" Mau kemana kamu, mau menghindar lagi dari saya? tolong duduk dan kita selesaikan masalah ini sekarang." Ucap Pa Abim tanpa melepaskan genggamannya dari tanganku. Aku duduk kembali dan memang benar apa yang di katakan pa Abim, sampai kapan aku akan menghindarinya. Dan masalah apa yang di maksud Pa Abim, Aku tidak pernah memiliki masalah apapun dengannya.
" Maaf pa, Saya rasa tidak ada yang perlu diselesaikan antara kita, karena memang kita tidak pernah memulainya, Masalah hati saya, biar saya yang mengurusnya. " Ucapku setelah aku duduk kembali.
" Bukan kita yang memulainya, tapi Saya, saya sudah memulainya sejak lama Sofwa, Bahkan usaha saya untuk meyakinkan apakah saya mencintai kamu atau hanya sebatas pelarian saja itu memakan waktu cukup lama, Bahkan tanpa kamu ketahui saya mencari tahu tentang kamu, menyimpan foto foto kamu, dan yang paling penting saya sudah meminta petunjuk kepada Allah, apakah kamu memang diciptakan untuk saya atau hanya perasaan sesaat saja, dan setelah beberapa lama saya melaksanakan shalat istikharah, saya semakin yakin dengan perasaan saya. "
" Pak tolong, jangan membahas itu, Saya paling benci jika ada orang membahas perasaanya kepada saya, yang ujung ujungnya hanya akan pergi tanpa kata apapun, dan saya tegaskan kembali, saya tidak berniat menjalin hubungan apapun dengan laki laki manapun, termasuk bapak. "
" Saya tau, kamu hanya ragu, kamu tidak percaya dengan diri kamu, kamu masih dikuasai dengan kebencian yang bersarang di hati kamu, tolong tanyakan pada hati kamu, tanya apakah kamu ingin bahagia? "
" Apakah kebahagiaan ada untuk orang seperti saya? saya sudah terbiasa hidup menderita sejak saya dilahirkan, saya hidup dalam kesendirian, ketika saya membutuhkan tempat untuk berpegang dan bersandar, saya butuh orangtua yang membimbing saya dan menyayangi saya, saya butuh sosok seorang ayah sosok seorang ibu, Bapak tau saya hidup dalam penderitaan, semenjak kecil hidup saya hanya akan menjadi bahan olok olokan orang pak, bahkan ketika saya menginginkan hal yang sangat kecil dan spele, tidak ada orang yang mewujudkan itu semua, tidak ada pak, dan bapak tau? itu penyebabnya hanya satau, Karena seorang laki laki yang tidak bertanggung jawab. "
aku mengeluarkan semua yang terbendung didalam hatiku, dengan derasnya air mata yang membasahi pipi.
" Tolong pak, jangan ikuti saya, dan saya tidak menghindari siapapun, anggap saja masalah bapak dengan saya sudah selesai, Assalamualaikum. "
Aku berdiri dan menyambar Sling bag yang berada di sofa dan pergi dengan Air mata yang masih mengalir deras.
*****
Sesampainya di kost, aku menelpon kang Farid, karena tadi aku tak sempat berpamitan padanya.
" kang maaf, Dede pulang dulu sebentar ke kostan ya, nanti sore Dede balik lagi ko sama Dian. " Aku berkata dengan suara serak karena baru selesai menangis. Aku yakin kang Farid tau apa yang terjadi dan pasti mendengar apa yang aku katakan kepada Pa Abim.
" Iya de gak apa apa, akang ada teman kerja ko yang nemenin, pa Abim juga sudah pulang ke rumahnya. "
" Ya udah akang istirahat aja ya, akang sama temen dulu aja ya, kalo ada apa apa kabarin aku yah. Assalamualaikum."
Selesai memutuskan panggilan dengan kang Farid, Dian mendekatiku dan bertanya.
" Lah ko balik, ini aku udah siap siap mau ke rumah sakit, tunggu...! ko mata kamu sembab sih, kamu abis nangis ya, kenapa? apa terjadi sesuatu sama kang Farid? " Cerocosnya tanpa koma, membuat ku tambah pusing.
" Nanti sore aja ke rumah sakitnya ya, sekarang ada temannya kang Farid ko yang nemenin kang Farid, kamu berisik banget sih sini, aku mau cerita. " Aku menarik Dian duduk di atas tempat tidur dan mulai menceritakan semua tentang Pak Abim dari awal samapi akhir tanpa terlewat satupun.
