Teknisi berhenti memutar alat. Suara Gantari terus menangis dari balik pintu, meminta Meisin datang dan mengakui Wira sebagai anak yang pernah dilahirkan. Tidak seorang pun menjawab panggilan itu dengan hubungan keluarga.
Meisin berada di rumah sakit, jauh dari panggung. 'Gantari nggak pernah mengenalku. Kenapa dia meminta aku menjadi saksi?'
'Karena Ki butuh darah penjaga,' kata Bu Rena. 'Dia meniru nama ibu, tapi tetap mengejar garis Mbah.'
Mereka menguji suara melalui tiga fakta yang baru ditemukan. Pendamping bertanya pekerjaan Gantari, jumlah persalinan yang tercatat, dan keputusan keluarga Wicaksana mengenai surat asli.
Suara menjawab Gantari adalah dukun yang meminta tanah, menolong tujuh persalinan, dan surat sudah menjadi milik polisi. Ketiga jawaban salah. Arsip mencatat ia menerima beras, menolong dua belas persalinan, dan surat tetap dijaga keluarga Wicaksana.
'Itu bukan kesadaran Gantari,' kata penyidik. 'Hanya nama yang dipakai untuk memancing.'
Kesimpulan disimpan sebagai bukti. Mereka tidak menyebut suara itu palsu karena Gantari tidak penting; justru riwayat perempuan tersebut dilindungi dari peniruan baru.
Mbah Raras mengirim empat ketukan dari cermin. Bahaya masih berada di belakang pintu. Lalu ia mengirim pola satu, dua, satu: jangan buka penuh.
Rencana diubah. Alat tiruan hanya akan diputar sampai celah udara terbentuk. Tirai panggung dibiarkan tertutup, semua manusia mundur ke balik dinding, dan kamera tidak menayangkan gambar langsung. Enam keputusan hidup tetap bergetar di ruang cermin.
Teknisi memutar alat dari jarak jauh.
Pintu ketujuh terbuka selebar benang.
Udara dingin keluar dan membentuk garis di lantai panggung. Suara Gantari berubah menjadi tawa Ki Bagong. Ia mencoba memperlebar celah dari dalam, tetapi pintu ditahan dua penyangga kayu yang tidak mempunyai bayangan karena seluruh ruang gelap.
Mbah Raras mulai mengetuk nama murid keduanya, satu huruf demi satu huruf. Ketukan direkam analog dan diterjemahkan di pusat komando, bukan diucapkan dekat cermin atau panggung.
WIRAGANA TANPA BAYANGAN.
Setelah pola lengkap, Bu Rena bertanya apakah Mbah memberi nama itu saat Wira menjadi muridnya.
Dua ketukan.
Apakah Mbah sekarang mencabut hak Wira memakainya karena ia memakai tubuh, nama, dan kehendak orang lain?
Dua ketukan lagi.
Pantulan Ki menjerit. Retakan cermin melebar, tetapi penyangga bingkai menahan pecahan. Enam noda tetap pada ukiran. Pemukul lonceng bergerak liar tanpa mengenai badan lonceng.
Dari celah pintu panggung keluar tangan hitam. Tidak ada tubuh di belakangnya. Tangan itu mencengkeram lantai, berusaha mencari nama pekerja untuk dijadikan bayangan.
Penyidik membacakan tujuh baris pekerja yang sudah dipulihkan, bukan sebagai mantra, melainkan koreksi arsip. Enam nama dan panggilan Kelik dikaitkan pada pekerjaan masing-masing. Kata Bagong tidak lagi mewakili mereka.
Tangan hitam kehilangan jari satu per satu.
Mbah mengirim keputusan terakhir melalui ketukan: nama murid diberikan untuk belajar menjaga batas, bukan menghapus orang. Karena Wira melanggar tujuan itu, hubungan guru dan murid dicabut tanpa menghapus bukti bahwa hubungan pernah ada.
Bayangan Ki terlempar keluar dari cermin menuju celah pintu. Sensor ruang cermin menunjukkan Mbah Raras jatuh menjauh dari lonceng. Pantulan lelaki tua meluncur melalui jalur panggung seperti asap yang ditarik angin.
Teknisi menutup pintu setelah seluruh pola dingin melewati celah. Kunci tiruan dilepas. Pintu ketujuh kembali menempel pada fondasi, tetapi kini suara Ki berasal dari belakangnya, bukan dari cermin.
Pantulan Ki berhasil dipisahkan dari Mbah Raras.
