Kerena merasa malu kepada pa Abim, dan memang sedikit lelah, aku tidak mengikuti acara malam, dan kang Farid juga menyuruhku untuk istirahat saja. ketika aku duduk di kursi taman menikmati indahnya suasana malam di tempat ini, dan merasakan dingin yang begitu menusuk ke tulang, saat itu aku mengenakan jaket yang tebal karena memang cuaca malam di Lembang akan sangat dingin. Tiba tiba datang pa Abdur mengucapkan salam dan meninggalkanku dengan Pa Abim dengan diawasi olehnya dari kursi yang tak jauh dari tempat kami duduk, ternyata pa Abim ingin meminta maaf, karena kebetulan akupun ingin meminta maaf, maka saat itu juga aku langsung meminta maaf walaupun saat kami mengawali percakapan kami mengucapkan kata yang sama secara bersamaan, hingga akhirnya pa Abim menyuruhku terlebih dahulu menyampaikan apa yang ingin aku bicarakan. namun setelah lama kami duduk disana pa Abim malah memintaku untuk tidak memanggilnya bapak dan menyuruhku untuk berbicara santai padanya, tanpa memperdulikan ucapannya, aku meminta maaf dan berpamitan untuk masuk ke kamar, dan aku berjalan cepat memasuki kamarku. Entah apa yang kurasakan saat ini, yang jelas aku tidaklah marah, namun aku seperti tidak percaya dengan apa yang disampaikan pa Abim.
Ketika kang Farid mengatakan bahwa pa Abim memiliki perasaan padaku, aku langsung teringat dengan perlakuan ayakhu yang tiba yiba meninggalkanku, Teh Tami dan ibu, sejak kecil aku bertekad akan memberi yang namanya laki-laki, dan selama ini sudah terbukti, siapapun yang menyatakan perasaannya padaku maka akan berujung menjadi musuhku, Aku merasa takut, dan membenci keadaan ini. sejak saat itu aku bertekad akan menghindari Pa Abim apapun alasannya. karena terbuai dengan segala pemikiran, akhirnya aku tertidur setelah menyelesaikan solat isyaku.
***
Pagi hari setelah acara sarapan pagi bersama, Kang Farid berpamitan padaku untuk pergi ke perusahaan, karena disana ada kerusakan yang hanya kang Farid yang menanganinya.
" De, akang harus ke perusahaan, karena disana ada kerusakan yang hanya akang yang bisa memperbaikinya, akang janji setelah selesai pekerjaan akang, akang langsung balik ke sini ko, kamu disini aja ya, sama teman akang, dana da Pa Abim juga sama pa Abdur. "
" Tapi kang, Dede gak bisa disini kalo gak ada akang, Dede ikut pulang aja yah. "
" Akang janji de gak lama, mungkin nanti sore juga akang udah balik, tenang aja, lagian pulangnya juga masih lama ko masosh lusa sore de, udah yah akang buru buru, kalo ada apa apa kamu bisa telpon akang, akang pergi ya, Assalamualaikum. " Kang Farid pergi dengan terburu buru. samapi tak sempat sarapan.
" Ya udah akang hati hati yah, kalo ada apa apa kabarin aku, waalaikum salam. " Jawabku sedikit berteriak, karena kang Farid mulai menjauh.
Seperginya kang Farid aku melanjutkan sarapanku dengan tenang, dan hari ini aku mengikuti semua game dan acara untuk menggantikan kang Farid, Dan hari ini aku sangat merasa senang. Hingga sampai pada sore hari aku menerima telfon dari nomor kang Farid, Orang di ujung telepon mengatakan bahwa kang Farid kecelakaan saat bekerja. tanpa berpikir panjang aku mengambil Sling bagku dan berlari sekuat tenaga ke arah area parkiran, aku berpikir disana akan meminta tolong siapa saja yang bisa mengantarku, aku menangis sejadi jadi dengan kaki yang sudah teras lemas namun ku paksa berlari hingga kakiku sudah tak kuat menopang tubuhku yang lunglai, aku tersungkur di jalan menuju area parkir, aku terduduk lemah dengan tangisan yang makin terasa pilu, disaat itu ada sebuah tangan yang menggenggam bahuku, dan orang itu adalah Pa Abim, dan sepertinya ia sudah tau kabar tentang kang Farid, tanpa berpikir panjang aku langsung menggenggam tangannya dan berkata.
" Pak, tolong saya pak, antar saya bertemu kang Farid..."