" Ya Allah Ra, Ada laki laki baik dan tampan yang udah tau latar belakang kamu, yang siap Nerima kamu apa adanya, tapi kamu malah menghindar? "
ucap Dian dengan ekspresi kesalnya.
" Yan denger ya, ini tuh bukan waktunya kamu mempertahankan ego kamu, usia kamu udah berapa sekarang? kamu masih dikuasai dendam sama ayah kamu, Ra ini bukan zamannya ketika kamu masih usia 12 an Ra, yang menolak laki laki hanya karena kamu benci dengan namanya laki-laki, aku tau semua laki-laki yang menyatakan perasaannya ke kamu maka akan jadi musuh kamu, tapi sekarang, usia kamu udah 21 tahun Ra, Pliis sampai kamu kamu mau menyiksa hati kamu sendiri Ra. "
" Yan, kamu tau kan, setiap kali aku menolak laki-laki, aku tidak berniat untuk membencinya, aku hanya memiliki perasaan apakah laki-laki itu serius sama aku, apa hanya main main saja? apakah aku pantas dicintai? pertanyaan itu yang selalu terlintas di benakku yan, Sekarang juga begitu yan, terlebih orang yang menyatakan perasaannya itu bukanlah laki laki biasa, dia seorang dokter dan seorang CEO di perusahaan milik keluarganya, apa mungkin yan? "
" Kamu belum mencoba, tapi seakan akan kamu sudah tau bagaimana jadinya, Kamu belum memastikan, tetapi seakan akan kamu tahu kepastiannya, Aku tahu sekarang apa yang harus kamu lakukan, Solat dan bersabar, kamu coba meminta petunjuk dari Allah, solat istikharah aja dulu, dan temangkan hati kamu. "
" Iya yan, makasih ya, kamu selalu ada disetiap duka ku, kamu selalu memberikan solusi terbaik. " Aku berkata dan memeluk Dian erat dengan pipi yang masih basah dengan Air mata.
Sore hari, Aku dan Dian bergegas ke Rumah sakit, karena takut kang Farid tidak ada yang menjaganya. Sesampainya di rumah sakit, aku langsung masuk dan kulihat Pa Abim yang berdiri di samping Kang Farid sedang membetulkan selang infus kang Farid. Untuk beberapa detik, aku terdiam melihat ke arah kang Farid dan pa Abim, Aku kembali menutup pinta dan menunggu di luar saja.
" Lah ko gak jadi masuk si Ra, malah duduk lagi, katanya mau jagain kang Farid. " Tanya Dian keheranan dengan sikapku.
" Tunggu dulu aja Yan, masih ada dokter di dalam. "
" Oh gitu, ih ya gak apa apa atuh Ra, kan biar sekalian kita tanya tanya ke dokternya tentang kondisi kang Farid, Hayu masuk aja yu. " Paksa Dian sambil menariku masuk ke dalam Ruangan kang Farid.
" Maaf dok, kita masuk boleh yah? kita cuma pengen tau aja kondisi kang Farid dan nanya langsung sama dokter. " Ijin Dian yang masuk tiba tiba dengan tangan yang menarikku dengan paksa.
" Oh saya bukan dokter di rumah sakit ini. " Jawab Pa Abim dengan tatapan tak lepas dari wajahku. saat ini Pa Abim memakai stelan kemeja putih dengan tangan digulung samapi sikut dan celana warna hitam, Ia langsung pergi setelah mengambil jasnya yang tergantung disandaran sofa.
" Kayanya aku pernah liat deh orang itu, tapi Dimana ya,? " tanya Dian kebingungan.
" Abrisam...!!! " Lanjut Dian berteriaka setelah berpikir beberapa saat.
" Dia pa Abim itu kan Ra? "
" Kamu apaan sih bikin kaget aja, kasian kang Farid dia lagi istirahat Yan. "
Setelah beberapa saat aku dan Dian berada di ruangan kang Farid dan membantu semua kebutuhan kang Farid, Aku dan dan Dian sudah bersiap untuk tidur karena baru saja suster jaga memeriksa kang Farid dan memberinya obat, Namun kang Farid tiba tiba memanggilku untuk mendekat.
" Akang butuh apa, mau minum? " Tanyaku setelah berada dekat dengannya.
" Kamu harus bisa membuka hati kamu, jangan menyimpan dendam yang justru akan menghancurkan Kebahagiaan kamu, tolong pikirkan apa yang dikatakan sama Pa Abim. kalo kamu masih memiliki pemikiran seperti itu maka setiap ada laki laki yang berniat serius denganmu, kamu tidak akan pernah bisa menerimanya, perbanyak solat istikharah. " Ucap kang Farid dengan lemah, dan ia langsung tertidur karena obat yang sudah bereaksi.
