Sudah seminggu Sheila di rawat di rumah sakit, dan hari ini sudah di perbolehkan untuk pulang. Bik Ijak mengemasi semua barang Sheila untuk di bawa pulang, setelah Suryo selesai membayar semua biaya rumah sakit Sheila, mereka pun kembali kerumah.
Sheila bernafas lega, saat sudah sampai di rumahnya, bau obat rumah sakit membuatnya tidak nyaman untuk berlama-lama di sana. Ia sangat menyesal telah melakukan percobaan bunuh diri, Sheila sadar, apapun yang ia lakukan takkan membuat Leonart kembali lagi padanya.
Miranti menghampiri putrinya yang sedang berada di taman bunga samping.
"Sheila, apa rencanamu untuk ke depannya?" tanya Miranti dengan hati-hati.
"Sheila akan mengurus perceraian Sheila dengan Leonart, dan akan memulai hidup baru, Sheila butuh support dari Mama dan Papa," ucap Sheila melangkah dan menghampiri sebuah pohon bunga, lalu memetik kembang bunga mawar itu. Sheila memilih duduk di kursi taman, pandangannya tertuju pada kupu-kupu yang hinggap di atas bunga, ia menghisap madu di dalam kelopak bunga. Sekilas Sheila mengingat semua kejadian yang telah menimpanya, Miranti duduk di samping Sheila, ia mengamati wajah anaknya yang masih pucat.
"Ma, Sheila pingin sendiri, tolong tinggalkan Sheila," ucap Sheila yang merasa risih dengan sikap mamanya yang selalu mengawasinya.
"Tapi, Sheila!"
"Ma, Sheila tidak akan berbuat macem-macem kok."
"Baiklan Nak, Mama masuk ke dalam dulu, kalau kamu butuh apa-apa, panggil Bik Ijah saja," ucap Miranti dan di balas anggukan oleh Sheila.
"Saya terima nikahnya Sheila Rinjani Binti Suryo Baskoro dengan mas kawin Emas 50 Gram di bayar tunai," ucap Leonart Yansen seorang Pengusaha Muda barang bekas.
"Bagaimana Bapak-bapak Sah!"
"Sah," ucap para undangan serempak.
Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di kepala Sheila, sebuah janji suci yang di ucapkan suaminya di depan para penghulu dan orang tua Sheila. Janji itu kini hanyalah tinggal janji, setelah Leonart mengetahui jika kedua orang tua Sheila adalah penyebab kematian orang tuanya, semuanya telah berubah menjadi benci dan dendam.
Tangis Sheila pecah, saat Leonart mengatakan padanya akan memulangkannya pada kedua orang tuanya dan menalaknya tanpa memikirkan perasaan Sheila. Sheila tak mengerti apa yang membuat Leonart tiba-tiba berubah padanya, ia hanya terisak dalam diam.
Sheila menyeka air matanya, ia berdiri dan mengabil koper yang ia bawa sejak menginjakkan kakinya di rumah Leonart. Satu persatu ia memasukkan pakaiannya ke dalam koper, kini lemari itu telah kosong, tak sehelai bajupun tersisa di lemari itu.
"Leonart, sampai detik ini aku tidak tahu apa salahku padamu, aku sangat mencintaimu melebihi diriku sendiri," ucap Sheila menghampiri Leonart yang sedang menatap jendela.
"Sheila, cepat tinggalkan rumah ini, aku tidak ingin melihatmu lagi!" ucap Leonart menatap tajam pada Sheila.
Sheila bergegas meninggalkan rumah Leonart, ia sudah tidak mau berlama-lama lagi, kata-kata Leonart sudah sangat menyakiti hatinya.
Dengan perasaan sedih Sheila memesan taksi online untuk menjemputnya kembali pada orang tuanya. Sheila berjalan dan kembali menoleh ke belakang di lihatnya
Leonart sedsng memukul tembok dengan sangat keras, sehingga tangannya terluka dan mengeluarkan. Sheila, tak henti-hentinya menangisi hidupnya yang sangat malang. Baru seminggu ia merasakan hidup bahagia bersama Leonart, di saat ia sudah menyerahkan keperawanannya pada suaminya yang Sheila anggap akan mencintainya selamanya.
"Leonart, kamu sangat kejam, apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuaku, jika mereka melihat anaknya pulang karna suaminya sudah tak sudi lagi hidup bersamanya?" batin Sheila dalam hati.
****
Saat Sheila telah sampai di rumah orang tuanya, ia menurunkan kopernya perlahan-lahan, dengan gontai ia berjalan menuju rumahnya.
Miranti yang sedang sibuk berdandan, karna akan menghadiri sebuah acara di perusahaan yang telah lama mereka rintis, segera bergegas membuka pintu setelah mendengar bel berbunyi berkali-kali.
