Setelah Sheila pikir-pikir, ia tetap akan melanjudkan untuk bekerja di tempat ia bekerja sekarang, kalau ia Resign saat ini, bagaimana ia bisa menghidupi papa dan mamanya, kalau hanya mengandalkan dari hasil jualan kue saja, tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Pusing kepala Sheila memikirkan semua itu.
Sementara Leonart tampak dari wajahnya terlihat kekecewaan yang begitu mendalam, kini hubungannya dengan Sheila, bukannya membaik malah bertambah buruk, Sheila semakin menjauhinya.
"Kalau aku mengejar Sheila terus, aku takut dia akan bertambah membenciku, aku harus memberikan waktu untuknya," ucap Leonart memijid jidatnya yang terasa pening.
Leonart memutuskan untuk kembali ke kantornya. Dalam perjalanan ke kantornya, Leonart mendapat notif pesan dari adiknya Ronal, Leonart diam tidak merespon pesan dari Ronal. Tak lama kemudian Leonart telah sampai di kantornya, ternyata Ronal sedang menunggu di ruangannya.
"Kak, dari mana saja, pagi-pagi sudah tidak berada di rumah, Kak Leo pasti menemui Kak Sheila lagi?" tanya Ronal penuh selidik.
Pertanyaan Ronal membuat dahi Leonart berkerut. Leonart tampak bersikap acuh terhadap Ronal.
"Aku benci wanita, mereka selalu saja membuatku kesal."
"Maksud Kak Leo apa? Ronal tidak mengerti."
"Semua Wanita sama saja, menyebalkan!"
Ronal memicingkan matanya, sikap Leonart sama sekali tidak ia mengerti.
"Bukankah, Kak Leo yang memulai duluan? sejak dulu aku tidak setuju dengan sikap Kak Leo yang memperlakukan Kak Sheila dengan tidak adil, Kak Sheila adalah korban dari kebencian kalian," jawab Ronal dengan ketus.
Leonart kembali menatap Ronal, namun kali ini tatapannya sangat menusuk sampai ke relung jantung Ronal.
"Ronal, apa maksud dari ucapanmu? apa kamu lupa, apa yang telah mereka lakukan pada keluarga kita?"
"Aku tidak lupa Kak, tapi apa Kak Leo bahagia, setelah balas dendam Kak Leo terlaksana dengan baik, sementara ada wanita yang tersakiti, jangan lupa Kak, Sheila itu istrimu dan kamu belum menceraikannya," ucap Ronal tak kalah ketusnya.
"Hentikan Ronal! dan keluar dari ruanganku, kamu hanya menambah beban di kepalaku saja!" teriak Leonart dan beberapa Karyawan yang kebetulan lewat menoleh ke arah kedua Adik Kakak yang sedang bertikai itu.
"Baik Kak, Ronal akan keluar dari sini, tapi ingat, penyesalan itu selalu datangnya belakangan, Ronal permisi."
Dengan wajah kesal, Ronal keluar dari ruangan Leonart.
Leonart terlihat acuh, tidak perduli saat Ronal pergi meninggalkannya seorang diri, itu lebih baik, dari pada harus mendengarkan ocehan Ronal padanya.
Mobil Ronal melaju dengan kencang, dari wajahnya masih terlihat amarahnya yang ia tahan.
"shiiits," bunyi suara mobil Ronal di rem secara tiba-tiba. Ronal tidak fokus dalam mengemudi, mobil sedan di hadapannya hampir saja di serempet olehnya, Ronal menggentikan mobilnya secara mendadak.
Pengemudi sedan itu terlihat sedang membuka pintu dan keluar dari dalam mobilnya, ternyata pengemudinya seorang Wanita, dengan wajah cemberut dan kesal ia menghampiri mobil Ronal.
"Buka kaca jendelanya," perintah gadis itu.
Ronal membuka jendela mobilnya sesuai dengan peintah gadis itu.
"Anita?" ucap Ronal terkejut.
"Ronal!" wanita itu tak kalah terkejutnya.
"Maafkan aku Anita, aku tadi terburu-buru, apa ada yang rusak di mobilmu?" tanya Ronal menoleh ke arah mobil Anita.
"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati Ronal, jika kamu mengendarai mobilmu seperti itu, kamu bisa mencelakai orang lain."
"Sekali lagi maafkan aku Anita."
"Baik, aku maafkan, tapi ingat kata-kataku tadi."
"Terima kasih Anita, kamu sudah mau memaafkan aku."
"Baiklah Ronal, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku harus segera pergi, kakakku sedang menungguku," ucap Anita dan segera berbalik menuju ke mobilnya.
