Mbah Raras tidak dipindahkan ke tulangnya. Enam noda pada cermin sudah kehilangan jaringan peniru, tetapi masih menyimpan bekas pilihan palsu. Untuk menutupnya, enam orang hidup mengulangi keputusan terakhir mereka satu kali.
Reksa, Erly, Darto, Bu Rena, Meisin, dan Owen berbicara dari lokasi berbeda. Tidak ada janji baru. Mereka hanya menegaskan batas yang telah dibuat.
Noda menghilang satu per satu. Mata keenam pada bingkai menutup. Mata ketujuh tidak pernah terbuka.
Mbah meminta kain cermin dibuka hanya setelah sensor memastikan tidak ada pantulan Wira. Bu Rena dan Meisin berdiri di balik layar samping, tidak berhadapan langsung. Mereka melihat Mbah melalui kamera cetak sekali pakai yang tidak menyimpan gambar digital.
Wajah perempuan tua itu tersenyum.
'Aku ingin pulang kepada kematianku sendiri,' katanya.
Bu Rena memberi izin pemakaman tulang, tetapi tidak mengikat pantulan untuk tinggal. Meisin mengucapkan terima kasih tanpa meminta semua ingatan kembali.
Mbah menyanyikan satu bait lagu. Kali ini Meisin mengingat sebagian dan menyanyikan lanjutannya. Bagian yang hilang diisi Bu Rena. Lagu menjadi milik tiga waktu, bukan ujian keaslian.
Pantulan Mbah memudar. Retak cermin berhenti menyebar. Bingkai tetap menjadi barang bukti, tetapi tidak lagi menahan arwah.
Tulang Mbah dimakamkan beberapa minggu kemudian setelah pengadilan mengizinkan. Enam keluarga menerima jaringan kerabat sesuai pilihan masing-masing. Sebagian memilih pemakaman, sebagian pemeriksaan lanjutan. Sisa Wadah X disimpan sebagai bukti biologis tanpa identitas palsu.
Pemakaman Mbah berlangsung kecil. Bu Rena memilih lagu lama, Meisin membawa bunga tanpa memakai kemampuannya, dan Pak Leo berdiri sesuai izin keluarga. Tidak ada cermin atau benda ritual. Makam memakai nama Raras sebagai manusia yang hidup dan meninggal, bukan gelar penjaga.
Enam keluarga mengadakan perpisahan dengan cara berbeda. Yuni memilih makam keluarga, Siska menunggu hasil akhir, dan lainnya mengikuti keyakinan masing-masing. Tidak ada upacara kolektif yang dapat dipakai sebagai restu baru.
Karsa tetap di kotak. Tidak ada tawar-menawar terakhir. Kotak ditempatkan pada fasilitas bukti tanpa pantulan dengan tiga lembaga memegang segel. Ia tidak dibakar atau dibebaskan.
Jasad Wira diautopsi dan setiap cangkok korban dikembalikan melalui prosedur. Tubuh yang tersisa dimakamkan atas nama Wira Gantana di makam tanpa gelar Ki. Catatan perkara memuat alias serta kejahatannya agar tanggung jawab tidak hilang.
Darto menghadapi tuntutan penculikan dan pemerasan. Lilis memilih tidak menemuinya. Bayu menulis surat melalui pendamping, bukan untuk memaafkan, melainkan menyatakan ayahnya tidak berhak memakai keluarga sebagai alasan lagi.
Erly menjadi saksi dalam penyidikan perusahaan dan kehilangan jabatannya. Ia membantu membuka arsip, tetapi tetap diperiksa atas ancaman serta penutupan kasus lama.
Rahmat dan Ningsih memperoleh kembali dokumen identitas setelah evaluasi panjang. Jatmiko memilih nama lahirnya, tetapi meminta alamat lamanya dirahasiakan. Polisi memperlakukan permintaan itu sebagai perlindungan korban, bukan bukti bahwa ia menyembunyikan kesalahan.
Harun mengembalikan sebagian uang ritual yang masih tersisa. Nilainya jauh dari kerugian korban dan tidak menghapus tuntutan. Bram menunjukkan lokasi dua gudang tambahan; satu kosong, satu menyimpan kursi operasi serta rekaman persetujuan palsu. Semua temuan diperiksa tanpa menghidupkan kembali panggung.
Dina menjalani perawatan dan proses hukum. Nama Dimas dicatat pernah hidup enam jam. Jantungnya dimakamkan setelah bukti selesai diperiksa. Ardi bertemu ibunya setelah DNA cocok dan keduanya setuju. Mereka tidak berpura-pura tiga puluh tahun dapat kembali seketika.