"Sheila, masuklah Nak, siapa yang mengantarmu ke sini?" tanya Miranti menoleh pada koper yang sedang di pegang oleh Sheila.
Sheila tidak menjawab pertanyaan Miranti, ia memeluk Miranti dengan erak, tangisnya kini pecah, Miranti sudah menduga jika Putri semata wayangnya sedang ada masalah, terlihat dari matanya yang begitu sembab akibat menangis.
"Mama, Leonart mengusirku, Sheila tidak tahu apa salah Sheila padanya," ucap Sheila terisak.
Miranti membelalakkan matanya ketika mendengar apa yang di ucapkan Sheila barusan padanya.
"Sheila tenangkan dirimu, sekarang masuklah dan ceritakan semuanya pada Mama!"
Miranti menuntun Sheila untuk masuk ke dalam rumahnya, Sheila menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Miranti menyuruh asisten rumah tangga mereka untuk membuatkan Sheila segelas jus jeruk.
"Sheila, sekarang ceritakan pada Mama, kenapa Leonart tiba-tiba menyuruhmu pulang ke rumah orang tuamu!" tutur Miranti sudah tidak sabar untuk mendengar cerita dari putrinya.
Sheila menceritakan semua yang terjadi padanya, sesekali ia meneguk jus jeruk, untuk menghilangkan dahaganya.
"Kurang ajar! apa yang Leonart rencanakan pada keluarga kita, kenapa tiba-tiba ia bersikap seperti itu padamu Sheila, bukankah kalian saling mencintai?" tanya Miranti dengan geram, setelah mendengar semua apa yang di katakan Sheila padanya.
Sheila masih saja terisak, namun pintu tiba-tiba terbuka lebar, seorang Pria masuk dalam keadaan mabuk, jalannya terlihat oleng, dari mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk di ucapkan. Pria itu adalah Sony Suryo Baskoro, dia adalah kakaknya Sheila.
"Hey, adikku rupanya kamu di sini," ucap Sony memegang pipi Sheila.
"Sony! kamu mabuk lagi? setiap hari kamu hanya mabuk terus, bagaimana kamu bisa menjalankan bisnis papamu jika terus-terusan seperti ini!" ucap Miranti dengan sinis.
Sony tidak mengindahkan perkataan mamanya, ia duduk di samping Sheila dan mengamati wajah adiknya.
"Sheila, kamu menangis, ha..ha..ha, ini pasti ulah si b******k itu."
"Sony, jangan ganggu adikmu, sebaiknya tinggalkan tempat ini dan kembalilah ke kamarmu!" ucap Miranti semakin kesal dengan ulah Sony.
Sheila sudah tidak tahan lagi, ia berlari menuju kamarnya, dan menguncinya dari dalam. Sheila merebahkan tubuhnya yang sudah semakin rapuh karna lelah dengan semua yang terjadi padanya. Sempat terpikir oleh Sheila untuk mengakhiri hidupnya, ia tidak sanggup menjalani hari-harinya yang begitu berat, menikmati setiap luka yang ia rasakan, dan mencoba untuk mengikhlaskan rasa sakit walaupun sangat menyiksanya. Sheila menepuk-nepuk dadanya yang kian sesak.
Teringat saat pertama kali bertemu dengan Leonart, saat itu Leonart baru saja menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas, yang sama dengan Sheila. Leonart yang begitu tampan, namun sedikit terlihat pendiam, mencuri perhatian Sheila. Bagi Sheila, Leonart adalah pria sempurna di matanya. Banyak mahasiswi yang mendekati Leonart, namun tak satu pun dari mereka membuat Leonart tertarik. Leonart bagaikan es batu yang karang di tengah lautan.
Sheila berusaha untuk mencuri perhatian Leonart, sampai akhirnya Leonart menerima dirinya sebagai teman. Tak apa bagi Sheila, teman pun sudah cukup baginya untuk lebih dekat dengan Leonart. Berawal dari teman, Sheila berusaha menjadi teman yang baik, yang selalu menerima kelebihan dan kekurangan Leonart, Leonart semakin terkesan dengan sikap Sheila yang begitu mengerti akan dirinya, Leonart menyadari jika ia tidak mudah untuk dekat dengan seseorang, masa lalu yang begitu kelam membuat Leonart sangat tertutup pada siapapun, terlebih dengan wanita. Sampai akhirnya Sheila hadir dalam kehidupannya.
Empat tahun lamanya Sheila menjalin hubungan dengan Leonart, hubungan yang tak jelas kemana arahnya.
Leonart tiba-tiba menghubungi Sheila melalui panggilan ponselnya.