"Anita, tunggu!"
"Ada apa lagi Ronal, aku harus segera pergi."
"Anita, aku ingin mengajakmu malam ini untuk dinner, apa kamu ada waktu?" tatap Ronal memohon.
Anita terdiam sejenak, terlintas di pikirannya untuk balas dendam pada Leonart, kesempatan ini tidak di sia-siakan olehnya, untuk sampai tepat pada sasaran, ia harus mendekati Ronal terlebih dahulu, agar mempermudah langkahnya menuju sasarannya.
"Hmm, baiklah Ronal, apapun yang kamu inginkan akan aku kabulkan, tapi untuk malam ini saja," ucap Anita tersenyum puas dengan rencananya itu.
Ronal terlonjak kegirangan.
"Anita, aku akan menjemputmu tepat pukul 7 malam nanti, tapi Anita, alamat rumahmu masih sama dengan yang dulu, 'kan?" tanya Ronal dengan senyum sumringah.
"Ok, aku tunggu, dan jangan telat, karna aku paling tidak suka cowok yang ngga tepat waktu."
"Baik Anita, sampai ketemu nanti malam."
"Bye Ronal." Anita bergegas meninggalkan Ronal yang masih tidak percaya, jika ajakannya tadi di setujui oleh Anita.
****
Seperti biasa Sheila selalu bangun pagi, karna ia akan membantu mamanya untuk menyiapkan dagangannya. Setelah semuanya sudah rapih, Sheila baru berangkat ke kantor.
Gang kecil yang biasa Sheila lalui begitu sepi pagi ini, dengan hati-hati ia mempercepat langkahnya. Di belakang Sheila, ada dua Pria berjalan dengan langkah cepat, Sheila semakin mempercepat langkahnya pula, perasaan was-was kini menghantui pikirannya, berharap ada orang lain selain dirinya. Akhirnya Sheila sampai juga di ujung gang itu. Baru saja Sheila bernafas lega, kedua Pria itu menghampirinya.
"Serahkan tas yang ada di tanganmu! atau kamu lebih memilih untuk mati," ucap kedua Pria itu sambil memperlihatkan benda tajam di tangannya. Tubuh Sheila gemetar ketakutan, ia lalu menyerahkan tas yang ada di tangannya kepada kedua pemuda itu.
Namun kedua pemuda itu bukannya segera pergi, mereka malah memegang kedua tangan Sheila dengan erat.
"Lepaskan aku, bukannya aku sudah menyerahkan tas yang kalian inginkan?" teriak Sheila meronta-ronta.
"Hei cantik, tidak semudah itu kami melepaskan wanita cantik seperti dirimu."
"Kalau kalian tidak melepaskan aku, aku akan teriak, dan kalian akan di keroyok oleh massa," ucap Sheila mulai terisak dan ketakutan.
"Coba saja teriak, kami akan menusukmu dengan benda tajam ini," tantang pemuda yang bertubuh gemuk dan berperawakan pendek.
Sheila terdiam sejenak mengatur nafasnya, matanya tak lepas dari benda tajam yang ada di tangan pemuda satunya.
"Ayo ikut kami, dan jangan teriak kalau kamu ingin selamat dari benda tajam ini!"
Sheila mengikuti kedua Pria itu, saat mereka lengah, Sheila berbalik dan melarikan diri sekuat tenaganya, sepatu Vantopel yang di pakainya di tinggalkannya, asalkan ia selamat dari kedua Pria jahat itu. Kedua Pria itu mengejar Sheila, mereka saling kejar-kejaran sampai di jalan raya.
PLAK, tiba-tiba sebuah tendangan bertubi-tubi mengenai kedua pemuda itu, Sheila terus saja berlari dan tak mengetahui jika kedua pemuda itu telah jatuh tersungkur di aspal jalan raya, yang masih terlihat sepi. Seorang Pemuda tampan, berbadan atletis, dengan d**a yang bidang dan berkulit putih, memakai jas dan begitu rapih, mengarahkan bogemnya kepada kedua pemuda itu, sampai tidak berdaya.
Sheila yang berlari menghentikan langkahnya ketika mendengar ada suara erangan dari arah belakang. Ketika Sheila berbalik melihat kebelakang, ternyata kedua Pria yang mengganggunya tadi telah jatuh ke jalan, oleh tendangan dan pukulan seorang Pria tampan berbaju Jas Hitam.
"Siapa Pria yang sudah menolongku itu," guman Sheila masih dengan nafas tersenggal-senggal.