"Kak Leo, aku Anita, teman adikmu Ronal!"
Leonart berusaha mengingat sosok Wanita di hadapannya.
"Oh aku ingat sekarang, kamu yang teman adikku Ronal?"
"Betul sekali Kak, apa khabar?"
"Baik, dan kamu?"
"Ya, seperti yang Kak Leonart lihat saat ini."
"Ngapain malam-malam kesini?" tanya Leonart sepertinya ia kurang senang dengan kedatangan Anita.
"Aku kebetulan lewat sini Kak, dan aku tahu ini rumah Ronal, bolehkah aku mampir sekedar bersilatuhrahmi?" tanya Anita dengan wajah memohon.
"Tapi ini sudah malam Anita, tak baik seorang Wanita malam-malam begini bertamu di rumah seorang Pria," jawab Leonart masih dengan wajah yang tidak senang.
"Tapi lain kali aku boleh ngga ke rumah Kak Leonart? aku ingin mengenal Kak Leo lebih dekat lagi."
Lagi-lagi pernyataan Anita membuat Leonart semakin tidak suka dengan kehadirannya di rumah Leonart.
"Bukankah kamu ke sini untuk menemui adikku Ronal?" tanya Leonart semakin penasaran dengan apa yang di inginkan oleh Wanita di hadapannya.
"Aku ke sini bukan untuk Ronal, tapi untuk menemui Kak Leonart."
"Hah, maksudmu apa Anita? sebaiknya kamu kembali ke rumahmu, jika kamu ingin ke rumah seorang Pria, maka datanglah pada siang hari, jangan malam-malam begini!" hardik Leonart.
Anita menghampiri Leonart dan menatap mata Leonart dengan tajam.
"Jangan munafik jadi Pria, aku tahu Pria semacam dirimu, Pria yang suka gonta ganti Wanita, lalu apa kekuranganku sehingga kamu tidak menyukai diriku, selama ini aku tidak pernah di perlakukan begini oleh seorang Pria, aku ngga akan pernah menyerah untuk mendapatkan diri...."
"Sudah cukup bicaranya, sekarang aku kasih tahu padamu, jangan pernah menyamaratakan semua Pria yang kamu kenal, karna aku bukan Pria semacam itu, sekarang tinggalkan rumahku dan jangan pernah ke sini lagi, dan satu lagi jangan ganggu adikku Ronal, karna aku tidak akan membiarkan ia bercinta dengan Wanita macam dirimu, minggirlah aku mau masuk," ucap leonart kesal, ia kemudian membuka pager pintunya sendiri dan naik ke mobilnya dan masuk ke pekarangan rumah dan di sana terdapat mobil Ronal pula sedang terparkir.
"Pak Robby, tutup pagernya, dan jangan izinkan sembarang orang ke rumah ini, paham," ucap Leonart pada Satpam yang baru kembali dari kamar kecil untuk buang hajat.
Anita memandangi rumah Leonart dengan kagum, tapi ia juga kesal dengan sikap Leonart yang kurang menyukai kehadirannya.
"Sialan Pria itu sombong sekali, tunggu...! aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku My Honey," tutur Anita dan meninggalkan rumah Leonart.
Leonart tampak kesal memasuki rumahnya, Ronal yang baru saja membersihkan tubuhnya, karna ia juga baru saja sampai dari kantor, melihat wajah kakaknya yang begitu kusut, Ronal segera menghampiri Leonart.
"Ada apa Kak, kok mukanya kusut begitu?" tanya Ronal yang tidak mengetahui dengan kedatangan Anita.
"Anita, Ronal!"
"Anita? Kak Leo bertemu dengan Anita di mana?"
"Kak Leo barusan bertemu dengan Anita di depan rumah kita, entah sejak kapan dia berada di sana."
"Untuk apa Anita ke rumah kita Kak Leo?"
"Entahlah."
"Kok ngga di suruh masuk Kak, lalu Anita sekarang masih di luar?"
"Kakak udah menyuruhnya pulang, ngga baik Wanita malam-malam ke rumah Pria."
"Kak Leo ini keterlaluan, bukannya di suruh masuk malah di suruh pulang."
Leonart berbalik menatap tajam pada Ronal dan membuat Ronal semakin tidak mengerti dengan sikap Leo padanya.
"Ronal, jangan pernah bergaul dengan wanita bernama Anita, kamu akan menyesal nantinya."
"Maksud Kak Leo apa? berbicara semacam itu tentang Anita?"
"Nanti kamu juga akan tahu, Wanita semacam apa Anita itu."
Ronal terlihat kesal dengan ucapan kakaknya barusan padanya.
"Kak Leo kan tahu kalau aku sangat menyukai Anita, jadi jangan pernah halangi Ronal jika ingin lebih mengenal Anita lebih dekat lagi."