"Sheila, maukah kamu menemuiku di restoran Paradita, ada yang ingin aku sampaikan padamu," terdengar suara Leonart bergetar saat berbicara dengan Sheila di ujung ponsel Sheila.
Sheila termenung sejenak sebelum menjawab permintaan Leonart padanya. Sheila merasa heran dengan sikap Leonart akhir-akhir ini padanya.
"Baiklah Leo, aku akan menemuimu di Restoran Paradita, jam 4 sore, tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu Leo, mengapa akhir-akhir ini kamu selalu menghindariku, apa ada yang membuatmu merasa tidak nyaman dengan sikapku?" tanya Sheila.
Leonart tidak menyangka jika Sheila menanyakan hal itu padanya, memang benar jika sudah beberapa hari ini Leonart selalu menghindari Sheila, Leonart tidak mengerti tiba-tiba ada perasaan aneh yang muncul setiap ia bertemu dengan Sheila, perasaan yang sangat butuh belaian seorang wanita, perasaan cemburu saat ada Pria yang mendekat pada Sheila, semua itu Leonart renungkan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menemui Sheila dan mengungkapkan semua isi hatinya jika ia suka dan cinta terhadap Sheila.
Setelah pertemuan Sheila dan Leonart di Restoran Paradita, hubungan mereka kini sudah dua tahun berlalu. Leonart memutuskan untuk menikahi Sheila. Wanita yang di cintainya.
"Sheila, kamu baik-baik saja Nak?" tiba-tiba terdengar suara Miranti memanggil Sheila. Sheila sontak kaget dan berhenti dari lamunannya, air matanya tak dapat menyembunyikan jika saat
ini ia sangat sedih. Dan Miranti mengetahuinya karna sejak tadi ia sudah berdiri di samping anaknya tanpa Sheila ketahui.
****
Leonart baru saja tiba di kantornya, wajahnya selalu saja terlihat dingin. Senyumnya sudah tak pernah tersungging lagi di bibirnya, sejak ia mengetahui siapa pembunuh ibunya. Dalam benaknya hanya ada satu yang akan ia lakukan, yaitu balas dendam terhadap keluarga Suryo Baskoro.
"Siska, tolong keruangan saya sekarang juga," ucap Leonart pada sekretarisnya.
"Baik, Pak," jawab Siska
Tok..tok..tok
"Masuk Siska!" jawab Leonart dari dalam ruangannya.
"Selamat pagi Pak Leonart, ada yang busa saya bantu?" tanya Siska gugup.
"Siska tolong panggilkan Pak Reza dan suruh dia keruangan saya sekarang juga."
"Baik Pak, apa masih ada lagi?" tanya Siska.
"Tidak, sementara cukup, nanti kalau saya membutuhkanmu lagi, saya akan memanggilmu." jawab Leonart tetap dengan wajah dinginnya.
"Huff jantungku seperti mau copot, ganteng-ganteng, tapi dingin seperti es," gerutu Siska setelah meninggalkan ruangan Leonart.
Leonart menyeringai seperti harimau kelaparan. "Tunggu saja pembalasanku Suryo, aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang, setelah apa yang kamu lakukan dengan ibuku," guman Leonart.
Tok..tok..tok
"Masuk," ucap Leonart pada Pak Resa bagian devisi keuangan.
"Selamat pagi Pak Leonart." ucap Reza.
"Silahkan duduk."
"Apa Pak Reza sudah menghubungi Pak Rico direktur PT. Mulya?" tanya Leonart.
"Sudah Pak, sepertinya pak Rico setuju mengadakan kerja sama dengan perusahaan kita."
"Terima kasih Reza, kamu sudah mengerjakan tugasmu dengan baik." ucap Leonart.
"Masih ada lagi Pak Leonart?"
"Cukup Reza, kamu boleh kembali keruanganmu!"
"Baik Pak, saya permisi."
Setelah pak Reza pergi, Leonart menghela nafasnya dengan kasar, ia berdiri memandangi fhoto pamannya Wira.
Pak Wira adalah orang yang menolong Leonart dan adiknya Ronal, setelah orang tua mereka tiada, dan Leonart tidak menyangka jika Pak Wira, juga mengetahui siapa pembunuh orang tuanya. Dan perusahaan yang sekarang Leonart pimpin adalah hasil kerja keras paman Wira, ia merintisnya dari nol tanpa ada yang membantunya. Tak terasa air mata Loenart membasahi sudut matanya.
"Suryo, ini adalah awal pembalasanku padamu, aku akan menjauhkan semua investor yang telah bekerja sama denganmu, dan Satu persatu mereka akan meninggalkanmu Suryo, dan aku ingin melihatmu meminta maaf padaku dan bertekuk lutut atas apa yang kamu lakukan pada kedua orang tuaku, itu janjiku," guman Leonart dalam hati seraya tersenyum.