Pagi sekali Anita sudah bangun, seperti biasa ia senam Aerobik untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Notivikasi ponselnya berbunyi. Anita menyudahi senamnya dan melihat ponselnya, notivikasi pesan, kakaknya sudah mengirim lokasi tempat tinggalnya dengan google maps.
Anita meminum jus sambil menonton televisi, acara di televisi akhir-akhir selalu di penuhi dengan berita perselingkuhan, sehingga Anita malas untuk menontonnya. Anita mengambil remote dan mematikan televisinya.
Anita hendak ke kamar mandi, ia berdiri dan mengambil handuk, tapi tiba-tiba kepalanya sakit dan agak pusing. Matanya mulai berkunang-kunang, rencana Anita hari ini ia akan berkunjung ke rumah kakaknya, namun kepalanya sedang sakit, jadi di urungkannya niatnya itu. Ia menaruh kembali handuk itu, dan kemudian berjalan menuju tempat tidur, Sheila berbaring di sofa bed. Anita berusaha meraih ponselnya, dan menghubungi kakaknya.
"Hallo Kak, sepertinya Anita hari tidak bisa ke rumah Kakak, Anita lagi kurang enak badan."
"Baiklah adikku, kapan-kapan kamu boleh ke rumah Kakak, kami menunggumu di sini." ucap suara di seberang ponsel Anita.
Anita menaruh kembali ponselnya, ia berusaha untuk bangun dan membuat teh hangat agar mengurangi sakit di kepalanya.
****
"Siapa pagi-pagi begini sudah menelpon Papa?" ucap Miranti yang sedang membuat
sarapan pagi.
"Ma, Sheila tidak ke kantor hari ini?" tanya Suryo mengalihkan pembicaraannya agar Miranti melupakan pertanyaannya tadi.
"Sheila lagi kurang enak badan Pa," ucap Miranti dan betul saja jika Miranti sudah melupakan pertanyaannya tadi dan sibuk menyiapkan sarapan pagi.
"Wah, enak sekali bau masakan Mama, Mama masak apa hari ini?" tanya Suryo menghampiri Miranti.
"Mama masak kesukaan Sheila, lontong sayur. Nah, sekarang udah mateng lontong sayurnya, Mama akan panggil Sheila dulu Pa," ucap Miranti dan bergegas ke kamar Sheila yang sedang terbaring di tempat tidurnya.
tok tok tok
"Sheila, ini Mama Sayang!"
"Ya Ma, masuk aja, pintunya ngga di kunci," ucap Sheila masih memeluk guling.
"Sheila, kita sarapan yuk, Papa sudah menuggu kita di meja makan."
"Mama sama Papa duluan saja sarapannya, nanti Sheila menyusul."
Miranti menatap wajah putrinya, ia tahu jika Sheila sedang ada masalah saat ini, namun Sheila sengaja tidak memberitahu pada kedua orang tuanya.
Miranti mencoba mendekat dan duduk di samping putrinya, tangan kanannya mengelus rambut Sheila yang hitam legam.
"Sayang, kamu sedang ada masalah?" tanya Miranti. Sheila menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa mata kamu sembab, Mama tahu kalau kamu barusan saja menangis, cerita sama Mama, Sayang!"
Sheila menarik nafasnya dalam-dalam.
"Ma, aku mau berhenti bekerja saja di tempat kerja aku sekarang."
"Loh, memangnya ada apa, Sayang?" tanya Miranti menaikkan alisnya.
"Ternyata Pak Rian, yang kemarin mengantar Sheila ke rumah adalah sahabat Leonart, suamiku."
Miranti sontak kaget mendengar perkataan Sheila. ia manarik nafasnya dengan kasar dan menghembuskannya dengan kasar pula. Dari raut wajahnya memancarkan kekhawatiran yang cukup mendalam.
"Lalu, kapan kamu akan menemui Bosmu itu, Sheila?" tanya Miranti.
"Shei...."
Kring..kring
Belum selesai Sheila meneruskan perkataannya, Tiba-tiba ponsel Sheila berbunyi.
Sheila melirik ke arah ponselnya itu, di layarnya tertulis nama Rian.
Sheila tidak mengangkat ponselnya, ia membiarkan ponselnya itu berdering terus, Miranti yang melihat Sheila tidak mengangkat ponselnya lalu menegurnya.
"Kenapa ponselnya tidak di angkat, Sheila?" tanya Miranti.
"Biarkan saja Ma, Sheila malas untuk mengangkatnya."
"Sheila, tak baik bersikap seperti itu, Pak Rian tidak salah apa-apa, mengapa kamu harus menjauhinya? Mama lihat Rian anaknya baik, dan ia tidak mungkin akan menyakitimu," ucap Miranti mengelus rambut anaknya.
"Baik Rian, maupun Leonart sama saja Ma, merekakan sahabat, jadi pasti perilaku mereka sama pula," ucap Sheila masih terlihat kesal.
