Ronal merasa di abaikan oleh Anita, Wanita itu lebih memilih kakaknya di banding dengan Ronal yang sangat mencintainya.
"Dasar Wanita tak tahu diri, apa kurangnya aku, bahkan Anita tak mau memberikan kesempatan padaku walau sekali saja," gerutu Ronal.
"Maafkan aku Ronal, aku tidak pantas mendapatkan cintamu, aku bukan Wanita yang baik untukmu, aku menyukai kakakmu bukan karna aku mencintainya, tapi aku punya alasan yang kuat untuk menghancurkannya, tunggu saja pembalasanku," tutur Anita, wajahnya memperlihatkan kekesalan.
Pagi sudah menampakkan sinarnya, Leonart terbangun karna ada seberkas cahaya menerpa wajahnya, hari ini ia akan melanjudkan pengintaianya terhadap Sheila, Leonart tidak akan patah semangat untuk membujuk Sheila kembali dengannya, terlebih lagi mereka belum bercerai di mata hukum.
"Pak Robby tolong buka pagernya," pinta Leonart pada Satpan rumahnya.
"Baik Pak Leo."
Leo kemudian melajukan mobilnya ke jalan raya, ia masih bingung harus memulai dari mana pengintaiannya. Leonart tiba-tiba menghentikan mobilnya di depan kantor Rian, dari kejauhan ia melihat Wanita cantik yang selalu ia rindukan. Sheila baru saja turun dari Busway, dengan langkah
yang terburu-buru, ia memasuki kantor tempat ia bekerja. Sudah seminggu ini Sheila tidak bertemu dengan Leonart, bahkan Sheila berusaha melupakan sosok Leonart dari ingatannya.
Tekat Sheila sudah bulat, ia akan mengubur semua kenangan manis bersama Leonart, walau memang susah untuk melupakan cinta pertamanya itu.
Leo masih menatap Sheila dari kejauhan, matanya menatap tajam, sampai Sheila hilang dari pandangannya.
****
Rian sesekali melirik ke arah Sheila yang sibuk dengan laptop di mejanya, diam-diam Rian mengagumi Sheila.
"Wanita ini berbeda dengan Wanita lain, walaupun baju yang di kenakannya terlihat sederhana, namun penampilnnya tetap terlihat elegan, sayang ia sudah menjadi milik sahabatku Leonart, kalau saja ia masih single mungkin saja sudah di pacarinya Wanita itu."
Rian memukul dahinya.
"Ada apa dengan kamu Rian, di luar sana masih banyak Wanita yang menginginkan dirimu, jangan tergoda dengan istri sahabatmu sendiri." pikirnya, Rian senyum-senyum sendiri.
Sheila membereskan mejanya dan bersiap-siap ke kantin, kini waktunya untuk istirahat. Sheila mengambil mukena yang selalu ia bawa selama bekerja, ia terburu-buru ke mushola yang berada di dalam kantor itu. Saat Sheila akan memasuki mushola ia berpapasan dengan Leonart yang juga akan melaksanakan sholah dzuhur di mushola itu. Leonart bagaikan orang asing bagi Sheila, ia sama sekali tak mau menoleh ke arah Leonart. Di percepatnya langkahnya meninggalkan musholla itu ketika ia sudah selesai sholat, berharap ia tak akan bertemu Leonart lagi. Luka hati Sheila sudah berangsur-angsur sembuh, ia tak mau kembali lagi berurusan dengan Leonart, secepatnya ia akan mengurus surat perceraiannya, agar ia dapat terbebas dari Pria yang penuh dengan dendam itu.
"Sheila, tunggu!"
Ada suara seorang Pria memanggil namanya, langkahnya terhenti seketika.
Leonart menarik tangan Sheila dengan kasar, Sheila menepis tangan Leonart, ia menatap tajam pada Leonart.
"Sheila, jangan bersikap seperti itu padaku, maaf aku tadi menarik tanganmu dengan kasar, beri aku kesempatan untuk berbicara denganmu, Sheila aku mohon!"
"Leo, mengapa kamu berada di sini? bukankah kantormu jauh dari sini, apa kamu membuntutiku sejak tadi?" tanya Sheila masih dengan tatapannya yang tajam.
Hampir saja Leonart keceplosan jika dirinya dan CEO tempat Sheila bekerja adalah sahabatnya dan sekaligus partner kerjanya.
