"Pak Rian, terima kasih sudah mengantar Sheila pulang, hati-hati di jalan!"
"Sheila, kamu belum menjawab pertanyaanku."
"Pak Rian sudah terlalu banyak menolongku, aku tidak mau terlalu banyak berhutang budi pada Pak Rian, lagi pula aku ini bukan siapa-siapa, aku hanya orang kecil, yang tidak pantas untuk Pak Rian...,"
"Sheila jangan di teruskan lagi! bagiku, kamu sangat berharga, tatap aku Sheila."
Rian kembali meraih tangan Sheila, di sudut mata Sheila tampak berkaca-kaca. Diangkatnya dagu Sheila sehingga mereka beradu pandang.
"Sheila, sejak pertama kali melihat dirimu, aku sudah jatuh cinta padamu, kamu berbeda dari wanita lainnya, tapi aku sadar, kalau dirimu masih milik sahabatku Leonart, aku tidak mau menghianati sahabatku sendiri," ucap Rian berterus terang, ia sudah tidak mau menutupi lagi jika dirinya dan Leonart adalah seorang sahabat.
Sheila melepaskan tangan Rian dari tangannya, matanya menatap tajam pada Rian.
"Oh, jadi Pak Rian kenal dengan Leonart? Pria yang penuh dendam dan mencampakkan aku begitu saja, tanpa memberi aku penjelasan, cukup Pak Rian! kini aku baru mengerti, mengapa aku begitu mudahnya masuk ke perusahaan Pak Rian, itu pasti recomendasi dari Leonart." Sheila kini tak sanggup lagi menahan air matanya, ia tumpahkan semua kesedihannya di hadapan Rian.
"Maafkan aku Sheila, aku hanya tidak mau membohongi dirimu, jujur aku sangat mengagumi dirimu, kamu Wanita yang kuat," ucap Rian lalu memeluk Sheila.
Sheila berusaha melepaskan pelukan Rian, kemudian ia berlari meninggalkan Rian yang sedang menatapnya dengan tatapan haru.
Dengan perasaan bersalah, Rian akhirnya kembali ke rumahnya dengan perasaan
yang tak menentu, entah dia harus bahagia karna sudah bertemu dengan kedua orang tua Sheila, atau hubungannya dengan Sheila akan berakhir setelah Sheila mengetahui jika dirinya dan Leonart adalah sahabat dekat.
****
Hari ini Leonart akan menyempatkan dirinya untuk mampir ke kantor Rian, sudah lama ia
tidak mengunjungi sahabatnya itu.
Rian tidak mengetahui jika hari ini Leonart akan mampir ke perusahaannya. Leonart tak memberi kabar agar kedatangannya dapat membuat kejutan untuk Rian, terlebih ia juga akan menanyakan keadaan istrinya Sheila yang bekerja di perusahaan Rian.
Dengan langkah penuh semangat Leonart memasuki sebuah perkantoran yang berlantai sembilan itu, Resepsionis di gedung perkantoran itu sudah sangat mengenal CEO yang tampan itu. Dengan senyum manis yang mengembang di bibir mereka, berharap akan mendapat balasan senyum pula dari Leonart. Namun siang itu Leonart tampak terburu-buru, ia bergegas menuju ruangan CEO, namun langkah Leonart terhenti ketika ia melewati dan melihat ruangan tempat Sheila biasa duduk dan bekerja kosong.
"Kemana Sheila? apa ia sudah tidak bekerja di kantor ini lagi?" guman Leo, dan segera menemui Rian di ruangannya.
Rian sedang menelpon seseorang, tangan kanannya di masukkan ke dalam saku celananya, tangan satunya memegang ponsel, Rian tak tahu jika Leonart mengetuk pintunya. Saat Rian berbalik Leonart telah berdiri di hadapannya, Rian segera mengakhiri pembicaraannya dengan orang yang di telponnya.
"Leonart, sejak kapan kamu berdiri di situ," tanya Rian terkejut.
"Aku sudah mengetuk pintu sejak tadi, tapi kamu tidak mendengar dan tetap asik menelpon." ucap Leonart tampak acuh dan berjalan dan duduk di sofa.
"Kenapa tidak mengabari aku terlebih dahulu?"
"Suprise Rian."
"Aku senang kamu mau mampir ke kantorku, ada angin apa yang membawamu ke sini, setelah dua bulan kamu tidak pernah mengunjungiku," ucap Rian penuh selidik.
"Apa kamu Lupa Rian, jika istriku berada di kantormu, selain ingin bertemu denganmu, aku juga sudah kangen ingin melihat wajah cantik Sheila," ucap Leonart tersenyum membayangkan wajah yang sudah lama ia rindukan.
Rian membetulkan duduknya, ada perasaan cemburu menyelimuti hatinya, Leonart sangat beruntung mendapatkan Sheila, tapi mengapa ia tega mencampakkan Gadis itu?" pikir Rian.
"Rian, kenapa kamu diam saja? bagaimana keadaan Sheila, apa ia betah bekerja di kantormu ini?" tanya Leonart dan, Rian sontak kaget mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Tentunya Sheila betah, karna aku sangat memperhatikan kemakmuran karyawan-karyawanku, terlebih Sheila dia karyawan teladan, selain pintar, dia juga sopan dan anggun. Aku sangat menghormatinya."
Leonart merasa Rian terlalu memuji Sheila, walaupun Leonart mengakui apa yang di ucapkan Rian itu semuanya benar.