"Terserah kamu Ronal, Kak Leo tidak bisa menghalangimu, tapi kamu jangan menyesal di kemudian hari." Ucap Leo berlalu masuk ke kamarnya.
"Wanita semua sama, menyebalkan," keluh Leonart.
Leonart membuka lemari pakaiannya, ia mengganti baju yang di kenakannya sejak pagi, sebuah benda jatuh ke lantai, Leonart mengamati benda kecil yang berkilau, ternyata Cincin pernikahan mereka, sudah lama Leonart tidak mengenakan cincin itu, karna ia sibuk dengan balas dendamnya dengan keluarga Sheila. Di cincin itu bertuliskan nama Sheila, istrinya yang kini sudah tak mau menerimanya karna ulahnya yang menyakiti kedua orang tuanya.
"Sama seperti yang aku rasakan Sheila, orang tuamu telah merengut nyawa orang tuaku, tidakkan kamu mengerti jika diriku sangat mencintaimu, sudah dua tahun kita berpisah, tidakkah kamu merindukanku, tapi ini semua juga salahku yang lama mengabaikan dirimu," renung Leonart menatap Cincin di tangannya.
Ronal semakin penasaran dengan kata-kata kakaknya barusan, rasa lelahnya kini berganti dengan rasa penasarannya dengan Wanita yang bernama Anita.
Anita yang Ronal kenal bukanlah Anita yang di katakan oleh Leo kakaknya, dia wanita yang lugu dan baik, tapi kalau memang benar apa yang di katakan kakaknya, berarti Anita telah berubah, Ronal akan buktikan sendiri kata-kata Leonart.
Ronal kembali menemui Leonart di kamarnya.
tok..tok..tok
"Pintunya tidak di kunci masuk saja!"
"Kak Leo serius dengan apa yang Kakak ucapkan?"
"Ronal, Kak Leo malas berdebat, kembalilah ke kamarmu, bukankah kamu juga sangat lelah seharian bekerja di kantor? Kak Leo mau istirahat."
"Kak, tolong katakan apa yang membuat Kak Leo tidak menyukai Anita."
Leo memilih bungkam, tak mau menanggapi pertanyaan adiknya, ia membanting tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidurnya dan mengambil bantal untuk menutupi kupingnya agar tidak mendengar suara Ronal.
Ronal menghela nafasnya dengan kasar lalu pergi meninggalkan Leonart.
"Mengapa hari ini Kak Leonart begitu menyebalkan, apa karna hubungannya dengan Kak Sheila lagi renggang?" guman Ronal dalam hati.
Ronal merogoh saku celananya, ia mengambil ponselnya dan segera menelpon Anita.
"Ya, hallo," terdengar suara Anita di ujung telepon Ronal.
"Anita, apa benar kamu ke rumahku malam ini?"
"Ya betul, aku tadi mampir ke rumahmu, dan aku bertemu dengan kakakmu yang dingin itu," ucap Anita dengan kesal.
"Mengapa kamu tidak menelponku, biar aku jemput atau menemuimu di depan."
"Aku cuma sebentar kok, lagi pula aku ingin bertemu dengan Kakakmu Leonart, dan bukan dengan dirimu."
"Ada urusan apa kamu ingin menemui kakakku, apa kakakku sudah mengganggumu?" ucap Ronal semakin penasaran.
"Sudahlah Ronal, aku tidak mau membahas ini lagi, aku sangat tertarik dengan kakakmu, dan aku tak akan menyerah untuk mengejar cintanya," ucap Anita tanpa menghiraukan perasaan Ronal padanya.
"Kakakku sudah beristri, dan kamu tidak boleh mengganggu Pria yang sudah beristri."
Anita menutup telponnya dengan kesal. Ronal menarik nafasnya dengan panjang.
Baru kali ini Ronal jatuh cinta pada seorang Gadis, namun cintanya bertepuk sebelah tangan, Anita sudah mencintai kakaknya Leonart.
Ronal kembali menelpon Anita.
"Apa ucapanku tadi belum cukup jelas padamu Ronal? aku sangat tertarik dengan Leonart, dan jangan pernah menanyakan hal itu lagi." Anita begitu kesal, sehingga ia meninggikan suaranya.
"Tolong Anita, jangan hancurkan pernikahan kakakku, jangan menjadi w*************a hanya karna cinta buta."
"Jangan menceramahiku Ronal, aku tidak butuh ceramah darimu!"
"Anita, jujur aku sangat menyukaimu, sejak pertama bertemu di Restorant itu, aku sudah jatuh hati padamu," ucap Ronal dengan suara lembut.
"Ronal mengertilah, aku tidak bisa memaksakan cintaku padamu, aku hanya menyukai kakakmu."
"Jadi...kau benar-benar menolakku Anita?" tanya Ronal dengan perasaan yang begitu hancur mendengar pengakuan Anita barusan padanya.