Sheila kembali mengunci pintu kamarnya. sekali lagi di tatapnya obat tidur yang ada dalam genggamannya. Sheila menangis di dalam kamarnya, hati dan cintanya kini hancur sudah, Pria yang selama ini ia cintai dan dambakan, hanya tinggal kenangan.
Dengan tangan yang bergetar, di bukanya tutup botol obat tidur itu, satu persatu di telannya pil itu, sampai akhirnya botol itu kosong. Perlahan-lahan, rasa ngantuk semakin menggerogotinya, sampai akhirnya Sheila tak sadarkan diri, dari mulutnya mengeluarkan busa.
Bik Ijak yang sudah selesai membuat bubur untuk anak majikannya itu, segera menyiapkan dan mengantarkan ke kamar Sheila.
Bik Ijak mengetuk pintu Sheila, tak ada pergerakan dari dalam kamar.
"Mungkin saja Non Sheila sudah tertidur," guman Bik Ijah dalam hati. Sekali lagi Bik Ijah mengetuk pintu Sheila, tetap saja tidak ada jawaban.
"Non Sheila, ini buburnya Non, Bik Ijah sudah buatkan untuk Non Sheila, mumpung buburnya masih hangat Non," ucap Bik Ijah semakin curiga.
"Non Sheila, buka pintunya Non," teriak Bik Ijah berkali-kali.
Miranti yang mendengar teriakan Bik Ijah, segera menemui Bik Ijah.
"Ada apa Bik?" tanya Miranti.
"Innnn..ni nyonya, sejak tadi Bibi mengetuk pintu Non Sheila, tapi Non Sheilanya ngga nyahut-nyahut Nyonya," ucap Bik Ijah terbata-bata.
"Kamu yakin? jika Non Sheila ada di dalam kamarnya?" tanya Miranti penuh selidik.
"Yakin Nyonya, sejam yang lalu Bibi baru masuk ke kamar Non Sheila, set
elah itu Bibi ke dapur untuk membuat bubur," jawab Bibi ketakutan sesuatu terjadi pada anak majikannya itu.
"Sheila, ini Mama Nak, tolong buka pintunya!" sama halnya dengan Bik Ijah, tetap saja tidak ada jawaban dari dalam.
Miranti segera menuruni anak tangga, ia memanggil suaminya yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Papa, anak kita Sheila, ia mengunci pintu kamarnya dan tak mau membukanya, aku takut sesuatu terjadi padanya," ucap Miranti dengan wajah pucat pasi.
Suryo segera berlari menuju kamar Sheila. Bibi masih saja berdiri sambil memegang nampan berisi bubur.
"Minggir Bi, aku akan mendobrak pintunya!" teriak Suryo dan membuat Bik Ijah segera menyingkir.
"Satu, dua, tiga," Suryo berlari menendang pintu Sheila dengan sekuat tenaga. Tendangan pertama belum juga berhasil membobol pintu Sheila. Suryo berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Suryo kemudian mengulangi lagi, berlari dan menendang dengan sekuat tenaga. Pintu kamar Sheila, akhirnya terkuak juga.
Pemandangan yang sangat mengharukan, sekaligus mengagetkan Suryo, Miranti dan Bik Ijah.
"Sheila, apa yang terjadi anakku," teriak Miranti histeris.
Suryo dan Bik Ijak segera mendekat, tanpa banyak bicara lagi, Suryo segera mengangkat tubuh Sheila dan membawanya ke mobil miliknya dan melarikan Sheila ke rumah sakit. Suryo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tak mau sesuatu yang tak di inginkannya terjadi pada Putri semata wayangnya. Miranti ikut bersama suaminya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Suryo segera memanggil perawat untuk membawa kereta dorong pasien. Sheila di pindahkan ke kereta dorong menuju ruang IGD.
Sheila segera di tangani oleh Dokter jaga di IGD. Dokter dan beberapa perawat sedang berusaha megeluarkan obat yang ada di dalam perut Sheila, mereka berusaha menguras obat tidur yang masih tersisa di dalam perut Sheila. Sampai akhirnya Sheila tersadar dan memuntahkan semua isi perutnya.
Sheila terlihat lemas, pandangannya berkunang-kunang. Dokter segera memanggil orang tua Sheila untuk menemui putri mereka.