Aku berbicara dengan nada lemah dan tangisan yang tak kunjung berhenti, air mata pun tumpah membasahi pipi tanpa bisa kubendung.
" Kamu gak apa apa, ayo saya bantu, kita pergi sekarang ke Bandung. "
Pa Abim berusaha menenangkanku, dan membantuku untuk berdiri serta membopongku untuk masuk kedalam mobil dan mendudukan ku dikursi samping kemudi, lalu ia menyusul memasuki mobil duduk di kursi kemudi.
" Bismillah..kamu tenang ya kita berangkat sekarang. " Pa Abim mulai menjalankan mobilnya dan menenangkanku.
" Ya Allah kang, tadi Dede udah bilang jangan pergi, tapi tetep pergi, Ya Allah tolong ya Allah, lindungi kang Farid, semoga dia baik baik saja. "
Aku merapalkan do'a dengan tangisan yang makin menjadi. Aku tidak perduli lagi dengan siapa aku saat ini, Pa Abim seringkali menoleh ke arahku dengan wajah yang khawatir, ia bergantian melihat jalan dan melihat ke arahku.
" Kamu yang tenang yah, sebentar lagi kita sampai. "
" Pa tolong cepat pak. " Aku menggenggam kemeja lengan pa Abim yang sedang sibuk dengan kemudi.
" Iya ini juga sudah cepat Sofwa, kamu tenang, jangan sampai kita juga kecelakaan karena kepanikan kamu, tolong tenang, istighfar Sofwa. " Pa Abim merasa frustasi dengan kepanikanku yang mengganggu konsentrasinya, menyadarkanku untuk beristighfar.
" Astaghfirullahaladzim, maaf pa, saya minta maaf. " setelah itu aku menangis dalam diam.
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, Mobil yang membawa kami samapi di parkiran sebuah Rumah sakit elite di kota Bandung, tanpa menghiraukan pa Abim aku langsung turun dan berlari ke arah ICU, namun setelah berlari dengan susah payah, aku tak menemukan kang Farid di ruangan ICU, aku berjalan dengan panik dan tangis mencari suster yang bisa kutanyai, namun tak ada suster yang bisa kutanyai. Aku duduk di bangsal rumah sakit dengan lemas. tak lama Pa Abim datang dan memberitahu ku bahwa kang Farid sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Setelah pa Abim mengatakan itu aku langsung berdiri dan bertanya.
" Dimana ruangannya pak? Tolong antar saya kesana pak. " Aku berkata memelas dengan wajah yang sudah sembab dan mata yang bengkak namun air mataku belum berhenti mengalir.
" Ayo ikuti saya. " Pa Abim menarik tanganku dan menggenggam erat tanganku, kami berlari bersama ke arah tempat dimana kang Farid di rawat. sesampainya disana, aku langsung masuk dan ingin segera melihat keadaan kang Farid. Ketika aku memasuki ruangan itu, terlihat kang Farid yang sedang memejamkan mata dengan kaki dan tangan yang di gift, serta wajah yang babak belur tak karuan. ketika melihat keadaan kang Farid yang memperihatinkan, lagi lagi tangis ku pecah, dan mwmbangunkan kang Farid yang sedang beristirahat.
" De, kamu sama siapa ke sini, udah jangan nagis terus, akang gak apa apa ko. "
" Gak apa apa gimana Ari akang, ini tangan sama kaki wajah juga hancur, ya Allah kang, Dede khawatir banget. "
" Ini memang resiko pekerjaan akang de, sudaah kamu jangan nagis terus, berisik akang juga mau istirahat. "
kang Farid berkata dengan nada lemas, yang mengkhawatirkan, aku tau dia sedang kesakaitan luar biasa, namun karena tidak mau melihatku sedih dan khawatir, kang Farid berusaha menenangkan ku dengan banyolan banyolannya.
" Ya udah akang istirahat aja, Dede di luar ya, kalo butuh apa apa panggil aja ya. " Aku keluar dengan langkah cepat, setelah keluar dari ruangan kang Farid, aku menagis sejadi jadi.
" Emangnya keadaannya separah itu, kamu jago nagis juga ya ternyata. "
Suara Pa Abim mengatakan ku, aku lupa bahwa ada orang ini disini.
" Oh maaf pak, saya hanya merasa lega aja, walaupun keadaannya parah tapi dia masih bisa bercanda, berarti dia akan cepat pulih Insya Allah. "
" Iya lah, sudah cukup nangisnya Maya kamu udah bengkak tuh. "
" Pak makasih ya udah mau antar saya, dan maafkan jika selama perjalanan tadi saya banyak membuat bapak kesal. " akataku sambil menghapus sisa sisa air mata yang masih membasahi pipiku.
