Sheila menajamkan matanya agar dapat melihat dengan jelas siapa Pria yang sudah menolongnya itu.
Pria itu berbalik untuk melihat keadaan Sheila. Namun, baik Sheila maupun Pria itu mereka sama-sama terkejut.
"Sheila."
"Pak Rian!!
Rian menghampiri Sheila yang masih ketakutan.
"Sheila, kamu tidak apa-apa?" tanya Rian khawatir.
"Makasih Pak, sudah menolong Sheila, tapi Pak Rian, kok tiba-tiba ada di sini?"tanya Sheila masih ketakutan.
"Aku kebetulan lewat sini, saat aku menoleh, aku melihat ada dua pemuda yang sedang mengejar seorang Wanita. awalnya aku tidak curiga, tapi dari wajah Wanita yang di kejar itu kulihat dia sangat ketakutan, dan ternyata Wanita itu adalah kamu Sheila, syukurlah kamu sudah selamat." ucap Rian tersenyum.
"Bukankah, kamu akan berangkat ke kantor?" tanya Rian menatap istri sahabatnya itu.
"Tapi, keadaanku saat ini tidak memungkinkan untuk ke kantor, Pak Rian!"
"Bagaimana kalau aku mengajakmu, membeli sepatu yang baru untuk menggantikan sepatumu yang sudah rusak itu?" tanya Rian menunjuk sepatu Sheila yang sudah rusak akibat ulah dua pemuda yang tak bertanggung jawab itu.
"Tidak perlu Pak Rian, di rumah aku masih punya satu lagi, sebaiknya aku kembali ke rumah untuk mengambilnya." jawab Sheila merasa tak enak hati jika menyetujui permintaan Rian.
"Baiklah kalau begitu Sheila, sebaiknya kamu lebih berhati-hati, kalau kamu butuh sesuatu, tak perlu sungkan padaku." Rian pamit pada Sheila untuk segera melanjudkan perjalanannya.
Sejak kejadian itu, hubungan Rian dan Sheila semakin dekat, Sheila tidak lagi memikirkan Leonart, suami yang telah menghancurkan hidup kedua orang tuanya. Hampir setiap hari mereka bertukar kabar, baik melalui telepon maupun melalui pesan singkat di whatsaap.
Hubungan Rian dan Sheila semakin dekat, tapi status hubungan mereka adalah tanpa status, tak ayal lagi banyak yang mempertanyakan hubungan mereka sampai membuat kuping Sheila panas. Seperti pagi ini, saat Sheila berjalan ke arah Lift kantor, terdengar bisik-bisik dari beberapa Karyawan, namun Sheila tidak memperdulikan omongan mereka. Sheila berjalan dengan santai menuju ruangannya. Tiara tampak melirik ke arah Sheila, dari raut wajahnya tampak terlihat kesal.
"Sheila, ada hubungan apa lo dengan CEO kita, semakin hari semakin akrab saja kalian?" Tiara menatap tajam pada Sheila.
"Kami cuma berteman saja kok, lagi pula Pak Rian, baik kok orangnya!"
"Pak Rian itu udah punya tunangan loh, jadi jangan harap dia akan serius sama lo," tutur Tiara, Sheila tidak menjawab perkataan Tiara barusan padanya, ia sibuk membuka laptopnya dan mengerjakan apa yang seharusnya ia kerjakan, Tiara yang merasa di abaikan sangat berang. Ia menatap Sheila dengan sinis.
"Mentang-mentang lo dekat dengan Boss jadi sombong, kita lihat saja nanti, lo akan di campakkan olehnya."
Sheila yang merasa ucapan Tiara sudah sangat keterlaluan , menatap tajam pada Tiara.
"Sudah cukup bicaranya! Tiara, cam, 'kan satu hal, aku bukan w************n yang dengan gampangnya menerima cinta dari Pria, apalagi Pria semacam Pak Rian, aku dekat dengannya karna aku menghargai dia sebagai atasanku, tidak lebih dari itu. Atau jangan-jangan, kamu yang diam-diam menyukai Pak Rian? tapi kamu dengan seenaknya mencari kambing hitam!"
"Tutup mulutmu Sheila!" Tiara semakin kesal, wajahnya merah karna menahan amarah.
Heni yang duduk di samping Sheila merasa risih mendengar Sheila dan Tiara beradu mulut, ia segera berdiri dan menghentikan mereka.
"Hentikan, kalian ini apa-apaan sih! ini kantor bukan parkiran, dan kamu Tiara! ngapain sih, ngurusin kehidupan orang? Pak Rian, 'kan masih single, dan Sheila pun masih single, apa salahnya kalau mereka menjalin hubungan lebih dekat lagi," ucap Heni menatap Tiara dengan tajam.
"Yakin kamu Hen? jika Sheila masih single, kalau gue sih, ngga yakin," ucap Tiara membuang wajahnya dengan kasar ke arah samping.
