Ambulans tidak kembali ke panggung. Tubuh yang kehilangan bayangan dibawa ke rumah sakit dan diberi nomor sementara. Dokter memastikan napas serta sarafnya bekerja. Ia hanya tidak dapat menghubungkan suara, wajah, dan nama sendiri.
Pendamping tidak mengisi kekosongan dengan identitas dari dompetnya. Kartu di saku menyebut Agus Rahman, tetapi dokumen dapat dipalsukan. Mereka bertanya keputusan yang dibuatnya sebelum evakuasi.
Lelaki itu mengingat memilih menggerakkan jari kaki saat Ki memaksa mulutnya diam. Ketika diminta mengulang, jari kaki kanannya bergerak. Bayangan di panggung meniru tangan, bukan kaki.
'Tubuh masih menyimpan pilihan yang bayangan tidak tahu,' kata Meisin.
Fakta itu dikirim sebagai getaran ke papan lantai panggung. Bayangan berhenti di depan pintu ketujuh. Teknisi menutup tirai dari jarak jauh sehingga tidak ada penonton melihat bentuknya. Di rumah sakit, lelaki itu mulai mengingat satu suku kata: Gus.
Kartu Agus diperiksa. Foto dan sidik cocok dengan tubuh. Keluarganya melaporkan ia hilang delapan bulan lalu setelah menerima pekerjaan keamanan. Istrinya memilih berbicara melalui pendamping sebelum pertemuan langsung.
Ia menanyakan kebiasaan yang dibuat Agus setelah mereka menikah, bukan rahasia masa kecil. Lelaki itu menjawab bahwa ia selalu meletakkan kunci di gelas kosong agar tidak lupa. Jawaban tidak ada pada data Ki.
Bayangan di panggung bergerak mundur dari pintu. Sensor panas ambulans mencatat suhu kembali pada telapak kaki Agus, lalu naik perlahan ke tubuh. Tidak ada ritual pemanggilan nama. Kehendak sekarang dan bukti hubungan yang dipilih kedua pihak menunjukkan jalan pulang.
Agus membuka mata. Ia belum mengingat delapan bulan terakhir, tetapi mengenali istrinya setelah perempuan itu memberi izin untuk menyalakan sambungan video. Pertemuan fisik ditunda sampai dokter menyatakan aman.
Enam tubuh hidup lain diperiksa dengan cara serupa. Dua terbukti orang hilang. Seorang penjaga panggung mengakui bekerja sadar untuk Dina. Tiga belum dapat memberi identitas, sehingga tetap memakai nomor pilihan mereka sendiri.
Penjaga yang mengaku membantu tidak ditempatkan bersama korban lain. Ia tetap mendapat perawatan atas jarum di tengkuk, tetapi penyidik mencatat upah, jadwal, dan orang yang pernah ia tahan. Kondisi medis dan pertanggungjawaban berjalan bersamaan.
Tiga orang tanpa identitas memilih panggilan sementara berbeda. Seorang memakai nomor, seorang memilih nama bunga, dan seorang tidak ingin dipanggil selain pasien. Rumah sakit mengikuti pilihan itu tanpa memasukkannya sebagai nama hukum.
Polisi tidak menunggu seluruh pemulihan selesai untuk mencari tujuh pekerja lama. Sidik pada kuitansi dibandingkan dengan arsip manual. Nama pertama ditemukan dalam daftar perkawinan, nama kedua dalam izin berdagang, dan nama ketiga melalui catatan penjara Karsa.
Empat nama lain memerlukan bantuan keluarga. Pengumuman dibuat tanpa foto wajah atau istilah gaib. Warga diminta memeriksa kerabat yang bekerja pada kelompok pertunjukan pada tahun tertentu dan tidak pernah menerima upah terakhir.
Tiga keluarga datang membawa surat. Satu keluarga menolak terlibat sebelum mendapat pendamping hukum. Pilihan itu dihormati, dan nama kerabatnya tidak diumumkan.
Surat-surat tersebut memuat tuntutan upah, pesan pulang, dan satu keluhan tentang tulang pekerja yang diambil setelah kecelakaan panggung. Polisi menyandingkannya dengan benda pada hotel. Dua cincin dan sepotong foto cocok, memperluas bukti bahwa pekerja bukan hanya dihapus dari daftar, tetapi juga dijadikan bahan transaksi.
Keluarga yang menolak tetap dapat melindungi barang melalui perintah sementara. Mereka tidak kehilangan hak hanya karena belum siap memberikan sampel atau kesaksian.