" Engga apa apa, justru saya senang bisa jalan berdua sama kamu, walaupun dalam keadaan yang panik, terus tenang aja, karena memang ini juga tanggung jawab saya. "
" Kalo bapak mau pulang atau balik lagi ke Lembang silahkan pak, saya masih mau Disni, saya mau nemenin kang Farid aja. "
" Gak baik perempuan nginep di rumah sakit, sendirian lagi, mending kamu pulang dulu aja, besok baru balik kesini. "
" Engga pak, lagian kostan saya lumayan jauh dari sini, saya gak mau repot bulak balik karena jauh. "
" Kalo gitu saya temenin kamu aja. "
" Jangan pak, Gak usah Pak, justru lebih gak pantas kalo kita tidur bareng disini. " perkataan ku membuat Pa Abim tertawa renyah.
" Tidur bareng? hahahaha, kamu ini yang gak berdua lah kan ada Farid juga, terus banyak petugas rumah sakit juga, mana mungkin saya berani macam macam sama kamu. " Aku merasa malu, dan dengan spontan mengatupkan bibirku, dengan wajah yang panas karena malu.
" Ya udah saya cari makan dulu buat kita, sama cari baju ganti dan juga peralatan mandi dulu, kamu mau makan apa? "
" Saya nasi goreng aja pak, makasih. "
Pa Abim berlalu, dan aku memasuki ruangan kang Farid yang sedang terlelap dalam tidurnya. Aku duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu, karena memang kang Farid di rawat di ruangan VIV, jadi fasilitasnya sangat mewah dan lengkap. tak terasa tenyata aku ketiduran di sofa itu. ketika terbangun aku sudah diselimuti jaketnya pa Abim dengan wangi parfum mahal yang maskulin.
Aku terbangun dan melihat ke sekeliling tak ada siapapun, hanya ada makan di atas meja. karena merasa lapar, aku duduk dan meminum air dan langsung menyantap makanan yang mulai dingin. tiba tiba keluar Pa Abim dari kamar mandi dengan rambut basahnya dan sudah berganti dengan baju santai. aku kaget dan langsung berhenti menyuap makanan.
" Kamu udah bangun, makan yang banyak ya, cape kayanya udah nagis seharian. " Ejek pa Abim padaku. aku makan tanpa menghiraukannya, setelah selesai makan aku langsung berdiri dan membereskan meja. lalu aku mendekat ke arah kang Farid dan memeriksa keadaannya, disaat yang bersamaan kang Farid terbangun karena merasa haus.
" De akang mau minum. " Dengan gerakan cepat aku langsung mengambil gelas berisi air beserta sedotan.
" Akang mau apa lagi, akang lapar gak, ada yang sakit, akang mau makan apa? " Aku memberondong kang Farid dengan banyak pertanyaan, membuat pa Abim tertawa.
" Hahahaha, kamu lucu yah, orang lagi sakit ditawarin makanan, dan ditanya dengan pertanyaan segitu banyaknya. "
" Oh ada Bapak, maaf pak saya jadi merepotkan bapak, sebaiknya bapak pulang saja, tidak baik juga bapak berduaan dengan Sofwa disini. "
Ternyata tawa Pa Abim membuat kang Farid menyadari keberadaannya.
" Gak repot kali Rid, justru ini adalah tanggung jawab saya, karena kamu kecelakaan saat bekerja di perusahaan saya. terus saya tidak berduaan dengan Sofwa disini, karena ada kamu juga, dan banyak petugas rumah sakit, lagain kalo saya disini, saya juga bisa memantau perkembangan kamu. "
" Bapak bisa aja, saya juga lupa bahwa bapak seorang dokter. "
" Sudah tidak usah banyak bicara dulu, lebih baik kamu istirahat saja, sebentar lagi saya akan memanggil suster untuk mengganti cairan infus kamu."
" terimakasih banyak pak. " kang Farid langsung terlelap kembali karena efek obat.
Aku penasaran dengan ucapan kang Farid tadi yang mengatakan bahwa, pa Abim adalah seorang dokter, padahal sudah jelas bahwa dia adalah CEO di perusahaannya.
" Ah sudahlah, ngapain aku perduli. " gumamku pada diri sendiri.