"Ya sudah, Mama temani Papa kamu sarapan dulu, nanti kalau kamu lapar, kamu makan saja sendiri, Mama udah nyiapin sarapan buat kamu." Sheila mengangguk dan tersenyum.
Miranti berjalan menuju meja makan, ia kemudian menutup pintu kamar Sheila.
***
Setelah kedatangan Leonart di kantornya, Rian tampak duduk lesu, pikirannya selalu saja terbayang pada wajah manis Sheila.
Rian meraih benda pipih yang ada di atas nakas. Rian mencari kontak nama yang akan di hubunginya.
Rian menghubungi seseorang, namun tak di angkat oleh yang empu yang punya ponsel di seberang sana.
Ada rasa kecewa dan kangen pada wanita itu, Leonart menyesal memberitahu jika dirinya adalah sababat suaminya. Jika saja dirinya tidak secepat itu memberitahu Sheila, pasti ia masih berada di kantornya saat ini, dan Rian dapat leluasa memandang dari jauh wajah cantik Gadis itu.Tapi Rian tak mau membohongi Wanita itu lebih lama lagi, karna diam-diam ia juga menyukai Gadis itu.
"Sheila, tidakkah kamu mengerti akan perasaanku ini, kamu wanita yang baik, mana mungkin kamu akan melirik diriku sedang kamu masih bersuami, Leonart saja yang bodoh mencampakkan Gadis macam dirimu," batin Rian.
Leonart membelokkan mobilnya di samping warung kue tempat Miranti selalu berjualan kue tiap pagi.
Leonart berniat untuk menemui Sheila, namun Leomart merasa ragu, akankah kedatangannya di terima baik oleh Sheila, sedang Sheila sudah tidak menginginkan dirinya lagi, setelah apa yang telah ia lakukan pada Sheila dan keluarganya.
"Apapun yang terjadi, aku harus menghadapinya, demi untuk mendapatkan istriku kembali," batin Leonart.
Leonart menyusuri gang yang menuju ke rumah Sheila, ia perlahan-lahan berjalan menuju suatu rumah yang sangat sederhana, Leonart mencoba untuk mengetuk pintu rumah itu.
Tok..tok..tok
"Siapa?"
"Assalamu alaikum," ucap Leonart dengan ragu-ragu.
Seorang wanita berjalan menuju pintu. Leonart menunggu dengan hati deg-degan, berharap mereka tidak mengusirnya dari rumah itu.
Kreek
"Wa'alaikum salam," jawab Miranti tanpa melihat orang yang berdiri di hadapannya, saat ia mendongak kepalanya, Miranti sangat terkejut melihat sosok orang yang telah menghancurkan kehidupannya sampai ia dan keluarganya jatuh miskin.
"Untuk apa kamu ke sini Leonart?" tatap Miranti dengan sinis.
"Bu, aku ingin bertemu dengan Sheila," jawab Leonart.
"Untuk apa kamu menemui putriku, Sheila sudah melupakanmu, semustinya kamu tahu itu," ucap Miranti masih dengan wajah kesal.
"Sheila itu masih istriku Bu, jadi aku masih berhak atas dirinya," ucap Leonart.
Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah.
"Tamunya siapa Ma?" tanya Sheila yang baru saja bangun tidur.
Miranti tidak menjawab pertanyaan dari Sheila, Sheila berjalan menemui mamanya yang sedang berbicara dengan tamu mereka.
"Ma, siapa ta..!" ucapan Sheila terhenti , tak kala melihat siapa yang berdiri di hadapan mamanya.
"Untuk apa kamu ke sini Leonart, dan dari mana kamu tahu rumahku?" tanya Sheila menatap tajam pada Leonart.
"Sheila, tidakkah kamu menyuruhku masuk terlebih dahulu, sejak tadi aku berdiri di sini," ucap Leonart memelas.
"Tidak Leo, sekarang juga tinggalkan rumahku dan jangan pernah kembali lagi, karna antara kamu dan aku sudah tidak ada hubungan lagi, Sheila yang dulu bukan istrimu lagi, dia sudah mati bersama dengan kehancurannya, Sheila yang dulu begitu mencintaimu, tapi sekarang cintanya sudah mati bersama dengan kesedihannya, pergi dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapanku!" isak Sheila.
Miranti sangat sedih melihat putrinya, ia segera menyuruh Leonart untuk segera pergi.
"Leonart, pergilah! sudah cukup kami menerima balas dendammu, anggaplah semuanya sudah usai, biarkan kami hidup dengan damai, kamu silahkan menceraikan Sheila secepatnya," ucap Miranti mengusap air matanya.
"Tapi, Bu!!"
"Pergilah Leonart!" ucap Miranti lalu menutup pintu rumahnya.
Leonart begitu sedih, setelah apa yang ia lakukan pada Sheila dan keluarganya ternyata membuat Sheila begitu membencinya dan tak mau melihat dirinya lagi. "Apa ini karma untukku," batin Leonart berjalan meninggalkan rumah Sheila dengan perasan kecewa.