Menjelang malam, enam pekerja teridentifikasi. Nama ketujuh tetap kosong karena sidiknya terhapus oleh api. Namun buku gaji menunjukkan ia memilih panggilan Kelik dan menerima upah langsung dari penonton, bukan kelompok pertunjukan.
'Apakah panggilan cukup?' tanya Reksa.
'Kalau itu pilihan yang dipakai orang tersebut, kita catat sebagai panggilan, bukan nama lahir,' jawab penyidik.
Tujuh baris dipulihkan pada salinan arsip: enam nama yang terverifikasi dan Kelik sebagai panggilan yang belum lengkap. Pekerjaan mereka ditulis jelas—pengangkat layar, penata properti, pembersih panggung, penjahit, penjaga lampu, pembawa musik, serta penerima tamu.
Kata Bagong pada kolom tugas tidak dihapus. Catatan ditambahkan bahwa sebutan tersebut dipakai untuk menyembunyikan pekerja berbeda dan kemudian diambil Wira Gantana sebagai identitas.
Salinan koreksi disimpan di arsip desa, museum pertunjukan, dan berkas perkara. Tujuannya agar pemulihan tidak bergantung pada satu buku yang dapat dibakar lagi. Nama para pekerja dikembalikan ke sejarah mereka sendiri, bukan dipusatkan dalam cerita Ki.
Di peti jangkar, tulisan BAGONG muncul dari dada tubuh tua, lalu pecah menjadi tujuh garis. Setiap garis membawa satu nama pekerja yang sudah dipulihkan. Wira tidak lagi dapat memakai peran mereka sebagai satu tubuh tanpa pemilik.
Pipa ketujuh berhenti mengisap Wadah X.
Dokter menunggu tiga puluh menit sebelum menyatakan perubahan stabil. Detak enam mesin mandiri tidak berubah, dan tidak ada wajah baru tumbuh pada wadah. Mereka tetap menolak memulai operasi besar hanya karena satu indikator membaik.
Enam wajah pada kepala tubuh campuran menutup mata. Tulang Mbah Raras tidak bergerak. Dokter tetap mempertahankan penyangga dan mesin, karena berhentinya tarikan belum berarti jaringan aman dipisahkan.
Di ruang cermin, pantulan Ki melemah. Mbah Raras berhasil menjauhkan kepalanya dari lonceng. Enam keputusan hidup terus mengunci noda pada ukiran.
Pemukul mundur menjadi dua jari.
Namun tenggat tujuh hari tidak hilang dari buku transaksi. Dua hari telah berlalu sejak akta kematian palsu Meisin terbit. Tersisa lima hari, sama seperti perhitungan awal setelah pembongkaran data. Waktu ritual ternyata berhenti saat Ki berada dalam tubuh Owen dan berjalan lagi setelah ia kembali ke cermin.
Lampiran nama kedua memberi satu petunjuk: guru harus mengembalikan nama murid bukan sebagai gelar, melainkan sebagai keputusan yang pernah ia buat. Mbah Raras harus mengakui bahwa dialah yang memberi sebutan Wiragana Tanpa Bayangan, lalu mencabut hak Ki memakainya setelah pengkhianatan.
'Kalau Mbah mengucapkannya di dalam cermin, apakah nama itu menarik Ki keluar?' tanya Bu Rena.
Ketukan menjawab dua: ya.
'Keluar ke mana?'
Mbah mengetuk pola pintu.
Ke belakang panggung.
Pintu ketujuh dapat menjadi tempat pemisahan, tetapi hubungan fisik menuju cermin akan terbuka sesaat. Mereka harus memastikan tidak ada tubuh, bayangan, atau benda ritual berada dekat panggung ketika itu terjadi.
Semua korban dievakuasi. Lampiran nama, rambut Meisin, keranda kecil, dan miniatur rumah dipindahkan ke ruang bukti terpisah di halaman, bukan dibawa ke panggung. Alat tiruan tetap berada pada lubang kunci tanpa diputar.
Owen meminta ikut sebagai arwah untuk membantu menahan pintu.
'Rumah dan panggung dibangun dari keputusanmu mengurungku,' kata Meisin. 'Kehadiranmu bisa menguatkannya.'
'Jadi aku tetap jauh.'
'Ya.'
Owen menerima tanpa menawar.
Saat panggung kosong, Mbah mengirim ketukan siap. Teknisi mulai memutar alat tiruan seperempat lingkaran.
Pintu tidak terbuka. Dari dalam terdengar suara perempuan menangis.
Bukan Mbah Raras.
Suara itu menyebut dirinya Gantari dan meminta Meisin datang sebagai saksi kelahiran anaknya.
Ki telah meniru ibu yang namanya baru dipulihkan. (*)