Seperti janji Ronal pada Anita, ia akan mengajak Dinner malam ini. Anita berdandan dengan rapih, ia sudah mengirim serlok pada Ronal.
Tepat jam tujuh malam Ronal menjemput Anita di apartemennya. Ronal tidak melihat kedua orang tua Anita, Anita hanya tinggal sendirian di apartement itu.
"Anita, kamu tinggal sendiri? orang tuamu kemana?" tanya Ronal setelah Anita naik ke mobil Ronal.
"Mama sama Papa udah ngga ada, udah almarhum, aku cuma tinggal berdua sama Kakak kandungku, tapi di apartementku aku cuma tinggal seorang diri, sedang kakakku tinggal bersama keluarganya. Ada apa kamu menanyakan hal itu padaku Ronal?" tanya Anita penuh selidik.
"Ngga apa-apa Anita, aku hanya ingin tahu saja, ngga ada maksud lain kok."
"Kita berangkat sekarang yuk, Ronal!! ucap Anita sudah tidak sabar.
"Ronal, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tapi kamu harus jawab dengan jujur."
"Baik, kamu mau tanya apa Anita?"
Anita berpikir sejenak, kemudian menatap mata Ronal dalam-dalam.
"Ronal, aku ingin mengenalmu lebih jauh, tapi aku takut kakakmu Leonart akan menghalangi hubungan kita, ia begitu dingin dan tak bersahabat."
"Lalu apa hubungannya dengan kakakku?" tanya Ronal dengan alis terangkat.
"Bagaimana kalau kamu mempertemukan aku dengan Leonart, sehingga aku dan kakakmu bisa lebih akrab lagi, agar kita lebih mudah menjalin hubungan kita, tanpa harus takut jika kakakmu tidak merestui hubungan kita."
"Oh, kalau itu sih gampang Anita, nanti kita atur saja waktunya," ucap Ronal, tampa mengetahui rencana licik Anita padanya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Anita memeluk Ronal.
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di Cafe yang mereka tuju.
Ronal menggandeng tangan Anita masuk ke Cafe itu. Mereka memilih tempat paling sepi dengan pengunjung.
"Kamu mau pesan apa Anita?" tanya Ronal setelah mereka duduk dan memegang daftar menu di Cafe itu.
"Aku mau jus jeruk sama steak daging dan kentang goreng," ucap Anita dan membuat Ronal tersenyum.
"Kamu yakin mau makan steak daging, apa ngga takut kelesterol, atau badan kamu gemuk?" tanya Ronal bercanda, dan mereka berdua pun tertawa.
"Kalau aku sih jarang-jarang makan steak, kecuali kalau kepingin saja, tapi menurut teman aku, steak di sini enak rasanya dari steak Cafe lain."
"Oh ya, kalau begitu aku pesan sama seperti kamu Anita, Steak dan jus jeruk."
Ronal memanggil seorang Waitres agar mendekat pada mereka, setelah memesan menu yang mereka inginkan, Waitres itu kemudian kembali untuk mengambil
pesanan Ronal dan Anita.
"Ronal, Leo itu sudah punya pacar belum?" tanya Anita memulai penyelidikannya.
"Sudah, tapi bukan pacar melainkan Istri."
"Lalu, sekarang istrinya di mana?" tanya Anita.
"Entahlah Anita, aku juga ngga tahu hubungan macam apa yang mereka jalani, tapi sudahlah ngapain juga kamu menanyakan hal itu, Anita?" tanya Ronal mulai curiga.
"Ya sudahlah, itu makanannya sudah datang," ucap Anita sambil menunjuk seorang Waitres yang sedang membawa pesanan mereka.
Anita merasa terselamatkan dengan adanya Waitres itu, kalau tidak, Ronal bisa curiga padanya.
"Ayu di makan Steaknya, aku sudah sangat lapar," ajak Anita agar mereka segera mencicipi makanan yang sudah di pesan.
"Anita, selama ini aku tidak pernah bertemu denganmu, semenjak perpisahan di sekolah SMA waktu itu, aku sudah tidak pernah mendengar kabarmu lagi," ucap Ronal sambil mengunyah Steak daging.
"Aku di luar negeri, aku kuliah di sana, kakakku mengirimku ke Inggris untuk menyelesaikan studiku di sana."
"Kapan kamu kembali ke Inggris lagi, Anita?"
"Aku sudah menyelesaikan kuliahku disana, kini aku akan menetap di Jakarta, aku akan balas kebaikan kakakku yang sudah bersusah payah menyekolahkanku di luar negeri."
"Kenapa kamu tidak tinggal dengan kakakmu saja Anita, kamu malah tinggal di apartemen seorang diri."
Anita merasa Ronal sedang berusaha mengorek keluarganya, Anita harus lebih berhati-hati dengan Ronal, agar dia tidak mengetahui rencana busuk Anita.
