Bunyi Ayam berkokok menyambut datangnya pagi, karna di sekitar tetangga Sheila masih banyak terdapat tanah yang kosong, maka sebagian dari penduduk di sekitar itu banyak yang memeliha Ayam.
Sheila baru saja bangun dari tidurnya, udara pagi begitu sejuk, tak jarang Sheila berkeliling sekitar, hanya untuk berolah raga menyegarkan tubuhnya dan menikmati udara pagi.
Bunyi notivikasi ponsel terdengar, namun Sheila tidak menghiraukan bunyi itu, tapi rasa penasaran Sheila begitu kuat untuk membuka apa isi dari notivikasi itu.
Sheila terlonjak kaget, ketika mengetahui isi notivikasi itu adalah panggilan wawancara.
"Alhamdulillah," ucap Sheila berkaca-kaca.
Miranti yang mendengar teriakan Sheila segera berlari menghampiri anaknya.
"Ada apa Sheila, kenapa kamu teriak?" tanya Miranti yang masih memegang sendok wajan.
"Ma, Sheila ada panggilan kerja, Mama doain ya, semoga Sheila lolos wawancara nanti," ucap Sheila yang masih kegirangan.
"Sheila, Mama senang mendengarnya semoga kamu di terima kerja di sana ya Nak," ucap Miranti tampak matanya berkaca-kaca.
"Ma, nanti kalau Sheila sudah bekerja, Mama ngga perlu lagi jualan kue, biar Sheila yang membiayai semua kebutuhan Papa dan Mama!" tegas Sheila memeluk mamanya.
"Aamiin," ucap Sheila dan Miranti bersamaan.
"Sheila, maafkan Mama dan Papa, selama ini kami sudah banyak menyakiti perasaanmu, tapi kamu tidak pernah membalas semua perlakuan kami padamu," ucap Miranti mengelus rambut anaknya.
"Ma, aku ini anak Mama, mana mungkin aku menyakiti kalian," tutur Sheila tersenyum.
"Sheila ada ingin Mama tanyakan padamu, dan kamu harus menjawabnya dengan jujur dan dari hati nurani kamu!" ucap Miranti dengan tatapan sendu.
"Katakan saja Mama, Sheila akan jujur."
"Jika suatu saat nanti, Mama dan Papa mengecewakanmu, apa kamu akan meninggalkan kami?" tanya Miranti dengan perasaan yang sedih.
"Ma, Sheila ini adalah keluarga satu-satunya yang kalian punya, dulu kita banyak teman dan keluarga, tapi setelah Mama dan Papa bangkrut, mereka meninggalkan kita satu persatu. kita hanya berempat keluarga yang masih bertahan, tapi sekarang Kak Sony sudah mendekam di penjara akibat ulahnya sendiri, kini hanya ada Sheila yang menjaga Mama dan Papa, sampai kapan pun, Sheila tidak akan meninggalkan kalian," ucap Sheila dan membuat hati Miranti lega.
"Nak, sebenarnya ada satu rahasia besar yang selama ini Mama tutup-tutupi, dan itu adalah pertanyaan yang sering sekali kamu ajukan pada Mama."
"Rahasia?" tanya Sheila membelalakkan matanya.
"Ya anakku, rahasia mengenai Leonart suamimu."
Sheila sontak kaget dan terkejut mengenai pengakuan Miranti barusan padanya.
"Katakan Ma, Sheila sudah tidak sabar untuk mendengarnya."
"16 tahun yang lalu, saat itu Mama sedang hamil 4 bulan, dan bayi yang ada di dalam kandungan Mama itu adalah Adik kamu Nak, saat itu Mama sedang mengendarai sebuah mobil untuk ke dokter kandungan. Tapi di di tengah perjalanan, tiba-tiba rem Mama agak blong, dan saat itu ada seorang Wanita sedang mencari botol bekas, Mama sempat berhenti dan membuang botol air mineral bekas Mama minum saat di perjalanan, karna Mama terburu-buru untuk segera memeriksakan kandungan Mama, Mama sampai lupa jika Wanita itu masih berada di depan mobil Mama, dan akhirnya Mama menabrak Wanita itu sampai meninggal dunia," ucap Miranti bercucuran air mata.
"Lantas apa hubungannya cerita Mama dengan Leonart?" tanya Sheila terlihat gelisah, jantungnya berdegup dengan kencang, tak sanggup rasanya Sheila untuk menerima kenyataan.
"Wanita yang Mama tabrak adalah Ibu dari Leonart, Sheila," ucap Miranti menatap wajah putrinya.
Sheila terkulai lemas, mulutnya terbuka lebar, kedua telapak tangannya terbuka dan menutup mulutnya karna saking terkejutnya mendengar pengakuan Miranti barusan padanya.
"Tidaaaaak, ini tidak mungkin," teriak Sheila histeris.
"Ini semuanya benar Sheila, untuk itu Leonart sangat membenci Mama dan Papa, dan ia sudah berhasil membalaskan dendam orang tuanya pada Mama dan Papa."
"Wajar saja jika Leonart sakit hati pada Mama dan Papa, karna kalian sudah membunuh ibunya dan membuatnya jadi Yatim Piatu, kalau itu terjadi pada Sheila, maka Sheila akan melakukan hal sama pada kalian Ma," tangis Sheila kini pecah.
