Lokasi serpihan tidak dibuka. Dokter membandingkan hasil dari sampel lama dan memastikan jaringan jantung tertanam pada tulang jarum. Memindahkannya ke pemandian akan menyatukan Wira. Menghancurkannya dapat membunuh pemilik tulang yang belum teridentifikasi.
Keluarga yang memberi sampel menerima hasil kecocokan. Tulang itu milik Surya, paman mereka yang hilang setelah mengantar saudaranya ke Rumah Pulih Ananta. Jaringan jantung Wira ditanam sesudah Surya meninggal.
Keluarga meminta tulang diperlakukan sebagai bagian Surya, bukan wadah Wira. Mereka mengizinkan operasi laboratorium di lokasi saat ini. Ahli memisahkan jaringan lunak tanpa membawa jarum keluar.
Serpihan bayangan menggeliat di antara dua papan. Enam keputusan diputar sebagai pengunci. Jaringan Wira ditempatkan pada mesin mandiri terpisah dari tulang Surya, lalu akses bayangannya ditutup kain tanpa pantulan.
Di pemandian, irama jantung Wira berubah. Bagian tersembunyi tidak kembali kepadanya. Tubuhnya semakin tua, tetapi tetap hidup.
Keluarga Surya memilih pemakaman dilakukan setelah perkara selesai. Nama Surya ditambahkan pada daftar korban. Jarum tidak lagi disebut alat Ki; bentuknya dicatat sebagai tulang yang dicuri dan diubah.
Keponakan Surya meminta satu foto hasil pemindaian sebelum tulang ditutup kembali. Ia tidak ingin gambar jarum yang tajam, melainkan bagian yang menunjukkan bekas patahan lama pada tulang. Ibunya mengenali patahan itu sebagai cedera Surya ketika jatuh dari pohon mangga. Sebuah riwayat keluarga yang biasa akhirnya lebih kuat daripada seluruh mitos Ki.
'Kami mencari paman, bukan pusaka,' katanya kepada penyidik.
Kalimat itu dimasukkan ke berkas hanya setelah keluarga menyetujuinya. Media dilarang mengambil gambar. Surya tidak akan dikenang melalui bentuk yang dipaksakan pada jasadnya.
Operasi Wadah X berjalan berikutnya. Enam jaringan ibu dipisahkan bertahap ke wadah medis berbeda. Keluarga mengawasi melalui laporan, bukan melihat tubuh campuran. Tidak ada satu jaringan dianggap lebih penting.
Tahap pertama memisahkan kulit dan pembuluh buatan. Tahap kedua memetakan saraf yang ditumbuhkan Ki dari sel campuran. Dokter menghentikan pekerjaan dua kali ketika satu jaringan kehilangan aliran, lalu melanjutkan setelah mesin cadangan stabil. Tenggat tidak dijadikan alasan mengabaikan alarm.
Yuni memilih menerima laporan lengkap, sedangkan Siska hanya ingin kesimpulan medis. Keluarga lain menunjuk dokter mereka sendiri. Bu Rena menunggu giliran sebagai keluarga Mbah dan tidak memakai kedekatan dengan Meisin untuk mendahului korban.
Setiap bagian diberi nomor asal, bukan nama hubungan. Setelah pemeriksaan DNA selesai, keluarga dapat memilih apakah nama dicantumkan. Prosedur tersebut mencegah satu label ibu menyatukan kembali jaringan yang sudah dipisah.
Setelah jaringan keenam terangkat, Wadah X tidak memiliki wajah, tulang, atau organ lengkap. Dokter mempertahankan sisa sel sebagai barang bukti, bukan mencoba membuatnya hidup sebagai satu orang. Tidak ada keluarga yang diminta mengakui tubuh tersebut.
Pemindahan terakhir membuat salah satu mesin kehilangan daya selama empat detik. Generator kedua menyala, tetapi alarm dari ruangan Wira ikut berbunyi seolah tubuh jangkar mencoba menarik kembali aliran. Dokter menutup katup manual. Teknisi mengisolasi kabel dan membuktikan sambungan itu dipasang sejak operasi lama, bukan muncul karena kutukan.
Bu Rena menahan pintu agar petugas dapat lewat. Ia tidak menyentuh wadah mana pun. Saat mesin kembali stabil, keenam monitor memperlihatkan irama berbeda. Jaringan itu tidak pernah menjadi satu ibu, satu istri, atau satu tubuh. Mereka hanya dipaksa bekerja dalam konstruksi yang sama.
Tulang Mbah Raras sudah terpisah. Bu Rena memilih menyimpannya sampai pantulan Mbah menentukan penanganan. Mbah menolak masuk kembali ke tulang.
