"Anita Baskoro." tebak Ronal, matanya memancarkan keraguan. Anita mengangguk dan tersenyum.
"Ronal Yansen." Anita mengulangi pertanyaannya kembali.
"Apa kabar Anita, sudah lama kita tidak berjumpa. Terakhir kali kita bertemu saat perpisahan sekolah," ucap Ronal masih mengingat masa-masa itu.
"Kamu sudah banyak berubah Ronal, aku sampai tidak mengenalimu."
"Kamu pun begitu Anita, kamu semakin cantik," Ronal memuji kecantikan Anita, wajah Anita merah merona tersipu malu.
"Oh ya Anita, kenalin ini kakakku Leonart," ucap Ronal lalu menunjuk ke arah Leonart.
Leonart hanya tersenyum saat Ronal memperkenalkan dirinya dengan teman lamanya.
Anita menghampiri Leonart yang sedang duduk dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Leonart.
"Leonart Yansen."
"Anita Baskoro."
"Senang berkenalan dengan anda," ucap Anita sembari tersenyum pada Leonart.
"Terima kasih," jawab Leonart.
Ronal sangat terkesan dengan penampilan Anita yang begitu anggun dan mempesona, ada getar-getar aneh yang ia rasakan saat menatap mata Anita. Ronal belum pernah merasakan perasaan seperti ini.
Leonart terkesan cuek dengan kehadiran Anita, wajahnya begitu suntuk, ia sangat frustasi mengingat apa yang di alami oleh istrinya Sheila.
Ronal begitu bahagia melihat Anita, setelah sekian lama ia mencari Wanita yang sesuai dengan kriterianya, baru kali ini Ronal menemukan Wanita yang begitu cocok untuknya.
"Baiklah Ronal, Leonart sampai jumpa, senang bertemu dengan kalian," ucap Anita pamit dan menemui kembali teman yang bersamanya ke restoran itu.
Baru saja dua langkah Anita berjalan meninggalkan Ronal, tiba-tiba saja Ronal memanggil kembali nama Anita.
"Anita."
Anita menoleh kebelakang, Ronal menghampiri Anita.
"Anita, aku boleh minta nomor ponselmu?" tanya Ronal lalu menyodorkan ponselnya, agar Anita menuliskan nomornya di ponsel Ronal.
Anita kemudian menemui temannya kembali.
Makan malam kali ini bagi Leonart, hanyalah untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan, ia tidak merasakan bagaimana sensasi dari makanan favorit di restoran itu, hatinya begitu hampa, walaupun makanannya habis tak tersisa, lain halnya dengan Ronal, hatinya sedang berbunga-bunga, dalam sekejap saja makanan yang di pesannya habis di makannya dengan lahap tanpa tersisa.
"Enak sekali udang asam manis ini," ucap Ronal. Leonart merasa ada yang aneh dengan adiknya, sejak ia bertemu dengan teman lamanya Anita, Ronal selalu saja tersenyum-senyum sendiri.
"Ronal, kamu suka dengan Wanita tadi?" ledek Leonart.
"Pria mana yang ngga suka dengan Wanita secantik Anita, dia adalah tipe Gadis yang Ronal sukai."
"Kamu ini ngga bisa lihat yang bening-bening," ucap Leonart tertawa.
"Menurut Kak Leo, Anita mau ngga jadi kekasih Ronal?" ucap Ronal tidak berhenti tersenyum.
"Kamu ini, mudah sekali jatuh cinta," sekali lagi Leonart melempar gurauannya.
Ronal beranjak dari duduknya dan menuju kasir, ia membayar semua pesanan yang mereka makan. Ronal mengajak Leonart untuk segera kembali ke rumahnya.
"Aku tidak boleh menyerah begitu saja, aku harus mendapatkan Anita, dulu dia begitu lugu dan pemalu, tapi mengapa dia bisa berubah seperti sekarang ini, dulu rambutnya selalu di kepang dua, tapi sekarang rambutnya begitu Hitam Legam, ia membiarkan rambutnya terurai, dan ia terlihat seksi." ucap Ronal mengemudi mobilnya, matanya memandang lampu jalan yang begitu gemerlap.
Ronal menoleh ke arah Leonart yang duduk di sampingnya, Ronal menggelengkan kepalanya, saat melihat Leonart telah tertidur.
"Kasian kamu Kak, sudah terlalu banyak masalah yang kamu hadapi akhir-akhir ini."
Mobil Ronal sudah memasuki pekarangan rumah mereka, Satpam menutup kembali pager Hitam itu. Ronal membangunkan Leo.
"Nal!! kita sudah sampai rumah?"
"Iya Kak, kita sudah sampai, sebaiknya Kak Leo duluan saja, istirahat yang cukup biar Fit lagi."
Leonart berjalan dengan gontai, matanya sangat mengantuk sekali, ia lalu menuju kamar tidurnya untuk istirahat. Ada perasaan sedih menyelimuti hatinya, mengingat semua kenangannya bersama Sheila.