"Pak, Ibu, alhamdulillah anaknya selamat, tapi ingat jangan di ajak ngomong dulu, biarkan pasien istirahat, Suster sedang menyiapkan kamar inap untuk Putri Bapak." Setelah berkata seperti itu, Dokter itu lalu meninggalkan Suryo dan Miranti yang masih syok akibat ulah Sheila yang ingin mengakhiri hidupnya dengan meminum obat tidur dalam jumlah yang banyak.
"Sheila anakku, jangan pernah mengulangi lagi perbuatan itu Nak, kamu membuat Mama dan Papa syok sekali," ucap Miranti terisak.
Pandangan mata Sheila terlihat kosong, sesekali air matanya bergulir jatuh ke pipinya.
Suryo menghampiri anaknya, dan menggenggam tangan putrinya dengan erat.
"Sheila, jangan pernah mengulanginya lagi, jangan pernah mengakhiri hidupmu dengan sia-sia, buang jauh-jauh pikiran itu dari otakmu anakku," tutur Suryo dengan lembut, ia mengelus rambut anak semata wayangnya.
"Mengapa Papa tidak membiarkanku mati saja, aku sudah tidak tahan lagi Pa."
"Sabar sayang, bunuh diri bukan jalan yang baik untuk menyelesaikan masalah, jangan sakiti fisikmu hanya karna seorang b******n seperti Leonart."
"Tapi Pa, aku sangat mencintai Leonart!"
"Istirahatlah sayang, jangan banyak gerak dulu, sebentar lagi Dokter akan memindahkanmu ke ruang rawat inap VIV."
Beberapa perawat masuk dan memindahkan Sheila ke ruang rawat inap VIV, Miranti dan Suryo mengikuti dari belakang roda dorong itu. Miranti terdiam dan tak berani mengatakan apapun pada putrinya, ia takut Sheila akan melakukan percobaan bunuh diri lagi. Sementara Suryo berusaha bersikap tenang, meski sebenarnya masih banyak yang ingin di tanyakan olehnya.
Miranti mengeluarkan benda pipih dari dalam tasnya, ia akan menghubungi Bik Ijah.
"Hallo Bik Ijah, tolong ambil beberapa lembar pakaian Sheila di dalam lemari, dan Bibi sampaikan pada pak Parno untuk mengantarnya ke rumah sakit.
"Baik Nyonya, nggih." ucap Bibi dengan logat jawanya.
Suryo terduduk lemas memikirkan keadaan putrinya, terlebih lagi perusahaannya saat ini sedang ada masalah. Sony putra satu-satunya yang sangat ia sayangi, dan berharap dapat menggantikannya kelak di perusahaannya ketika ia sudah tua nanti, kini hanya cuma angan-angan belaka, Sony lebih senang menghambur-hamburkan uang, dan bergonta ganti wanita membuat Suryo memijat alisnya yang sedang sakit. Sementara Sheila dan Miranti berada di ruangan rawat inap, Suryo pamit pada istrinya untuk kembali ke kantornya. Sudah beberapa hari ini Suryo tidak ngantor, di sebabkan masalah dalam rumah tangganya , terlebih anak semata wayangnya sempat berupaya untuk bunuh diri, untungnya Sheila selamat dari peristiwa itu. Suryo mampir sebentar ke rumahnya sebelum ke kantor, setelah membersihkan badannya Suryo kemudian ke kantor. Sekretaris Suryo segera menemuinya, ada beberapa berkas yang harus Suryo tanda tangani, mengingat beberapa hari ini Suryo tidak masuk kantor.
Tok..tok..tok
"Masuk, Ambar," teriak Suryo mempersilahkan sekretarisnya masuk ke ruangannya.
"Ini berkas yang Pak Suryo minta," ucap Ambar dan meletakkan berkas-berkas itu di atas meja Suryo.
"Ambar, tolong buatkan aku teh hangat," ucap Suryo sambil mengamati berkas-berkas yang di bawa Ambar tadi.
"Selama beberapa hari saya tidak di kantor apa ada orang yang mencariku Ambar," tanya Suryo saat Ambar masuk membawa segelas teh hangat untuk Big Bosnya.
"Sepertinya tidak ada Pak Suryo," jawab Ambar meninggalkan Suryo.
Suryo termenung sejenak, klien yang bekerja sama dengannya semakin hari semakin berkurang, kalau begini terus perusahaannya bisa gulung tikar," keluh Suryo.