" Pasti Abdur yang kasih tau kamu, saya sudah jauh lebih baik, dan nanti sore saya sudah diperbolehkan untuk pulang. "
" Maaf pak, Apaa betul, Bapak sakit karena ulah adik saya? "
" Tuh orang mulutnya udah gak bisa ditambal lagi kayanya." aku berbicara pada diriku setengah berbisik namun aku yakin Farid masih bisa mendengarnya.
" Ya Elaaah, kata siapa Rid, saya sakit, ya karena memang sudah waktunya saya sakit, tidak ada sangkut pautnya dengan Sofwa. " Lanjutku untuk meyakinkan Farid.
" Tapi pak ......" Aku mencoba memotong perkataan Farid dengan mengangkat tanganku, memberi tanda untuk berhenti berbicara.
Kini posisiku, sedang duduk di ranjang khusus Fasien dan dalam posisi bersandar.
" Saya berniat serius sama Sofwa. "
Farid tergagap mendengar pengakuanku
" Ma...Mak..maksud bapak? "
" Iya, saya ingin melamar Sofwa. "
" Ta..tapi pak, ini harus dibicarakan dulu pak. "
" saya tahu, makannya saya ngomong sama kamu, biar kamu tahu kalo saya tidak main main dengan Sofwa. "
" Kalo begitu, saya harus cari cara agar Sofwa bisa mengerti bisa mengerti niat baik bapak, saya permisi dulu pak, semoga bapak cepat pulih dan sehat selalu. " Farid berpamitan dengan ekspresi wajah yang khawatir.
Sore hari, Aku sudah bersiap untuk pulang, dan sudah mengganti pakaianku dengan pakaian kasual sehari hariku. Mamah, Zizi dan Abdur yang kini menjemputku, mereka sedang duduk di sofa sambil berbincang ringan. ketika aku merapatkan bawaanku, tiba tiba handphone ku berdering tanda pesan masuk, setelah ku lihat, ternyata itu pesan yang selama ini ku nantikan.
From : Sofwa
Assalamualaikum...
maaf, jika ada waktu, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu.
__________________
" Kamu? " Gumamku pelan, dengan senyuman mengembang penuh arti.
" Bim, cepat trada, " Suara Abdur yang tiba tiba mendekat dengan dialek khas Indonesia timurnya.
" wah, ada apa nih senyum senyum sendiri kamu, waaah wajahnya juga bahagia banget, ada apa nih,? " lanjut Abdur berteriak membuat mamah dan Zizi menoleh ke arah kami berdiri.
" Apa'an sih, udah ayo kita pulang, aku udah bosan nih di rumah sakit terus. " jawabku, berusaha mengalihkan pembicaraan Abdur dan bergegas meninggalkan ruangan rawatku di ikuti oleh mamah dan Zizi juga Abdur.
Sesampainya di Apartemenku, Aku langsung masuk kamar dan mengatakan ingin istirahat, agar tidak ada yang mengganggu ku. ketika sampai didalam kamar, aku langsung menutup pintu dan langsung menguncinya, sejurus kemudian aku duduk di sofa yang terletak dekat jendela kamarku, Aku membuka pesan yang dikirim oleh Sofwa dan belum sempat ku balas. Dengan senyum mengembang penuh harapan aku membuka handphone ku dan membaca berulang pesan itu, untuk meyakinkanku, apakah benar itu pesan yang dikirim Sofwa. Aku menekan panggilan dan memilih nomor Sofwa untuk ku panggil, tak lama menunggu panggilan itu sudah tersambung, namun lama ku tunggu jawaban di ujung telepon tak kunjung terdengar suara Sofwa, di detik terakhir panggilan itu Sofwa menjawab pangilanku tanpa suara.
" ............ " Aku dan Sofwa sama sama terdiam, hanya terdengar hembusan nafasnya dari sebrang telfon.
" Assalamualaikum.." Aku memulai terlebih dahulu dengan mengucapkan salam.
" ........., Wa'alaikum salam warahmatullah. " jawab Sofwa setelah terdiam beberapa saat.
" Maaf saya baru bisa telfon kamu sekarang, katanya ada yang mau di omongin, mau ketemu aja atau lewat telfon aja? " Aku bertanya dengan harapan dia ingin bertemu denganku, dan berbicara secara langsung.
" Lewat telfon aja, Jadi gini pak..maaf boleh saya memanggil bapak dengan panggilan AA? " Sofwa memotong ucapannya dan bertanya bolehkah dia memanggilku dengan panggilan AA, AA adalah panggilan orang Sunda untuk laki laki yang lebih tua dari sang pemanggil. mendengar pertanyaan itu, hatiku bergetar, berdegup kencang, rasanya ingin keluar dari tempatnya. Dengan senyum tertahan aku menjawab.
" Bo....Boleh banget lah, itu maksud saya, kamu jangan panggil saya bapak, panggilan AA lebih enak didengar. " aku menjawab dengan tersengal karena menahan tawa dan gejolak dalam hatiku karena bahagia.
" Jadi gini A, Pertama saya mau minta maaf, karena mungkin selama ini saya udah banyak menyusahkan kamu, kedua jika memang kamu serius dengan ucapan kamu tempo hari, maka silahkan kamu datangi orangtuaku. " Sofwa berkata dengan lugas.
" Gak ada yang harus di maafin, Dan untuk masalah itu saya akan bicarakan dengan keluarga saya. " jawabku tanpa ragu.
" Baiklah, itu saja yang ingin saya sampaikan, Assalamualaikum. " Sofwa menjawab dan langsung menutup telfon setelah mendengar jawaban salam dariku.
****