Sudah seminggu berlalu setelah Sheila menaruh lamarannya di Perusahaan Rian. Setiap hari Sheila selalu mengutak atik email yang ada di ponselnya , berharap ia akan mendapat panggilan dari Perusahaan itu.
Sore itu Sheila memandangi Sunset, ia teringat akan kehidupannya yang sangat menyedihkan, dulu orang tuanya sangat berkecukupan, namun sekarang semuanya sudah berbalik. Kadang Sheila sering bertanya pada dirinya sendiri, Mengapa Leonart sangat membenci kedua orang tuanya, sampai dirinya pun jadi korban dari pertikaian mereka, dan sampai saat ini Sheila tidak mengerti apa permasalahan mereka, Sheila merasa dunia ini tidak adil baginya.
Miranti memandangi Putri semata wayangnya, tanpa terasa matanya berkaca-kaca.
"Sheila, apa yang sedang kamu pikirkan anakku," tanya Miranti menghampiri putrinya.
Sheila menarik nafasnya dengan berat, lalu menoleh ke arah Miranti yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya.
"Sheila sedang meratapi nasib Sheila Ma, apa salah Sheila!! selama ini Sheila tidak pernah berbuat jahat terhadap orang lain, tapi mengapa suami Sheila sendiri mencampakkan Sheila begitu saja, dulu Leonart sangat mencintai Sheila, tapi entah kenapa Leonart jadi berubah, Leonart sangat membenci Papa dan Mama, Sheila tidak tahu apa sebenarnya permasalahan Leonart terhadap Mama dan Papa?" tanya Sheila gundah.
"Sheila anakku, yang lalu biarlah berlalu, tak perlu kamu ingat kembali." Mulailah hidup baru dan lupakan Leonart yang sudah membuat kita jadi menderita," jawab Miranti berusaha untuk tidak membicarakan masalah Leonart.
"Apa Mama tahu, kenapa Leonart sangat membenci kita? apa yang Papa dan Mama pernah lakukan pada Leonart, sehingga suami Sheila itu sampai sakit hati sedemikian rupa pada keluarga kita, jujur sampai detik ini Sheila tidak pernah mendapatkan jawaban itu."
Miranti menatap mata Sheila, apa sudah saatnya ia harus mengatakan pada Sheila jika 16 tahun yang lalu ia pernah menabrak seorang wanita sampai meninggal dunia, dan wanita itu adalah Ibu kandung Leonart, guman Miranti dalam hati.
Sheila memandangi wajah Miranti yang tiba-tiba terlihat murung, dari gurat wajahnya terlihat Miranti sedang menyimpan rahasia yang begitu besar yang enggan untuk ia ungkapkan lagi.
"Ma, tolong cerita sama Sheila, jangan membuat Sheila bertanya-tanya tanpa ada jawaban, jangan membuat Sheila selalu penasaran, Sheila berhak tahu, agar Sheila dapat melupakan leonart untuk selamanya!! Sheila tampak terisak, sesak di dadanya kini sudah tidak dapat ia tahan.
Miranti tidak menjawab pertanyaan Sheila, dadanya terasa sangat berat mendengar apa yang di katakan putrinya barusan, ia berbalik dan meninggalkan Sheila lalu masuk ke kamarnya. Miranti berusaha untuk menggapai tempat tidur dan memegang bagian ujungnya. Tangis Miranti kini pecah.
Suryo yang sedang mencari istrinya, merasa heran mendapati Miranti yang sedang menangis.
"Ada apa Miranti?" tanya Suryo mengelus rambut istrinya dengan lembut.
"Pa, sudah satanya kita harus menceritakan semuanya pada Sheila, Mama kasihan sama Sheila, dia berhak untuk tahu, Mama sudah tidak tahan lagi untuk menyimpan rahasia besar ini pada Putri kita," ucap Miranti memohon pada suaminya.
"Ma, kita harus mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semua ini pada Sheila, Papa tidak mau Sheila ikut membenci kita jika tahu yang sebenarnya," tutur Suryo menarik nafasnya dengan berat.
****
Leonart baru saja sampai di rumahnya, begitu pula adiknya Ronal. Leonart terlihat sangat letih, ia langsung masuk ke kamarnya. Ronal merasa heran melihat sikap kakaknya yang terlihat murung dan sedih. Ronal mencoba untuk menanyakan pada Leonart, ia mengetuk pintu kamar kakaknya.
Tok..tok.
"Kak Leo, apa boleh Ronal masuk ke kamar Kakak?" tanya Ronal dengan lembut.
"Masuk saja Ronal, pintunya ngga di kunci!" jawab Leonart sembari berbaring di atas tempat tidurnya.
Ronal kemudian masuk ke kamar Leonart dan duduk di samping Leonart yang sedang berbaring.
"Kak Leo, maaf kalau Ronal lancang menanyakan pada Kakak. Ronal sampai detik ini tidak mengerti mengapa Kak Leonart tidak pernah mencari keberadaan Kak Sheila, di sisi lain Ronal tahu kalau Kak Leo masih sangat mencintai Kak Sheila."