Sheila tampak berkaca-kaca, ia sudah tidak tahan dengan ucapan dan sindiran Tiara padanya, wanita satu itu, sungguh membencinya, entah apa yang membuatnya bersikap seperti itu pada Sheila, entah cemburu atau iri dengan kedekatannya dengan CEO perusahaan ini.
Sheila memilih untuk mengalah dan diam, tujuannya berada di perusahaan ini hanyalah untuk bekerja dan mendapatkan uang, agar kehidupannya lebih baik lagi.
****
Cuaca hari ini sangat panas, terik matahari begitu menembus sampai ke ubun-ubun Leonart. Hari ini Leonart sedang meninjau Proyek baru yang akan di bangunnya di lahan yang baru di belinya beberapa waktu lalu. Sudah sebulan Leonart tidak pernah bertemu dengan Sheila, ia sengaja memberi waktu untuk Sheila agar dapat memikirkan nasib pernikahan mereka, namun Leonart tidak mengetahui jika saat ini, sahabatnya Rian sedang jatuh cinta pada istrinya Sheila.
Saat pulang kantor tiba, Rian bergegas menghampiri Sheila, Rian mengajak Sheila untuk pulang bareng dengan dirinya, namun Sheila menolaknya dengan halus, untuk menghindari tatapan sinis dari Tiara.
Hari ini Sheila sengaja pulang cepat, ia berencana mampir ke Mall untuk membeli sesuatu buat mama dan papanya. Selama papa dan mamanya bangkrut dan tidak punya apa-apa lagi, mereka tidak pernah lagi ke Mall, sebagai seorang anak, Sheila merasa sangat sedih melihat keadaan mama dan papanya.
Sheila bergegas ke halte bus, ia menuju ke salah satu Mall terbesar di Jakarta. Sheila memilih beberapa potong pakaian untuk Mama dan papanya, tak lupa ia membeli donat JCO kesukaan mamanya, setelah selesai berbelanja, Sheila mencari tempat makan, perutnya sudah keroncongan. Beberapa menu makanan sudah di pilihnya, sudah lama ia tidak makan steak daging. Setelah pesanan Sheila datang ia memakannya dengan lahap."Sudah lama sekali aku tidak pernah makan Steak daging, semenjak Papa bangkrut kami selalu makan seadaannya, aku akan memesan beberapa potong Steak buat Mama dan Papa," guman Sheila. Ponsel Sheila berbunyi, Sheila menoleh ke arah benda pipih di sampingnya.
"Mama."
"Ya hallo Ma."
"Sheila jam segini kamu belum pulang Nak, kemana?" tanya Miranti khawatir terhadap Putri semata wayangnya.
"Sheila lagi belanja Ma, Sheila beli gaun buat Mama dan kemeja buat Papa, tapi sebentar lagi Sheila udah mau pulang kok, Ma."
"Pulangnya jangan larut ya Nak, hati-hati!"
"Baik Ma."
Sheila sudah selesai makan, ia membereskan belanjaannya, dan segera memesan taksi. Baru saja Sheila keluar dari Mall, tak sengaja Rian berpapasan dengan Sheila.
"Sheila, kamu kok di sini, bukannya kamu sudah pulang sejak siang?" tanya Rian, matanya tertuju pada kantong plastik yang sedang di pegang Sheila.
"Oh, kamu habis berbelanja Sheila?" tanya Rian tersenyum pada Sheila.
"Ia Pak, Sheila tadi mampir ke sini beli baju buat Mama sama Papa, kebetulan hari ini Sheila gajian, jadi apa salahnya Sheila menyenankan hati Mama sama Papa."
Rian merasa terharu mendengar perkataan Sheila padanya, Sheila selain cantik ia juga baik, ia sangat menyayangkan sahabatnya Leonart mencampakkan istrinya begitu saja.
"Pak, kok diam saja?" tanya Sheila, melihat Rian terpaku memandangnya.
"Oh maaf Sheila, sekarang kamu mau kemana?"
"Sheila mau pulang ke rumah, kebetulan Sheila sudah selesai belanja, baru saja Sheila mau pesan taksi, eh malah ketemu sama Pak Rian," ucap Sheila memperlihatkan senyum manisnya, Rian ngga sanggup melihat senyum manis Sheila yang membuat hatinya selalu bergetar jika melihat senyum manis itu.
"Sheila, kamu ngga keberatan jika aku mengantarmu pulang? aku takut kejadian waktu itu terjadi padamu lagi, apalagi hari sudah sangat gelap."
"Tapi Pak..." Belum selesai Sheila berbicara, Rian sudah memotongnya.
"Ngga perlu sungkan begitu Sheila padaku, anggap saja aku ini temanmu, jadi wajar jika aku mengkhawatirkan dirimu, ayuk aku antar," ajak Rian lalu mengambil kantong plastik dari tangan Sheila.