"Rian, terima kasih kamu sudah menerima Sheila dengan baik bekerja di perusahaanmu ini, aku berhutang budi padamu."
"Tak perlu berterima kasih padaku Leonart, justru aku yang berterima kasih padamu, karna sudah memberikan berlian berada di perusahaanku ini."
"Maksudmu apa Rian? dengan mengatakan Sheila berlian, jangan-jangan kamu suka dengan Sheila, sejak tadi kamu memuji terus mengenai istriku itu."
"Leonart....! ucap Rian menarik nafasnya dalam-dalam.
"Ada apa Rian?"
"Sudah berapa lama kamu mencampakkan Sheila?" tanya Rian menatap tajam Leonart.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu padaku Rian?"
"Jujur Leo, aku sangat kasihan terhadap Sheila, kamu mengatakan padaku, jika kamu sangat mencintainya, tapi di sisi lain, kamu membiarkan ia hidup tanpa seorang diri bersama kedua orang tuanya, pernikahan macam apa yang kamu jalani dengan Sheila?" Rian memalingkan wajahnya ke luar jendela.
"Rian, aku tidak suka kamu mencampuri urusan pribadiku lebih jauh, ini urusanku dengan Sheila," ucap Leonart kesal dengan ucapan Rian barusan padanya.
"Aku ini sahabatmu Leonart, aku wajib menasehati dirimu jika kamu berbuat salah, aku tidak akan membiarkan dirimu menyakiti wanita yang sama sekali tidak bersalah," ucap Rian kembali menatap tajam pada Leonart.
"Rian, aku kesini bukan untuk bertengkar denganmu, tapi aku ingin tahu khabar Sheila gimana?" tanya Leonart melembutkan suaranya yang sempat meninggi.
"Kamu temui sendiri saja Sheila, tanyakan pada dia, kalau dia baik-baik saja, setelah apa yang kamu lakukan padanya hingga detik ini."
"Rian, aku barusan lewat di ruangan tempat Sheila biasa duduk, tapi Sheila tidak berada di sana, apa hari ini dia tidak masuk kantor?" tanya Leonart menunduk, terlihat penyesalan di wajahnya.
Rian menyipitkan matanya, ia pun belum tahu jika Sheila hari ini tidak masuk kantor.
"Ada apa dengan Sheila, apa dia sakit, atau dia masih marah padaku dengan apa yang aku katakan padanya semalam? jika aku adalah sahabat Leonart, bodoh kamu Rian," guman Rian dalam hati, ia menyesali apa yang telah ia katakan pada Sheila semalam.
Rian meraih telpon kantor dan segera memanggil Heni untuk datang ke ruangannya.
"Heni, tolong keruangan saya sebentar, ada yang ingin aku tanyakan padamu, segera ya!"
"Baik Pak Rian, saya segera kesana!" ucap Heni yang duduk di samping Sheila.
Heni segera menuju ke ruangan Rian, ia mengetik pintu dari luar.
"Silahkan masuk Heni."
Heni kemudian membuka pintu dan masuk keruangan Rian.
"Heni, silahkan duduk!"
"Terima kasih Pak, ada apa Pak Rian memanggil saya?" tanya Heni deg..degan.
"Begini Hen, saya lihat Sheila tidak masuk hari ini, apa kamu tahu alasannya kenapa Sheila ngga masuk, Heni?" tanya Rian menatap mata Heni.
"Sheila tadi izin ngga masuk, karna sakit Pak, rencananya saya baru beritahu Pak Rian setelah istirahat nanti, tapi Pak Rian udah lebih dulu menanyakan Sheila pada saya, maaf Pak kalau saya salah," ucap Heni hati-hati takut dirinya membuat kesalahan dalam berucap.
"Tidak apa-apa Heni, terima kasih kamu sudah memberitahu saya, silahkan kamu boleh kembali bekerja," ucap Rian tersenyum, dan membuat Heni lega.
Rian tampak murung mendengar Sheila sakit, perasaan bersalah kini menyelimuti jiwanya. Leonart menoleh ke arah Rian yang tiba-tiba diam.
"Ada apa Rian? kenapa kamu diam saja, setelah mendengar karyawan kamu tadi mengatakan kalau Sheila sakit, apa yang terjadi dengan Sheila?" tanya Leonart tampak mulai curiga dangan sikap Rian, sejak kedatangannya di kantor Rian, Rian tampak tidak senang dengannya.
"Leonart, kalau memang kamu masih mencintai Sheila, jemputlah dia, bahagiakan dia, dia sudah terlalu lama menderita karna ulahmu, sebelum kamu menyesal, Pria lain mengambilnya darimu, dan menjadikan Sheila sebagai Ratu, sehingga ia bisa melupakan kamu untuk selamanya." ucap Rian menarik nafasnya dalam-dalam.
"Rian, tatap aku dan jujur, apa kamu menyukai Sheila istriku?" tanya Leonart menatap tajam pada Rian, Rian menyadari walaupun ia menyukai Sheila, tapi ia tak mungkin berterus terang pada Leonart, itu akan merenggangkan hubungan persahabatannya dengan Leonart.
"Leo, aku perduli dengan Sheila, bukan berarti aku suka dengan Sheila, tapi wanita pantas untuk dilindungi bukan untuk di sakiti, pesanku padamu, temui Sheila secepatnya, sebelum ia menbenci dirimu dan melupakanmu untuk selamanya," ucap Rian lembut, walau di hatinya terasa sangat sakit, karna diam-diam Rian sangat mencintai Sheila.