"Ronal, tadi Kakak bertemu dengan Kak Sheila, tapi Kak Sheila tidak melihat Kak Leo, dia begitu lusuh dan sangat menderita, Kak Leo sangat menyesal memperlakukan Sheila seperti itu, padahal Sheila tidak tahu apa-apa mengenai masalah Kak Leo dengan kedua orang tuanya," ucap Leonart dengan lirih.
Ronal sekarang mengerti apa yang membuat wajah kakaknya begitu sedih saat pulang ke rumah. Dan Ronal pun tersenyum dan membuat Leonart keheranan melihat adiknya tiba-tiba tersenyum.
"Kak Leo masih sangat cinta kan pada Kak Sheila? kenapa Kak Leo tidak mengajak Kak Sheila ke rumah kita, toh Kak Sheila masih istri sah Kak Leo?" tanya Ronal
"Suatu saat Kak Leo akan mengajak Sheila ke rumah kita ini, tapi apa Sheila mau kembali ke rumah ini dan meninggalkan kedua orang tuanya, setelah apa yang Kak Leonart lakukan padanya?" tanya Leo sambil memeluk gulingnya dengan erat.
"Kak, saran Ronal Kak Leo harus secepatnya menjemput Kak Sheila sebelum semuanya terlambat," ucap Ronal menasehati Leonart.
"Baiklan Ronal, terima kasih kamu sudah mengkhawatirkan kakakmu ini."
"Aku hanya tidak ingin melihat Kakak, menyakiti hati seorang Wanita yang tidak berdosa, hanya karna kejadian di masa lalu yang sudah merupakan takdir yang harus kita jalani, semoga Ibu tenang di atas sana Kak," tutur Ronal dengan mata berkaca-kaca mengingat mendiang Ibu mereka yang sudah lama tiada.
Ronal meninggalkan leo yang masih saja berbaring dan memikirkan langkah apa yang akan ia tempuh untuk menjemput kembali Sheila kembali kedalam pelukannya.
Leonart masih memikirkan kata-kata Ronal barusan padanya, sebelum semuanya terlambat Leo akan segera menjemput Sheila, tapi bagaimana dengan kedua orang tua Sheila, apa mereka mengizinkan Sheila, setelah apa yang telah ia lakukan selama ini pada mereka? guman Leo dalam hati. Kepala Leo terasa mau pecah mengingat semua kejadian yang selama ini yang ia alami, balas dendamnya sudah terlaksana, tapi hati Leo masih merasa tidak tenang, karna ada satu hati yang tersakiti atas ulah Leo. Leo berusaha untuk melupakan semua itu namun wajah Sheila selalu terbayang, wajah yang begitu cantik, namun sekarang terlihat begitu lusuh dan tidak terurus.
Leo terburu-buru keluar dari rumah mewahnya, ia menuju parkiran mobil dan masuk ke dalam mobilnya, ia lalu meninggalkan rumahnya menuju Perusahaan Rian. Tujuan Leo adalah untuk melihat CV Sheila, karna di CV itu pasti ada tertera alamat Sheila. Leo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia berharap agar cepat sampai di kantor Rian.
Saat sampai di kantor Rian, Leo bergegas masuk ke dalam ruangan Rian, yang saat itu Rian baru saja tiba, dengan jantung berdegup kencang, Leo menanyakan pada Rian mengenai alamat Sheila yang ada di CV itu.
"Pak Rian, anda masih menyimpan CV istriku Sheila?" tanya Leo dengan nafas ngos-ngosan.
"Tentu saja aku masih menyimpannya, memangnya ada apa dengan CV itu, Leo?"
"Ada sesuatu yang aku cari Di CV itu Rian, di CV Sheila pasti ada alamat lengkap Sheila."
"Kamu berniat untuk menemui Sheila, setelah sekian lama kamu mencampakkan dia, apa Sheila masih mau menerimamu Leonart?" tanya Rian menatap mata Leonart.
Leonart terdiam sejenak, apa yang di ucapkan Rian barusan membuat Leonart tersadar, selama ini dia sangat egois.
Rian menghampiri Leonart, ia memberikan CV Sheila yang di ambilnya dari dalam lemari.
"Ambil CV ini, kalau memang kamu sungguh-sungguh untuk mencari Sheila, lakukan Leo, sebagai sahabatmu aku turut prihatin padamu."
Leo mengambil Dokumen Sheila, ia lalu membuka CV itu, dan betapa terkejutnya Leo ketika mengetahui jika Sheila tinggal di daerah pinggiran kota, bagaimana Sheila menjalani semua ini, wajah Leo berubah muram, selama ini dia sudah tidak berlaku adil pada Sheila, dendamnya telah membutakan mata hatinya pada Wanita yang di cintainya. " Maafkan aku Sheila sudah menyakitimu dengan sedemikian rupa," ucap Leo dalam hati.