Sony dengan geram memukul meja yang ada di kamarnya.
Bersamaan itu pula, Suryo yang baru kembali dari rumah Leonart, mendengar ada suara benda terjatuh dari kamar Sony.
"Sony mabuk lagi Pa," jawab Miranti setelah melihat raut wajah suaminya begitu tercengang.
"Bagaimana keadaan Sheila Ma, apa dia sudah makan?" tanya Suryo mengkhawatirkan keadaan anaknya dan mengindahkan perkataan istrinya mengenai Sony putra pertama mereka.
"Sejak Papa pergi, Sheila belum keluar kamar, Pa."
Suryo kemudian berjalan menuju kamar Sheila, ia mendengar Sheila sedang menangis di dalam kamarnya.
Suryo tidak ingin mengganggu putrinya. Suryo berjalan menuju kamar Sony.
Tok..tok...tok
"Sony ini Papa, buka pintunya! jangan seperti anak kecil Nak, keluarlah Papa ingin bicara denganmu," ucap Suryo berdiri di depan pintu kamar Sony.
Sony kemudian perlahan-lahan membuka pintu kamarnya, ia kini berhadapan dengan papanya.
"Sony, kamu mabuk lagi? Papa udah berkali-kali memperingatkanmu, jangan pernah menyentuh barang haram itu," Suryo menatap tajam pada putranya.
"Tumben Papa perduli dengan kami, biasanya Papa hanya perduli dengan urusan duit...duit.. saja."
Plaaaak
Sebuah tamparan mendarat di wajah Sony.
Suryo sudah tidak dapat menahan amarahnya, dia sudah kehilangan kendali kesabarannya menghadapi Sony.
"Pukul Pa, pukul sampai Papa puas, lihat anak kesayangan Papa, dia sudah di campakkan oleh suaminya, Sheila sudah membuat malu keluarga, tapi Papa hanya diam saja, dan cuma bisa memukuli aku yang cuma hanya bisa mabuk karna kecewa atas sikap Papa yang egois!"
"Cukup Sony, hentikan!" teriak Miranti dan air matanya kini menetes membasahi pipinya yang putih itu.
"Mama dan Papa, semuanya sama saja, sama-sama egois, dan hanya mementingkan diri sendiri saja," ucap Sony dan menutup pintunya dengan keras. Suryo memegang kepalanya yang terasa sakit, baru saja ia berhadapan dengan Leonart, kini ia sudah di hadapkan pula dengan anak-anaknya.
Malam hari pun tiba, seorang wanita mengendap-endap masuk ke kamar asisten rumah tangga, Bik Ijah adalah asisten rumah tangga Pak Suryo, ia sudah sepuluh tahun bekerja di rumah Pak Suryo, dan Bik Ijah sudah di anggap seperti keluarga sendiri.
"Bik, buka pintunya!" terdengar suara seseorang membangunkan Bik Ijah.
Bik Ijah mengusap matanya yang sudah mulai terlelap saat namanya di panggil oleh seseorang yang sangat Bik Ijah kenal.
Bik Ijah beranjak bangun dari tempat tidurnya, perlahan-lahan ia membuka pintunya.
"Ada apa Non, kenapa Non ke kamar Bibi, kalau Tuan tahu, Bibi pasti kena marah sama Tuan!" ucap Bik Ijah setengah berbisik.
"Pelan-pelan ngomongnya Bi, boleh Sheila masuk ke kamar Bibi?" tanya Sheila penuh harap, ia berharap Bik Ijah memperbolehkannya masuk ke dalam kamar Bik Ijah.
"Ya sudah, masuklah Non!" ucap Bibi akhirnya menyetujui jika Sheila masuk ke kamarnya yang berukuran 3x4 itu.
"Bi, Sheila bisa minta tolong sama Bik Ijah?" tanya Sheila masih dengan berbisik.
"Non Sheila mau minta tolong apa sama Bik Ijah?"
"Bi, ini cuma rahasia kita berdua, dan jangan sampai ada yang tahu, besok kalau Bik Ijah ke pasar, jangan lupa mampir ke apotik, Sheila mau titip obat tidur." ucsp Sheila lalu menyodorkan uang lembaran merah.
"Memangnya Non Sheila susah tidur?" ucap Bik Ijah dengan lugunya.
Sheila berpikir sejenak, untung saja Bik Ijah dapat Sheila bohongin, kalau engga semua rencana Sheila akan berantakan semua.