Ronal sekali lagi melihat ke arah ponselnya, berharap ada notivikasi pesan masuk ke benda pipih itu.
Sekali lagi ia mengutak atik kontak yang ada di ponselnya, Ronal mencari nomor ponsel Anita.
Ronal duduk di teras rumah, angin malam begitu terasa menusuk di kulitnya. Ronal menekan nomor Anita.
"Hai Anita, sudah pulang ke rumah?"
"Ia Ronal, aku sudah berada di rumah, baru saja aku tiba, oh ya ada apa menelponku?" tanya Anita tanpa curiga maksud Ronal menelponnya.
"Anita, aku boleh bersilaturahmi ke rumahmu ngga?"
"Boleh Ronal, selagi tujuan kamu baik , Papa pasti mengizinkanmu," jawab Anita sambil membersihkan make up di wajahnya.
"Ok Anita, jangan lupa serlok alamat rumah kamu ya!"
"Ok Ronal, bye."
"Bye Anita."
Ronal benar-benar jatuh cinta pada Anita, matanya susah untuk di pejamkan, bayangan Anita selalu saja ada di benaknya. Di kantor ia seorang CEO, banyak Gadis cantik di sekitar dia, tapi hati Ronal belum tertambat pada Gadis lain, tapi kali ini, dia mencintai seorang Gadis yang dulu terlihat cupu
****
Pagi sekali Leonart sudah bersiap -siap akan menemui Sheila, Wanita yang selalu ada di dalam hatinya selama 7 tahun sudah lamanya, dan takkan pernah terggantikan oleh Wanita siapapun, andai saja orang tuanya tidak melakukan kesalahan di masa lampau, mungkin saja saat ini mereka masih sepasang suami istri yang bahagia, dan mereka telah di karuniai anak-anak yang lucu.
Leonart mengamati kantor di mana Sheila bekerja. Hari ini adalah hari pertama Sheila di terima bekerja di Perusahaan Rian, Leonart begitu bahagia, Rian telah menepati janjinya untuk menerima Sheila, tanpa Sheila ketahui jika dirinya berada di kantor itu atas bantuan Leonart.
Waktu jam makan siang telah tiba, Leonart tidak melihat Sheila keluar dari kantor untuk makan siang di kantin sekitar. Rasa kecewa dan gusar kini merasuki hatinya yang merindukan sang Wanita pujaan hatinya. Dengan tak sabar Leonart akhirnya keluar dari mobilnya dan menuju lantai dua di mana Sheila berada, bagian keuangan berada di lantai dua. Leonart mengamati dari balik jendela yang berwarna Coklat. Tampak Sheila sedang memakan nasi kotak yang di bawanya dari rumah sebagai bekalnya. Sheila menyantap makanan itu dengan tatapan kosong, sementara Karyawan lainnya sedang menikmati hidangan Ibu kantin, dengan berbagai masakan yang enak.
Leonart begitu terharu, Gadis yang dulu hidupnya serba berkecukupan, kini harus merasakan penderitaan yang telah di buatnya. Leonart segera berlalu dari ruangan itu, beberapa Karyawan kantor yang berpapasan dengannya memandangnya dengan rasa kagum akan ketampanannya. Terlebih lagi dengan karyawan Wanita, bola mata mereka tak berpaling sedikit pun dari wajah tampan Leonart.
Sheila baru saja selesai makan siang, ia hendak ke kamar kecil, di sana ada beberapa Wanita yang sedang antri untuk menunggu giliran mereka untuk membuang hajat kecil. Dari percakapan mereka, Sheila mendengar jika CEO mereka bekerja sama dengan CEO dari Perusahaan lain, wajahnya yang begitu tampan, membuat kedua Wanita itu tergila-gila pada Pria itu. Dan mereka baru saja melihat Pria itu masuk ke kantor mereka.
Sheila tidak terlalu menanggapi pembicaraan mereka, baginya sudah tidak ada cinta lagi di hatinya, saat ini ia fokus pada kebahagian kedua orang tuanya, terliebih kakaknya sekarang sedang di penjara. Sheila adalah tumpuan kedua orang tuannya untuk saat ini.
Akhirnya lega juga, setelah membuang hajat yang sejak tadi mengganggunya.
Kedua Wanita itu sudah kembali ke ruangan mereka.
Hari pertama bekerja, tidaklah terlalu sulit bagi Sheila untuk memahami cara kerja di kantor itu. Hatinya begitu bahagia, setidaknya ia sudah bekerja sekarang, sehingga mamanya tidak perlu jualan kue lagi.
Sore hari tepat pukul 16.00, Sheila bergegas membereskan mejanya dan merapihkan semua peralatan menulisnya. Ia lalu meraih tasnya dan bergegas menuju tangga darurat untuk menuju lantai bawah, selain tangga darurat, di kantor itu ada sebuah lift, namun saat Sheila ingin memasuki lift, di sana masih banyak Karyawan yang sedang antri.