Fadil, Mira, Agus, Sari, dan korban panggung mendapat perawatan terpisah. Mereka yang terlibat sadar tetap diperiksa. Mereka yang kehilangan identitas mendapat dokumen sementara tanpa dipaksa memilih nama permanen.
Owen menunggu di dekat jasadnya. Ikatan ritual sudah putus, tetapi ada sesuatu yang masih menahannya: keputusan belum selesai tentang tubuh dan harta.
Pengadilan menyetujui pemakaman biasa setelah seluruh pemeriksaan. Owen memilih tidak dimakamkan bersama simbol pernikahan atau benda Meisin. Hartanya masuk proses restitusi, bukan warisan otomatis bagi perempuan itu.
Akta pernikahan arwah dibatalkan karena tidak ada persetujuan Meisin. Akta kematian Owen tetap sah, sedangkan surat-surat yang mengakuinya hidup dibubuhi catatan pemalsuan. Jasadnya dikembalikan pada nama sendiri tanpa status suami Meisin.
Pengacara membacakan keputusan pembatalan kepada Meisin lebih dulu. Ia meminta satu kalimat diperbaiki karena versi awal menyebut dirinya gagal memenuhi kewajiban istri. Pengadilan menggantinya dengan pernyataan bahwa perkawinan tidak pernah sah. Perbedaan itu penting: ia tidak keluar dari ikatan yang pernah disetujuinya; catatan negaralah yang akhirnya mengakui ikatan itu tidak ada.
Owen menerima perubahan tersebut tanpa meminta namanya tetap berdampingan dengan Meisin. Ia menandatangani kesaksian terakhir melalui metode yang sudah diverifikasi, lalu meminta semua stempel perusahaan dicabut dari berkas pribadi perempuan itu.
Meisin memilih menghadiri penutupan peti, bukan seluruh pemakaman. Ia datang sebagai saksi perkara dan seseorang yang pernah dilukai, bukan janda. Keputusannya tidak diperdebatkan keluarga perusahaan atau media.
'Aku pernah mengira cinta berarti memastikan kamu nggak bisa pergi,' katanya kepada Meisin. 'Sekarang aku tahu satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah tidak menahanmu.'
Meisin tidak mengatakan semua sudah dimaafkan. 'Aku mengakui kamu berubah pada bagian akhir. Aku juga mengingat apa yang kamu lakukan.'
'Itu adil.'
'Aku nggak memilih menjadi istrimu.'
'Aku tahu.'
Owen meminta satu hal, lalu memperbaiki sebelum menjadi tuntutan. 'Kalau kamu bersedia, boleh aku mengucapkan selamat tinggal?'
Meisin mempertimbangkan dan mengangguk. 'Boleh.'
'Selamat tinggal, Meisin Valery.'
Ia memakai nama lengkapnya, bukan istriku atau milikku.
'Selamat tinggal, Owen.'
Arwah lelaki itu tersenyum sedih. Ia tidak mencium, memeluk, atau meminta janji kehidupan lain. Ketika jasadnya ditutup kain, bentuknya berubah menjadi cahaya tipis dan menghilang.
Meisin menangis. Kesedihan tidak membatalkan penolakannya dan tidak mengubah masa lalu menjadi kisah cinta yang bersih.
Reksa menunggu di luar. Ia tidak masuk sebelum Meisin membuka pintu sendiri.
'Mau ditemani?' tanyanya.
'Iya. Tapi jangan bicara dulu.'
Reksa duduk di samping tanpa menyentuh. Setelah lama, Meisin yang memilih menggenggam tangannya.
Itu bukan jawaban untuk seluruh masa depan. Hanya keputusan hari itu.
Bu Rena menunggu di ruang lain dan tidak mengintip. Ketika Meisin keluar, ia menawarkan pulang, makan, atau tetap diam. Meisin memilih pulang setelah pemakaman selesai. Kesedihan dapat dibawa ke rumah tanpa diserahkan kepada arwah lain.
Dalam perjalanan, mereka berhenti ketika Meisin meminta udara. Tak seorang pun menyebut jeda itu kelemahan. Mereka menunggu sampai ia sendiri membuka pintu mobil dan memilih melanjutkan.
Di buku Meisin, tiga halaman kosong tetap ada. Ia menulis kenangan baru di halaman berikutnya: Mbah pergi atas pilihannya, Owen pergi tanpa menuntut, dan ia menggenggam tangan Reksa karena ingin.
Tidak ada tinta hitam yang muncul.
Untuk pertama kalinya, buku itu hanya menyimpan tulisan manusia hidup. (*)