Robot tidak mencoba menarik lampiran. Bayangan Ki menempel pada huruf, sedangkan setiap gerakan kertas menuju miniatur membuat pipa ketujuh mengisap lebih kuat. Tim membekukan posisi robot dan memeriksa bangunan sebagai bagian ritual, bukan sekadar tempat.
'Rumah itu bekerja dari penolakan yang dikurung,' kata Meisin. 'Jadi jangan melawan bayangannya dulu. Hentikan rumah menjadi kurungan.'
Polisi memiliki kewenangan menyita, tetapi tidak merusak bukti sembarangan. Ahli bangunan memetakan pintu tanpa gagang, kunci satu arah, kamera, ruang obat, dan pagar. Setiap perubahan didokumentasikan sebelum dilakukan.
Mira memberikan keterangan tentang jalur servis. Ia menjelaskan tiga pintu dapat dibuka dari luar melalui panel dapur. Dua lainnya sengaja dibuat tanpa engsel tampak. Owen menyerahkan kontrak arsitek dan menyatakan semua larangan keluar berasal dari perintahnya.
'Ki tidak memerintahkanku memasang pintu itu,' katanya. 'Aku menginginkan Meisin tidak punya pilihan pergi.'
Meisin mendengarkan hanya bagian yang diperlukan. 'Buka semua jalan keluar, tapi jangan hancurkan kamar sebelum bukti diambil.'
Tim melepas kunci satu arah dan memasang gagang sementara pada kedua sisi. Pagar dibuka permanen. Kamera dimatikan setelah salinan rekamannya disita. Obat penenang dihitung sebagai bukti dan dipindahkan oleh petugas medis.
Kontraktor yang memasang perangkat dipanggil terpisah. Dua mengaku hanya menerima gambar teknis. Seorang pengawas mengetahui gagang sengaja dihilangkan, tetapi memilih tidak bertanya karena bayaran berlipat. Polisi menyita pesan kerjanya. Perubahan bangunan sekarang tidak menghapus siapa yang dahulu membantu membuat kurungan.
Mira menunjukkan buku pemeriksaan bulanan. Setiap baris memuat uji kamera, kunci, obat, dan generator. Tanda tangannya membuktikan ia merawat sistem setelah memahami fungsinya. Ancaman operasi menjelaskan sebagian kendali Ki, tetapi bukan seluruh tiga tahun keputusan sadar.
Setiap kali satu jalan keluar terbuka, dinding miniatur retak. Bayangan Ki berusaha menahan pintu kecil dengan tangannya, tetapi bangunan asli tidak lagi mengikuti bentuk lama.
Pintu kamar utama menjadi yang terakhir. Di sana terdapat sensor suara yang akan mengunci bila Meisin mengucapkan kata tidak. Owen mengaku memilih sistem itu agar penolakan perempuan tersebut secara harfiah menutup jalannya sendiri.
Reksa mengepalkan tangan, tetapi tidak menyerang arwah Owen. 'Kamu merancang seluruh rumah supaya kata tidak berubah menjadi hukuman.'
'Ya.'
'Dan sekarang?'
'Kata tidak harus membuka jalan keluar, bukan menguncinya.'
Teknisi membalik fungsi sensor berdasarkan perintah penyitaan, bukan atas klaim Owen sebagai pemilik. Suara uji dari mesin mengucapkan tidak. Pintu terbuka.
Miniatur kamar pecah pada satu sisi. Bayangan Ki kehilangan tempat menyembunyikan huruf. Nama kedua kembali menempel pada lampiran, meski sebagian tinta memudar.
Pipa ketujuh berhenti mengisap.
Meisin tidak datang untuk mengucapkan penolakan sendiri. Rekaman mesin cukup membuktikan mekanisme, sedangkan keputusan Meisin untuk tidak masuk tetap berada di luar bangunan.
Rambut di dalam keranda diperiksa. Folikelnya cocok dengan Meisin, diambil beberapa tahun lalu dari ruang rias pemotretan. Manajer lama mengaku menjual sisir kepada orang Owen. Polisi mencatat pencurian biologis dan tidak menyerahkan rambut kepada Meisin sebelum pemeriksaan selesai.
'Setelah tidak dibutuhkan sebagai bukti, aku ingin memilih cara penanganannya,' kata Meisin.
Permintaan itu dicatat. Tidak ada orang membakar, mengubur, atau mengembalikannya ke tubuh tanpa persetujuan.