"Jawab aku Leo, jangan diam saja, apa kamu belum puas balas dendam pada kedua orang tuaku, sehingga aku juga harus merasakan seperti apa yang di rasakan oleh orang tuaku?" tanya Sheila tak dapat membendung air matanya lagi.
Tanpa berkata lagi, Sheila meninggalkan Leonart yang masih terpaku mendengar ucapan Sheila barusan padanya.
Di kantin kantor, Sheila menghabiskan istirahat siangnya, bakso yang ia pesan begitu terasa hambar di lidah pengecapnya.
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Sheila, ia sungguh tidak merasa nyaman selalu di ikuti oleh Leonart, tapi Sheila merasa sedikit aneh dengan kehadiran Leonart di kantornya itu, apa Leonart sedang menemui seseorang di kantornya itu, lalu siapa orangnya? guman Sheila menerka-nerka.
Sheila membayar bakso yang sudah di makannya, mamanya selalu memberikan uang lebih padanya, agar Sheila tidak kelaparan. Sheila mengeluarkan uang seratus ribu dari dalam dompetnya dan memberikan kasir.
"Setelah gajian nanti, aku akan mengembalikan uang Mama yang telah di berikannya padaku, walaupun Mama tak mau menerima, Sheila tetap akan memaksa Mama untuk menerimanya. Kasihan Mama, siang malam harus banting tulang berjualan kue hanya untuk menyambung hidup kami yang serba kekurangan." Rintih Sheila memasukkan kembali kembalian uang ke dalam dompetnya.
Sheila kembali ke ruangannya, ia melanjudkan pekerjaannya yang tertunda karna jam istirahat telah usai.
Tiara yang berada di seberang meja Sheila, tiba-tiba menghampiri Sheila.
"La, sorry ya, gue tadi ngga sengaja lihat lo di kantin bertemu dengan CEO Leonart, lo sepertinya udah sangat mengenal beliau, dari cara kalian saling memandang dan berbicara sepertinya bukan orang asing, memangnya lo kenal di mana, Ra?" tanya Tiara yang membuat Sheila terkejut, ternyata pertemuannya dengan Leonart di kantin tadi ada yang melihat mereka.
"Hmm, Tiara sorry ya aku lagi banyak kerjaan, lagi pula ngga penting kok untuk di bahas," jawab Sheila yang terlihat kesal.
"Ra, sekarang gue paham, mengapa lo dengan mudahnya di terima bekerja di sini, itu karna lo mengenal Pak Leonart, sedang Pak Leonart itu sahabat dari CEO kita di sini, Pak Rian."
"Tiara kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan barusan, kamu sedang tidak bercanda, 'kan?" tanya Sheila membelalakkan matanya mendengar perkataan Tiara barusan padanya, dadanya begitu sesak menerima kenyataan ini.
"Eh tapi, lo jangan ngomong ya kalau gue yang ngasih tahu lo, ini rahasia antara lo sama gue, ok."
Tiara kembali ke tempat duduknya, sedang Sheila sudah ngga mood lagi untuk melanjudkan pekerjaannya. Kalau saja itu benar apa yang di katakan Tiara padanya, Sheila akan mengundurkan diri dari perusahaan tempat ia bekerja baru seminggu ini, pikir Sheila.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan, kini aku terjebak dalam permainanmu Leonart, lalu rencana apalagi yang sedang kamu lakonin untuk diriku Leonart, apakah kamu belum puas menyakiti diriku, ya Allah, aku benar-benar sudah tak berdaya lagi," ucap Sheila dalam hati.
Sheila baru saja sampai di rumahnya, wajahnya begitu lusuh, bukan karna fisiknya yang lelah, tapi batin Sheila yang sudah terlampau rapuh untuk bertahan dalam situasi ini, baru saja seminggu ia merasa bahagia, karna ia di terima di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang lumayan dapat menghidupi papa dan mamanya.
Teng..teng
Bunyi lonceng jam dinding di ruang tamu sebanyak dua belas kali, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Sheila memejamkan matanya, ia tidak dapat tidur semalaman, pikirannya masih terngiang-ngiang dengan perkataan Tiara padanya sewaktu di kantor tadi.
"Kalau aku Resign, bagaimana dengan uang Mama yang sudah aku pakai selama aku bekerja, karna sebelum aku mendapatkan gaji, uang Mama yang aku gunakan untuk sewa busway dan makan siangku di kantor," keluh Sheila mengaruk-garuk kepalanya dengan kasar, sehingga rambutnya jadi berantakan.
Dua pilihan yang sangat sulit, lanjud atau Resign.
.