Kotak Karsa tidak dibawa ke pemandian. Polisi memeriksa tulisan pada tutup melalui pemindai. Transaksi pertama menyatakan Karsa menerima nama Gantari dan memberi Wira akses mengganti tubuh. Jika Wira mati berutang, bayangan Karsa boleh mengambil tubuh pembeli.
Tubuh itu kini terlalu tua, tetapi tetap dapat menjadi pintu.
Meisin menolak dua pilihan palsu: mempertahankan Wira hidup selamanya atau membuka Karsa untuk membatalkan utang. Penyidik mencari bukti bahwa transaksi awal tidak sah.
Arsip tanah menunjukkan Karsa mengambil rumah Gantari melalui utang yang sudah lunas. Surat Wicaksana membuktikan Gantari tidak pernah menyerahkan nama. Wira memberikan sesuatu yang bukan miliknya.
'Utangnya dibangun dari barang curian,' kata pengacara.
Catatan pemulihan nama Gantari dibacakan di pengadilan darurat. Rumah dan upahnya diakui sebagai objek perampasan. Wira tidak pernah memiliki nama ibunya untuk membayar Karsa.
Keturunan keluarga yang pernah ditolong Gantari memberi keterangan dari arsip beras dan surat persalinan. Mereka tidak menyatakan memiliki arwah atau makamnya. Kesaksian hanya membuktikan seorang perempuan nyata bekerja, memiliki rumah, dan namanya sengaja dihapus.
Pengadilan memerintahkan koreksi catatan tanah tanpa langsung membagikan aset kepada pihak yang belum diverifikasi. Nama Gantari dipulihkan pada sejarah perampasan, sementara sengketa ahli waris menjalani proses terpisah. Pemulihan bukan ritual yang memberi siapa pun kuasa baru.
Tulisan transaksi pada tutup kotak retak.
Karsa menjerit dan menawarkan kesaksian baru. Tidak ada segel dibuka. Penyidik memindai perubahan sampai kalimat hak mengambil tubuh menghilang.
Detak di dalam kotak berhenti. Bayangan Karsa tetap tersegel bersama pantulan pertamanya, tidak bebas dan tidak memperoleh tubuh Wira.
Di pemandian, Wira kehilangan senyum. Ia mencoba memanggil jasad Owen sebagai pembeli berikutnya, tetapi keputusan Owen serta bukti kematian sudah memutus jalur itu.
Owen berdiri jauh dari Meisin. 'Aku pernah membeli ritualnya. Kalau masih ada utang atas namaku, biarkan hartaku dipakai korban, bukan tubuh atau hidup Meisin.'
Pernyataan dimasukkan pada proses hukum. Perusahaan, tanah, dan rumah tidak diberikan kepada Ki atau Meisin sebagai kepemilikan pribadi. Aset dibekukan bagi restitusi serta pemeriksaan.
Wira memanggil Reksa dan menawarkan hidup aman bersama Meisin bila ia membuka peti. Reksa tidak menjawab tawaran atas nama perempuan itu. Ia menyatakan tugasnya menjaga prosedur saksi.
Hitungan mencapai dua belas jam.
Dokter tidak menghentikan perawatan Wira. Tubuhnya menua sesuai proses yang selama ini ditahan. Setiap kegagalan organ ditangani seperti pasien lain, tetapi tidak memakai jaringan korban.
Tiga dokter bekerja bergantian agar keputusan tidak bergantung pada satu orang. Obat, cairan, dan tindakan dicatat. Ketika Wira menolak perawatan melalui mulut, ahli menilai apakah keputusan itu sadar atau upaya mempercepat perpindahan. Perawatan dasar dipertahankan sesuai perintah pengadilan.
Keluarga korban mendapat pembaruan bahwa organ mereka tidak akan dipakai lagi meski kondisi Wira memburuk. Tidak ada tekanan moral agar mereka mengorbankan jaringan demi memperpanjang hidup pelaku.
Mbah Raras meminta cermin ditempatkan mendatar agar pemukul lonceng tidak jatuh karena gravitasi bila bingkai retak. Benda tidak dibawa ke pemandian. Enam penyangga menjaga posisi.
Pemukul sudah jauh, tetapi Wira masih dapat memakai kematiannya sendiri sebagai dentang terakhir bila semua orang menganggapnya Ki abadi.
Penyidik menyiapkan catatan kematian dengan satu identitas: Wira Gantana. Nama Bagong dicantumkan sebagai alias yang digunakan melakukan kejahatan, bukan makhluk penerus. Semua tubuh korban dicatat terpisah.
