Dengan perasaan sedih dan campur aduk, Sheila meninggalkan rumah suaminya, ia kemudian menuju ke suatu tempat, seperti yang ia katakan pada mamanya Miranti. Sheila melajukan mobilnya menuju Salon, tempat ia selama ini mempercantik dirinya. Sudah dua bulan ini Sheila tidak pernah ke Salon, ia hanya selalu berada di dalam rumah dengan tekanan yang di berikan oleh orang tuanya.
Sheila berhenti di sebuah Salon kecantikan, ia memarkir mobilnya terlebih dahulu kemudian keluar dan menemui Recepsionis salon.
Setelah satu jam mempercantik dirinya, Sheila pun kembali ke rumah, Miranti sejak tadi menunggu kedatangan putrinya. Sebelum suaminya pulang ke rumah, Sheila sudah harus berada di rumah, kalau saja Sheila belum kembali ke rumah, suaminya pasti akan marah besar padanya dan seisi rumah.
Sheila berjalan dengan gontai, pikirannya saat ini sedang kalut, hari ini ia belum juga mendapatkan apa yang ia inginkan. Penyelidikannya hari ini pun tidak membuahkan hasil. Miranti menatap Sheila dengan penuh selidik, ternyata yang Miranti takutkan tidaklah terjadi, Sheila tidak membohonginya, Sheila benar-benar pergi ke Salon, potongan rambutnya yang baru pun sudah menjadi bukti bahwa putrinya dapat ia percayai.
Suryo baru saja kembali dari perusahaannya, wajahnya begitu lelah. Tidak seperti biasanya, setelah Suryo pulang ke rumah, tempat yang akan suryo tuju adalah kamar putrinya Sheila, namun kali ini Suryo merebahkan tubuhnya di sofa, sambil memijit kepalanya yang terasa sakit sekali. Miranti ke dapur untuk mempersiapkan teh hangat untuk suaminya.
"Pa, mengapa wajahmu begitu lusuh, apa yang terjadi?"
"Perusahaan kita tidak lama lagi akan Gulung Tikar, Miranti. Aku harus mencari kemana lagi untuk menambah modal Perusahaan kita, sedang dulu teman yang sering membantuku kini menjauhiku, satu persatu mereka meninggalkanku," ucap Suryo dengan tatapan kosong.
"Kita sudah kehilangan segalanya, semua ini karna menantu sialan itu, dia telah mengambil alih semua Investor yang menanam saham padaku, dan kini mereka berpaling semua pada Leonart." Suryo menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Miranti terdiam mendengar perkataan suaminya, di benaknya menyisakan tanda tanya besar, apa sebenarnya yang Leonart rencanakan untuk keluarganya.
Miranti semakin yakin, jika Leonart adalah anak dari Wanita yang pernah di tabraknya. kini anaknya telah dewasa dan akan membalas dendam pada keluarganya, seketika bulu kuduk Miranti merinding. Kalau memang apa yang di pikirkannya benar, berarti mereka dalam bahaya.
Miranti beranjak dari duduknya, ia lalu duduk di samping Suryo.
"Pa, Mama jadi curiga dengan Leonart, Papa ingat ngga, wanita pemulung yang pernah aku tabrak 15 tahun yang lalu, jangan-jangan Leonart adalah anak kandung dari wanita itu." Seketika Suryo terlonjak kaget, apa yang di katakan istrinya bisa saja benar, sebab beberapa bulan yang lalu, saat mereka menemui Leonart di rumahnya, Leonart pernah mengatakan pada mereka jika dia tidak akan membiarkan orang yang telah membunuh orang tuanya hidup dengan tenang.
Tiba-tiba Sheila keluar dari kamarnya, ia menghampiri papa dan mamanya, mendengar papa dan mamanya sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting, Sheila berniat untuk ikut mendengarkan, namun Suryo dan Miranti terdiam ketika melihat Sheila tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Ada apa Ma, kok diam? bukannya Papa dan Mama sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting, boleh Sheila ikut mendengarkan?" tanya Sheila yang sudah mulai curiga dengan sikap mamanya yang tidak seperti biasanya bersikap acuh pada Sheila.
"Sheila, kembalilah ke kamarmu, kamu tidak perlu mendengarkan apa yang sedang kami bicarakan, dan ini bukan urusanmu!"
"Apa ini menyangkut suami Sheila?" tanya Sheila secara tiba-tiba.
"Sheila lupakan dia, jangan pernah menyebut namanya lagi."
"Bagaimana mungkin Sheila bisa melupakan Leonart, dia adalah suami Sheila Ma, dia belahan jiwa Sheila, Mama dan Papa begitu tega memisahkan kami."