Sheila duduk dan terkulai lemas, perasaannya sekarang seakan sedang tercabik-cabik. Harapannya untuk kembali bersatu pada Leonart sudah pupus sudah, Sheila malu untuk menampakkan wajahnya pada Leonart. Kenyataan ini sangat menyakitkan.
"Sheila maafkan Mama Nak," ucap Miranti dan duduk di samping Sheila, air mata Miranti tak henti-hentinya keluar dari wajahnya yang sudah mulai menampakkan ketuaan.
"Sudahlah Ma, semuanya sudah terjadi, dan tak mungkin untuk di sesali lagi, mulai sekarang aku akan berusaha melupakan Leonart untuk selamanya, Sheila akan mengubur semua kenangan indah bersamanya, Sheila tidak pantas mendapatkan cinta dari anak yang telah membunuh orang tuanya," tutur Sheila dan berlari masuk ke kamarnya. Sheila mengunci kamarnya dari dalam, sehingga membuat Miranti tidak dapat masuk ke kamar Sheila.
"Sheila anakku, maafkan Mama dan Papa Nak!"
"Ma, tolong biarkan Sheila sendiri!!"
Miranti terkulai lemas di depan pintu kamar Sheila.
Kesedihan yang begitu mendalam di rasakan oleh Sheila, orang yang sangat ia cintai akan berusaha ia lupakan. Di dalam kamar Sheila berdiri dan membuka lemari pakaian. Diambilnya fhoto pernikahannya bersama Leonart, ia mengelus wajah Leonart yang ada di fhoto itu, ia tak henti-hentinya menangisi nasibnya yang sungguh malang ini.
Sheila menghapus air matanya kembali, ia lalu mengambil air wudhu lalu bersujud di hadapan Sang Pencipta, selama ini Sheila sudah meninggalkan sholat. "Mungkin ini hukuman bagiku ya Allah, ampuni aku atas kekhilafanku ," tangis Sheila dalam doa.
****
Hari ini adalah hari libur kantor, Leonart berencana akan mencari alamat di mana Sheila tinggal. Ronal adiknya ikut serta dengannya.
Dengan perasaan deg..deg, 'kan,leonart dan Ronal berangkat dan memulai pencarian mereka, di mana keberadaan Sheila sekarang.
Dengan bermodalkan keberanian dan alamat yang ada di CV Sheila mereka mencari sampai pada pinggiran kota.
"Kak, kamu serius untuk membawa pulang Kak Sheila ke rumah?" tanya Ronal ragu.
"Kalau ngga serius, ngapain juga aku harus mencari sampai ke pinggiran kota, aku bisa saja menyuruh orang lain untuk mencari alamat Sheila, tapi aku tidak melakukannya, karna aku ingin Sheila tahu kalau selama ini aku juga merindukan dirinya," ucap Leonart masih dengan pandangan matanya ke depan.
"Syukurlah kalau begitu, Ronal cuma takut kalau Kak Leonart tidak bersunggung-sungguh dengan ucapan Kakak."
"Memangnya aku terlihat seperi itu Ronal? aku melakukan semua itu karna aku punya alasan yang kuat, mereka telah membunuh Ibu sam......"
"Sudahlah Kak, jangan di teruskan lagi, kalau Kakak mengingat kejadian itu terus, Ronal takut Kak Leo jadi orang yang pendendam, toh mereka juga sudah mendapatkan ganjarannya," ucap Ronal memotong perkataan Leonart Kakaknya.
"Ya sudahlah, kita lanjudkan lagi pencarian kita, semoga saja cepat ketemu alamat yang kita cari.
Leonart dan Ronal telah tiba di pinggiran kota, sesuai dengan alamat yang Sheila cantumkan pada CV, lokasinya sudah dekat dengan jarak mobil mereka. Dari kejauhan terlihat seorang Ibu yang sudah berumur setengah baya, sedang menjajakan kue dagangannya. Leonart menghentikan mobilnya di depan warung itu. Namun baru saja Leonart akan membuka pintu mobilnya, ia sontak kaget melihat Wanita yang sedang menjajakan kue itu, Wanita itu sangatlah familiar bagi Leonart. Leonart mempertajam penglihatannya, dan benar saja, Leonart sangat mengenal Wanita itu, bahkan Wanita itu yang telah memisahkan dirinya dengan keluarga dan istrinya.
Ronal ikut memperhatikan Wanita itu, sama halnya dengan kakaknya, Ronal begitu terkejut saat mengetahui bahwa orang yang mereka cari sudah berada di depan mata. Leonart segera menjauh dari warung tempat mereka berhenti semula. Dari kejauhan mereka terus mengawasi gerak gerik Wanita itu. Berselang 20 menit kemudian muncul seorang Pria yang usianya sama seperti Wanita yang menjajakan kue tadi.
"Kak Leo, kemana Kak Sheila? sejak tadi kita menunggu di sini Kak Sheila belum juga muncul," Ronal sudah mulai tak tenang.
"Sabar Ronal, sedikit lagi kita akan mengetahui keberadaan Sheila!"
"Tapi Kak, dimana mereka tinggal? sedang rumah itu adalah sebuah warung kecil yang hanya cukup untuk menjual kue saja."
"Entahlah adikku, sungguh malang nasib mereka, aku sungguh prihatin dengan keadaan Sheila." Leonart tampak gelisah menanti pujaan hatinya. Hari sudah sore, namun Sheila tidak juga muncul, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali esok hari.