Polisi tidak menyalakan lampu panggung. Puluhan sosok di balik tirai berdiri tanpa bergerak, tetapi sensor panas menunjukkan hanya tujuh yang memiliki suhu tubuh. Sisanya dingin seperti bayangan yang menempel pada kain.
Fadil termasuk yang hidup.
Tim medis masuk melalui jalur fondasi setelah udara diuji. Mereka tidak memanggil nama orang berdasarkan wajah. Setiap tubuh diberi nomor pemeriksaan, lalu ditanya keputusan sederhana yang dibuat saat itu.
Fadil berkedip ketika diminta memilih duduk atau berdiri. Mulutnya mengatakan berdiri, tetapi lututnya mencoba menekuk. Petugas mengikuti gerak lutut dan membantunya duduk.
Enam tubuh hidup lain menunjukkan perlawanan berbeda. Seorang perempuan menggerakkan jari kaki. Dua lelaki menahan napas saat suara Ki mencoba berbicara. Tiga orang tidak merespons dan segera ditangani dokter.
Setiap tanda direkam sebagai kemungkinan kehendak, bukan langsung dianggap persetujuan. Dokter memberi kartu pilihan yang dapat disentuh, diinjak, atau dipandang sesuai kemampuan tubuh. Cara lambat itu mencegah Ki memakai mulut sebagai satu-satunya sumber jawaban.
Pada salah satu tubuh, mulut meminta ditinggalkan di panggung sementara mata terus melihat pintu keluar. Petugas mengikuti mata dan mengevakuasinya. Bayangan dingin mencoba menempel pada tandu, tetapi kain buram memutus pandangan panggung.
Bayangan dingin di sekeliling mereka mulai meniru gerakan tim. Polisi membentangkan kain buram di antara tubuh hidup dan tirai. Ketika tidak ada penonton, sosok-sosok tanpa panas kehilangan bentuk wajah.
'Panggung membutuhkan orang yang melihat,' kata Reksa. 'Jangan beri mereka penonton.'
Kamera digunakan hanya untuk merekam bukti ke penyimpanan tertutup, tanpa siaran langsung. Petugas bekerja berdasarkan sensor dan komunikasi suara. Satu per satu, tujuh tubuh hidup dibawa keluar tanpa menyentuh lampiran nama.
Fadil memiliki jarum tua di tengkuk seperti Mira. Benda itu tidak dicabut. Dokter menemukan kabel tipis menyebar ke pita suara dan telunjuk kanan. Ki telah memakai tubuhnya untuk datang ke rumah tanpa menguasai seluruh saraf.
Hasil DNA awal cocok dengan pembanding dari kakaknya. Polisi tetap menunggu pemeriksaan kedua sebelum mengesahkan identitas. Fadil meminta kakaknya tidak dibawa ke rumah dan memilih pertemuan hanya setelah jarum dapat dipisahkan. Pilihannya dicatat dengan gerak lutut karena suaranya masih dapat dipakai Ki.
Mira menerima laporan tanpa dipertemukan dengan Fadil. Ia mengingat pernah menjaga lelaki itu di bawah panggung, tetapi mengaku tidak tahu namanya. Keterangan tersebut membuka dugaan penyekapan baru dan memperjelas bagian tindakannya yang dilakukan sadar.
Saat udara bersih masuk, Fadil dapat berbicara dengan suaranya sendiri.
'Saya penjaga panggung,' katanya. 'Saya diculik waktu pulang kerja tujuh tahun lalu. Dia memakai wajah saya kalau perlu masuk gedung sebagai keamanan.'
'Apakah enam orang lain korban yang sama?' tanya pendamping.
'Sebagian. Ada yang dibayar untuk menjaga tirai. Ada yang dibawa paksa. Saya nggak tahu siapa yang masih memilih membantu.'
Keterangan itu mencegah semua orang langsung disebut korban tanpa pemeriksaan tanggung jawab. Polisi memisahkan perawatan dari penyidikan. Orang yang sadar diberi pendamping dan diperiksa tindakan spesifiknya.
Di bawah panggung ditemukan daftar pekerja pertunjukan lama. Tidak ada seorang pun bernama Bagong. Kata itu ditulis pada kolom tugas bagi orang yang memindahkan properti, membersihkan darah palsu, dan berdiri di belakang tokoh utama tanpa tercantum pada poster.
Poster yang masih tersisa mencantumkan pemain utama, pemilik panggung, dan penyandang dana Karsa. Tidak ada nama pekerja belakang layar meski foto memperlihatkan mereka. Penghapusan sudah terjadi sebelum Wira mengambil sebutan itu; ia memanfaatkan kebiasaan yang menganggap pekerjaan tak terlihat sebagai orang tanpa identitas.
