"Sheila, cepat tinggalkan rumah ini dan jangan pernah kembali lagi," ucap Leonart dengan penuh emosi.
"Apa salahku Leonart, mengapa kamu mengusirku, kita baru saja seminggu menikah, tapi mengapa kamu sudah mencampakkan aku," teriak Sheila.
"Sheila, dengar baik-baik, hari ini akan aku jatuhkan talak untukmu, dan segeralah pergi dari hadapanku!" ucap Leonart dengan nada tinggi.
Dunia seakan runtuh mendengar Leonart menjatuhkan talak padanya, tanpa banyak bertanya lagi, Sheila segera masuk ke kamar dan mengambil semua baju-baju miliknya yang berada di dalam lemari, hingga tak satupun baju Sheila tersisa di lemari itu.
Sheila menarik kopernya, dan berhenti di hadapan Leonart.
"Aku tidak pernah tahu, apa salahku padamu, tanpa penjelasan darimu, kamu begitu tega mengusirku, aku akan meninggalkan rumah ini sekarang juga, agar kamu puas Leonart," ucap Sheila berlalu meninggalkan rumah yang sudah lima hari di huninya. Derai air mata Sheila sudah tak tertahankan lagi, sesekali ia menoleh ke belakang, untuk memastikan jika dirinya sedang tidak bermimpi. Sebuah taksi online berhenti di depan rumah Leonart, Sheila masuk ke dalam taksi yang sudah di pesannya itu, tanpa berlama-lama lagi, Sheila menyuruh sopirnya untuk segera meninggalkan rumah Leonart dan berjalan menuju rumah orang tua Sheila.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, suryo baru saja tiba, wajahnya tampak muram, perusahaan yang sudah lima belas tahun ia rintis sedang berada di ujung tanduk, beberapa kolega yang menanam saham padanya satu persatu menarik saham mereka. Entah apa yang membuat mereka jadi enggan untuk bekerja sama lagi dengan perusahaan miliknya.
Suryo duduk termenung di sofa ruang tamu, Miranti tiba-tiba muncul dan mengagetkan Suryo.
"Papa udah pulang? tumben Pa!" tegur Miranti.
Suryo menarik nafasnya dalam-dalam, ia mengamati wajah istrinya yang tak seperti biasanya.
"Ada apa Miranti, sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan padaku!"
"Pa, Sheila di usir oleh suaminya, dan sekarang ia berada di kamarnya," ucap Miranti menundukkan kepalanya.
Suryo tampak marah, wajahnya merah karna menahan amarah yang bergejolak di hatinya, berita yang di sampaikan istrinya bagaikan petir di siang bolong.
"Aku akan menemui Sheila, akan ku tanyakan padanya apa yang menyebabkan Leonart mengusir putriku."
Suryo bergegas menemui Sheila di kamarnya. Pintu Sheila masih terkunci, Suryo mengetuk pintu kamar Sheila.
Dengan tangan gemetar Sheila bergegas membuka pintunya, matanya masih sembab akibat menangis.
Suryo menatap wajah putrinya, ia tak tega melihat keadaan Sheila saat ini, Leonart telah mencampakkan putri semata wayangnya, Suryo tidak akan membiarkan semua ini terjadi pada putrinya.
"Sheila, apa benar, suamimu telah mengusirmu dari rumahnya?" tanya Suryo menatap mata Sheila. Sheila mengangguk dan memeluk papanya dengan erat. Hati siapa yang takkan sakit bila anak semata wayangnya di sakiti oleh Pria lain.
"Kurang ajar si Leonart itu, dia sudah keterlaluan sekali, aku akan buat perhitungan dengannya," ucap Suryo kesal.
"Jangan lakukan itu pada Leonart, Sheila masih sangat mencintainya, jangan sakiti dia Pa!"
Walaupun hati Suryo sangat sakit, namun ia masih mempertimbangkan kata-kata putrinya, diam-diam Suryo akan menemui Leonart, Pria yang sudah mengusir dan menalak anaknya.
"Sheila, istirahatlah Nak, Papa akan keluar sebentar, ada urusan kantor yang Papa lupa untuk mengerjakannya."
"Baik Pa, hati-hati."
Suryo meninggalkan kamar putrinya, ia berpamitan pada istrinya untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan di kantor, Suryo merahasiakan kemana ia akan pergi, terhadap Putri dan istrinya.
Dengan tergesa-gesa Suryo beranjak pergi dari kamar anaknya, ia segera menuju ke parkiran mobil depan rumahnya. Suryo segera masuk ke dalam mobil sedan itu lalu membanting pintu mobilnya dengan kencang, ia lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hatinya kini sedang tersulut emosi.
"Shiiiits."
Suryo menginjak rem mobilnya dengan tiba-tiba, ia sudah sampai di rumah Leonart.
Leonart yang baru saja pulang dari kantor, sontak kaget begitu mendengar suara mobil yang di rem secara paksa. Leonart bergegas menuju parkiran, sesampainya di parkiran, Leonart melihat ada sedan hitam yang sangat di kenalnya, yaitu sedan milik mertuanya.
Suryo segera turun dan menghampiri Leonart, tak ayal lagi, Suryo melayangkan bogemnya ke wajah Leonart, Leonart yang tiba-tiba mendapat serangan secara mendadak jatuh tersungkur ke lantai.
