Sheila tampak berpikir, ia kemudian mengikuti langkah kaki Rian menuju parkiran, di sana mobil Rian terparkir.
Rian membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Sheila untuk naik dan duduk di sampingnya
"Masuklah Sheila!"
"Pak Rian, apa ini tidak berlebihan buat saya, Pak Rian itu CEO sebuah perusahaan, sedang aku hanyalah Karyawan biasa yang bekerja di kantor Pak Rian," ucap Sheila naik ke mobil Rian.
"Sheila, bisakah kamu memanggil namaku saja, jika di luar begini panggil aku Rian saja."
"Pak Rian, 'Kan Boss saya, bagaimana mungkin Sheila begitu tidak sopan dengan memanggil nama saja, bagaimana dengan karyawan Pak Rian nanti, jika mendengar aku."
"Sheila, jangan perduli kata orang, kita punya hak untuk mengatur hidup kita sendiri, tanpa campur tangan orang lain."
Sheila terdiam, Rian memutar lagu melow di mobilnya, kemudian menjalankan mobilnya secara perlahan-lahan, hingga melewati pos bayar tiket parkir.
Sesekali Rian melirik ke arah Sheila, yang sedang menguap, Rian tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Sheila yang seperti menjaga jarak dengan dirinya.
"Kalau kamu mengantuk, tidur saja Sheila, nanti aku bangunkan jika sudah dekat nanti," ucap Rian dan di balas anggukan oleh Sheila.
Sheila kini tertidur, ia terlihat sangat lelah, Sheila menyenderkan kepalanya di senderan kursi mobil. Rian sesekali menoleh ke arah Sheila yang sedang tertidur pulas. Matanya memandang bibir mungil Sheila, ada rasa kasihan pada gadis di sampingnya itu, dari cerita Leonart ia mengetahui jika Sheila dulu hidup berkecukupan.
Rian menarik nafasnya dalam-dalam, seandainya saja Gadis di sampingnya itu bukan milik sahabatnya, mungkin sudah di pacarinya.
Benda pipih Rian bergetar, Rian melihat layar ponselnya.
"Leonart."
"Untuk apa dia menelponku malam-malam begini?" guman Rian, di biarkannya ponselnya itu berdering terus.
Sheila terbangun karna mendengar suara dering telpon berbunyi terus.
"Pak Rian, ponselnya kok ngga di angkat?" tanya Sheila sambil mengucek matanya.
"Ngga penting kok!" jawab Rian lalu melirik ke arah Sheila dan tersenyum.
"Pak Rian, rumah saya sudah dekat kok, Bapak boleh turunkan saya di depan warung itu."
"Lalu rumah kamu di mana Sheila?" tanya Rian setelah melihat di sana hanya ada terdapat warung kecil saja, tidak terlihat ada rumah.
"Rumah saya di belakang warung itu Pak Rian, ngga jauh kok," jawab Sheila membalas senyum Rian.
"Boleh aku mengantar sampai rumahmu?"
"Jangan Pak, rumah Sheila ngga pantas Pak Rian kunjungi, hanya sebuah gubuk kok Pak," ucap Sheila kembali menatap wajah Rian yang sedang tersenyum melihat tingkah Sheila yang seperti anak kecil.
"Memangnya kenapa kalau seperti gubuk, yang penting,'kan tuan rumahnya baik, aku sih fine-fine saja Sheila," jawab Rian masih memegang setirnya, pandangannya tertuju pada sebuah warung yang di maksud Sheila.
"Itu Warungnya Pak, Pak Rian boleh turunkan saya saja di sini," ucap Sheila.
Rian kemudian mencari tempat yang nyaman untuk memarkir mobilnya, ia kemudian turun membuka pintu untuk Sheila dan menutup kembali pintunya dan menguncinya.
"Pak, serius Pak Rian mau mengantar ke rumah saya?"
"Memangnya saya terlihat sedang bercanda, Sheila!"
"Baiklah Pak Rian, kita lewat gang sini saja, agar lebih mudah sampai ke rumah Sheila," jawab Sheila berjalan paling depan kemudian di ikuti oleh Rian. Suasana gang itu begitu sepi, karna Sheila tinggal di pinggiran kota, maka setelah sholat Isya, penduduk setempat sudah jarang yang keluar pada malam hari.
Karna lampu yang menerangi jalan gang itu sangat redup, Sheila tidak melihat ada batu di hadapannya yang sedang menghadang, tiba-tiba Sheila kepeleset karna menginjak batu di hadapannya. Untung saja Rian segera menangkapnya, agar Sheila tidak terjatuh.
"Maaf Pak Rian, aku tidak melihat ada batu di hadapanku," ucap Sheila yang masih dalam pegangan tangan kekar Rian.
"Deg, wangi wanita ini sangat menggoda, wangi parfum Vanila, aku suka dengan wangi ini," guman Rian melepaskan pegangannya pada Sheila.
"Tidak apa-apa Sheila, kamu harus hati-hati, apakah rumahmu masih jauh dsri sini, Sheila?" tanya Rian masih dengan jantung yang tak karuan.