" Kamu gak akan mandi? saya sudah membeli baju ganti kamu dan juga peralatan mandi, saya juga sudah menyiapkan air hangat buat kamu. "
Tanpa menoleh ke arahnya dan tanpa menghiraukannya aku langsung masuk ke kamar mandi, dan aku kaget karena ketika melihat baju yang dibelinya ada baju dalam juga yang sepertinya baru ia beli tadi bersamaan dengan baju dan peralatan mandi.
" Ih gak sopan banget sih. " Aku meremas baju dalam itu kesal.
setelah selesai mandi aku sangat merasa canggung dengan suasana ini, aku melihat pa Abim sedang duduk bersilang kaki dengan handphone ditangannya, Aku melihat ke arah kang Farid yang masih terlelap, karena melihat kang Farid yang tidur dengan nyaman aku keluar dari ruangan dan duduk di kursi tunggu yabg berada di koridor ruangan ini, karena sudah hampir 2 hari aku tidak mengabari Dian, akhirnya aku menelfon Dian karena banyak sekali yang ingin ku ceritakan.
" Assalamualaikum Sofwa, aduuuh yang liburan, sampe lupa sama teman. "
" Aku lagi di rumah sakit tauu, kang Farid kecelakaan pas lagi kerja, dia dirawat di rumah sakit, sekarang aku lagi jagain dia. "
" Innalilahi... beneran Ra? Gimana sekarang keadaannya, kamu mau aku temenin gak? aku kesana sekarang yah. "
" Kamu gila yah, ini udah malam takut dijalannya tau, besok aja deh kamu kesini, kamu besok jadwal libur atau kerja siang? "
" Oke besok aku kesana yah, besok aku tukar libur aja sama temen aku, kamu gak apa apa kan sekarang disana sendirian? "
" sebenarnya aku nggak sendiri disini, ada bosnya kang Farid juga yang jagain. "
" terus kamu berduaan gitu, awas yaa. "
" ya engga berdua lah kan ada kang Farid, tenag aja bosnya baik banget ko, dan kamu tau, bosnya kang Farid itu adalah orang yang waktu itu kirim pesan lewat inbok ke aku, kamu ingat gak,? "
" Tunggu, oh yang Abrisam Fabanyo itu,? Beneran kamu Ra, ko bisa kebetulan gitu sih? "
Dian berusaha mengingat, dan heboh karena kaget dan gak percaya dengan kebetulan itu.
" Iya yan, nanti jelasnya aku ceritain pas udah balik ke kostan ya, besok akmu beneran kesini yah, udah dulu yah, pokonya besok aku tungguin kamu, sekarang kamu istirahat deh, Assalamualaikum. "
" Oke, waalaikum salam. " setelah selesai menelpon Dian aku masih terduduk lama di kuari itu, karena merasa canggung untuk masuk ke dalam, sebetulnya aku ngantuk banget, tapi gak enak juga kalo aku harus tidur. Karena sangat mengantuk akhirnya aku masuk kedalam ruangan, dan aku berniat membawa kursi ke samping sebelah kanan tempat tidur kang Farid, aku akan tidur dalam posisi duduk dan menyandarkan kepalaku pada bagian sisis tempat tidur kang Farid, Namun ketika aku memegang kursi itu, tiba tiba pa Abim menarik lengan bajuku tanpa memegang tanganku ke arah sofa yang sudah tersedia banyak dan selimut yang entah dari mana ia ambil bantal dan selimut itu.
" Tidurlah, saya yang jaga diluar, nanti kita gantian jagain Faridnya."
Ia berkata dan berlalu keluar ruangan. Karena aku mengantuk tak tertahankan, tak lama setelah itu aku tak mengingat apapun.
Sekitar jam 3 pagi, aku mendengar kang Farid mengerang kesakitan. aku terbangun dengan cepat dan spontan mendekat ke arah kang Farid, dan ternyata disana sudah ada Pa Abim yang sedang membetulkan posisi tidur kang Farid dan memperbaiki jarum infus yang ada disebelah kiri tangan kang Farid karena bengkak dan cairan infus tidak masuk.
" Akang, akang gak apa apa kan? " Aku berkata dengan nada khawatir dan serak khas bangun tidur.
" Maaf pa, bapak apain tuh ko bisa bengkak gitu tangan kang Farid? " lanjutku seperti menuduh pa Abim berbuat sesuatu ke kang Farid.