" kang Farid gak apa apa kan? ko dia langsung diam gitu. ? "
" Kang Farid tidur Dian, dia baru abis minum obat. "
" Oh aku kirain. "
" Ah sudah kamu tidur gih, nanti gantian aku yang tidur. "
Ucapku untuk menghentikan candaan Dian.
Setelah Dian tertidur, aku duduk terdiam memikirkan apa yang dikatakan kang Farid beberapa saat lalu.
***
Pagi hari setelah menyuapi kang Farid Aku langsung membereskan kamar tempat kang Farid di rawat, Fian sudah berpamitan sejak subuh, karena ini adalah jadwal piketnya. Aku masih masih cuti dan dilanjutkan dengan meminta ijin, Padahal jika aku terlalu lama meminta ijin, itu akan berujung pemecatan, karena ketika ijin karena sakit saja harus ada surat keterangan dokter yang memang bekerja sama dengan perusahaan pabrik. Aku sudah tidak perduli lagi jika aku harus di pecat, karena memang aku tidak bisa meninggalkan kang Farid, kang Farid tidak mau memberitahu keluarga yang ada di kampung halaman, karena mereka pasti akan sangat khawatir dan pasti akan berusaha datang ke sini walaupun dengan uang hasil pinjaman. Selesai berbenah, aku langsung mandi dan bersiap untuk keluar sebentar mencari sarapan untuk ku.
" Kang, Dede keluar dulu ya sebentar cari sarapan aja ko. "
" iya de, tapi boleh ambilin remote tv dulu, akang mau nonton tv aja, kaluman. " Pinta kang Farid yang memang sudah bisa duduk.
" Akang mau pesan apa, mau buah? "
tanya ku sebelum keluar.
" Akang mau buah jeruk aja de. "
" Oke, " aku mengacungkan jempol dan langsung menutup pintu dan bergegas keluar.
Setelah selesai membeli sarapan dan pesanan kang Farid aku langsung kembali ke ruangan kang Farid karena khawatir kang Farid butuh sesuatu. Ketika aku kembali ternyata ada sudah ada Pa Abim dan Pa Abdur yang sedang asyik ngobrol sama kang Farid.
" Assalamualaikum. "
Aku menganggukkan kepala kepada pa Abdur dan langsung meletakan buah jeruk di meja Fasyen di samping kang Farid, dan aku sekalian pamit untuk memakan sarapanku di luar.
" Kang, Dede makan sarapan dulu ya diluar, akang ngobrol dulu aja sama mereka. " Aku berpamitan dengan berbisik, lalu keluar setelah menganggukkan kepala kembali ke arah Pa Abdur dan Pa Abim.
Aku memakan sarapan, di kantin Rumah sakit ini yang berada di lantai 3. Ketika aku duduk, dan mulai membuka makananku, tiba tiba Pa Abim menarik kursi dan langsung duduk berhadapan denganku, Aku makan dalam diam tanpa menghiraukannya. Selesai makan aku langsung berdiri membuang kotak makanan yang telah tandas, aku kembali duduk dan meminum air mineral yang ku pesan di kantin ini. Karena merasa kesal dan terganggu, aku hendak pergi dan kembali ke kamarnya kang Farid. Sejak datang dan duduk pandangan Pa Abim tidak lepas dariku, dia terus menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.
" Saya mohon duduk lah sebentar dan dengarkan saya. " ketika melihatku berdiri hendak pergi, dia mulai membuka mulutnya dan memerintahku untuk duduk. Aku menarik nafas dan menghembuskannya kasar dan duduk dengan tatapan tertunduk.
" Saya tanya sama kamu, apa saya pernah menyakiti kamu, apa saya pernah membuat kesalahan sama kamu? " Aku jawab dengan menggelengkan kepalaku.
" Lalu kenapa kamu seperti ini sama saya? "
" Pa tolong beri saya waktu, memang bapak tidak pernah menyakiti saya, dan tidak pernah berbuat salah sama saya, tapi disini saya yang salah, jadi tolong bapak kasih waktu kepada saya, dan jika perlu silahkan bapak mencari wanita lain yang memang lebih pantas untuk bapak. " Aku memberanikan diri untuk mengatakan bahwa aku butuh waktu.
" Saya permisi pa, Assalamualaikum. "
Aku berpamitan dan meninggalkannya yang masih duduk.