Tekat Sheila sudah bulat, ia akan menyelidiki mengapa Leonart tiba-tiba memberikan talak padanya, rahasia apa di balik semua ini.
Sheila memulai penyeledikannya dari suami
nya terlebih dahulu, walaupun Leonart sangat membencinya, namun ia akan tetap menemui Leonart.
Dengan setelan celana Jeans dan kaos oblong warna Krem, Sheila memoles wajahnya dengan make up tipis dan natural. Ia berjalan menyusuri anak tangga ke lantai bawah rumahnya, ia lalu meraih sebuah kunci mobil Sedan Hitam dan melangkahkan kakinya ke luar rumahnya dan menghampiri sebuah mobil Sedan miliknya, yang sudah lama tak di pakainya semenjak dirinya tak pernah keluar rumah karna perintah papanya.
Baru saja ia akan beranjak pergi, tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya.
"Sheila mau kemana kamu?" tanya Miranti dengan langkah kakinya yang cepat agar dapat mengejar putrinya.
Sheila menoleh dan menghentikan langkahnya, ia berusaha untuk tersenyum agar Mamanya tidak curiga padanya.
"Sheila bosan di rumah Ma, Sheila mau ke salon sebentar, sudah lama Sheila tidak merapihkan rambut Sheila," jawab Sheila berusaha menutupi kegugupannya.
Tanpa rasa curiga Miranti kemudian mengizinkan Sheila untuk pergi. Dengan rasa lega Sheila segera naik ke mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia segera sampai di rumah Leonart suaminya.
Sheila memasuki sebuah rumah Minimalis yang bernuansa cat Hitam Putih, rumah itu tampak elegan namun sangat sepi.
Sheila membuka pintu mobilnya, ia lalu turun dan mengamati sekitar rumah itu, tanamannya begitu tertata rapih dan indah di pandang mata.
Sheila menghampiri pintu rumah utama untuk masuk ke dalam rumah itu, ia lalu memencet bel rumah Minimalis itu.
Terdengar ada suara kaki menghampiri pintu utama, sesosok Wanita setengah baya keluar dan mempersilahkan Sheila masuk.
"Eh nyonya Sheila, silahkan masuk Nyonya," ucap Bik Inah dengan sopan.
"Terima kasih Bik, ada tuan Leonart?" tanya Sheila dengan sopan.
"Tuan baru saja pergi Nyonya, sepertinya sangat buru-buru, kata tuan Leonart ada meeting penting hari ini," jawab Bik Inah dengan senyuman khasnya.
"Kalau tuan Ronal, apakah saya bisa menemuinya Bik Inah?" tanya Sheila dengan raut wajah kecewa setelah mengetahui Leonart tidak berada di rumah saat ini.
"Kalau tuan Ronal ada Nyonya, ia masih di kamarnya," jawab Bik inah sambil menunjuk sebuah kamar.
"Bik saya bisa minta tolong pada Bik Inah, tolong panggilkan tuan Ronal, katakan saja jika saya ingin menemuinya!"
"Baik Nyonya Sheila, dan Nyonya mau minum apa? biar sekalian saya siapkan," ucap Bik Inah menawarkan minuman buat istri majikannya itu.
"Terima kasih Bik, tak perlu repot-repot, aku cuma hanya sebentar kok," ucap Sheila tersenyum dan di balas senyuman pula. Bik Inah segera beranjak dari ruang tamu menuju kamar Ronal.
Tok..tok..tok
"Siapa?" tanya Ronal dari dalam kamarnya.
"Ini Bik Inah tuan Ronal," ucap Bik Inah dengan suara yang pelan.
"Ya ada apa Bik?" tanya Ronal lagi.
"Tuan, Nyonya Sheila ingin menemui tuan Ronal," jawab Bik Inah dan masih menanti jawaban dari adik majikannya itu.
Ronal membuka pintu kamarnya, terlihat Bik Inah masih menunggunya.
"Terima kasih ya Bik, saya akan menemui Kak Sheila sekarang juga," ucap Ronal dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu untuk menemui Sheila yang masih menunggunya di sana. Bik Inah segera ke dapur menyiapkan minuman untuk Sheila.
"Hai Kak Sheila apa khabar?" tanya Ronal tersenyum ketika ia sudah berada di ruang tamu kemudian duduk berhadspan dengan Sheila.