Tiga sensor berbeda memastikan tidak ada bayangan kedua tertinggal di belakang perempuan tua itu. Enam noda kembali pada ukiran masing-masing. Penjaga tidak membuka kain untuk merayakan atau memeriksa dengan mata; hasil dibaca dari tekanan, suhu, dan ketukan seperti sebelumnya.
Di ruang cermin, perempuan tua itu muncul penuh untuk pertama kali sejak mundur ke lapisan terdalam. Retak melintasi pipinya, dan tubuh pantulannya tampak transparan. Ia belum dapat keluar, tetapi tidak lagi dipakai sebagai alat memukul lonceng.
Bu Rena ingin menyentuh kain. Mbah mengetuk satu kali. Jangan.
'Ibu tetap memilih di sana?' tanya Bu Rena tanpa membuka penutup.
Dua ketukan.
Wadah X berhenti melengkung. Enam wajah pada kepalanya surut menjadi garis kulit. Tulang Mbah kembali ke posisi semula. Dokter menurunkan penyangga sedikit, tetap menunggu pemeriksaan lengkap sebelum memisahkan jaringan.
Pipa ketujuh di pemandian berhenti mengisap. Tubuh jangkar menutup mata, tetapi jantungnya masih berdetak. Ki kehilangan pantulan cermin, bukan seluruh tubuh dan jaringan kendalinya.
Di balik pintu panggung, Ki menghantam fondasi. 'Kalian mengembalikan nama yang tidak kuinginkan dan mencabut nama yang kupilih. Apa bedanya kalian denganku?'
Meisin menjawab dari jauh, suaranya tidak diarahkan ke panggung. 'Kami memulihkan bukti yang kamu hapus. Kami nggak menentukan siapa kamu harus menjadi sekarang. Kamu tetap bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri.'
Jawaban itu dicatat, tetapi tidak diberikan sebagai percakapan kepada Ki.
Lampiran nama kedua diamankan. Rumah tetap disita dan seluruh pintunya terbuka. Mira menjalani operasi untuk memisahkan jarum setelah dokter memutus kabel kendali satu per satu. Fadil serta enam orang panggung tetap dalam perawatan dan penyidikan terpisah.
Keberhasilan tersebut tidak menghentikan hitung tujuh hari. Pada buku transaksi, angka berkurang dari lima menjadi empat.
Mbah Raras menggunakan radio sekali sebelum kembali beristirahat. 'Pemisahan pantulan hanya menutup satu jalan. Ki masih punya tubuh jangkar, bayangan yang terpecah, dan harga dari tiga benda yang Meisin ambil.'
Noda hitam pada bahu Meisin terasa panas. Garisnya bergerak turun menuju jantung, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
'Apa hubungan ingatanku dengan tubuh Ki?' tanyanya.
'Setiap ingatan yang dibayar tidak hilang,' jawab Mbah. 'Ki menyimpannya di tempat benda itu berasal. Kertas, kunci, dan jarum masing-masing membawa satu ruang kosong dari dirimu.'
'Kalau aku mengambilnya kembali?'
'Jangan dengan vision. Kamu harus mengembalikan fungsi benda tanpa mengembalikan kejahatannya.'
Meisin memikirkan kertas hitam sebagai catatan, kunci kuningan sebagai pembuka, dan jarum tulang sebagai alat katup. Ketiganya sudah digantikan oleh bukti, alat tiruan, serta keputusan manusia. Mungkin fungsi mereka dapat ditutup tanpa memindahkan benda.
Ia meminta inventaris baru dibuat tanpa menyebut benda sebagai miliknya. Kertas, kunci, dan jarum berasal dari korban serta peristiwa berbeda. Ingatan Meisin menjadi harga penggunaan, tetapi itu tidak memberinya hak membuang atau menguasai seluruh benda.
Alarm di lokasi kunci kuningan berbunyi.
Kotaknya masih tersegel, tetapi benda di dalam telah berubah bentuk. Pemindai menunjukkan kunci itu memanjang menjadi jarum.
Di lokasi jarum, benda tajam memendek menjadi kunci.
Kertas hitam di lokasi ketiga melipat dirinya menjadi miniatur keranda.
Ki menukar fungsi ketiga benda agar tidak ada yang dapat dikembalikan ke tempat asalnya.
Pada buku Meisin, tiga halaman kosong mulai menghitam dari tepi.
Di halaman pertama muncul satu kalimat dengan tulisan tangannya sendiri:
PILIH SATU INGATAN UNTUK PULANG. DUA LAINNYA MENJADI TUBUHKU. (*)