Leonart dan Ronal akhirnya pulang tanpa membawa hasil, namun mereka tak patah semangat, esok hari mereka akan kembali lagi ke tempat di mana Mama dan Papa Sheila berjualan kue.
Sebelum Miranti menjajakan kue buatannya, Leonart telah sampai di depan warungnya. Setengah jam kemudian Seorang Wanita cantik keluar bersama ibunya, satu tangannya sedang memegang keranjang kue dan satunya lagi menenteng tas kecil, sepertinya ia akan pergi. Dari pakaian yang di kenakannya terlihat rapih, namun gurat wajahnya masih tampak sedih dan muram.
Leonart menajamkan matanya memandang Gadis itu, sontak saja Leonart kaget, ternyata Wanita itu adalah istrinya Sheila. Sheila membantu mamanya membuka pintu warung, ia kemudian mengatur kue itu dengan rapih. Tak lama kemudian ia pamit pada Miranti mamanya.
"Ma, Sheila berangkat untuk wawancara, doakan Sheila ya Ma, semoga Sheila di terima di perusahaan itu," pamit Sheila pada mamanya.
"Hati-hati Nak, ini Mama ada uang buat ongkos taksi, jangan naik bis biar kamu ngga telat sampai di tempat wawancara itu," tutur Miranti dan merogoh saku bajunya, ia mengeluarkan uang seratus ribuan dua lembar.
"Ma, Sheila naik bis saja, uangnya Mama simpan saja buat nambah modal buat jualan kue, kita harus menghemat, nanti kalau Sheila sudah di terima bekerja, mama ngga perlu jualan kue lagi!" ucap Sheila mencium punggung tangan Miranti.
"Nak, pakai saja uang itu, hari ini adalah hari pertama kamu wawancara, kamu harus terlihat rapih, nanti kalau kamu naik bis, baju kamu akan terlihat lusuh." ucap Miranti dan di balas anggukan oleh Sheila.
Betapa hancur hati Leonart menyaksikan semua itu di hadapannya. Semua percakapan Sheila dan Miranti, Ronal dan Leonart mendengarnya.
Sheila berdiri di pinggiran jalan, sambil menunggu taksi yang lewat, beberapa taksi ada yang lewat tapi sudah ada penumpang di dalamnya, sepuluh menit berlalu, taksi yang kosong akhirnya berhenti juga setelah Sheila melambaikan tangannya.
Di belakang taksi yang di tumpangi Sheila, ada mobil Leonart. Mereka mengikuti Sheila dari belakang taksi itu. Sheila tidak mengetahui jika taksi yang di tumpanginya sedang di ikuti oleh suaminya.
Setengah jam kemudian, taksi itu berhenti di sebuah gedung berlantai sepuluh. Sheila turun dari dalam taksi setelah membayar ongkos taksi. Sheila berjalan dengan cepat agar tiba di kantor itu dengan tepat waktu.
Leonart memperhatikan kemana tujuan Sheila, dan betul saja dugaan Leonart. Sheila berhenti di depan kantor Rian sahabatnya.
Leonart meraih benda pipih yang ada di saku bajunya. Leonart sedang mengutak atik kontak yang akan ia hubungi.
"Hallo Rian, pastikan kalau Sheila di terima di perusahaanmu, dan jangan membuat dia curiga, lakukan presedurnya sama dengan pelamar yang lain, thanks ya Rian."
"Ok Leo, aku akan menepati janjiku padamu."
Leonart menaruh kembali ponselnya setelah menghubungi Rian. Ronal tersenyum saat melihat kakaknya begitu mengkhawatirkan Sheila.
"Kalau masih cinta, cepat temui Kak Sheila, ngga perlu gengsi, kasihan Kak Sheila sampai harus menderita karna ego Kak Leo!"
"hush, tau apa kamu tentang cinta Ronal? kamu sendiri saja sampai saat ini belum menemukan Wanita yang kamu cintai, jangan mengajari aku kakakmu tentang cinta."
"Lalu sampai kapan kita harus menunggu Sheila di sini, lebih baik kita kembali ke kantor, masih banyak kerjaan yang belum Ronal selesaikan," ucap Ronal tak sabar lagi.
"Sabar sedikit kenapa sih Nal!" Leonart menoleh ke arah adiknya.
"Jika Kak Leo mau menemui Kak Sheila, maka temui dia saja sendiri, Kak Leonart harus gentleman, ini masalah kak Leo dengan Kak Sheila, kalian harus menyelesaikannya sendiri."
"Aku harus mencari waktu yang tepat untuk menemuinya. Kami sudah lama tak bertemu, walaupun Sheila masih istriku, aku ragu jika dia mau menerimaku kembali, setelah apa yang aku lakukan pada keluarganya."
Leonart perlahan-lahan mengemudikan mobilnya menuju kantor Ronal, Leonart menyalakan tape yang ada di dalam mobilnya, Ronal menggoyang-goyangkan kepalanya, mengikuti iringan musik. Terdengar lagu Iwan fals menyanyikan judul lagu Bento, sesekali Ronal bersenandung. Leonart terdiam saat mengemudi, pikirannya entah kemana, Wajahnya terlihat gusar.
"Kak." teriak Ronal, tanpa Leonart sadari ia sudah melewati kantor adiknya Ronal. Leonart segera me-rem mobilnya, dan tak ayal lagi Ronal terhempas dengan kasar ke jok mobil.