"Kira-kira masih 50 meter lagi Pak Rian."
Kini mereka sama-sama terdiam dalam gelapnya malam, Sheila tidak habis pikir dengan sikap Rian padanya, yang mau bersusah payah mengantarnya, yang jaraknya jauh dari keramaian kota Jakarta.
Rian pun sedang memikirkan nasib wanita yang ada di hadapannya itu, kenapa Leonart begitu tega menyakiti Gadis sebaik Sheila, dia Wanita yang baik, tutur katanya pun sangat sopan, Pria mana yang tidak tergoda pada Wanita semacam Sheila.
"Pak Rian, kita sudah sampai," ucap Sheila membuyarkan lamunan Rian.
Rian memandangi rumah yang begitu sederhana namun terlihat rapih dan bersih
"Mari Pak Rian, ini rumah Sheila, maaf kalau tidak membuat Pak Rian nyaman," tutur Sheila dengan raut muka yang sedih.
"Assalamu alaikum, Ma, Pa, Sheila pulang!"
"Tunggu sebentar Nak," jawab Miranti dari dalam rumah.
Terdengar suara kaki sedang menuju ke arah pintu.
"Kreeeek."
Miranti terkejut saat melihat anaknya Sheila sedang bersama Pria berdiri di hadapannya.
Sebelum Miranti menanyakan siapa Pria yang bersamanya, Sheila lebih dulu memperkenalkan Rian pada mamanya.
"Ma, kenalkan ini Pak Rian, CEO Sheila di kantor tempat Sheila bekerja."
"Malam Bu, saya Rian teman kerjanya Sheila," ucap Rian merendah.
"Masuk Nak Rian, maaf rumahnya jelek tapi cukup nyaman untuk berteduh," jawab Miranti merendah pula.
Rian masuk dan duduk di ruang tamu, sedang Sheila segera masuk ke dapur untuk menyiapkan teh manis buat Rian. Miranti segera memanggil suaminya Suryo.
"Pa, di luar ada bossnya Sheila," ucap Miranti pada suaminya yang sedang berbaring di kamar.
"Suruh masuk Ma, ngga baik di biarkan lama di luar."
"Mama sudah suruh masuk Pa, dia baik mau mengantar anak kita pulang ke rumah."
Suryo dan Miranti segera menemui Rian yang sedang duduk di ruang tamu. Sheila kembali dengan membawa teh manis buatannya.
"Silahkan di minum teh manisnya Pak Rian, mumpung masih hangat, maaf cuma ini yang ada," ucap Sheila dan duduk di samping Rian.
"Terima kasih Sheila, ngga apa-apa, teh manis sudah cukup membuat dahagaku kembali normal, ngga kering lagi, apalagi yang menyuguhkan Gadis cantik semacam kamu," ucap Rian menggoda. Sheila tersipu malu, mendengar candaan Rian padanya.
"Hmmm," Suryo dan Miranti tersenyum melihat Sheila begitu bahagia hari ini, setelah sekian lama senyum itu hilang dari wajahnya.
Rian berdiri menyalami Suryo setelah mengetahui Suryo dan Miranti sudah berdiri di hadapannya.
"Terima kasih Nak, sudah mengantar Putri Kami kembali ke rumah, Bapak sudah was-was, Sheila pulang sendiri, apalagi gang menuju rumah kami begitu gelap."
"Sama-sama, Rian senang kok Pak mengantar Sheila, dia Karyawan Rian yang teladan, walau rumahnya paling jauh dari karyawan lain, tapi Sheila paling awal datang ke kantor."
Rian dan Suryo saling lempar pandang dan senyum.
Setelah setengah jam Rian berada di rumah Sheila, akhirnya ia pamit untuk pulang.
"Pak, saya pamit dulu, terima kasih dengan suguhan teh manisnya, dan terima kasih saya sudah di terima dengan baik di sini, Assalamu' alaikum," pamit Rian dan di jawab salam pula oleh keluarga Suryo.
"Pak, Sheila izin mengantar Pak Rian sampai depan gang," ucap Sheila pada Suryo, dan Suryo mengizinkan anak semata wayangnya.
Rian menatap Sheila dengan penuh arti, saat mereka sudah sampai di ujung gang.
"Sheila, rumah kamu cukup jauh dari kantor, kamu tak perlu terlalu pagi untuk datang bekerja, kini aku mengerti jika wajahmu sungguh letih, ketika kamu baru sampai di kantor, itu karna perjalanmu sangat jauh. Sheila, maukah kamu jika aku mencari rumah kontrakan untukmu, dan kedua orang tuamu agar lebih dekat dengan tempat kamu bekerja, biar kamu tidak terlalu lelah nantinya," ucap Rian meraih tangan Sheila dan menggenggamnya dengan erat, pandangannya menatap sayu pada mata Sheila.
Sheila segera menarik tangannya, ia merasa sudah terlalu banyak menyusahkan Bosnya itu.
"Maaf Pak Rian, bukannya Sheila menolak, tapi Pak Rian sudah terlalu banyak membantu Sheila, Sheila jadi malu."
"Sheila aku Serius dengan kata-kataku, please..kamu mau ya?