'Aku sudah mati,' katanya. 'Kerinduan bukan alasan mengambil tubuh dari sisa orang lain.'
Bu Rena menangis, lalu menerima. Ia meminta kelak tulang ibunya dimakamkan setelah cermin aman.
Enam wajah di cermin memudar setelah jaringan kembali pada identitas masing-masing. Noda bukan dibebaskan sebagai makhluk, melainkan kehilangan bahan peniruan. Ukiran mata tetap tertutup.
Karsa mengamuk dalam kotak. Ia menawarkan membantu Wira bertahan bila dilepas. Penjaga tidak menjawab. Tiga segel diperkuat dari luar tanpa membuka tutup.
Owen memberikan kesaksian terakhir mengenai transaksi, rumah kurungan, dan jasadnya. Pengacara korban memastikan harta perusahaan masuk rekening ganti rugi melalui proses pengadilan, bukan hadiah pribadi Meisin.
Meisin memilih menonton hanya bagian rekaman pertemuan pertama yang diperlukan untuk perkara. Rekaman menunjukkan Owen mengatur lokasi, memerintah pengawal mengikuti, dan marah saat ia pergi. Tidak ada cinta tersembunyi yang wajib ia pulihkan.
Sebelum menonton, Meisin memilih Bu Rena dan pendamping hukum berada di kamar. Reksa tidak ikut agar rekaman tidak berubah menjadi pembandingan dua lelaki. Owen juga menunggu di luar dan menerima ringkasan hanya jika Meisin mengizinkan.
Setelah rekaman selesai, Meisin menambahkan fakta pada buku tanpa menyalin emosi yang tidak ia ingat. Ia menulis bahwa Owen mengatur pertemuan dan ia menolak. Bukti membantu memulihkan urutan, tetapi tidak menentukan apakah ia harus marah, sedih, atau memaafkan hari itu.
Owen membaca pernyataan melalui penyidik. Ia tidak meminta bagian rekaman yang memperlihatkan dirinya tampak baik. Seluruh berkas tetap utuh sebagai bukti.
Ingatan ketiga kembali sebagai rasa tidak nyaman, bukan kerinduan. Meisin mengakui penolakannya sejak awal. Owen tidak meminta bagian lain.
'Aku ingat kenapa aku menjauh,' katanya.
'Kamu benar menjauh,' jawab Owen.
'Itu bukan maaf.'
'Aku tahu.'
Meisin menghentikan rekaman sebelum adegan berikutnya. Petugas memberi tanda waktu dan menyegel kembali salinan tanpa bertanya apakah ia ingin menyelesaikannya. Ia memilih berjalan sebentar di lorong, merasakan lantai yang dingin melalui telapak kaki, lalu menyebut lima benda yang dilihat. Ingatan yang pulang tidak boleh mengambil alih masa kini.
Ketika kembali, ia menandatangani hanya uraian fakta yang sanggup ia pastikan. Bagian lain ditulis sebagai belum diketahui. Pengacara menyatakan ruang kosong itu sah dan tidak akan ditafsirkan sebagai persetujuan yang terlupa.
Noda terakhir di bahu Meisin memucat. Tiga ingatan tidak kembali sempurna, tetapi tak ada ruang yang lagi terhubung pada Wira.
Tubuh Wira kini hanya membawa organ yang terbukti miliknya dan alat perawatan biasa. Dokter memperkirakan usianya akan mengejar waktu yang ditahan selama puluhan tahun.
Wira meminta Mbah Raras datang. Permintaan disampaikan sebagai informasi, bukan perintah. Mbah memilih berbicara melalui ketukan dari jauh.
'Aku mengenali kamu sebagai Wira Gantana, murid yang memilih mencuri tubuh,' diterjemahkan Bu Rena. 'Aku tidak mengembalikan nama murid atau memikul akibat pilihanmu.'
Wira menua lagi. Rambutnya rontok dan napasnya berat. Polisi membacakan hak serta tuduhan yang dapat dicatat, meski kemungkinan persidangan manusia tidak akan sempat berlangsung.
'Bagong tidak bisa mati,' bisiknya.
Penyidik menunjukkan arsip tujuh pekerja. Nama mereka telah pulih. Bagong kembali menjadi catatan pekerjaan, bukan tubuh pelarian.
Tenggat berubah dari dua menjadi satu hari.
Wira tersenyum. 'Kalau aku mati sebelum hitungan habis, utang berpindah kepada orang yang pertama kali membeliku.'
Semua menoleh pada transaksi Karsa.
Kotak panjang tetap tersegel, tetapi dari dalam terdengar jantung berdetak.
Karsa tidak memiliki tubuh hidup. Ia mencoba memakai kematian Wira untuk keluar sebagai penagih terakhir. (*)