" Kamu apaan sih de, Pa Abim bantuin akang tadi, justru sekarang akang jauh lebih abik, pa Abim ini selain CEO perusahaan dia juga seorang dokter, jadi kamu jangan khawatir. "
" Maasya Allah, maafin saya pak. "
Aku meminta maaf dan kembali duduk di sofa. Karena merasa malu yang kesekian kalinya aku diam tak berbicara.
" Kamu gak tidur lagi? "
" kasian Bapak Belu tidur juga, bapak istirahat deh, biar saya yang jagain kang Farid. " Aku berdiri dan mempersilahkan Pa Abim untuk tidur di tempat tadi aku tertidur. Kau berjalan menuju kursi yang ada disebelah kana tempat tidur kang Farid dan duduk disana. Aku menoleh ke arah Pa Abim yang kini duduk di sofa namun ia tak tertidur dan malah menatapku dengan tajam tanpa kata. Aku yang ditatap intens seperti itu merasa risih dan bertanya.
" Ada apa pak, silahkan bapak istirahat saja, biar saya yang menjaga kang Farid. "
" kamu duduk disini." Pa Abim menunjuk sofa di hadapannya dan menyuruhku duduk disana. karena tidak sopan rasanya jika aku tidak menghiraukan ucapannya, aku duduk di sofa dan berhadapan dengannya dengan meja menjadi pembatas diantara kami.
" Saya yakin sekarang kamu tidak sedang tidur karena kamu belum meminum obat, dan tidak mungkin dalam keadaan seperti itu kamu bisa tidur tanpa bantuan obat, jadi saya mohon kalau kamu mendengar ucapan saya, kamu berikan tanda. " Pa Abim berkata dengan mata menatapku tajam, dan tak lama setelah itu kang Farid berdehem memberikan isyarat bahwa dia mendengar ucapan pa Abim.
" Kamu dengar Kakak kamu tidak sedang tidur, jadi teman saja kita tidak dalam posisi berkhalwat dan tolong dengarkan saya bicara. " Aku melihat wajah yang tegas dan serius dari pa Abim, Aura kepemimpinannya seakan keluar, aku tidak dapat berkata apapun dan hanya bisa mengangguk.
" Dalam beberapa tahun ini saya sudah mengenal kamu, walaupun tidak pernah bertemu langsung, dan baru bertemu satu Minggu yang lalu, tapi jujur saja, saya menyimpan dua foto kamu, satu ketika kamu masih sekolah, dan satu lagi ketika kamu sudah dewasa seperti ini, Dan dalam beberapa bulan ini saya sudah berusaha menata perasaan saya serta saya sudah berusaha sholat istikharah, dan itu semua semakin membuat saya yakin dan semakin ingin dekat sama kamu, Saya ingin kamu membuka hati kamu untuk saya, dan jika kamu merasa takut atau apapun itu yang disebabkan karena kebencian kamu terhadap ayah kamu, Tolong jangan lagi ada dendam didalam hati kamu untuk siapapun, karena itu akan menghalangi kamu untuk bahagia, siapapun laki laki yang kamu temui, jika kamu masih menyimpan dendam itu maka hubungan kamu tidak akan pernah berhasil. jadi tolong ikhlaskan segala apapun yang terjadi sama kamu, buka hati kamu untuk saya. " setelah pa Abim diam cukup lama, ku beranikan membuka mulutku untuk menjawab setiap ucapan pa Abim.
" Pertama, saya ucapkan terimakasih karena bapak dengan begitu terbuka menyatakan perasaan bapak kepada saya, terlepas itu bohong, main main atau memang benar adanya, saya ucapkan terimakasih, kedua bukan hak bapak menilai seberapa benci saya terhadap ayah saya, dan terhadap laki laki di luaran sana, saya tidak ada niatan untuk menikah ataupun menjalin hubungan dengan laki laki manapun, jadi tolong bapak tidak usah mencampuri urusan saya, dan silahkan cari perempuan yang memang betul-betul cocok untuk bapak, yang memiliki latar belakang keluarga yang lengkap dan baik, kaya, pintar dan bermartabat seperti bapak, saya bukanlah siapa siapa sehingga bisa bersanding dengan bapak." Aku hendak berdiri dan berniat meninggalkan ruangan itu, namun tanganku dicekal oleh tangan pa Abim dengan erat.
" Mau kemana kamu, mau menghindar lagi dari saya? tolong duduk dan kita selesaikan masalah ini sekarang." Ucap Pa Abim tanpa melepaskan genggamannya dari tanganku. Aku duduk kembali dan memang benar apa yang di katakan pa Abim, sampai kapan aku akan menghindarinya.
~ Bersambung ~