Kunci elektronik membuka ruangan kecil di belakang lemari kamar. Di sana terdapat rekaman hari-hari ketika Owen menguji kamera, sistem suara, dan jadwal penjaga. Rekaman juga menunjukkan Ki Bagong datang dua kali tanpa sepengetahuan Owen.
Pada kunjungan pertama, Ki menempelkan kertas nama kedua di bawah miniatur. Pada kunjungan kedua, ia memasukkan keranda kecil melalui dinding dan menanam jarum pada Mira.
'Dia memakai rencanaku untuk membangun jalan yang nggak kuketahui,' kata Owen.
'Rencanamu tetap menyediakan rumahnya,' jawab Meisin.
'Aku tahu.'
Rekaman memperlihatkan wajah tubuh Ki pada masa itu. Bukan tubuh jangkar tua, Ardi, atau Dina. Ia memakai seorang pria muda berseragam keamanan. Polisi mencocokkannya dengan orang hilang bernama Fadil yang belum ditemukan.
Laporan kehilangan Fadil diajukan kakaknya tujuh tahun lalu dan ditutup tanpa alasan. Petugas yang menutupnya juga menangani laporan Rahmat. Penyidik membuka kembali kedua perkara dan memeriksa apakah penutupan dilakukan oleh tubuh sementara Ki atau orang yang dibayar.
Kakak Fadil tidak diberi cuplikan rumah sebelum pendamping hadir. Ia memilih menyerahkan sikat gigi lama untuk DNA dan meminta polisi tidak mengumumkan wajah adiknya. Permintaan tersebut dicatat sebelum operasi masuk panggung.
Tubuh penerima lain masih mungkin hidup.
Setelah rumah tidak lagi mengunci siapa pun, bayangan pada lampiran menyusut. Robot mengangkat kertas menggunakan bingkai penjepit tanpa melipatnya. Nama kedua tetap terbaca dan disimpan dalam kotak buram terpisah dari rambut serta miniatur.
Lampiran memuat cara pemisahan pantulan dalam tiga syarat. Pertama, nama lahir harus dikembalikan pada catatan manusia. Kedua, nama murid harus dikembalikan kepada guru yang memberikannya. Ketiga, nama curian Bagong harus dikembalikan kepada pemilik atau tempat asalnya.
Ahli dokumen memastikan tiga syarat ditulis dengan tinta berbeda. Syarat pertama berasal dari masa sekolah Mbah Raras. Syarat kedua ditambahkan setelah cermin dikunci. Syarat ketiga memakai tinta modern dari hotel. Lampiran bukan petunjuk suci yang otomatis benar; isinya tetap harus diuji melalui reaksi jaringan dan bukti sejarah.
Meisin meminta setiap syarat diberi batas. Pemulihan nama lahir tidak boleh memaksa keturunan saksi terlibat. Pengembalian nama murid harus menjadi keputusan Mbah sendiri. Nama curian tidak boleh dilemparkan kepada satu korban baru hanya agar Ki kehilangan tempat.
Syarat pertama sedang dilakukan melalui arsip Gantari dan Wira. Syarat kedua membutuhkan Mbah Raras di dalam cermin. Syarat ketiga belum dipahami karena nama Bagong mungkin bukan milik satu orang.
Karsa tertawa dari kotaknya ketika laporan dibacakan tanpa nama lengkap. 'Bagong bukan nama manusia. Itu tempat orang berdiri ketika semua orang melihat tokoh lain.'
Penyidik meminta penjelasan tanpa menawarkan kebebasan.
'Di belakang layar,' lanjut Karsa. 'Wira mengambil nama itu supaya tidak pernah menjadi pusat tatapan. Kalian tidak bisa mengembalikannya kepada makam atau akta.'
Arsip pertunjukan desa mencatat satu kelompok wayang orang yang pernah mempekerjakan Wira di belakang panggung. Gedungnya terbakar lama sebelum sekolah Mbah Raras ditutup. Tanahnya kini menjadi fondasi rumah rahasia Owen.
Rumah itu dibangun tepat di atas tempat nama Bagong pertama kali dipakai.
Saat pintu terakhir dibuka, lantai kamar utama retak. Di bawah fondasi terlihat ruang panggung tua dengan tirai yang masih utuh.
Robot menyorot tanpa menampilkan pantulan. Pada balik tirai berdiri puluhan sosok tanpa bayangan, semuanya memakai wajah orang hilang.
Satu sosok memiliki wajah Fadil.
Ia membuka mata dan berkata, 'Bagong bukan satu orang. Bagong adalah siapa pun yang kalian abaikan di belakang panggung.' (*)