Sheila berjalan menyusuri jalan setapak untuk kemudian berada di Halte Bis. Dari kejauhan sepasang mata sedang mengintai gerak gerik Sheila di dalam sebuah mobil Sedan berwarna Hitam, di dalam mobil itu ada seorang Pria tampan sedang menatap tajam ke arah Sheila, sorot matanya mengisyaratkan kerinduan yang cukup mendalam.
Perlahan-lahan ia menjalankan mobilnya agar lebih dekat dengan Sheila. Di saat para penumpang Busway satu persatu pergi, Sheila hanya seorang diri menanti Busway berikutnya.
Tangan kekar menarik lengan Sheila dari belakang, Sontak saja Sheila kaget dan berbalik melihat siapa yang sudah lancang memegang lengannya tanpa pamit padanya. Tak ayal lagi Sheila mengepalkan tangannya dan berbalik melayangkan bogemnya ke wajah Pria itu. Tangan Pria itu lebih kekar sehingga ia dapat menangkap tangan Sheila dengan cepat, kemudian memeluk tubuh Sheila. Sheila meronta ketakutan, ia belum melihat wajah Pria yang sudah berani memeluknya. Deg, aroma parfum Pria ini, mengingatkan dirinya pada Pria yang dicintainya.
"Lepaskan aku, kalau tidak aku akan teriak biar orang-orang di sekitar sini mengeroyokmu," teriak Sheila dan meronta-ronta.
"Sheila, aku Leo suamimu."
Deg..deg..deg jantung Sheila berdetak begitu kencang. Ia tak lagi meronta-ronta, Sheila berusaha mengatur nafasnya agar tidak sesak di d**a. Sheila menengadahkan kepalanya melihat apa benar Pria itu adalah Leonart.
"Leonart Yansen, apa benar kamu suamiku?" tanya Sheila, kini ia telah berurai air mata. Sheila kembali menunduk.
"Sheila, ayo naik ke mobilku, biar aku mengantarmu pulang!"
Sheila belum tersadar dari keterkejutannya. Ia membiarkan suaminya menarik tangannya menuju mobil Leonart. Leonart membuka mobilnya, ia lalu mendudukkan Sheila di sampingnya. Mobil pun berjalan, hening sejenak tak ada percakapan di antara mereka berdua. Mereka larut dalam lamunannya masing-masing.
"Turunkan aku di sini Leonart!!"
Sheila menoleh ke arah Leonart, matanya begitu tajam menatap Leonart.
"Sheila, biarkan aku mengantarmu, aku tidak akan menyakitimu." pinta Leonart dengan setengah memohon.
"Sekali lagi aku katakan padamu, tolong berhenti, dan jangan pernah menemuiku lagi, Leonart Yansen."
Sheila begitu terlihat marah, kemarahan yang ia pendam bertahun-tahun. Leonart tidak menghiraukan ucapan Sheila, ia tetap pada setirnya. Diam dan fokus menatap jalan yang begitu macet.
"Untuk apa kamu menemuiku lagi Leonart, bukankah kamu sudah melupakan aku, mencampakkan aku, jawab Leonart jangan diam saja, aku benci dirimu!" teriak Sheila. Leonart me-rem mobilnya, dan berhenti secara tiba-tiba. Leonart berhenti karna di sekitar tempat itu terlihat sepi.
"Sheila maafkan aku, bukan maksudku untuk mencampakkan dirimu, tapi..aku..."
"Tapi aku belum puas balas dendam pada orang tuamu, begitu maksud ucapanmu Leonart."
Leonart tidak menyangka, jika Sheila sudah mengetahui semua permasalahannya dengan kedua orang tua Sheila.
"Apa orang tuamu sudah memberitahumu Sheila, jika mereka sudah membunuh ibuku?" tanya Leonart dengan suara serak, sepertinya Leonart menahan haru yang begitu mendalam.
Sheila tidak menjawab pertanyaan Leonart padanya, air matanya terus saja mengalir.
"Apa aku salah jika aku hanya ingin membalas kematian ibuku yang telah membuat kami Yatim Piatu?" tanya Leonart masih memegang setir mobilnya.
"Kamu tidak salah Leo, bahkan kalau kamu belum puas, bunuh saja aku leonart, percuma aku hidup, jika aku hanya melihat kedua orang yang aku sayangi saling bermusuhan."
"Sheila tenangkan dirimu, lihat wajahmu sangat berantakan."
"Aku tidak peduli Leonart, aku sudah tidak punya harapan lagi, antarkan aku pulang, dan jangan pernah temui aku lagi," ucap Sheila menghapus air matanya.
"Baiklah Sheila, aku akan mengantarmu pulang ke rumahmu!!"
Leonart berhenti di sebuah warung kue yang sudah tutup. Sheila membuka mobil Leonart dan tanpa pamit lagi ia bergegas pergi meninggalkan Leonart sendirian. Leonart menatap punggung Sheila yang sudah berlalu dan tak terlihat lagi.