"Tutup mulutmu Sheila, Mama sudah tidak mau mendengarkan ocehanmu lagi, jangan pernah menyebut nama dia lagi di hadapanku, mengerti kamu Sheila!" Miranti begitu sangat marah pada Sheila.
Sheila berlari menuju kamarnya, dadanya begitu sesak, tanpa pikir panjang ia menjauh dari kedua orangnya.
Sheila berlari ke kamarnya, di rebahkannya tubuhnya di atas kasur sambil memandang langit-langit kamarnya. Mama Miranti yang Sheila harapkan dapat membantunya, kini tak sama ubahnya sikapnya seperti papanya. Kemana lagi Sheila harus mengadu agar ia dapat bersatu lagi dengan Leonart
Miranti tiba-tiba muncul di depan pintu Sheila, ia menatap tajam pada putrinya.
"Untuk apa kamu menharapkan Leonart kembali padamu, mungkin saja dia sudah bersama dengan Eanita lain, dan diam-diam selingkuh di belakangmu," ucap wanita setengah baya itu, wajahnya masih terlihat cantik walau usianya sudah mulai senja.
Sheila mengambil bantal dan menutup kupingnya dengan bantal itu, ia sudah tidak tahan lagi mendengarkan apa yang di ucapkan oleh mamanya. Sudah terlalu banyak penderitaan yang mereka berikan pada Sheila sehingga Sheila sudah enggan untuk mematuhi setiap ucapan orang tuanya. Dari kecil Sheila bagaikan robot yang siap dengan remot controlnya.
Miranti merasa kesal karna Sheila tidak mendengarkan ucapannya barusan, Miranti menganggap jika Sheila sudah tergila-gila pada Leonart.
"Suatu saat kamu akan menyesal Sheila."
"Cukup Ma, selama ini Sheila selalu menurut apa kata Mama dan Papa, Sheila sudah dewasa, tolong Mama dan Papa dengarkan pendapat Sheila juga, aku masih punya hati Ma, bukan robot yang seenaknya dapat di perintah apa saja," ucap Sheila menatap tajam pada Miranti.
Miranti segera meninggalkan Sheila yang kini telah berurai air mata.
Sheila diam dengan seribu bahasa, ia sedang memikirkan sesuatu, Sheila akan mencari cara untuk dapat membuktikan penyelidikannya. Dari awal ia menikah dengan Leonart, kedua orang tuanya sudah menolak keberadaan suaminya, entah apa alasannya, Sheila sampai saat ini belum tahu.
Selama ini Sheila sangat menghormati kedua orang tuanya, walaupun ia sangat kesal dengan mamanya, ia tak pernah melawannya, rasa hormatnya pada wanita yang sudah melahirkannya terlampau tinggi, namun untuk urusan masa depannya, Sheila kini jadi banyak berubah. Sheila memijit alisnya, kepalanya terasa pening.
"Sampai kapan semua ini berakhir, aku sudah tidak sanggup lagi menghadapinya," guman Sheila pada dirinya sendiri.
Dalam keadaan perut yang kosong, karna sejak dari salon tadi Sheila belum juga makan satu pun makanan, ia akhirnya tertidur karna sudah lelah memikirkan nasibnya yang tak pernah bahagia.
****
Leonart kini bukanlah Leonart yang dulu, perlahan-lahan rasa empatinya berangsur-angsur hilang. Di hatinya hanya ada satu, yaitu membalaskan dendam orang tuanya. Kedua orang tuanya selalu mendapat hinaan karna keadaan mereka yang miskin, karna kemiskinan mereka sampai-sampai tidak ada yang mau menolong mereka, ketika ibunya tertabrak sebuah mobil milik seorang konglomerat. Sakit hati Leonart jika megingat masa lalunya yang begitu kelam. Saatnya ia dan adiknya Ronal bangkit untuk membalas mereka yang telah meremehkannya dulu.
Leonart sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk membuat Perusahaan Suryo Gulung Tikar, orang-orang yang dulu dekat dengan Suryo kini satu persatu meninggalkannya, dan bergabung dengan perusahaan Leonart. Saham yang mereka tanam di perusahaan Suryo, sudah mereka tarik dan memindahkan ke perusahaan Leonart. Leonart akan membalas Suryo secara halus, ia akan membuat Suryo jatuh miskin seperti kedua orang tuanya dulu, sehingga tak satu pun orang dapat menghargai mereka, dan mereka harus merasakannya.
Suryo sangat frustasi, keadaannya kini telah berubah, satu persatu aset yang di milikinya pun sudah di jual untuk menutupi keuangan perusahaannya yang sudah di ambang kebangkrutan.
Nama Leonart semakin di kenal di kalangan bisnisman, perusahaannya kini telah bertambah satu lagi, dan adiknya Ronal yang menjadi CEO di perusahaan itu.