"Ia Bi, akhir-akhir ini Sheila susah banget untuk tidur, untuk itu besok kalau Bik Ijah ke pasar jangan lupa mampir ke apotik ya Bi, untuk membeli obat yang Sheila pesan tadi. Jangan ngomong sama Mama dan Papa, ini cuma rahasia kita berdua, mengerti Bi," ucap Sheila tersenyum. senyum yang ia paksakan agar actingnya terlihat sempurna, terlebih Bik Ijah orang yang sangat lugu, sehingga Sheila dapat mudah untuk mengelabuinya.
Sheila meninggalkan kamar Bik Ijah dan kembali lagi ke kamarnya. Sheila berdiri tepat di dekat jendela kamarnya, bulan yang begitu terang tampak indah di pandang mata, Sheila kembali menitikkan air mata, hidupnya terasa begitu hampa, baru saja ia merasakan kebahagian, kini kebahagiaan itu sirna dalam sekejab tanpa ia mengetahui penyebabnya apa, sakit rasanya di perlakukan dengan tidak adil, sampai detik ini Sheila belum mengetahui di mana letak kesalahan dirinya, sehingga membuat suaminya mencampakkan dirinya begitu saja, sungguh ironis. Untuk apa lagi ia hidup di dunia ini jika ia harus menanggung malu, malu menjadi janda di usianya yang masih muda. Apa kata orang nanti jika mengetahui dirinya, baru saja menikah seminggu, suaminya sudah menalaknya.
Sheila sudah bertekat untuk mengakhiri hidupnya, ia telah menyuruh Bik Ijah membeli sebotol obat tidur, yang akan menghantarkannya untuk pergi selamanya
"Mama, Papa, maafkan Sheila yang sudah tidak berguna ini," Sheila semakin terisak.
Sheila kembali menutup jendela kamarnya, malam semakin larut, dan bulan pun telah bersembunyi di balik awan hitam.
Sheila menatap satu persatu fhoto masa kecilnya yang bahagia, masa kecil yang penuh dengan kebahagiaan. Di baringkannya tubuhnya yang sudah mulai lelah menerima takdirnya. Sheila meraih benda pipih yang selama ini ia gunakan untuk bertegur sapa dengan Leonart, yang selalu berbunyi menandai notivikasi pesan singkat dari kekasihnya. Sudah dua hari benda pipih ini bagaikan patung tak berarti, Sheila berharap suaminya mau menyapanya dan meminta maaf atas semua perlakuannya pada Sheila, tapi sekali lagi Sheila menelan pil kekecewaan, Leonart benar-benar sudah melupakan dirinya. Lagu Mahalini menghantarkan tidur Sheila, lagu yang mengisahkan kisah cinta yang sempurna, sungguh berbeda dengan dirinya yang terjebak dengan masa lalu suaminya yang kelam, sehingga membuat suaminya mati rasa padanya, Sheila meremas bantalnya, ia teringat saat Leonart mengucapkan Will you marry me padanya, saat itu hati Sheila berbunga-bunga, tapi kini semuanya telah sirna, yang ada hanya tinggal kekecewaan.
Seperti apa yang telah Sheila perintahkan pada Bik Ijah semalam, hari ini sudah di lakukannya. Bik Ijah mengendap-endap menuju kamar Sheila, tanpa menunggu waktu lama, pintu segera di buka oleh Sheila. Sejak tadi Sheila sudah menunggu Bik Ijah, mata Sheila terlihat sembab, karna semalaman menangis. Bik Ijah menatap wajah anak majikannya itu, ia melihat mata Sheila begitu sembab.
"Non, Bik Ijah boleh menanyakan sesuatu pada Non Sheila?" tanya Bik Ijah penuh harap.
"Silahkan saja Bik," jawab Sheila
"Non, sebenarnya obat sebanyak ini untuk apa? bukankah ini adalah obat tidur, jika Non meminumnya lewat dari dosis maka Non bisa koit, begitu kata pelayan Apotiknya," ucap Bik Ijah dengan polosnya.
Sheila menarik nafasnya dalam-dalam, di pandanginya botol obat itu. Obat yang akan membawanya melupakan semua masalah yang sedang di hadapinya.
"Non, Bibi pamit dulu mau ke dapur, Bibi mau nyiapin sarapan dulu buat Non Sheila, kata Nyonya Bibi harus secepatnya membuat bubur, dan mengantarkan ke kamar Non Sheila," tutur Bibi dengan logat jawanya yang kental.
"Terima kasih ya Bi, maafin Sheila kalau selama ini Sheila banyak salah sama Bibi, jangan lupa tutup kembali pintunya ya Bi!"
"Baik Non Sheila."