"Dasar manusia k*****t kamu Leonart! sudah beruntung Sheila anakku mau menikah denganmu yang hanya seorang pemulung barang bekas." Teriak Suryo dengan marah, seisi rumah Leonart begitu kaget mendengar suara Suryo yang begitu menggelegar.
Ronal yang sejak tadi berada di kamarnya, bergegas keluar dan menuju tempat di mana arah suara teriakan tadi yang di dengarnya. Ronal sontak kaget saat melihat kakaknya sedang bertikai dengan mertuanya sendiri.
"Hentikan! apa yang kalian lakukan, kalian tidak malu jika tetangga mendengar teriakan dari kalian!" ucap Ronal, lalu menghampiri kakaknya, ia mengulurkan tangannya untuk membantu Leonart berdiri kembali akibat ulah mertuanya itu.
"Jangan harap aku bisa memaafkanmu Leonart, kamu sudah menginjak-injak harga diri anakku, aku..!"
"Cukup sudah omong kosongmu Suryo Baskoro," teriak Leonart memotong perkataan Suryo. Suryo begitu tersulut emosi mendengar Leonart memanggil namanya dengan begitu lengkapnya, Leonart sama sekali sudah tidak menghargai dirinya sebagai mertuanya.
"Kamu, sungguh kurang ajar pada orang tua, aku tidak sudi mempunyai menantu sepertimu!" ucap Suryo menunjuk ke arah Leonart.
"Ha..ha..ha, akupun tak sudi mempunyai mertua sepertimu, seorang pembunuh berdarah dingin!" ucap Leonart dengan pandangan matanya yang begitu nanar menatap wajah Suryo.
Suryo terdiam sejenak, ia mengamati wajah Leonart dengan seksama, dan tiba-tiba wajah Suryo begitu pucat seakan dalam tubuhnya tidak ada darah yang mengalir dadanya begitu bergemuruh, jantungnya berdetak begitu kencangnya.
Suryo mundur beberapa langkah, dan ia kemudian berbalik dan segera meninggalkan Leonart yang sedang menatap tajam padanya. Suryo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia menuju ke suatu tempat dimana ia bisa menumpahkan semua amarahnya.
Leonart memegang pelipisnya yang berdarah, Ronal menghampiri kakaknya dengan wajah penuh tanda tanya, banyak yang Ronal ingin tanyakan pada Leonart kakaknya, selama ini Ronal tidak tahu mengenai semua rahasia dalam hidupnya, dan hidup kakaknya. Namun melihat kakaknya sedang dalam keadaan marah dan kesal, Ronal tidak berani untuk menanyakan apa yang membuat Suryo tiba-tiba datang dan marah-marah lalu memukul kakaknya.
"Nanti saja aku tanyakan, kalau Kak Leonart sudah merasa tenang," guman Ronal dan beranjak mengambil kotak obat. Di sodorkannya kotak obat itu pada Leonart, perlahan-lahan Leonart mengobati luka di pelipisnya dengan hati-hati, sesekali ia meringis karna rasa perih yang ia rasakan.
"Kak, boleh aku bertanya?" ucap Ronal dengan hati-hati.
"Kamu mau menanyakan, mengapa aku dan Suryo tadi berantem, itu maksudmu, 'kan?"
Ronal tersenyum dan mengangguk.
Leonart menarik nafasnya dalam-dalam, sebenarnya Leonart tidak mau menceritakan pada adikku masalah yang ia hadapi saat ini, namun Ronal berhak tahu mengenai kematian Ibu mereka.
"Ronal, kamu yakin mau mendengar rahasia besar yang selama ini aku simpan?" tanya Leonart meyakinkan adiknya.
"Rahasia apa itu Kak, dan apa hubungannya dengan Suryo Baskoro?"
"Tentu saja ada hubungannya dengan Suryo Baskoro, karna mereka adalah dalang dari semua ini, mereka yang telah membunuh Ibu kita."
Ronal terperanjat, ia tidak menyangka jika kejadian 15 tahun yang lalu itu, baru sekarang terkuak.
"Dari mana kakak mengetahui semua itu? apa Kak Leonart punya bukti yang kuat?" tanya Ronal semakin tidak sabar untuk mendengar penjelasan dari Leonart kakaknya.
"Ya, bukti itu sangat kuat adikku, selama ini almarhum Paman Wira telah menyimpan rapat-rapat rahasia itu."
"Bagaimana Kak Leo bisa mengetahui kalau Paman Wira menyimpan rahasia ini dan tidak memberitahukan padaku dan Kak Leo?"
"Kamu ingat adikku, mengapa Paman Wira begitu antusias untuk mengangkat kita sebagai anak angkatnya? itu karna Paman merasa bersalah pada kita, karna kematian Ibu. Paman Wira sangat mengetahui siapa pembunuhnya, tapi Paman Wira menyimpannya dengan rapat-rapat, Paman tidak ingin kita mengetahuinya."
"Lalu apa buktinya Kak?" tanya Ronal semakin penasaran dengan cerita kakaknya.
"Buktinya ada di dalam lemari Paman, sebuah surat yang paman tulis, lalu di masukkannya ke dalam kotak, ia menyimpannya dengan sangat hati-hati, sehingga aku dan kamu sama sekali tidak mengetahuinya."
Ronal termenung mendengar semua cerita Kakaknya, pastas saja jika kakaknya begitu marah pada Suryo, ternyata dalang dari semua ini adalah mereka.
e