Tok..tok..tok
Miranti baru saja selesai sholat magrib, pengalaman pahit yang ia rasakan membawanya untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Ia lalu melipat mukena yang di pakainya dengan rapih, kemudian ia menuju pintu utama yang di ketok sejak tadi.
kreeeok
Pintu rumah Sheila sudah mulai terlihat lapuk, bunyinya pun tak seindah rumah mewahnya yang dulu, kini Sheila dan kedua orang tuanya tinggal di rumah sederhana itu. Dari sisa hasil jual rumah mewah itu, mereka hanya mampu membeli rumah sederhana tapi nyaman buat mereka. Roda selalu berputar, takdir manusia tak akan ada yang pernah tahu.
Miranti membuka pintu rumahnya, Sheila berdiri menanti pintu di buka, wajah Sheila terlihat murung.
"Sheila, kamu sudah pulang Nak?" tanya Miranti mengamati wajah putrinya.
"Ma, bagaimana jualan kuenya hari ini, laris?" tanya Sheila menutupi kesedihannya.
"Alhamdulullah Nak, semakin hari pelanggan Mama semakin banyak Sayang, masuklah kamu pasti capek sekali."
"Kamu butuh sesuatu Nak?" tanya Miranti setelah melihat putrinya pulang dari kantor terlihat sangat lelah.
"Ngga Ma, Sheila cuma mau istirahat saja."
"Ya sudah, kalau kamu butuh sesuatu bilang saja sama Mama," ucap Miranti meninggalkan Sheila dan menuju meja makan untuk mempersiapkan makan malam.
Sheila memasuki kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di kamarnya. tirai jendela kamar Sheila bergoyang di tiup angin luar, ia lupa menutup kamarnya saat berangkat kerja pagi tadi. Sheila berdiri untuk menutup jendela itu. Pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang masih berada di jalan depan rumahnya.
"Leonart untuk apa kamu masih di situ, hubungan kita sudah berakhir, aku tidak mau lagi kita saling menyakiti," guman Sheila dalam hati.
Sementara Leonart masih saja menatap rumah sederhana milik orang tua Sheila. ia memukul-mukul setirnya, rasa kecewa yang ia rasakan sungguh menyakitkan.
Setelah dua jam berhenti di depan rumah Sheila, Leonart memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
Angin malam begitu dingin menusuk kulitnya, di tambah AC dalam mobil yang begitu dingin. Leonart menyusuri kota Jakarta dalam keadaan hati yang begitu hampa.
Setelah Leonart pergi, Sheila baru menutup jendela kamarnya, ia kembali merebahkan tubuhnya, karna saking lelahnya, Sheila pun tertidur di sofa itu.
Suara ketokan pintu terdengar, Sheila terbangun dan melihat jam tangannya yang melingkar di lengannya.
"Oh baru jam 8 malam, satu jam lamanya aku tertidur," gumannya lalu berdiri membuka pintu kamarnya.
"Nak, waktunya makan malam, Mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu, hari ini adalah hari pertama kamu bekerja, pasti kamu sangat lelah, Mama juga sudah buatkan jus jeruk buat kamu Nak," ucap Miranti tersenyum, senyum yang ia paksakan walau hatinya terasa sangat sedih melihat putri satu-satunya menjadi tulang punggung keluarga saat ini.
"Terima kasih Ma, Sheila juga sudah sangat lapar, bekal Sheila yang Sheila bawa ke kantor juga sudah habis, kotaknya masih di dalam tas, aku ambil kotak makannya dulu ya Ma, Mama duluan aja, nanti Sheila menyusul Mama ke meja Makan."
"Baiklah Nak, jangan lama-lama kasihan Papa sudah menunggu di meja makan."
Sheila mengangguk, Miranti pun kembali ke ruang makan.
Makan malam begitu hening, mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Bagaimana hari pertama kamu bekerja Nak, apa ada yang sulit?" Suryo tiba-tiba bertanya pada Sheila. Sheila tersedak.
"Huk..huk..huk," Sheila terbatuk-batuk, Miranti segera menuangkan air minum di gelas Sheila.
"Minumlah Nak, pelan -pelan makannya, kamu sampai terbatuk," ucap Miranti khawatir pada Sheila.
"Sheila senang kok Pa, sepertinya CEO perusahaan tempat Sheila bekerja orangnya baik, dia masih perjaka belum menikah," ucap Sheila menjawab sekedar ingin membuat Papanya bahagia.
"Syukurlah kalau begitu Nak, Papa jadi lega mendengarnya."
Makan malam mereka telah selesai, Sheila kembali ke kamarnya, begitu pula dengan Miranti dan Suryo, waktunya untuk istirahat, karna subuh nanti Miranti akan mempersiapkan dagangannya buat esok hari.
Leonart baru saja tiba di rumahnya, ia membunyikan klakson mobilnya, mengisyaratkan jika Satpan di rumahnya harus membuka pager masuk ke rumah Leonart, namun Satpan rumahnya belum juga membuka pintu pager itu. Leonart membuka mobilnya dan turun untuk membuka pager itu sendiri. Namun baru saja dua langkah ada yang memanggil namanya.
"Kak Leonart, tunggu!"
Leonart menoleh ke arah suara itu, ternyata dia seorang Wanita, Leonart menaikkan alisnya karna terkejut.