Wira Gantana bekerja pada kolom tersebut selama dua tahun. Ketika keluar, tujuh pekerja lain kehilangan nama dari daftar. Karsa kemudian memakai mereka sebagai saksi pertama untuk pergantian tubuh.
'Jadi nama curiannya berasal dari kedudukan orang yang tidak dicatat,' kata Meisin.
'Mengembalikannya bukan mencari satu pemilik,' ujar penyidik. 'Kita harus memulihkan nama pekerja yang dihapus dari peran itu.'
Arsip gaji kelompok pertunjukan ditemukan dalam peti logam. Tujuh nomor pembayaran tidak memiliki nama, tetapi sidik jari pada kuitansi masih terbaca. Dua cocok dengan laporan orang hilang. Tiga cocok dengan arsip kematian tanpa keluarga. Dua belum teridentifikasi.
Pendamping korban meminta pencarian dilakukan tanpa memublikasikan foto. Keluarga dapat menyerahkan pembanding secara sukarela. Nama yang pulih kelak tidak boleh dipakai sekadar untuk melemahkan Ki lalu dilupakan lagi.
Penyidik membuat dua salinan daftar. Satu menjadi bukti pidana, satu lagi untuk pemulihan identitas dan upah yang dirampas. Bila ahli waris ditemukan, mereka boleh menentukan apakah nama kerabat diumumkan. Tidak ada keluarga yang harus membuka kisahnya demi operasi cermin.
Di cermin, pantulan Ki berhenti menarik Mbah selama daftar pekerja diperiksa. Kata Bagong pada tubuh jangkar memudar dari dada, tetapi belum hilang.
Meisin menyadari nama curian itu bertahan karena orang selalu membicarakan Ki sebagai dalang tunggal, sementara orang-orang yang dipakai tetap menjadi latar. Bram, Dina, Harun, Darto, dan Owen memiliki tanggung jawab berbeda. Menyebut semua perbuatan sebagai sihir Ki justru menyembunyikan pilihan mereka.
Penyidik membagi papan perkara. Setiap pelaku mendapat jalur tindakan sendiri. Setiap korban mendapat berkas pemulihan terpisah. Ki tidak lagi menjadi nama yang menelan semua orang.
Bayangan pada tirai menyusut.
Enam keputusan di ruang cermin kembali stabil. Mbah Raras mengirim ketukan bahwa pemukul menjauh, tetapi retakan masih menahan sebagian wajahnya.
Di bawah panggung terdapat tujuh pintu properti. Enam berisi topeng kayu tanpa nama. Pintu ketujuh terkunci oleh lubang berbentuk kunci kuningan yang pernah Meisin tarik dari masa lalu.
Kunci asli tetap di lokasi terpisah. Mereka tidak membawanya. Pemindai membuat bentuk lubang, lalu teknisi mencetak alat tiruan dari bahan kusam seperti saat membuka katup pipa.
Alat itu dapat diputar setengah, kemudian macet. Dari balik pintu terdengar suara tujuh orang menyebut nama masing-masing. Enam suara tidak dikenal. Suara ketujuh milik Mbah Raras.
'Jangan buka sebelum nama pekerja dipulihkan,' katanya.
Tim berhenti.
Karsa mengetuk kotak di lokasi lain dan tertawa. 'Raras menyembunyikan nama murid di belakang panggung. Kalau kalian mengembalikannya kepada guru, pintu ketujuh akan terbuka menuju cermin.'
'Kami tidak meminta nasihatmu,' jawab penyidik.
'Kalian membutuhkan pintu itu untuk menarik Wiragana keluar dari Raras.'
Meisin meneliti denah tanpa memakai vision. Pintu properti tidak menuju ruangan lain secara fisik. Di belakangnya hanya fondasi padat. Jalan yang dimaksud Karsa adalah pantulan.
Membuka pintu dapat memisahkan Ki dari Mbah, tetapi juga menghubungkan rumah dengan cermin yang sengaja mereka jauhkan.
Pada sensor, salah satu tubuh hidup yang baru dievakuasi tiba-tiba kehilangan suhu. Bayangannya tertinggal di panggung dan berdiri di depan pintu ketujuh.
Tubuh itu masih bernapas di ambulans, tetapi tidak dapat mengingat namanya.
Ki mulai memindahkan identitas tujuh pekerja baru untuk menggantikan nama lama yang sedang ditemukan. (*)