"Aku hanya tidak mau merepotkan kakakku saja, sudah cukup selama ini aku menyusahkan dia dan keluarganya, terlebih kakakku sekarang sudah bangkrut..., sudahlah Ronal, lebih baik habiskan saja makananmu, bukankah malam ini kita akan bersenang-senang?" tanya Anita berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Baiklah Anita, kalau kamu mau nambah steaknya, pesan saja Anita," ucap Ronal setelah melihat Anita memakan dengan lahap dan sudah menghabiskan Steak yang ada di piringnya.
"Ronal, aku boleh ngga minta bantuan kamu, aku saat ini sedang mencari pekerjaan, tapi aku belum mendapatkan, bagaimana kalau kamu beritahu kakakmu Leonart agar menerimaku bekerja di perusahaan yang ia pimpin!" ucap Anita kemudian ia meraih tangan Ronal dan menggenggamnya dengan erat. Ronal merasa risih dengan sikap Anita. Anita yang Ronal kenal, tingkahnya lebih pendian dan pemalu, kenapa Anita jadi berubah seratus persen. Atau karna kelamaan tinggal di luar negeri, membuat sikap Anita jadi berubah.
"Anita, kita kesini untuk makan, bukan untuk membicarakan mengenai kakakku terus, aku disini bersamamu, tapi di hatimu hanya kakakku saja yang ada, maaf Anita! lebih baik kita pulang saja, aku sudah mengantuk, besok aku akan masuk kantor, aku takut nanti kesiangan," ucap Ronal lalu berdiri, ia terlihat sangat kesal dengan Anita. Melihat Ronal angkat kaki dan meninggalkannya, Anita segera menarik tangan Ronal.
"Kamu marah ya, sama aku?" tanya Anita dengan lembut agar Ronal dapat luluh kembali.
"Hmm, Anita! aku paling tidak suka, jika kamu selalu membicarakan Pria lain, ketika kamu sedang bersamaku, walaupun yang kamu bicarakan itu kakakku sendiri," ucap Ronal menatap tajam pada Anita.
"Maafkan aku Ronal, bukan maksudku untuk mengabaikanmu, tapi aku harus mengenal kakakmu, sebelum hubungan kita lebih jauh lagi," ucap Anita memelas, ia sedang berusaha acting di depan Ronal.
"Dasar, kamu sama saja seperti kakakmu, tunggu pembalasanku, kamu akan hancur bersama dengan kakakmu yang arogan itu," gerutu Anita pada dirinya sendiri.
"Anita, ayo masuk, aku akan mengantarmu pulang," ajak Ronal setelah ia membuka pintu mobilnya.
"Anita tenang, jangan marah, biarkan saat ini ia memperlakukanmu seperti itu, sabar...sabar...," keluh Anita.
"Baiklah Ronal, sekali lagi maafin aku ya, lain kali aku tidak akan melakukannya lagi," ucap Anita dengan actingnya yang penuh penyesalan.
Ronal menjalankan mobilnya, Anita sesekali melirik ke arah Ronal yang sedang menyetir, "Sebenarnya Pria yang ada di sampingku ini, cukup tampan juga, tapi aku tidak akan tergoda, tujuanku adalah satu, yaitu balas dendam terhadap mereka." guman Anita menarik nafasnya dengan kasar.
Ronal mengantarkan Anita kembali ke apartementnya, sedang Ronal masih ingin melampiaskan rasa kesalnya dengan mengelilingi kota Jakarta seorang diri.
Anita membuka pintu apartementnya, ia melempar tasnya di atas sofa, kemudian ia duduk di sofa itu pula, ponsel Anita berbunyi, ia kemudian mengambil benda pipih yang ada di dalam tasnya itu.
"Hallo Kak, bagaimana kabar kakak dan Kakak ipar?" tanya Anita dengan wajah berseri-seri setelah mengetahui siapa yang menelponnya.
"Alhamdulillah, kapan kamu datang dari Inggris, Dek?" tanya seorang Pria di ujung telpon Anita.
"Aku baru dua minggu Kak, di Jakarta." ucap Anita.
"Kapan-kapan main kesini Dek, Kakak sudah kangen padamu."
"Nanti kalau Anita ada waktu, Anita akan main ke rumah Kakak."
"Anita, kehidupan Kakak tidak seperti dulu lagi, sekarang Kakak sudah jatuh miskin, tapi Kakak bahagia dapat menyekolahkanmu di Inggris sampai selesai," ucap kakaknya Anita dengan suara yang serak , karna menahan tangis dan rindu pada adik perempuan satu-satunya.
"Ya, sudah Anita, kamu istirahat dulu, besok pagi kamu ke rumah Kakak yang baru, nanti Kakak share lokasinya, bye."
"Bye Kak, sampai ketemu besok, Anita sudah tidak sabar menunggu besok, untuk bertemu dengan kakak secara langsung.