Meisin tidak hadir di pemandian. Ia memberikan kesaksian tertulis bahwa kematian Wira bukan pernikahan, pembayaran, atau kelahirannya kembali. Bu Rena, Reksa, Erly, Darto, Ardi, Fadil, Mira, Dina, dan keluarga korban memberi pernyataan masing-masing, bukan suara kolektif.
Darto tidak meminta pengampunan. Erly tidak meminta perusahaan diselamatkan. Dina tidak meminta Dimas dihidupkan. Setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya.
Keluarga yang tidak ingin bersaksi mengirimkan amplop tertutup berisi keputusan medis mereka. Penyidik membacakannya tanpa nama: tidak ada tubuh yang boleh dipakai, tidak ada suara yang boleh ditiru, dan tidak ada kematian yang dapat dijadikan pembayaran. Pernyataan itu bukan mantra. Nilainya berasal dari catatan hukum serta penghormatan kepada pemilik tubuh.
Di tempat aman, Meisin mendengar laporan melalui pengeras suara yang dapat ia matikan. Saat Wira mulai menyebut nama kecilnya, ia menekan tombol bisu. Orang-orang di pemandian tetap menjalankan prosedur. Suaranya tidak lagi dibutuhkan untuk menjaga Wira terkunci.
Harun mencabut kesaksian ritual dalam berita acara resmi dan menghadapi proses atas pembayaran yang diterimanya. Bram menyerahkan daftar fasilitas serta dokter, tetapi tuntutannya tetap berjalan. Jatmiko, Rahmat, dan Ningsih dinyatakan korban pengambilalihan sementara setelah bukti medis mendukung.
Perbedaan itu diumumkan tanpa membuka identitas korban yang meminta privasi. Masyarakat tidak diberi cerita sederhana bahwa semua orang selain Wira tidak bersalah. Setiap tindakan sadar diuji sendiri.
Wira meronta terakhir kali. Peti tidak dibuka. Ia mengaku dapat mengembalikan semua ingatan Meisin dan memberi tubuh kepada Owen.
'Aku tidak membutuhkan tubuh orang lain,' kata Owen.
'Aku tidak membutuhkan semua ingatan untuk menjadi diriku,' kata Meisin dari tempat aman.
Hitungan mencapai satu jam.
Jantung Wira melemah. Dokter memberi perawatan paliatif yang disetujui pengawas. Tidak ada obat korban, ritual, atau perpanjangan usia curian.
Mbah Raras mengetuk nama lahir Wira sekali, lalu diam. Ia tidak mengutuk atau memaafkan. Ia hanya menjadi saksi bahwa lelaki itu pernah lahir dan memilih jalannya.
Pada menit terakhir, Wira memukul dinding peti dengan telapak. Tidak ada telapak menjawab di tubuh Meisin.
Jantungnya berhenti.
Dokter menunggu sesuai prosedur, memastikan tidak ada denyut tersembunyi. Waktu kematian dicatat. Tubuh tetap di dalam peti sampai pemeriksaan jaringan selesai.
Satu petugas memeriksa pemantau Meisin pada saat yang sama. Denyutnya tetap biasa. Reksa juga tidak mengalami perubahan, Owen tidak memperoleh tubuh, dan seluruh segel Karsa tidak bergerak. Kematian Wira berhenti pada tubuh Wira.
Penyidik mengucapkan waktu yang sama kepada tiga pencatat mandiri. Kamera analog merekam layar medis, sedangkan data digital langsung disalin ke penyimpanan yang tidak terhubung jaringan. Tidak ada celah satu detik yang dapat kelak dipakai mengubah urutan.
Lonceng kecil tidak berbunyi.
Lonceng ketujuh di cermin bergerak sekali, lalu pemukulnya jatuh ke dasar bingkai tanpa menyentuh badan lonceng.
Tidak ada pintu terbuka.
Nama Wira Gantana tetap pada catatan kematian. Bagong tidak berpindah kepada siapa pun.
Namun cermin tua retak dari ujung ke ujung. Mbah Raras menjadi semakin transparan.
'Waktuku juga selesai,' katanya.
Bu Rena menahan tangis. Meisin bertanya apakah Mbah ingin tetap di cermin, masuk ke tulang, atau pergi.
'Aku memilih pergi setelah memastikan pintu tertutup,' jawabnya.
Masih ada satu pekerjaan: mengeluarkan enam noda dan menutup lonceng tanpa membebaskan apa pun.
Di kamar jenazah, arwah Owen juga mulai memudar. Kematian Wira memutus ikatan terakhir yang menahannya pada jasad.
Meisin menghadapi dua perpisahan, tetapi tidak seorang pun boleh meminta keputusannya sebagai syarat untuk pergi. (*)