"Khabar baik Ronal, bagaimana dengan dirimu dan Leonart?" Sheila balik bertanya pada Ronal.
"Baik Kak, oh ya Kak Sheila kesini mau menemuiku atau mau menemui Kak Leonart?" tanya Ronal penuh selidik.
"Sebenarnya maksud kedatangan Kak Sheila kesini untuk menemui Leonart kakakmu, tapi Kata Bik Inah Leonart sedang tidak berada di rumah, ya sudah kamu pun tak apa-apa," jawab Sheila menundukkan wajahnya.
"Kak Sheila sekarang kurusan, apakah Kak Sheila baik-baik saja?" tanya Ronal mengamati Sheila dengan perasaan sedih.
"Iya Ronal, Kak Sheila sekarang kurusan, sebenarnya kedatangan Kak Sheila kemari adalah ingin menanyakan sesuatu pada kakakmu, tapi Leonart tidak ada di sini, Kakak boleh bertanya padamu Ronal, apakah kamu tidak keberatan?" tanya Sheila dengan hati-hati, ia takut Ronal tersinggung dengan pertanyaan yang akan dilontarkannya pada Ronal.
"Silahkan Kak, Ronal akan menjawabnya dengan senang hati," jawab Ronal membuat Sheila agak lega.
"Ronal, Kak Sheila mau bertanya, pernah ngga Kak Leonart cerita padamu tentang orang tua Kak Sheila?" tanya Sheila merapihkan letak duduknya.
"Tentang apa Kak Sheila?" tanya Ronal menaikkan alisnya.
"Ronal, aku tidak mengerti mengapa kedua orang tuaku dan Leonart saling bermusuhan, mereka tidak pernah akur selama ini, dan aku sama sekali tidak mengetahui permasalahannya apa, aku bingung harus berbuat apa, di satu sisi aku sangat mencintai suamiku, di sisi lain aku sangat menghormati kedua orang tuaku," ucap Sheila berhenti sejenak untuk menarik nafasnya dengan kasar.
Ronal mendengarkan semua perkataan Sheila, ia merasa kasihan terhadap Kakak Iparnya itu, sepertinya ia sangat tertekan sekali.
"Kak Sheila, aku juga bingung mengapa Kak Leonart bersikap tidak senang dengan kedua orang tua Kak Sheila, Ronal sarankan Kak Sheila menanyakannya langsung pada Kak Leonart, mungkin Kak Leonart bisa menjelaskannya pada Kak Sheila," tutur Ronal dan menatap wajah Kakak Iparnya itu.
"Ronal, aku bisa minta tolong padamu untuk menanyakan hal ini pada Leonart, aku jadi ragu dan takut kecewa jika aku sendiri yang menanyakannya pada Leoart, ia sangat
membenci diriku!" ucap Sheila.
"Baiklah Kak, aku tidak berjanji pada Kak Sheila, tapi aku akan berusaha untuk menanyakan semua permasalahan itu pada kakakku, dan Kak Sheila tidak perlu cemas karna Kak Leonart pun masih sangat mencintai Kak Sheila, jadi jangan Kak Sheila beranggapan jika Kak Leonart membenci Kak Sheila, Kak Leonart hanya butuh waktu untuk menata hatinya.
Bik Inah muncul dengan membawa nampan berisi teh manis hangat dan sepiring cemilan.
"Nyonya silahkan di minum tehnya, mumpung masih hangat," ucap Bik Inah kemudian berlalu meninggalkan Ronal dan Sheila yang terhenti sejenak pembicaraan mereka ketika melihat Bik Inah ada di hadapan mereka.
"Silahkan di ninum tehnya Kak Sheila," ucap Ronal menunjuk secangkir teh yang ada di atas meja.
"Terima kasih Ronal, Kak Sheila tidak akan berlama-lama di sini, baiklah Kakak pamit dulu, sampaikan salam Kak Sheila untuk Leonart," ucap Sheila lalu meminum teh manis yang sudah di siapkan oleh Bik inah, kemudian ia berdiri untuk berpamitan pada Ronal. Ronal mengangguk dan menemani Sheila untuk menuju parkiran. Ada rasa sedih melihat pernikahan kakaknya dengan Kakak Iparnya, mereka masih sangat saling mencintai, namun karna dendam antara kakaknya dan kedua orang tua Sheila, dan yang menjadi korbannya adalah kak Sheila yang tidak tahu apa-apa, sungguh miris Ronal melihat semua itu.