"Kak Leo melamun ya?" tanya Ronal terlihat kesal.
"Maaf Nal, aku sedikit ngga fokus, pikiranku terus saja membayangkan wajahSheila."
"Ya sudah, biar Ronal saja yang nyetir mobil, Kak Leo bisa istrahat di samping Ronal," ucap Ronal mengambil alih kemudi, kemudian ia memutar balik arah menuju kantornya.
Leonart tampak memegang kepalanya yang terasa pening, sejak kemarin ia belum istrahat dengan baik, ia merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan Ronal. Ronal segera mengambil air putih di dalam kulkas, lalu diberikannya kepada kakaknya yang sedang berbaring di sofa.
"Minumlah Kak!" Ronal menyodorkan segelas air putih.
"Thanks Nal, apakah kamu punya obat penghilang rasa sakit kepala?" tanya Leonart yang sudah tidak tahan lagi dengan sakit di kepalanya.
"Baik Kak, Ronal akan mengambil obatnya di kotak obat, semoga saja obatnya masih ada!"
Ronal bergegas mengambil obat penghilang sakit kepala, lalu di berikannya pada Leonart yang masih meringis.
Setelah meminum obat yang di berikan oleh Ronal, Leonart kini tertidur. Ronal menatap wajah kakaknya dengan rasa kasihan. Ronal merasa sangat terharu, selama ini ia hidup hanya berdua dengan kakaknya setelah kepergian pamannya Wira. Banyak sudah yang mereka alami. Dan Leonart adalah keluarga satu-satunya yang Ronal miliki. Leonart adalah Ayah sekaligus Ibu buat Ronal, untuk itu ia sangat menghargai dan menghormati kakaknya itu. Diam-diam Ronal meneteskan air mata.
Tak terasa hari sudah malam, Ronal membangunkan perlahan-lahan kakaknya, Leonart tertidur selama tiga jam di sofa itu.
"Kak Leo bangun, hari sudah malam, sebaiknya kita pulang ke rumah," ucap Ronal dengan hati-hati.
Leonart menggeliat, di rentangkan tangannya yang terasa kaku, matanya tertuju pada jendela kantor yang sudah terlihat gelap di luar sana.
"Ronal, kenapa tidak bangunkan aku?" ucap Leonart sembari duduk dan mengucek matanya.
"Aku ngga tega bangunkan Kakak, Kak Leo begitu pulas tidurnya."
"Kita pulang sekarang Kak, biar Ronal yang menyetir mobilnya!"
"Baiklah Nal, Kak Leo masih sangat mengantuk."
Baru saja mereka akan menaiki mobil, bunyi suara perut Leonart terdengar, Leonart memegang perutnya yang terasa keroncongan.
Ronal tertawa saat melihat Leo memegang perutnya.
"Sepertinya kita harus mencari restoran dekat sini, perut Kakak berbunyi pastinya kak Leo sudah lapar," ucap Ronal lalu mulai menjalankan mobilnya mencari restoran.
Leonart memalingkan wajahnya ke jendela, ia sedang menikmati indahnya kota jakarta di malam hari, Ronal membelokkan mobilnya ke sebuah restoran.
Leonart makan dengan lahap, sejak tadi perutnya meronta-ronta minta untuk diisi. Ronal tersenyum melihat Leo makan dengan lahap. Ronal menoleh ke arah kasir untuk meminta list pembayaran makanan yang mereka pesan, tanpa sengaja Ronal menoleh ke arah pintu masuk restoran. Seorang Wanita baru saja masuk bersama temannya. Ronal mengamati Wanita itu, sepertinya wajah Wanita itu sudah tak asing lagi bagi Ronal.
"Tapi benarkah Wanita itu adalah orang yang Ronal kenal, tapi sekarang kenapa wajahnya begitu cantik, di banding dulu dia begitu lugu dan pendiam?" guman Ronal dalam hati. Leonart memperhatikan mimik wajah Ronal yang berubah, seperti sedang berusaha mengingat sesuatu.
"Ada apa Ronal?" tanya Leonart saat melihat Ronal, pandangannya tak bergeming melihat ke arah Gadis itu.
"Kak, lihat Gadis itu! sepertinya aku mengenal dia, tapi di mana." Ronal berusaha untuk mengingat-ingat.
"Sejak kapan kamu mengenal seorang Wanita? selama ini kakak tidak pernah melihatmu dekat dengan seorang gadis," ucap Leonart dan tersenyum seakan meledek adiknya yang susah dekat dengan Wanita.
Wanita itu melewati meja tempat Leonart dan Ronal makan, matanya lurus ke depan, ia terlihat anggun dan mempesona. Ronal tertegun melihat Gadis cantik itu, mungkin ini yang di namakan jatuh cinta pada pandangan pertama, pikir Ronal sembari tersenyum.
Tiba-tiba ada suara yang begitu mengagetkan Ronal, Wanita itu menghampiri meja mereka dan menyapa Ronal.
"Hai, bukankah kamu Ronal?" tanya gadis itu tersenyum.
Ronal tidak langsung menjawab sapaan gadis itu, ia menoleh untuk melihat siapa yang telah menyapanya barusan. Pandangan mereka bertemu, Ronal mengamati wajah cantik Gadis itu sehingga lupa jika ada beberapa mata yang sedang menyaksikan adegan itu.
"Hmmmmm," Leonart tersenyum saat melihat adiknya menatap gadis itu masih pada posisi yang sama, tak bergeming.